NovelToon NovelToon
SANG UTUSAN

SANG UTUSAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Alenda

Selepas Kematian kedua orangnya, kehidupan yang lebih kejam harus dihadapinya. Namun tanpa disangka, Wira yang tak memiliki ilmu kanuragan sedikitpun, nyatanya dipilih oleh Dewata untuk melawan bangsa Iblis yang hendak menguasai Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alenda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keributan

Setelah sadar dari lamunannya, Wira bangkit berdiri. Dia merasa tidak boleh larut dalam kesedihan akan rindunya kepada sosok kedua orang tuanya. Dulu, Dirga dan Gayatri selalu menekankan kepadanya untuk menjadi pribadi yang kuat dan tidak gampang menyerah dengan keadaan. Sebelum nyawa terlepas dari tubuh, maka peluang masih akan tetap ada selama masih tetap mau berusaha.

Meski Wira saat itu masih begitu kecil, namun petuah demi petuah yang diberikan kedua orang tuanya saat mengantarkannya tidur, terus terngiang di telinganya. Bahkan sampai kini di saat dia sedang beranjak menuju sosok yang lebih dewasa dan bisa berpikir sendiri, petuah-petuah itu serasa masih terngiang di telinganya.

BERSYUKUR ADALAH KUNCI DARI KEBAHAGIAANMU. Kalimat itulah yang selalu diucapkan kedua orang tuanya setiap hari dan menjadi penutup dari petuah-petuah bijak yang menjadi santapannya sebelum terhanyut dalam buaian mimpi.

Wira tersenyum sendiri saat mengingat semua kenangannya. Kini dia harus fokus untuk menghadapi turnamen yang akan segera diselenggarakan pihak istana Kerajaan Sanggawana.

Sebelum pemuda itu beranjak meninggalkan pohon rindang yang menjadi saksi lamunannya, 6 orang lelaki berwajah sangar mendatanginya.

"Serahkan semua harta yang kau miliki, Bocah!" bentak seorang dari mereka.

Wira sedikit terkejut dengan kehadiran keenam orang itu. Namun dia bisa menguasai keterkejutannya dan bersikap tenang.

"Aku tidak memiliki apapun untuk kuberikan kepada kalian."

"Bohong! Apa kau kira mataku sudah buta? Berikan perhiasan yang kau pegang itu jika ingin selamat dan pergi dari tempat ini hidup dalam keadaan utuh!"

Dilihat dari bau mulutnya, Wira bisa menduga jika keenam orang itu dalam keadaan mabuk. Belum lagi ditambah dengan mata mereka yang merah dan gerak tubuh yang tidak stabil.

"Situasi hatiku sedang tidak baik saat ini. Pergilah sebelum aku membuat kalian malu!" ucap Wira tenang.

"Bocah gemblung! Kau berani mengancam kami? Apa kau sudah bosan untuk hidup?"

"Aku tidak mengancam kalian, tapi memberi peringatan. Aku bisa saja membunuh kalian semudah menepuk lalat sekarang juga. Jadi sebelum terjadi sesuatu kepada kalian, pergilah!" Suara Wira intonasinya berubah menjadi sedikit lebih keras dan menekan.

"Hahahaha! Teman-teman... lihatlah bocah ini! Dia ternyata tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa. Berani-beraninya bocah edan ini bersikap sombong di depan kita! Aku beritahu, Bocah... kau saat ini sedang berhadapan dengan kami gerombolan penguasa pasar."

"Aku tidak peduli kalian siapa, aku memberi peringatan terakhir sebelum tanganku menghajar wajah kalian yang jelek itu. Pergilah!" bentak Wira dengan keras. Dia lalu memasukkan kalung milik ibunya kembali ke dalam pakaiannya.

Keributan yang terjadi di alon-alon Kotaraja itu memantik perhatian puluhan orang yang berada di sekitar. Namun tidak satupun dari mereka yang berinisiatif untuk membantu. Mereka tidak mau berurusan dengan gerombolan yang sering memalak di pasar di dekat alon-alon Kotaraja itu.

Pengawal Raden Sanjaya yang melihat keributan itu tersenyum lebar. Bukan tanpa alasan tentunya pengawal itu tersenyum. Dengan adanya 6 orang itu, maka sudah ada yang akan menggantikan tugasnya dan ketiga temannya untuk menghabisi pemuda tersebut.

"Bangsat! Teman-teman, mari kita hajar bocah edan ini!"

Keenam orang itupun serentak merangsek maju untuk menyerang Wira.

"Baiklah jika itu pilihan kalian! Aku harap kalian jangan menyesal," ucap Wira sebelum tubuhnya bergerak cepat menghajar satu persatu dari keenam orang itu.

Dalam waktu yang sangat singkat, 6 lelaki itu sudah tergeletak di tanah. Mereka tidak kuasa menghadapi kecepatan yang dimiliki Wira. Bahkan tidak ada satu pun dari mereka yang sempat melepaskan serangan, karena pukulan dan tendangan Wira sudah terlebih dahulu mendarat di tubuh mereka.

Wira berjongkok di samping lelaki yang tadi membentaknya, "Aku sudah memberitahu kalian, jangan mencari masalah denganku. Jika kalian tidak terima dan ingin membalas dendam, aku tunggu kedatangan kalian! Aku menginap di penginapan itu jika kalian ingin mencariku!" Wira menunjuk penginapan tempatnya menginap.

"Saat ini aku masih memaafkan kalian. Tapi jika kalian masih mau meneruskan masalah ini, aku pastikan nyawa kalian tidak akan ada yang selamat!" sambungnya.

Tidak ada satupun dari keenam orang itu yang berani menatap wajah Wira. Mereka berenam larut dalam ketakutannya masing-masing tanpa terkecuali. Rasa nyeri di ulu hati yang mereka rasakan akibat pukulan pemuda itu, sudah menjadi peringatan keras bagi mereka untuk tidak lagi berurusan dengan pemuda tampan tersebut.

Semua orang yang melihat betapa cepatnya Wira menghajar 6 orang yang mengeroyoknya, seakan dibuat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. 6 orang yang biasa membuat keributan di pasar, ternyata takluk di tangan seorang pemuda. Pertanyaan demi pertanyaan tentang siapa pemuda itu pun berputar-putar di benak mereka.

Ketidakpercayaan yang besar juga dirasakan pengawal Raden Sanjaya. Dia tidak mengira jika pemuda itu memiliki kemampuan yang tidak biasa. Senyum lebar yang tadi tercetak di bibirnya langsung menghilang seketika. Dan hanya raut wajah gelisah yang kini ditampakkannya.

Jika pemuda itu bisa menghajar 6 orang dewasa dengan begitu cepat, besar kemungkinan dia dan ketiga temannya juga akan mengalami nasib yang sama, pikirnya. Meski dia dan ketiga temannya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dari 6 orang itu, tapi itu bukan jaminan untuk bisa mengalahkan pemuda tersebut.

"Jika aku melihat kalian membuat onar atau mencelakai orang, aku tidak segan akan membunuh kalian! Sekarang pergilah sebelum aku berubah pikiran."

Tanpa mengucap sepatah katapun, mereka berenam langsung bangkit dan berlari meninggalkan Wira di tempat itu.

"Ada-ada saja masalah yang harus aku alami," gumam Wira dalam hati. Dia lalu melangkahkan kakinya menuju penginapan.

Setelah melihat Wira memasuki penginapan, pengawal Raden Sanjaya langsung berlari mencari teman-temannya.

Di rumah bangsawan Lesmana, seorang prajurit terlihat tergopoh-gopoh berlari ke dalam. Dia lalu berhenti di depan ruangan yang difungsikan sementara sebagai tempat pendaftaran turnamen nanti.

"Kau sudah kembali. Apa ada informasi yang kau dapatkan?"

"Pemuda itu ternyata bukan pemuda sembarangan, Tuan. Hamba melihat dia mengalahkan 6 orang sekaligus dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan 6 orang itu tidak bisa memberinya perlawanan sama sekali," jawab prajurit itu.

"Apa kau tidak bohong? Lalu alasannya apa dia menghajar 6 orang itu?" tanya Lesmana.

"Aku mengetahui kalau 6 orang itu adalah gerombolan yang sering membuat keributan di pasar, Tuan. Dan sepertinya mereka mau berbuat tidak baik terhadap pemuda itu. Namun ternyata mereka salah sasaran. Bahkan menurut hamba, jika pemuda itu mau membunuh mereka, dia akan sangat mudah melakukannya."

Lesmana termenung dalam diamnya. Dia tidak menduga jika pemuda yang diremehkannya, ternyata memiliki kemampuan yang cukup tinggi.

"Sekarang pemuda itu di mana?" tanya Lesmana lagi.

"Dia menginap tidak jauh dari sini, Tuan."

"Baiklah. Terus cari informasi siapa dia dan ajak beberapa temanmu untuk terus mengawasinya!"

"Baik, Tuan," jawab prajurit tersebut.

Sementara itu, pengawal Raden Sanjaya yang tadi melihat Wira di alon-alon Kotaraja, sudah berhasil menemukan teman-temannya. Dia lalu menceritakan kejadian yang tadi dilihatnya saat pemuda itu mengalahkan 6 orang sekaligus dalam waktu singkat.

Setelah berunding, mereka akhirnya memutuskan untuk membawa lebih banyak orang lagi untuk menghabisi Wira.

Malam harinya, di saat suasana sudah sangat sepi, pengawal Raden Sanjaya bersama 20 orang yang mereka sewa, bergerak menuju penginapan tempat Wira menginap untuk menjalankan aksinya menculik Sinta sekaligus membunuh Wira.

1
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Gas🚬🗿
Vina Manis: belum🤣
total 3 replies
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
Bagus lagi kalau namanya BAHLILudin 👍🏻☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!