NovelToon NovelToon
Terjerat Cinta Satu Malam

Terjerat Cinta Satu Malam

Status: tamat
Genre:Romantis / Contest / Cintamanis / Patahhati / Tamat
Popularitas:1.5M
Nilai: 5
Nama Author: Irna Mahda Rianti

Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.

Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28. So Hurt

Rumah keluarga besar Raharsya ....

"Apa yang terjadi?" Davian kaget, ketika melihat Tira tersungkur lemah pada pangkuan Arini.

"Ya Tuhan, Tira ...."

Tira pingsan. Ia shock mendengar kabar dari Rangga. Tira masih belum percaya akan semua ini. Tira pun dibawa ke kamarnya. Davian dan Arini duduk bersama, membahas mengenai Gara dan Hila.

"Ternyata, Gara menghamili gadis yang akan dijodohkan dengan Elang. Mereka tahu sekarang, bahwa Hila tidak meninggal." Ujar Arini.

"Astaga, kenapa semua bisa kebetulan seperti ini? Lalu, Hila telah melahirkan?" tanya Davian.

"Iya, tapi kabar buruk, Mas. Bayi Hila meninggal. Hanya sepuluh menit bertahan hidup," ucap Arini sendu.

'Innalillahi ... aku kaget mendengarnya, sayang. Bukankah ini merupakan suatu tamparan keras untuk kita?" Davian mencoba merenungkan diri.

Arini mengangguk, "Iya, Mas. Semua diluar kendali kita. Aku tak mengira, kalau ternyata gadis itu dulu ada hubungannya dengan Gara. Kasihan sekali dia, sudah diusir dari rumah orang tuanya, dikucilkan dan tak dianggap, tapi dia tetap menjaga kehamilannya, tapi sekarang kejadian buruk menimpanya. Dia kehilangan bayinya. Bayinya lahir hanya beberapa menit di dunia."

Davian menghela napas, "Kukira Gara tak seperti itu. Terlepas dari kesalahannya, semua ini terjadi karena ketidaksiapan mereka menghadapi masalah. Kalau kudengar, Rangga terlalu menyudutkan Gara. Jadi, Gara bertindak diluar batas. Dan itu membuat mereka gelap mata. Jika seperti ini, aku bingung. Dihari pertunangannya, Gara malah terpukul. Dan lagi, Bianca dan keluarganya, bagaimana? Rumit sekali mereka,"

"Entahlah, Mas. Aku jadi merasa lebih kasihan pada Hila, ketimbang Bianca. Perjuangan dia melewati hidupnya yang pahit sendiri, membuat aku ingin melindunginya."

"Tapi tak semudah itu, sayang. Bagaimana dengan Bianca? Bukankah dia juga berhak atas Gara?" Davian pun bingung.

"Aku juga bingung memecahkan masalah ini. Biarlah Gara berpikir sejenak untuk kehidupannya. Baiklah, lebih baik Mas lihat mereka ke rumah sakit. Bilang sekretaris Dika agar dia mengurus pemakaman jenazah bayi Gara dan Hila. Aku akan menjaga Tira disini. Kasihan juga Tira, dia begitu kaget dan tak percaya." Jelas Arini.

"Baiklah, aku akan segera berangkat. Aku akan mengajak Andra, kamu tunggu di rumah ya, sayang." Davian mengecup kening Arini.

"Ya, Mas. Hati-hati dijalan, katakan pada Andra, jangan ngebut."

"Iya, sayang."

...❤❤❤❤❤❤❤❤❤...

Rumah sakit Melati ....

Beberapa jam kemudian.

Sang bayi yang telah tak bernyawa itu, tetap digendong oleh Keyza. Keyza tak tega menidurkan bayi bersama Hila. Karena takut saat Hila sadar, ia begitu sangat terpukul karena semua ini. Takdir tetaplah takdir, tak ada yang bisa merubahnya, selain kekuasaan Allah. Mungkin, Allah punya rencana lain, mengapa bayi mereka harus meninggal.

Gara tetap berada di samping Hila. Ia tak melepaskan pegangan tangannya. Gara tetap menggenggam erat tangan Hila. Ingin rasanya Hila segera sadar dari tidurnya. Ingin rasanya Gara memeluk Hila dan menjaga Hila. Disaat-saat seperti ini, hanya luka dan penyesalan mendalam yang Gara rasakan. Jika bisa meminta pada Tuhan, Gara ingin bayinya hidup kembali saat Hila sadar.

Mungkin, kata maaf saja tak cukup untuk membuat**mu memaafkan aku. Tapi, kini penyesalanku teramat nyata dan sempurna. Aku sudah berjanji pada diriku, bahwa aku akan tetap di sampingmu dan menjagamu, Sahila. Aku tak akan membuatmu jauh dariku. Aku akan menjaga dan melindungi mu. Aku sudah tak peduli lagi dengan perusahaan. Sekalipun aku jatuh miskin karena aku memilihmu, aku akan tetap bahagia. Karena kamu lebih berharga dari sekedar harta atau berlian. Jika kehilangan kamu lagi, aku tak akan sanggup. Aku sadar, cinta ini telah tumbuh. Tumbuh tanpa aku sadari, Sahila ... Bangunlah, dan lihatlah anak kita untuk yang pertama dan terakhir kali. Maafkan aku, semua ini salahku. Batin Gara, sambil menangis dan terus mencium tangan istrinya.

Air mata itu jatuh berlinang. Menetes dengan segenap rasa sakit yang terpancar. Hingga tetesan air mata itu jatuh ke tangan Hila. Tetesan air mata yang jarang sekali Gara keluarkan. Tetesan air mata yang mengenai tangan Hila, tiba-tiba membuat tangannya bergerak. Gara yang merasa bahwa tangan Hila bergerak, langsung terkejut dan seketika itu pula Gara memegangi rambut Hila. Melihat, apakah Hila akan segera sadar.

Mata Hila pun perlahan-lahan terbuka. Hila masih merasa kesakitan, akibat efek bius anestesi selama persalinan sesar nya. Hila melihat ke sekelilingnya dengan tubuh yang masih kaku sulit digerakkan. Kepalanya masih begitu pusing, dan Hila mulai bisa melihat jelas seseorang yang memegang tangannya.

"Ga-Gara ... auwh, tubuhku teramat sakit," Hila mengaduh kesakitan.

"Hil ... Hila, kau sudah sadar. Hila ..." mata Gara berbinar, ia menciumi tangan Hila berkali-kali.

"Ga-gara, ada apa denganku?" Hila menatap ke seluruh ruangan rumah sakit. Ia juga meraba perutnya yang sudah kempes, "Auwh, perutku masih begitu sakit.

"Ga-gara, anakku telah lahir? Iya?" Hila pun menatap Keyza yang sedang menggendong bayi.

"Bu-Bu Keyza ... itukah bayi saya, Bu?" Hila begitu antusias, ia pun mulai bangun dari tidurnya.

"Awhh, sakit sekali," Hila tak kuasa bangun dari tidurnya. Tubuhnya serasa remuk.

"Hil, Hila ... diam lah, tubuhmu masih dalam pengaruh anestesi, dan kamu jangan dulu bergerak, pasti akan sangat menyakitkan." Ucap Gara.

"Ta-tapi, aku ingin memeluk bayiku, Gara ... apa jenis kelaminnya? Berapa berat badannya? Apa dia sudah dibersihkan? Kenapa dia diam saja? Apa bayiku sedang tidur?" tanya Hila penuh rasa penasaran walau tubuhnya masih merasakan sakit.

Gara menghela napas panjang. Jantungnya seperti di cabik-cabik. Ia terluka, ia sedih, membayangkan betapa Hila sangat mengharapkan kehadiran bayinya. Gara pun terus memegangi tangan Hila, berharap Hila akan kuat dan bisa tabah menerima kenyataan.

Keyza berjalan lemah tanpa semangat, mendekati Hila bersama bayi mungil yang sudah tak bernyawa itu. Air matanya tak bisa tertahan, ketika melihat Hila, betapa bahagia nya Hila melihat sang bayi. Rapuh, hati mereka semua hancur. Sakit, sedih, dan tentu saja ini akan menyakitkan bagi Hila.

Keyza menaruh bayi mungil itu di samping Hila. Terlihat pancaran kebahagiaan di mata Hila ketika melihat bayinya. Hila tersenyum bahagia, melihat bayi mungil di sampingnya. Keyza dan yang lainnya, tak mampu menutupi rasa sedihnya. Air mata jatuh tak tertahankan.

"Gara, bukankah dia cantik sekali?" mata Hila memancar penuh kebahagiaan. Hila tak menyadari, bahwa bayi mungil itu tak bernapas.

"Hil-Hila ... maafkan aku," Gara hanya bisa menunduk lesu.

"Gara, kenapa?"

Keyza, Rangga Davian dan Andra pun bisa merasakan betapa sakitnya hati Gara saat ini. Mereka bingung, bagaimana memberi tahu Hila, keadaan yang sebenarnya. Keyza pun memegang pundak Hila, berharap Hila bisa mengerti atas takdir yang telah digariskan ini.

"Hila ... maafkan kami, maafkan kami. Kamu harus sabar, Hila. Maafkan aku. Sungguh maafkan kesalahanku." Keyza berbisik di telinga Hila.

"Kenapa, Bu? Ada apa? Ibu tak salah apa-apa. Saya yang telah merepotkan Ibu. Terima kasih, telah menjaga anak saya." Hila tersenyum pada Keyza.

Keyza hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia inginnya Hila mengerti, bahwa bayinya sudah tak bernyawa.

"Hila, maafkan aku mengatakan hal ini. Tapi, lihatlah bayimu. Dia bukan tertidur, tapi dia tidur untuk selamanya. Bayimu sudah pergi, kondisinya tek memungkinkan untuk dia tetap bertahan hidup. Maafkan aku, Hila." Ucap Keyza tak berani memandang wajah Hila.

"Apa? Tak mungkin, Bu. Anak saya pasti masih tertidur lelap." Hila meraba-raba bayinya, yang terlihat diam saja.

Tiba-tiba, Hila merasakan bayinya tak bernapas, bahkan tubuh bayinya pun begitu dingin. Hila begitu kaget, refleks ia memangku bayinya dan melekatkan pipinya pada pipi bayinya.

"Hil, jangan bangun!" Gara menahan Hila, namun Hila tak mendengarkannya. Meskipun sakit, Hila mencoba untuk tetap bangun karena ingin memeluk bayinya.

"Ke-kenapa bayiku dingin sekali?" Hila mulai kaget dan penasaran.

Gara berdiri dari duduknya, dan secepat kilat, Gara memeluk tubuh Hila dengan penuh kehangatan. Gara memeluk Hila, mengusap rambutnya, walau Gara sendiri pun sebenarnya masih rapuh. Tak menyangka akan kejadian pahit ini.

"Hila, sayangku ... Wanitaku, maafkan aku. Ini semua salahku, ini semua karena kebodohanku. Bayi kita telah pergi, Allah lebih menyayanginya. Kamu harus tabah, kamu harus kuat, Hila. Maafkan aku, yang tak bisa menjaga bayi kita. Hil, aku menyesal," Gara menangis di pelukan Hila.

Air mata Hila pun tiba-tiba jatuh tak tertahan. Kini, ia yakin, bahwa bayinya telah pergi. Ia bisa merasakan, bahwa bayinya tak bernapas, jantungnya tak berdetak, bahkan tubuhnya pun terlihat membiru. Hila masih tak menyangka, ia masih merasa, bahwa semua ini adalah mimpi di siang bolong.

"Tak mungkin! Aaarrrgggggghhhhh, kalian jahat! Kalian tega pada anakku! Kalian telah membunuh anakku. Aku benci kalian, anakku jadi seperti ini karena kalian!!! Bayiku ...."

Hila menangis tersedu-sedu memeluk dan mencium bayinya Pelukannya sangat erat, karena Hila benar-benar merasa bahwa bayinya memang pergi. Tak menyangka, bahwa ia tak bisa mendengar tangisan bayinya. Rasa sakit dan terluka bercampur menjadi satu.

"Lepaskan! Jangan memelukku! Aku tak ingin dipeluk oleh pembunuh sepertimu! Aaarrrgghhhh!!!!" Hila menolak Gara memeluknya.

"Hil, Hila ... sadarlah! Jangan seperti ini, jangan menangis terus. Jangan melukai dirimu, kasihan anakmu. Hila!" Gara terus merayu Hila.

"Diam kau penjahat! Kau telah membunuh anakku, kau tak punya hati! Dasar baj1ngan! Aku sangat membencimu!!" Hila mulai kehilangan akal sehatnya, bahkan Hila pun terlihat mencengkeram bayinya dengan sekuat tenaga.

"Hila cukup, hentikan." Rangga dan Davian turut mendekati Hila, karena Hila sudah diluar batas.

Keyza segera mengambil jenazah bayi di tangan Hila, karena takut Hila melakukan sesuatu. Hila yang mengamuk dan menangis terus menerus, tetap Gara peluk dan Gara cium. Walaupun Hila menolak, Gara tetap menciumnya.

"Silahkan, marahi aku, salahkan aku, pukul aku, jika itu yang kau inginkan. Tapi, kumohon, jangan lukai dirimu! Aku tak tega, melihatmu terluka lebih dalam lagi. Maafkan aku, Hila. Aku sudah berjanji, aku akan meninggalkan semuanya demi dirimu, demi untuk hidup bersamamu, Hila. Untuk menebus semua dosa-dosa dan kesalahanku padamu. Maafkan aku, Hila." Pelukan itu semakin erat, karena Gara benar-benar merasa Hila sangat butuh dukungannya.

"Aku tak sudi hidup denganmu! Aku ingin hidup dengan bayiku! Kembalikan nyawa bayiku! Aaarrrggghhhhh, kalian semua tega!!!!!" Hila masih histeris, katena kabar kematian bayinya.

"Hil, sadarlah ... dia sudah bahagia di sana. Kita doakan saja yang terbaik untuknya. Aku akan tetap bersamamu, untuk menebus semua dosa-dosaku. Aku janji, Hila."

"Kalau kau ingin aku bahagia, kembalikan bayiku dengan sempurna. Aku ingin bersama bayiku hanya dia yang aku harapkan, hanya dia yang selalu menemani hari-hariku. Aku membesarkannya seorang diri, aku berharap penuh padanya ..." tatapan Hila begitu kosong.

"Hila ... aku janji, akan menggantikan kesedihan ini dengan kebahagiaan. Kau harus bahagia, Hila... walaupun kenyataan ini teramat menyakitkan."

Jika bayi kita bisa berbicara, mungkin dia akan berbicara seperti ini :

Kehadiranku disini tidak diharapkan. Hanya Mama yang mengharapkan kehadiranku. Jika aku hidup, aku akan menyulitkan Mama. Mama akan dicibir dan dicaci maki oleh semua orang. Jika aku bertahan dan bernyawa, Mama dan Papa akan dikucilkan. Kalian akan disalahkan karena kehadiranku. Tapi, jika aku pergi seperti ini, mereka semua pasti akan menyesal. Mereka semua akan merasa bersalah, karena telah membiarkan Mama dalam kesulitan. Mereka akan mengasihani Mama, dan peduli pada Mama. Aku yakin, dengan kepergianku, ini adalah jalan terbaik, agar Mama bisa menemukan kebahagiaan Mama yang sesungguhnya. Aku tetap disini, Ma ... aku tetap ada di hatimu, dan selalu bersamamu. Walau ragaku jauh, tapi hatiku tetap dekat dengan Mama. Semoga Mama ikhlas merelakan kepergianku. Semoga Mama kuat, dan bisa bertahan hidup tanpa aku. Terima kasih, telah menjagaku selama sembilan bulan ini, walau ternyata takdir tak membiarkan kita hidup bersama.

*Bersambung*

Hai, jangan lupa LIKE DAN VOTE ya. Ini hari senin, seperti biasa, berikan VOTE nya untuk cerita ini ya teman-teman..

Makasih❤

maaf, bukan aku tak mendengarkan keinginan kalian. tapi, percayalah ... aku punya cara untuk membuat Hila bahagia dengan cara yang lain. semoga kalian memahami keputusan ini ya❤❤

1
kalea rizuky
g rela jalang Bianca dpet gata
kalea rizuky
males deh di bkin mati anaknya/Shame/
kalea rizuky
hmmmm emank murahan klo g murahan g bsa hamil uda jalang sombongnya
Nur Aini
Luar biasa
Nur Aini
Lumayan
Sovi Yana
keren ceritanya lanjutan elang
Pitri Minarti
duh gara kata katanya menyejukkan banget👍💚
Pitri Minarti
sedih banget😭😭😭
Eka Rauf Ginting
capek capek baca bayinya meninggal.. alur ceritanya jga bertele tele..
ningnong
😭😭😭😭😭
SR.Yuni
Demi nama besar rela korbankan kebahagiaan anak, anak akhirnya cari jalan keluar yg salah dan fatal akibatnya. Mendidik anak bukan berarti menentukan jalan hidup anak.
Sri Widjiastuti
indahnya pengorbanan!!
Sri Widjiastuti
Aamiin.... setuju calista
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
kluarga gara sama jg dng keluarga sahila lebih mementingkn harta
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
aq kok kasihan sama sahila ya
𝐃𝐢𝐥𝐯𝐚
dasar pengecut sagara, gue benci laki2 kek bgtu, pengen ku bejet2
Ernawati
iiihhh davian kok gitu sih
Ernawati
semoga gata dapat wanita yg baik karna dia sulit jtuh cinta
Chandra-Jelita
author nya ternyata termasuk gemar nonton sinetron, sampai jadi referensi di ceritanya 🤔🤣🤣🤣🤪
Kadek Bella
gimana lanjutannya Calista sama elang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!