Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Empat
"Wahhhh.... Abang bawa banyak makanan enak...!" sorak Laras dan Gibran melihat ada udang saos padang, ikan bakar dan cah kangkung di atas meja makan.
"Abang punya uang, kok bisa beli makanan sebanyak ini? " tanya Laras menatap wajah sang penuh selidik.
"Itu di kasih sama mama teman abang." jawab Ares.
"Ooohhh... Baik banget ya orangnya, nggak kaya keluarga papa yang nggak pernah ingat sama kita." gumam Laras.
Sungguh hati Ares merasa hancur sekaligus marah, mengingat papa dan keluarganya makan enak di cafe tadi, mereka bercanda tawa bersama tanpa ingat ada keluarga yang lain kelaparan.
"Sudah, nggak usah di ingat sayang, sekarang makan lah, nanti keburu di ingin makanannya." ucap Bu Soraya mengalihkan pembahasan anak anaknya, dia tidak ingin anak anaknya terus merasakan sakit hati oleh ayah maupun keluarga ayahnya.
Mereka makan dalam diam menikmati makanan yang di bawa oleh Ares, namun sebagian sengaja minta di pisah oleh Laras dan Gibran, katanya untuk bekal ke sekolah besok pagi.
"Ma, abang minta izin ya? " ucap Ares kepada sang mama hati hati.
"Izin apa bang? " tanya bu Soraya melanjutkan pekerjaannya menjahit seragam sekolah Gibran yang sobek.
"Besok abang mulai kerja sepulang sekolah, dan pulang Pukul 09.00 malam." ucap Ares hati hati.
Deggg....
Bu Soraya kaget mendengar ucapan sang anak.
"Kenapa abang harus bekerja, belum saatnya abang berfikir untuk bekerja, sekarang yang harus abang perhatikan adalah sekolah abang." ucap bu Soraya pelan sungguh sakit hatinya mendengar permintaan sanga anak.
"Abang tidak akan lalai dalam pelajaran ma, abang hanya ingin mengisi waktu luang abang aja, dari pada sepulang sekolah tidak ngapa ngapain, kan lebih baik abang belajar berbisnis dari dini, siapa tau suatu saat nanti abang bisa jadi pengusaha sukses." kelakar Ares supaya sang mama tidak merasa bersalah.
Bu Soraya terkekeh, sekaligus menangis mendengar ucapan sang anak "Aamiin Allahumma Aamiin.... Semoga abang nantinya jadi orang sukses." sahut bu Soraya menghapus air matanya, dia tau bukan hanya itu alasan sang anak, dia sangat tau perasaan anak anaknya yang terus merasakan sakit hati kepada sang ayah, setiap meminta uang atau sesuatu selalu kena hina oleh ayahnya walau ujung ujung nanti tetap memberikan uangnya, tapi kebiasan ayahnya yang lebih suka menyakiti hati anak anaknya dengan kata kata tajam dari bibirnya terlebih dahulu.
"Baiklah, mama mengizinkan abang bekerja, tapi ingat! klau abang merasa capek abang lansung berhenti dari pekerjaan abang ya." tegas bu Soraya.
"Siap boss... " semangat Ares memberi hormat ala ala prajurit.
Bu Soraya terkekeh melihat tingkah anak sulungnya itu. "Ya sudah, sekarang abang istirahat gih biar nggak kesiangan besok." titah bu Soraya.
"Baiklah, aku istirahat dulu ya ma, mama jangan lama lama kerjanya besok masih bisa di lanjut." ujar Ares.
Dan di angguki oleh bu Soraya.
"Bang, mama lupa." ucap bu Soraya, membuat langkah anak sulungnya terhenti.
"Lupa apa ma? " tanya Ares dengan dahi berkerut.
"Kemaren tante Rini nitip uang jajan untuk kamu dan adik adik, yang jatah adik adik mu sudah mama kasihkan, punya abang mama lupa ngasihnya." ucap bu Soraya berdiri lalu berjalan ke arah lemari dan mengeluarkan dompet lusuh dan sudah tidak ada bentuk dari sana.
"Buat mama aja, buat tambahan beli lauk, atau simpan untuk jaga jaga." ucap Ares menolak uang yang di sodorkan oleh bu Soraya.
"Abang, kenapa abang cepat sekali dewasanya sih." isak bu Soraya yang terharu dengan anak sulungnya yang selalu mengerti keadaan dirinya.
"Iya dong, kan mama setiap hari kasih mama abang." kelakar Ares.
"Baiklah, mama simpan uang abang, nanti klau abang butuh, abang bisa minta ke mama." ucap Bu Soraya.
"Bukan untuk di simpan ma, itu uang untuk di pergunakan, kelamaan di simpan bisa beranak dia nanti." kelakar Ares lagi. "Udah ah... abang tidur dulu, sudah ngantuk." ucap Ares meninggalkan sang ibu di ruang tamu.
Lewat jam dua belas, baru lah pak Galih pulang ke rumahnya, karena ketiduran di rumah ibunya, setelah abis makan bersama, mereka juga pergi ke mall membeli sepeda dan HP keponakan pak Galih, membuat pak Galih kelelahan berujung ketiduran.
Sementara untuk anak anaknya, pak Galih hanya membeli selembar baju harga tiga limaan, begitu pun dengan sang istri di belikan baju daster murahan.
"Bikin kan saya kopi." pinta pak Galih kepada sang istri.
"Sudah mau dini hari, kenapa masih minum kopi, nanti nggak bisa tidur loh, Mas bisa kesiangan ke kantornya." ucap bu Soraya lembut.
"Ck, nggak usah banyak ngatur deh, bikin kan saja kopinya." sewot pak Galih tidak terima di tegur sang istri.
Bu Soraya hanya bisa mengelus dada, begitulah suaminya.
Bu Soraya membuatkan kopi hitam dengan sedikit gula untuk sang suami, lalu membawanya ke ruang tamu.
"Ini mas, kopinya. " ucap bu Soraya meletakan secangkir kopi di atas meja.
"Hmmm.... " sejam pak Galih yang sedang menikmati rokok.
Bu Soraya ingin beranjak masuk ke dalam kamar, matanya sudah terlalu ngantuk.
"Mau kemana kamu! " tanya pak Galih.
"Mau tidur mas, sudah nggak kuat." jujur bu Soraya, lalu dengan angkuhnya pak Galih mengambil kantong yang dia bawa tadi dan menjulurkannya ke arah sang istri.
"Ini buat kamu dan anak anak, tadi saya ke mall dan beli ini buat kalian." ucap Galih.
"Mmm... Terimakasih." sahut bu Soraya mengambil kantong itu dengan wajah biasa aja, karena tidak berharap lebih dari suaminya itu, dan kapan perlu suaminya tidak usah membelikan apa apa, karena ujung ujungnya akan mengungkit ungkit apa yang dia berikan kalau marah, jadi sebuah trauma besar untuk bu Soraya dan anak anaknya.
"Hmmm.... Dan ini uang bulanan mu, itu saya tambahkan tiga ratus ribu, karena saya dapat bonus lebih bulan ini." ucap pak Galih lagi menyilangkan kakinya.
"Iya, terimakasih." jawab bu Soraya lagi mengambil uang itu, walau dalam hati mengutuk sang suami, dia pikir menambah uang tiga ratus ribu itu sudah merasa paling baik, padahal uang yang dia berikan setiap bulan tidak cukup untuk biaya hidup satu minggu, klau di hitung dengan bayar token listri, gas, biaya tak terduga lainnya.
Dari pada ribut masalah uang, bu Soraya lebih memilih bekerja sampingan, agar bisa menutupi kekurangan uang dapurnya.
"Sabar Soraya, sabar sedikit lagi." gumam bu Soraya dalam hati.
Bersambung.....
Haiii.... Jangan lupa like komen dan vote ya.... 😘😘😘
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti