"Tidak ada yang boleh menyentuhnya barang sedikitpun tanpa seijinku. Karena dia adalah mate-ku. Ingat itu baik-baik." dengan tegas presdir mengucapakannya didepan para musuh.
Missa Elif Kumara. Sekertaris cantik di perusahaan Unilever. Tak disangka oleh Elif bahwa presdir yang memimpin perusahaan dengan segala ketegasan dan kewibawaannya adalah seorang vampire. Dan yang lebih mengejutkan lagi Elif adalah mate dari sang presdir yang sudah ribuan tahun ditunggu-tunggu.
Segala rintangan dan ujian agar bisa bersama dengan dipenuhi kebahagiaan ternyata tak semudah yang dibayangkan.
Apakah Elif dan presdir akan terus bersama dengan segala rintangan dan ujian? Dan apakah Elif akan percaya jika dirinya adalah keturunan penyihir yang seharusnya musnah?
Yuk baca kisahnya. Jangan sampai telat ya.
Jangan lupa like, vote dan follow.
Ig : ZulfaZul
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zulfa Laeli Ahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28 {Kekuatan}
Sesampainya di gang menuju rumah Elif, presdir ikut turun dari mobilnya untuk mengantar Elif. Ibu--ibu berdaster yang sedang sibuk memilih sayuran dan membeli belanjaan di warung langsung berkumpul setelah melihat Elif yang keluar dari mobil mewah. Mereka langsung berbisik dengan ibu berdaster lainnya.
"Ternyata benar ya kata Olif, kalau si Elif itu jalang yang sukanya main sama om-om." cibir ibu berdaster hijau dengan lengan paling pendek dari lainnya. Sampai-sampai bulu ketek yang tidak dicukur selama sebulan itu terlihat saat tangannya terangkat ketika berbisik.
"Iya benar, bu. Ngga nyangka saja kalau kelihatannya alim, eh malah ternyata busuk. Dasar wanita murahan. Sukanya main sama om-om." balas pemilik warung.
"Hati-hati ya suaminya dijaga. Takutnya malah jadi om-nya Elif lagi. Yuk kita bubar."
Presdir mempererat genggamannya ketika mendengar cibiran dari ibu berdaster tadi tentang Elif. Hatinya merasa tidak terima atas perkataan yang tidak benar itu. Tetapi ketika melihat Elif, presdir memendamnya. Memilih untuk membuat Elif tegar.
"Terima kasih telah mengantarku, presdir." ucap Elif saat sampai di pekarangan rumahnya yang sempit.
Presdir tersenyum dan mengecup mesra punggung tangan Elif. "Tidak perlu berterima kasih. Karena itu sudah menjadi kewajibanku setelah kita terikat oleh hubungan. Menjagamu dan membuatmu bahagia, Elif." balas presdir dengan lembut. Walau pada kenyatannya masih terdengar datar.
Dua manusia beda generasi itu mengintip dari jendela. Memperhatikan presdir dan Elif yang tengah berbincang sebelum berpisah di pekarangan rumah. Setelah beberapa menit memperhatikan, lantas keduanya membuka pintu. Berpura-pura menyambut presdir dan Elif. Padahal mereka cuma ingin dipandang baik oleh presdir.
"Ayo, masuklah Elif. Kami sudah menunggumu sedari tadi." Olif pura-pura tersenyum dan menyambut Elif di depan pintu.
"Iya benar. Mari, masuk terlebih dahulu tuan. Diluar dingin. Sepertinya nanti akan hujan." lanjut ibu Elif dengan tangan mempersilakan presdir untuk masuk ke dalam.
Presdir mendongak ke atas. Melihat langit malam yang sepi dari taburan bintang. Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh ibu Elif, bahwa sebentar lagi akan hujan. Apalagi ditambah angin yang berhembus menerpa wajahnya. Terasa dingin dan menusuk. Tak berapa lama, rintikan bulir bening membasahi wajah tampan presdir.
"Presdir, hujan! Ayo, masuklah dulu. Tunggu hujan reda." mau tidak mau presdir menuruti ucapan Elif. Dia masuk setelah Elif mengajaknya. Lalu, duduk di ruang tamu kecil dengan karsu kayu yang reot dimakan rayap.
"Pakailah ini, presdir." Elif membawakam selimut yang ia simpan di lemarinya pada presdir.
"Tidak perlu."
"Presdir, ini berguna agar tubuh anda tidak kedinginan." Elif tetap memakaikan selimut yang tak terlalu tebal itu di tubuh presdir.
Pada akhirnya presdir memilih untuk menuruti ucapan Elif. Karena, sekarang udara malam ditambah hujan membuatnya merasa kedinginan.
***
Wanita berbaju hitam dengan mahkota terpasang di atas kepalanya bangkit dari singgasananya. Membuat para pengikut setianya terkejut.
"Ada apa, ratu?"
Wanita yang dipanggil ratu itu lantas melirik tajam ke arah pengikut setianya yang sekarang sedang bersimpuh mengelilingi singgasananya.
"Cepat, panggikan putraku sekarang juga!" titah ratu tanpa menjawab pertanyaan yang terlontar untuknya.
Pelayan langsung berlari menuju kamar putra mahkota. Memanggilnya dan memberitahu pada putra mahkota agar segera menemui ratu.
"Ya sudah, pergilah. Aku akan datang."
Pelayan segera kembali ke ruang tempat ratunya bertahta. Lalu, bersimpuh seperti para pengikut setia sang ratu.
"Ada apa ibunda memanggilku kemari?" tanya putra mahkota setelah memberi hormat dengan membungkukkan badannya.
Ratu berjalan menuruni anak tangga dengan alas karpet berwarna hitam, persis dengan baju yang dipakai ratu saat itu. Tangan dengan kuku panjang berwarna hitam itu membelai wajah tampan putrnya. Saking lembutnya membelai, wajah tampan putranya itu mengeluarkan darah karena tergores kuku panjang sang ratu.
"Akh!" putra mahkota merasakan perih diwajahnya.
Beberapa tetes darah mengenai baju yang dipakai putra mahkota. Membuat putra mahkota terkejut.
"Apa yang ibunda lakukan?" tanyanya setelah meraba bagian wajah yang terasa perih.
"Jangan lalai, sayang. Itu hukumanmu atas apa yang kau lakukan." jawab sang ratu yang membuat putra mahkota mengernyit.
"Ibunda, apa yang ibunda maksud? Aku tak mengerti?"
Sang ratu hanya diam dengan kaki melangkah keluar dari ruangan. "Kekuatan ibu terkuras karena mengobati luka ditanganmu itu. Tetapi kamu bukannya membantu mengembalikan kekuatan itu justru malah semakin membuat kekuatan ibu menjadi miris. Sekarang, kamu jaga singgasana ibu." jawab sang ratu sembari terus berjalan dengan gaunnya yang panjang.
"Memangnya ibunda akan pergi kemana?" tanya putra mahkota sembari berlari mengejar sang ratu.
"Bertapa di gunung Fuji."
***
"Apa kamu sudah mencoba kekuatannya pada ibu dan saudara kembarmu?" tanya presdir setelah duduk di ranjang kecil milik Elif.
Elif duduk di samping presdir. Lalu, menggelengkan kepalanya. "Kenapa?"
"Aku takut melukai mereka."
"Elif, cobalah dulu. Jika itu berhasil, maka itu akan membuat kehidupanmu lebih baik. Bisa mendapatkan cinta seorang ibu darinya. Bukankah itu yang kamu inginkan sejak dulu?"
"Itu memang benar. Tetapi aku takut melukai mereka jika kekuatanku gagal dan justru membuat keadaan memburuk." balas Elif dengan mata menatap telapak tangannya.
Presdir membelai rambut lurus Elif. Mengerti semua ucapan Elif. Rasa takut masih mendominasi Elif, menjadikannya takut untuk mencoba kekuatan yang bersemayam ditubuhnya.
Mungkin itu semua karena kejadian dengan Marco. Yang terus menghantui pikiran Elif.
"Jangan takut untuk mencoba." ucap presdir.
"Aku akan mencobanya disaat yang tepat." balas Elif.
*
*
*
Bersambung...
Jangan lupa like, hadiah dan koment. Masukka ke daftar FAVORITE juga. Terima kasih...
Jadwal UP : dua hari sekali yaa. Dijam 5 pagi.