Area Dewasa 17+
Bryan Hendrawan, Seorang CEO Arogan dari perusahaan Hendrawan.
Suatu hari, ia dijebak seseorang hingga ia merenggut kesucian seorang gadis yang sangat dibenci nya.
"kau manusia brensek Bryan!!" teriak gadis itu.
"mari kita membuktikan ucapan mu. aku akan membuat kata 'brensek' itu menjadi kenyataan" jawab Bryan dengan seringai licik nya.
gadis yang dibenci Bryan ternyata menyimpan sejuta luka dimasa lalu nya.
apa yang menyebabkan Bryan begitu membenci gadis itu?
bagaimana nasib gadis malang itu setelah di renggut kesucian nya oleh Bryan?
dan bagaimana reaksi Bryan ketika tau bahwa gadis yang dibenci nya hanya dijadikan kambing hitam oleh orang tua nya?
nantikan kisah nya di Tuan Arogan Suamiku.
Dilarang plagiat.. jika tidak suka, nggak usah baca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANIVITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Permintaan Mia
"Jangan pura pura lupa tuan Bryan"
"Aku tidak pernah menolaknya, aku hanya mempertanyakan nya saja" kilah Bryan.
"Mempertanyakan sesuatu yang jelas saja milikmu bukan kah itu berarti meragukan nya? Secara tidak langsung kau menolak nya" sungut Mia berapi api.
"Baiklah, sekarang apa yang kau minta dariku?" Bryan mengalah.
"Ceraikan aku!! Aku akan merawat anak ini dengan baik" tegas Mia.
"Kau gila!! Kau sedang hamil, mana bisa aku menceraikan mu, lagi pula kau sedang hamil anak ku" bentak Bryan.
"Bukan kah itu bagus untuk mu? Kau bisa dengan bebas berpacaran atau bahkan menikah dengan Lisa"
jawab Mia sambil tersenyum getir, sejujurnya sangat sakit untuk mengatakan itu.
"Aku akan tetap bertanggung jawab atas anak itu. Dan untuk bercerai, aku tidak bisa. Setidak nya tunggulah anak ini lahir" Bryan memberi saran.
Mia menggeleng
"Aku ingin kita berpisah saat kandungan ku memasuki 8 bulan. Setidaknya dia merasakan kasih sayangmu selama beberapa bulan kedepan. Aku tak akan menghalangimu untuk bertemu dengan nya. Aku juga tidak akan langsung meminta surat cerai. Aku ingin kita berpisah rumah saat kandunganku sudah 8 bulan" Mia.
"Kenapa 8 bulan? Kenapa tidak menunggu kau melahirkan sekalian?" Tanya Bryan.
"Aku memiliki alasan yang kuat untuk itu, dan satu lagi selama perjanjian ini berlangsung kau harus menjauhi dan menjaga jarak dari Lisa sekertaris sekaligus pacarmu itu" ucap Mia yakin.
"What?!! Apa katamu? Mana bisa?" Bryan membantah.
"Jika kau tidak mau ya sudah, ceraikan aku sekarang" gertak Mia.
Bryan tampak diam memikirkan semua nya.
"Semua nya sungguh merumitkan" batin nya.
"Jadi apa keputusan mu?" Mia bertanya.
Sejujurnya Mia harap harap cemas dengan jawaban Bryan. Ia takut Bryan lebih memilih Lisa yang nantinya pasti membuat luka untuk Mia sendiri.
"Aku akan melanjutkan pilihanku tanggung jawab sebagai seorang papa"
Mata Mia berbinar bahagia.
"Baiklah" jaeab Mia singkat.
Beberapa saat kemudian dokter datang untuk melepas infus Mia.
Hari ini juga Mia diperbolehkan pulang.
Bryan menuntun istri nya yang masih lemas menuju ke mobil mereka.
Mobil melaju menuju rumah Bryan.
Mama Gita melihat menantunya sedang dipapah Bryan pun ber inisiatif untuk bertanya.
"Kenapa dengan Mia?" Tanya mama Gita pada Bryan.
Bryan dan Mia menghentikan langkah nya.
"Mia baru aja pulang dari rumah sakit ma," jawab Bryan.
Mama Gita menaikan sebelah alisnya.
"Mia hamil ma" kini Bryan berucap to the point.
Mama Gita membelalakan mata nya.
Air Wajah nya menunjukan ekspresi tidak suka.
"Kenapa harus anak jalang ini yang mengandung cucu ku?" Batin nya.
Ia segera mengubah wajah nya ke mode datar lalu segera masuk ke kamar nya.
Bryan dan Mia melanjutkan langkah nya ke kamar.
"Kenapa mama seolah olah tak menyukai saat tau bahwa aku sedang mengandung cucu nya?"
"Apa hanya karna aku anak seorang pelakor?"
"Tenanglah Mia, Mereka seperti itu karna tidak tau kejadian sebenarnya" batin Mia.
Bryan melihat Mia yang melamun pun menegurnya.
"Kenapa?"
Mia hanya menggeleng
"Kau tidak ke kantor?" Tanya Mia pada Bryan.
"Tidak" jawab Bryan singkat.
Bryan duduk di sofa bersama Mia.
"Berapa usia nya?" Tanya Bryan mengarah pada janin yang dikandung Mia.
" Sembilan minggu"
Bryan mengangguk mengerti
Pagi hari, seperti biasa Mia muntah muntah parah di pagi hari.