NovelToon NovelToon
The Brides Of Alves (Menikahi Tuan Arogan)

The Brides Of Alves (Menikahi Tuan Arogan)

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Misteri / Badboy / Tamat
Popularitas:198.6k
Nilai: 5
Nama Author: Senja Cewen

Raavero Alves ... Pengacara tampan, maskulin, angkuh, obsesif dan agresif, melakukan dua kesalahan fatal dalam hidupnya. Dia menikahi Rania Alexander untuk sebuah kesepakatan damai dan membawa pulang mantan kekasihnya ke Kediaman Alves, dua hari selepas pernikahannya dengan Rania.

Rania Alexander ... Seorang Wedding Planner. Dia gadis angkuh, cantik, ambisius dan pantang menyerah berjuang untuk menolak pernikahannya dengan Raavero. Dia sedang membangun karirnya dan muak pada pria.

Sementara sang mantan kekasih, berusaha untuk menempatkan kembali posisinya seperti semula saat masih menjadi kekasih Raavero.

Perang dingin di antara keduanya, ditambah sikap anti-pati Ibunda Raav pada Rania, memperburuk keadaan.

Raavero berada di antara dua pilihan, di antara tiga wanita dengan kerumitan mereka masing-masing. Dia hanya harus memilih satu di antara keduanya. Wanita yang dia cintai atau wanita yang melahirkan puterinya?


***********************************************
Dengan rendah hati mohon kritik dan sarannya untuk Author agar lebih baik lagi dalam menulis.

Jangan lupa tinggalkan jejak, like, komen, favorit, share, vote agar Author lebih semangat menulis. Makasih untuk dukungannya.

by Senja Cewen...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja Cewen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28 Kebencian di atas Kebencian...

Hari - hari menyongsong pernikahan klien VIP, menjadi hari-hari paling krusial dalam dunia Rania. Meskipun, telah dipersiapkan matang, semua staf tetap sibuk mondar-mandir membenahi segala kekurangan.

Apalagi klien ini adalah sahabatnya, Andara Aryana Lourez. Namun, Rania tak bisa berkonsentrasi. Ia memikirkan Summer sepanjang waktu. Satu pekan penuh damai kemarin, tak memberi aba-aba untuk keburukan seminggu ke depannya.

Jerit riang Summer saat mengangkat pancingan dan tak sengaja tercebur di sawah, merupakan ingatan terbaik tentang Summer dan itu tertinggal di sana. Seolah Rania membawa pulang sosok lain Summer. Gadis itu murung dan jika bicara, ia akan terus saja mengulang perihal sesuatu. Mengenai suara-suara aneh di kepalanya dan beberapa hal lain yang tidak masuk akal.

Rania mengetuk penanya pelan. Don Huan tak mungkin berbohong dan dari cara Summer menyelamatkannya kemarin dari Raav, Rania yakin Summer menyukai Don Huan.

Matanya tanpa sengaja membentur ponsel. Dering ponsel belakangan menciptakan semacam teror mencekam. Akan tetapi, setiap saat ia memeriksa ponselnya was-was dan langsung melonjak kaget saat ponselnya sungguhan berdering. Nyaring.

"Yah ... Tuhan ... "

Septi. Gadis itu setia mengabari tentang kondisi terbaru Summer. Mereka berdua cukup dekat karena mereka seumuran.

"Nyonya, Pak Raavero membawa nona Summer ke Rumah Sakit. Anda harus segera menyusul kemari. Nona Summer terus memanggil nama Anda, Nyonya."

Kegelisahan itu terjawab sudah. Tergopoh-gopoh, Rania bangkit berdiri dan setengah berlari meninggalkan kantor. Detak sepatunya menggema seantero Bridal. Beberapa staf berhenti bekerja dan menengok ingin tahu. Di tangga menuju lantai satu, Rania perpapasan dengan Alya. Sang asisten melihatnya keheranan.

"Ada apa, Non?"

"Aku harus pergi. Ini darurat. Kalian bisa mulai technical meeting tanpa aku."

"Anda perlu sopir, Nona?"

"Tidak, Alya. Aku akan menyetir sendiri."

Rania melompati dua undakan tangga sekaligus dan nyaris keseleo. Ia mengemudi tanpa sadar. Don Huan tidak masuk dan mungkin telah dipecat oleh Raav. Hanya Tuhan yang tahu ....

Ketika ponselnya kembali berdering, Rania mengumpat pelan. Dia tak pernah begini sebelumnya.

"Ada apa Septi?"

"Nyonya, kami berada di Rumah Sakit Jiwa Misionaris, bukan di Rumah Sakit Umum."

"Rumah Sakit Jiwa?"

Kaki Rania gemetaran, tangannya berkeringat dan sekujur tubuhnya lemas. Mengapa Summer dibawa ke sana?

"Apa yang terjadi Septi?"

"Nona Summer coba melukai dirinya. Nona membenturkan kepalanya ke tembok dan menyayat pergelangan tangannya."

"Separah itukah?"

"Maafkan aku, Nyonya. Petugas Kesehatan terpaksa membiusnya dan membawanya ke sini. Aku akan menunggu Nyonya di parkiran. Jalanan ke sini lumayan menanjak. Tolong berhati-hatilah!"

"Di mana Pak Raavero?"

"Beliau sedang bersama dokter, Nyonya."

"Baiklah. Aku segera ke sana."

Rania memutar kemudinya. Karena terlalu tajam berbelok, lampu kanannya menabrak tembok pembatas trotoar.

Brakkkk...

Beberapa mobil di dua jalur itu membunyikan klakson keras, melayangkan protes. Beberapa di antara mereka melongok ke luar jendela dan terang-terangan berteriak marah padanya. Rania mengangkat tangannya "minta maaf" lalu mengebut ke arah Utara kota.

Para Misionaris membangun sebuah Rumah Sakit khusus untuk ODGJ di sebuah lahan misi, tidak begitu jauh dari kota.

"Yah, Tuhan ... "

Membayangkan Summer di sana membuat Rania bergidik ngeri.

Tak terasa mobilnya telah sampai di depan Rumah Sakit Misionaris. Septi menjemputnya. Wajah sendu Septi memberitahu Rania banyak hal. Rania menyeret kakinya dan berpegangan pada Septi. Mereka menuju kamar Summer.

Mereka langsung ke bangsal khusus, di mana Summer dirawat. Rania terperanjat saksikan keadaan Summer. Seorang perawat menungguinya. Kaki Rania tak sanggup melangkah masuk dan ketika melihatnya, wajah Summer sedikit bercahaya. Mungkinkah obat pemenangnya tidak bereaksi lagi? Gadis itu berbaring gelisah. Summer mengulurkan tangan kanannya, memohon Rania mendekat.

"Kak, mereka bilang 'Aku gila'. Ayo kita pulang. Aku memang mendengar suara, tetapi aku tak gila," bisiknya lemah.

Air mata Rania tergenang di sudut kelopak matanya. Sesuatu meremas jantungnya hingga Rania sulit bernapas. Hatinya hancur. Ini lebih buruk ketimbang ditampar Margareth atau disakiti Raavero. Rania menyentuh dan membelai rambut Summer lembut.

"Kakak akan bawa kamu pulang. Tetapi, kamu harus berjanji tak akan melukai dirimu sendiri. Jika kamu masih berusaha mencoba menyakiti dirimu, kita mungkin akan berpisah."

Summer mengangguk. Matanya mulai sayu kembali. Dia lalu tertidur pulas.

Tak tahan Rania melangkah lunglai ke luar ruangan. Di sudut koridor, Rania memperhatikan lingkungan rumah sakit. Seorang pria melompat-lompat mengikuti gaya vampire di film China. Pasien lain mengikutinya, mereka berkeliling di taman. Rania mendesah putus asa. Ini Pusat Pelayaan untuk ODGJ terdekat dan satu-satunya di sini. Raavero tidak punya pilihan lain.

Septi mendekatinya cemas. Tangannya menyentuh lengan Rania pelan.

"Duduklah, Nyonya!"

"Tidak, Septi."

Margareth menangis tanpa henti. Ketika melihat Rania wanita itu mendekatinya. Margareth mungkin akan melemparnya keluar menembus kaca Rumah Sakit. Wanita itu bersimbah air mata. Sekonyong-konyong Margareth berlutut di depan Rania. Tangannya menyatu di depan dada seperti sedang berdoa. Rania refleks berlutut.

"Ibu!" Rania berseru dan berusaha menopang wanita itu agar tak sampai berlutut.

"Aku mohon ... Jangan lakukan ini pada Summer. Kembalikan dia padaku."

Suaranya bergetar pilu. Rania menggigiti ujung bibirnya kuat. Ia tak sanggup menahan gejolak jiwanya. Untuk pertama kalinya, Rania sungguh marah pada Margareth. Bagaimana bisa mereka berpikir Rania sebagai penyebabnya?

Raavero muncul di ujung koridor ketika Septi memapah Margareth berdiri dan menjauh dari Rania. Pria itu terdiam saat melihat Ibunya memohon ampun pada Rania. Ia mendengus dan mengeram. Tangannya meremas berkas dalam amplop putih kuat.

Ketika Rania mengangkat wajah dan menatapnya ... Raav melangkah cepat penuh amarah mendatanginya. Rania tertegun, belum siap menghadapi situasi membingungkan ini. Gadis bertubuh imut dan berparas cantik itu segera terpojok di sudut koridor rumah sakit oleh lengan-lengan kekar Raav. Lengan itu pernah digunakan untuk mengunci Rania di balkon bahkan di jalanan saat pria itu mencumbunya ... ini adalah ironi. Keluh Rania muram.

"Kamu apakan adikku?" Nada suara Raav berat dan menakutkan. Mata cokelat terluka itu menyengat Rania.

"Raav?"

"Kamu apakan Summer? Mengapa dia seperti itu?"

"A-ku, bersumpah. Demi Tuhan, aku tak tahu."

Raav menghimpit tubuh mungil Rania. Tatapan cokelat gelap dan rahang mengerasnya tak peduli, bahwa Rania sama bingungnya seperti mereka.

"Rania, adikku baik-baik saja saat kamu membawanya berlibur. Jangan membodohiku! Kau akan tahu akibatnya." Dia mendesis.

"Harus berapa kali aku katakan Raav, aku tak tahu. Aku memang bertanggung jawab karena membawanya bersamaku, tetapi aku sama sekali tak tahu mengapa di - "

Raav mencengkeram kerah baju Rania kencang. Kekuatan lengan kanannya membuat tubuh Rania terangkat, menjinjit.

"Raav!!!"

"Sakit?" Menyeringai jahat. "Ini belum seberapa Rania dibandingkan rasa sakitmu nanti. Akan ku pastikan satu-persatu dari keluargamu menderita, seperti yang telah kamu lakukan pada keluargaku."

"Jangan sentuh mereka! Sungguh mereka tak menahu tentang sakit Summer. Sama seperti aku Raav."

Rania menatap Raav tak berdaya memohon pria itu percaya padanya.

"Ayahmu melakukan pengkhianatan, menyebabkan ayahku kehilangan nyawanya, aku maafkan. Ayahmu jadi saksi, menyudutkan Ibuku dan hampir membuatnya mendekam dibalik jeruji, aku maafkan. Ayahmu merampok dan mencuri dari keluargaku dan menghancurkan kami, aku maafkan. Saat Ayahmu mengirimu padaku untuk dijadikan Istri, aku menerimanya. Meskipun, aku membencinya. Tetapi ini sudah kelewatan, Rania. Aku akan membuatmu membayarnya. Aku bersumpah Rania."

Rania bak kucing kecebur selokan, berusaha meraih tepian kering, namun malah tertimpa batu besar. Jika saja waktu bisa kembali. Rania tak akan membawa Summer bersamanya. Rania tak akan menikahi Raavero. Ia akan memilih mencari pinjaman untuk melunasi utangnya.

"Rawat adikku hingga sembuh Rania!"

Mata terkesima Raav padanya musnah berganti kebencian membara. Hal-hal manis di antara mereka berubah jadi kepahitan. Tak ada yang tersisa untuk Rania genggam, hanya amarah. Betapa rapuhnya. Rania mampu menghadapi Raav, amarahnya, ejekannya tetapi bukan kebencian.

Sementara Raavero menghadapi kaca jendela. Kepalanya terkulai di sana. Rania ingin menyentuhnya dan menghiburnya, tetapi Raavero akan jijik padanya. Rania memeluk dirinya sendiri, menguatkan.

"Aku akan mengurusnya dan mengembalikannya seperti semula. Kita hanya perlu tahu analisis dokter. Dia mungkin tertekan oleh sesuatu."

"Kamu akan kembali ke rumahku dan mengurus Summer. Tidak ada hal lebih penting dari merawatnya. Aku tak akan membiarkannya tinggal di Pusat Pelayanan atau rumah sakit. Kamu akan melakukannya, kan?"

Nada dingin suara Raav menyebabkan Rania terperangkap serba salah. Rania tidak menyahut.

"Aku harus mengurus beberapa hal juga, Raav."

"Beberapa hal itu adalah merawat Summer, menjaga Summer dan berada di sisinya saat dia membutuhkanmu. Beberapa hal lain tak penting ... "

"Raav? Aku bukan dokter."

Raavero berbalik dan Rania mundur beberapa langkah.

"Hanya jika Summer sembuh, kembali normal. Aku akan memaafkanmu. Saat Summer kembali, kamu harus berada di rumah."

Katanya tanpa kompromi.

1
✨Susanti✨
bagussss
widya widya
Baca ulang... Baca ulang
widya widya
Baca ulang karena kangen sama Author.. blm ada karya baru
widya widya
Baca ulang karena kangen sama Author
Nurlaela
selalu terpukau dengan karya2 senja cewen..mengaduk2 perasaan..bikin terharu, sedih, bahagia dan cinta..lengkap rasanya
Nurlaela
paling benci dg karakter laki2 yg plin plan...
bunga cinta
dan tamat
bunga cinta
tapi boong
bunga cinta
cieeee
bunga cinta
balik ke sini lg
bunga cinta
miris
bunga cinta
Luar biasa
bunga cinta
Lumayan
bunga cinta
suka
bunga cinta
alurnya keren
iwndoareoxk
lanjutt
widya widya
ceritanya bagus ..
Yang
kereeeeeeen
Suezie Anggel
i love u karya mu thor
Mooie Jkt
Selalu kagum dengan gaya bahasa Author Senja... Gaya ceritanya hidup.. ga bertele2.. dan ga lambat temponya... 🌻🌻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!