Sepuluh tahun membina rumah tangga, Adila mengira restu mertua adalah pelindung abadi bagi cintanya dan Revan. Namun, segalanya runtuh saat Meisya sahabat masa lalu Revan hadir membawa janin di rahimnya karena suaminya meninggal.
Tiba-tiba, pengorbanan Adila sebagai istri sekaligus calon dokter yang mandiri justru menjadi senjata untuk memojokkannya. Karena dianggap mampu berdiri sendiri, Adila dipaksa mengalah. Revan mulai membagi perhatian, waktu, hingga nafkah bulanan demi menjaga Meisya yang dianggap lebih rapuh.
Hati Adila hancur saat melihat Revan membelai perut wanita lain dengan kasih sayang yang seharusnya menjadi miliknya. Ketika restu itu ditarik kembali dan posisinya sebagai istri perlahan dijandakan di rumah sendiri, masihkah ada alasan bagi Adila untuk bertahan? Ataukah gelar dokter yang ia kejar akan menjadi jalan baginya untuk melangkah pergi dan meninggalkan pengkhianatan ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restu Yang Ditarik Kembali
Malam menjatuhkan tirainya di atas langit Jakarta, membawa semilir angin sejuk yang menggoyang dedaunan di taman belakang kediaman utama Keluarga Wijaya. Setelah sepuluh tahun dilewati dalam kesunyian tanpa kehadiran putri bungsu mereka, malam ini, rumah megah bak istana itu akhirnya kembali dipenuhi oleh kehangatan yang utuh.
Di ruang keluarga privat yang terletak di lantai dua sebuah ruangan luas dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah kolam renang infinity dan gemerlap lampu kota seluruh anggota keluarga berkumpul. Tidak ada pelayan yang diizinkan masuk ke ruangan ini malam itu Mami Ratna ingin momen ini benar-benar menjadi waktu privat mereka yang telah hilang selama satu dekade.
Suasana ruangan itu begitu tenang dan berkelas. Sebuah perapian marmer modern menyala kecil, memberikan kehangatan yang pas di antara sejuknya pendingin ruangan. Adila duduk di atas sofa beludru berwarna krem yang sangat empuk, mengenakan pakaian rumah sutra longgar yang nyaman pemberian Siska. Di pangkuannya, terdapat secangkir teh chamomile hangat yang aromanya menenangkan batin.
Di samping kirinya, Mami Ratna duduk rapat, tangannya tidak pernah berhenti mengusap rambut atau menggenggam jemari Adila, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, putri bungsunya akan menghilang lagi. Di seberang mereka, Papi Hadi duduk dengan kacamata bacanya yang bertengger di hidung, nampak santai dengan kaos polo hitam, namun sisa-sisa wibawa seorang penguasa bisnis tetap melekat kuat pada dirinya. Sementara itu, Ardi dan Siska duduk di sofa tunggal di sisi lain, menikmati camilan malam dengan wajah yang dipenuhi senyuman lega.
"Papi masih hampir tidak percaya kamu duduk di sini lagi, Dila," ucap Papi Hadi memecah keheningan, suaranya yang berat kini terdengar begitu lembut penuh kasih sayang. Ia meletakkan tablet kerjanya di atas meja kaca, lalu memfokuskan pandangan sepenuhnya pada Adila.
Adila menunduk sedikit, merasa ada kehangatan yang menyeruak di dadanya. "Adila juga, Pi. Maafkan Adila yang dulu begitu keras kepala..."
"Sudah, jangan bahas masa lalu yang tidak berguna itu lagi," potong Mami Ratna cepat, matanya berkaca-kaca sembari mengecup pelipis Adila. "Yang penting sekarang anak perempuan Mami yang paling cantik ini sudah pulang dengan selamat, sudah terbebas dari jeratan laki-laki parasit itu."
Papi Hadi membenarkan posisi duduknya, lalu menatap Adila dengan binar ketertarikan yang besar pada perkembangan hidup sang anak. "Papi dengar dari Ardi, kemarin kamu baru saja menyelesaikan ujian besar di rumah sakit? Bagaimana kemajuan koas dan pendidikan doktermu sekarang, Sayang? Papi mau tahu sejauh mana putri bungsu Papi ini sudah melangkah."
Adila tersenyum, ada rasa bangga yang membuncah saat ia bisa menceritakan pencapaiannya di depan sang Ayah. "Alhamdulillah Pih. Kemarin Adila sudah menyelesaikan ujian praktik nasional yang namanya OSCE. Itu bagian dari UKMPPD, ujian negara untuk kelulusan dokter. Semua stase atau departemen selama koas sudah Adila lewati dengan nilai yang sangat baik, terutama stase terakhir kemarin di bagian Kebidanan dan Kandungan (Obgyn)."
"Lalu, kapan hasil sidang kelulusan atau pengumuman resminya akan keluar, Dil?" tanya Papi Hadi lagi, nampak sangat antusias. Sebagai seorang pebisnis sukses, ia selalu menghargai pencapaian performa yang tinggi, dan melihat Adila bisa bertahan di dunia medis yang keras sendirian membuat rasa hormatnya pada sang putri melonjak tinggi.
"Kalau sesuai dengan aturan nasional, hasilnya tidak bisa langsung keluar hari itu juga, Pi," jelas Adila dengan nada bicara dokter mudanya yang terstruktur dan cerdas. "Semua nilai dari seluruh universitas di Indonesia harus direkapitulasi dulu oleh panitia pusat di Jakarta. Pengumuman resminya biasanya memakan waktu sekitar tiga sampai empat minggu ke depan. Jadi sekarang Adila tinggal menunggu surat keputusan kelulusan resmi itu keluar."
"Tiga sampai empat minggu? Baguslah, itu artinya kamu punya waktu untuk beristirahat total sebelum kesibukan barumu dimulai," sahut Ardi dari sofanya, ia menyesap kopinya sejenak. "Papi tahu tidak? Dokter pembimbing Adila di rumah sakit, namanya Dokter Adrian, kemarin memuji performa Adila di depan penguji nasional. Dia bilang Adila adalah dokter muda terbaik yang pernah dimiliki departemennya."
Mami Ratna tersenyum bangga mendengar hal itu. "Tentu saja! Anak siapa dulu? Adila ini mewarisi kejeniusan Papi dan kecantikan Mami."
Papi Hadi mengangguk-angguk puas, senyuman lebar terukir di wajah tuanya yang terhormat. "Bagus, sangat bagus. Papi bangga mendengarnya. Setelah hasil pengumuman itu keluar dan kamu resmi disumpah menjadi dokter, Papi akan memastikan rumah sakit baru yang sedang kita bangun di Jakarta Selatan akan memiliki departemen Obgyn paling canggih untuk kamu kelola."
Papi Hadi kemudian menarik napas dalam-dalam, ekspresi wajahnya berubah menjadi sedikit lebih serius namun penuh dengan permohonan yang mendalam. Ia menatap Adila dengan tatapan mata seorang ayah yang ingin melindungi anaknya dari segala mara bahaya dunia luar.
"Dila... ada satu hal lagi yang ingin Papi bicarakan," ucap Papi Hadi pelan. "Papi tahu, kemarin kamu sempat membeli sebuah hunian mewah baru di kawasan Jakarta Selatan atas rekomendasi rekan doktermu itu untuk tempat tinggal pribadimu setelah keluar dari rumah Revan."
Adila mengangguk. "Iya, Pi. Rumahnya cukup aman dan tenang untuk Adila belajar."
"Papi minta... kamu jangan tinggal di rumah mewah barumu itu sendirian, Dila," ujar Papi Hadi dengan nada tegas namun penuh kasih sayang yang tidak bisa dibantah. "Tinggallah di sini, di rumah utama bersama Papi, Mami, dan kakak-kakakmu kembali. Rumah ini terlalu besar kalau hanya dihuni oleh kami, dan sepuluh tahun kehilangan kamu sudah lebih dari cukup membuat rumah ini terasa sepi."
Mami Ratna langsung menggenggam kedua tangan Adila dengan erat, matanya menatap Adila dengan pandangan memohon yang teramat sangat. "Iya, Sayang. Tolong turuti permintaan Papi. Mami tidak akan tenang membiarkan kamu tinggal sendirian di rumah sebesar itu, meskipun keamanannya berlapis. Mami mau setiap pagi bisa melihat kamu sarapan di meja makan kita, Mami mau mendengar cerita kamu sepulang dari rumah sakit. Jangan pergi lagi dari rumah ini, Dila. Tempatmu adalah di sini, bersama kami."
Siska ikut bangkit dari duduknya, berjalan mendekat dan duduk di karpet bulu di depan lutut Adila, mendongak sambil tersenyum manis. "Iya, Dil. Kamar lamamu yang sudah dirombak itu sengaja didesain khusus agar kamu betah. Aku juga sudah memenuhi walk-in closet-mu dengan baju-baju desainer terbaru. Kalau kamu tinggal di rumah barumu sendirian, siapa yang akan menemani aku bergosip tentang fesyen setiap malam?"
Ardi juga mengangguk setuju. "Rumah barumu itu biarkan saja menjadi aset investasimu atau bisa kamu gunakan sebagai tempat peristirahatan sementara kalau kamu sedang lelah setelah sif malam di rumah sakit yang jaraknya dekat dari sana. Tapi rumah utamamu, tempatmu pulang dan tidur setiap hari, harus tetap di sini, di bawah perlindungan Keluarga Wijaya."
Adila menatap wajah satu per satu anggota keluarganya. Rasa hangat yang begitu pekat mendadak memenuhi rongga dadanya, membuat matanya kembali berkaca-kaca. Sepuluh tahun lalu, ia membuang semua cinta tulus ini demi seorang pria yang akhirnya mengkhianatinya dengan sangat kejam. Namun malam ini, di dalam ruangan yang penuh dengan kemegahan dan kasih sayang ini, Adila menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh ia tersesat, pelukan keluarganya adalah satu-satunya tempat di mana ia akan selalu diterima tanpa syarat.
Adila mengembuskan napas lega, senyuman paling tulus dan bahagia terukir di wajah cantiknya. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada sang Mami, lalu menatap Papinya dengan anggukan mantap.
"Baik, Papi... Mami... Adila akan tinggal di sini. Adila tidak akan pergi lagi dari rumah ini. Terima kasih karena sudah mau menerima Adila pulang," ucap Adila dengan suara yang bergetar haru.
Mami Ratna langsung bersorak gembira dan kembali memeluk Adila dengan sangat erat, diikuti oleh Siska yang ikut memeluk kakaknya dari bawah. Papi Hadi dan Ardi hanya bisa tersenyum lebar menyaksikan pemandangan itu, merasakan bahwa potongan teka-teki Keluarga Wijaya yang sempat hilang selama sepuluh tahun kini telah kembali ke tempatnya dengan sempurna. Malam itu, di bawah atap istana mereka yang megah, Adila benar-benar merasakan arti dari sebuah kata pulang yang sesungguhnya. Hidup barunya telah dimulai dengan pondasi yang teramat kokoh.