Lima bulan sebelum pernikahan Rara dan Devan terlaksana, Rara memergoki tunangannya itu tengah berada di rumah saki bersama seorang perempua hamil, awalnya ia mengira itu saudara nya, namun kenyataan pahit harus terpaksa ia telan mengetahui bahwa wanita yabg bersamanya adalah istrinya, wanita yang dinikahi devan satu tahun yang lalu. Dunia Rara seakan berhenti detik itu juga, sakit tentu saja iya rasakan, kecewa apa lagi, Rara tidak tahu harus bagaimana lagi hidupnya tak lagi sma, Rara yang dulu periang kini berubah menjadi pendiam dan berkali kli masuk rumah sakit karena terlalu lelah karena pikirannya. Angga yang kebetulan menjadi dokter yang menangani Rara dan juga seorang sahabat dari Riri, kakak Rara berniat menjodohkan keduanya Angga tentu saja bahagia karena bagaimana pun ia memang sudah diam-diam menyimpan hati pada perempuan cantik pemilik cafe tempat dirinya makan siang di jam istirahatnya. Angga tidak ingin menyerah meskipun gadis itu tidak juga memberikan kepastian meski berkali-kali dirinya mengungkapkan perasaannya. Rara hnya tidak ingin menerima laki-laki itu di saat hatinya masih bersemayam laki-laki masa lalu yang telah menggoreskan luka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon leni septiani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
“Kamu ngebentak aku?” Tanya Rara terbata, kaget mendengar nada suara tinggi tunangannya itu, dan tanpa dikomando air matanya menetes, ia takut saat mendengar suara tinggi Angga, selama ini tunangannya itu belum pernah sekalipun meninggikan suara seperti itu didepannya.
Angga yang melihat air mata Rara mengalir membasahi pipinya merasa bersalah karena sudah meninggikan suarnya, ia terlalu marah saat Rara mengucapkan ‘pernikahannya batal’, ia tak sedikitpun berniat menyakiti tunangan yang sangat dicintainya itu, namun emosi telah menguasai, membuat dirinya tanpa sadar sudah membentak perempuan dihadapannya.
Angga membawa tubuh Rara kedalam pelukannya, berulang kali mengucapkan kata maaf, ia menyesal sudah membuat calon istrinya itu takut.
“Maafin aku sayang, aku gak bermaksud ngebentak kamu, aku hanya gak mau kamu mengucapkan kata-kata itu. Aku gak mau kehilangan kamu, maafin aku,” ucap Angga penuh penyesalan. Rara melepaskan pelukan Angga dan menatapnya tajam.
“Setelah kamu bentak aku, sekarang kamu minta maaf? Kamu tahu, Ga, aku paling gak suka dibentak, selama ini belum pernah ada yang bentak aku sekalipun itu Devan dan Papa. Meskipun Devan menghianati aku tapi dia gak pernah menyakiti perasaan aku sebelumnya, dia gak pernah sekalipun ngebentak aku. Tapi kamu, kamu udah menghianati aku dan sekarang kamu ngebentak aku?” Tanya Rara dengan raut wajah kecewa.
“Ra, dengerin aku, aku gak pernah menghianati kamu, pernikahan kita dan cinta kita. Yang kamu lihat tadi siang itu salah paham, sayang, itu gak seperti apa yang kamu lihat dan kamu pikirkan,” ucap Angga lembut, mencoba menjelaskan.
“Udah jelas-jelas aku lihat dan dengar semuanya, Ga. Aku melihat dengan mata kepala aku sendiri, dan kamu masih bilang itu salah paham? Aku dengan jelas liat kamu meluk dia, aku melihat dengan jelas raut wajah bahagia kamu saat tahu wanita itu hamil dan aku melihat dengan jelas wanita itu menggandeng tangan kamu dengan mesra, dan kamu masih bilang kalau itu adalah salah paham? Aku gak sebodoh itu Angga!” Ucap Rara marah, dengan air mata yang terus mengalir, meluapkan semua emosinya.
“Tapi, Sayang kamu emang sebodoh itu Aera.”
Angga tersenyum kecil, tanpa mengucapkan sepatah kata pun Angga lalu bangkit dari duduknya dan menarik Rara pelan untuk ikut dengannya. Angga membawa Rara keluar dari apartementnya menuju parkiran dimana mobilnya terparkir.
“Masuk!” perintah Angga dingin saat sudah berada di samping mobilnya dan membukakan pintu mobil untuk Rara.
“Kita mau kemana?” Tanya Rara tak kalah dingin.
“Masuk!” perintahnya lagi.
“Gak!”tolak Rara tegas.
“Masuk Aera!” perintah Angga tak terbantahkan, membuat Rara dengan terpaksa menuruti perintahnya.
Keadaan didalam mobil hening, tidak ada satu pun yang membuka suara. Rara yang lebih memilih menatap keluar jendela sedangkan Angga yang sibuk dengan kemudinya, namun sesekali Angga menengok kearah Rara hanya untuk memastikan bahwa perempuan itu tidak menangis. Ada rasa bersalah dalam hatinya karna telah membuat calon istrinya itu terluka karena kata-katanya, namun mau bagai mana lagi ia terpaksa melakukannya.
“Turun!” titah Angga masih dengan nada dingin.
Tanpa membantah Rara turun dari mobil mengikuti Angga yang sudah turun terlebih dahulu. Rara baru menyadari bahwa ternyata Angga membawanya kerumah orang tua Angga, calon mertuanya. Dengan ragu dan hati bertanya-tanya, Rara tetap mengikuti Angga memasuki rumah calon mertuanya itu meski gugup dan tidak mengerti mengapa Angga mengajaknya kesini.
Rara mencoba terlihat biasa saja, saat sampai di ruang keluarga melihat banyaknya orang diruangan tersebut sedang asik bercengkrama, bercanda dan tertawa sampai sang calon mertua menyadari keberadaannya dan langsung menghampiri Rara lalu memeluk erat dirinya. Rara tersenyum dan membalas pelukan calon mertuanya itu hingga pandangannya tertuju pada satu wanita yang dilihatnya tadi siang dirumah sakit bersama Angga membuat senyum Rara luntur seketika, sedangkan perempuan itu menatap Rara dengan senyum manis miliknya.
Ingin sekali ia pergi saat ini juga, namun pelukan Desti menghalangi niatnya itu, Rara masih tidak mengerti apa maksud dari semua ini, dan apa yang dilakukan wanita itu disini, ikut berkumpul bersama saudara-saudara Angga. Apakah semuanya sudah mengetahui ini semua? Apakah keluarga ini mempermainkan dirinya? Berbagai pertanyaan memenuhi kepalanya. Desti melepaskan pelukannya,mengelus pipi Rara dengan sayang lalu menatap Rara dengan tatapan sendu.
“Sayang, kamu gak akan membatalkan pernikahan kalian kan?” Tanya Desti lembut, penuh harap.
“Ta-tapi Ma, Kak Angga..”ucap Rara terbata, namun belum juga Rara menyelesaikan ucapannya Desti dengan cepat menyela.
“Sayang, dengerin Mama. Mama pernah cerita kan tentang Bang Bima, sepupunya Angga?” Tanya Desti yang diangguki oleh Rara.
“Dia Rayna, istrinya Bang Bima,” ucap Desti lembut sambil menatap Rayna sekilas lalu kembali menatap Rara yang tengah kaget mendengar kebenaran ini.
“Waktu itu Mama belum sempat cerita tentang istrinya, karena Angga keburu ngajak kamu pergi. Rayna sudah menikah tiga tahun sama Bang Bima, Rayna juga sangat dekat dengan Angga karena sedari kecil mereka berteman, keduanya udah seperti saudara. Dan soal yang dirumah sakit itu, maaf mungkin Angga reflex meluk Rayna karna terlalu bahagia mendengar kehamilan Rayna yang memang sudah kami semua tunggu-tunggu dari tiga tahun belakangan ini, Bang Bima masih ada kerjaan di luar kota makanya belum kesini dan gak bisa mengantar Rayna yang beberapa hari ini sering muntah-muntah. Makanya Angga yang temani Rayna untuk periksa.” Jelas Desti panjang lebar dengan sabar dan lembut.
Rara yang mendengarkan itu semua menatap sang calon mertua dengan pandangan menyesal dan air mata yang terus mengalir, Rara memeluk erat Desti dan berkali-kali mengucapkan kata maaf, membuat Angga yang duduk di sofa yang bersebrangan dengan Rara dan sang Mama menghembuskan napas lega.
“Maafin Rara yang terbawa emosi, maaf kalau Rara udah menyangka yang enggak-enggak, Rara.. Rara takut kejadian dulu terulang lagi. Rara terlalu kalut, maafin Rara,” ucap Rara sambil terisak dalam dekapan Desti.
“Gak apa-apa sayang, Mama mengerti gimana perasaan kamu, yang penting sekarang kamu sudah tahu kebenarannya, jangan nangis lagi ya?” ucap Desti lembut, lalu menguraikan pelukannya dan mengusap air mata Rara yang mulai berhenti. Membuat semua orang yang berada diruangan itu tersenyum haru, terutama Alya dan Arga yang langsung menghampiri Rara dan memeluknya bersamaan.
“Maafin Rara ya, Mbak Ray, udah salah paham sama mbak,” ucap Rara menyesal, Rayna tersenyum lalu menghampiri Rara dan memeluknya erat.
“Gak apa-apa kok, aku pun kalau ada diposisi kamu pasti akan melakukan hal yang sama. Aku juga minta maaf ya soal kejadian tadi siang, aku gak tahu waktu itu kalau kamu calon istrinya Angga,” ucap Rayna tulus, yang dibalas anggukan oleh Rara.
“Aku gak dipeluk juga, Yang?” Tanya Angga polos lalu menghampiri Rara dan memeluknya dari samping, dengan cepat Rara melepaskan pelukan Angga dan menatapnya datar.
“Ngapain kamu meluk-meluk, tadi aja kamu bentak-bentak aku,” ucap Rara memalingkan wajahnya dari Angga.
“Kak Angga ngebentak kak Rara?” Tanya Alya galak, yang diangguki polos oleh Rara sedangkan Angga hanya cengengesan.
“KAK ANGGA!” Teriak Alya dan Arga bersamaan dengan wajah marah, dan jangan lupakan tatapan tajam dan tangan yang mengepal siap melayangkan tinjuan.
“Yah bodyguardnya ngamuk,” gumam Angga pasrah. Semua orang yang ada diruangan itu tertawa kecuali Alya dan Arga yang sibuk mengejar Angga yang berlari menghindari kedua bodyguard calon istrinya.
paling suka liat matahari terbenam
eeeeeaaaa 😁
tuh ortu Devan gk setuju sm Rara atau gmn sich, kok bisa"nya baru seminggu tunangan mlh di jodohkan sm orang lain, dan Devan jg harusnya tuh bicara sm keluarga Rara dr awal gk jadi cowok pengecut kayak gitu, masak dh nikah setahun msh ada rencana nikah sm Rara 😤