Menceritakan tentang kehidupan rumah tangga seorang wanita bernama Berlian yang harus rela dimadu oleh sang Suami bernama Amar.
Berlian harus rela menikahkan suaminya dengan sang kekasih yang bernama Fani yang tak lain dan tak bukan adalah saudara tirinya sendiri karena sebuah kesalahan..
Berlian hidup dalam bayang bayang masa lalu hingga pada akhirnya sebuah kebahagiaan menjemputnya.
Bagaimanakah biduk rumah tangga Berlian dan Amar akankah mendapatkan kebahagiaan ataupun sebaliknya hanya akan dipenuhi airmata.
Simak kisahnya di Derita Istri pertama happy reading semua...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naryati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Pada sore harinya Amar baru saja membuka matanya, dia mencari di mana Berlian berada.
"Sayang kamu dimana?" ucap Amar sembari mengucek matanya...
Namun Amar tak menemukan Berlian. Setelah itu Amar pergi menuruni anak tangga dan melihat Berlian sedang bersama Bundanya di ruang keluarga..
Samar samar Amar mendengarkan obrolan sang Bunda dengan Berlian...
"Lian maafin Amar ya jika dia menyakiti hatimu, walaupun kamu terlihat baik baik saja tapi Bunda tahu hatimu terluka?" ucap Bunda Hesti pelan..
Berlian menatap ke arah Bunda Hesti kemudian Berlian memeluk Bunda Hesti.
Berlian merasakan kenyamanan saat berada di pelukan Bundanya.
"Lian akan baik baik saja Bunda,Bunda jangan khawatir ya." ucap Berlian sembari memeluk sang Bunda.
"Lian Bunda mau bertanya sesuatu. Apakah boleh?" tanya Bunda Hesti pelan..
"Mau bertanya tentang apa?" jawab Berlian pelan..
"Lian kenapa kamu mau di madu, dan madu kamu adik kamu sendiri apa kamu sanggup melewati ini semua?" ucap Bunda Hesti dengan hati hati...
Glekkkkkk hati Berlian perih rasanya mendengar pertanyaan sang Bunda, wanita mana yang rela di madu dan wanita mana yang bisa ikhlas berbagi suami dengan adiknya sendiri walaupun dengan alasan apapun..
"Bunda jujur ini berat buat Lian, tapi ada banyak hal yang harus terjadi. Pertama Fani adalah adik Berlian walaupun kita tidak lahir dari rahim yang sama namun Berlian sangat menyayanginya..
Yang kedua, demi Mas Amar agar dia belajar bertanggung jawab dari apa yang telah dia buat. Mana tega aku melihat Fani malu jika dia harus melahirkan bayinya tanpa suami." ucap Berlian pelan..
Jantung Amar serasa mau copot, dia tak menyangka bahwa selama ini telah menyia nyiakan wanita sebaik Berlian.. Seandainya waktu dapat di putarnya kembali mungkin Amar tak akan pernah menyia-nyiakan Berlian dengan alasan apapun..
"Maafkan aku Berlian.." ucap Amar dalam hatinya..
Bunda Hesti pun sampai menangis mendengar apa yang Berlian ucapkan..
"Sungguh mulia hatimu sayang, suatu saat pasti kamu akan bahagia, dan Bunda yakin lamban laut Amar akan mencintaimu, apa kamu juga mencintai Amar?" tanya Bunda Hesti ingin memastikan perasaan Berlian..
Berlian diam di satu sisi memang benar Berlian sudah mulai mencintai Amar, tapi di sisi lain ada hati Fani yang harus dia jaga..
"Entahlah Bunda, Berlian bingung? Apa itu cinta juga Berlian kurang tahu." ucap Berlian dengan polosnya..
Sementara itu Amar merasa sedih setelah mendengar ucapan Berlian..
"Ternyata aku memang tak ada di hati kamu Lian." ucap Amar dengan raut wajah yang berbeda..
Tak lama setelah itu Amar mendekati Bundanya dan Berlian.
"Bunda sama Lian lagi apa si seru banget?" ucap Amar mengagetkan keduanya..
"Amar... kamu kebiasaan." ucap Bunda sembari melotot..
Sementara itu Berlian mencoba setenang mungkin dan berharap jika Amar tak pernah mendengar apa yang dia omongkan..
Bunda Hesti pun menyusun rencana untuk Amar dan Berlian, Bunda Hesti meminta Amar membawa Berlian ke suatu tempat...
"Bunda.. Lian ke kamar dulu ya?" ucap Berlian pelan..
"Baiklah sayang, kamu istirahat ya." ucap Bunda Hesti dengan tersenyum..
"Iya Bunda.." jawab Berlian kemudian pergi...
Setelah Berlian berlalu, kini Bunda Hesti bertanya kepada Amar tentang perasaannya terhadap Berlian.Dan Amar mengatakan bahwa dirinya telah mulai mencintai Berlian, bahkan untuk hal kecil pun Amar selalu cemburu jika melihat Berlian dengan orang lain..
"Jadi bagaimana perasaan kamu kepada Berlian?" tanya Bunda Hesti dengan lembut..
Amar menatap ke arah sang Bunda kemudian tersenyum..
"Sepertinya Amar sudahulai mencintainya, dia berbeda dari wanita yang pernah bersamaku. Dan seharusnya aku tak pernah menyia nyiakan wanita seperti itu. Ar menyesal Bunda." ucap Amar sembari tertunduk..
Bunda Hesti tersenyum senang mendengar ucapan Amar.
"Sudah saatnya kamu yang mengejar cintanya, buatlah dia jatuh cinta kepadamu dan bahagiakan lah dia." ucap Bunda Hesti sembari tersenyum...