RAVEN KRISHNAWARDHANA (18 tahun ) adalah putra tunggal dari keluarga pengusaha kaya yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis. Namun sosoknya yang angkuh, susah diatur, dan sering menghabiskan waktu untuk nongkrong bareng geng motornya.
Membuat kedua orang tua Ravan langsung menyetujui usulan perjodohan yang di usulkan rekan bisnisnya, mereka berharap dengan menikah Raven bisa berubah. Namun bukan Raven namanya jika tak menolaknya mentah-mentah, ia tidak mau terikat perasaan sama wanita manapun, ia hanya ingin menikmati masa mudanya bersama geng motornya.
Sampai suatu hari, ia bertemu Sara, murid baru yang misterius yang baru pindah dari luar negeri.
Gadis itu bernama SAVIRA AURELIA alias Sara 17 tahun. Sara, cantik pintar, ceria tapi misterius. Karena kecantikan alaminya, ia tak jarang jadi rebutan para remaja laki-laki di sekolah barunya dan itu membuat seorang Raven Krishnawardhana terpaksa menarik kata-katanya, karena kini perasaannya yang terjebak dalam pesona murid baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 34
Raven menatap lekat manik mata istrinya, sebelum akhirnya bertanya dengan nada rendah, "Ngomong-ngomong, soal Kakekmu... dia selama di Indonesia tinggal di mana?"
"Kakek tinggal di sebuah vila pribadinya," jawab Sara singkat.
Senyum tipis kembali terukir di bibir Raven. "Berarti dia tak tinggal di apartemenmu kan, berati nanti malam kau bisa menginap di apartemen kita kan," ucapnya pelan sekali, berbisik agar ketiga temannya yang berdiri tak jauh dari sana tak ikut mendengar.
Sara menunduk sejenak, raut wajahnya tampak berat. "Maaf, Raven... sebenarnya malam ini aku masih sangat sibuk. Ada beberapa urusan penting yang harus segera kuselesaikan."
Raven mengerutkan kening. "Urusan apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya mulai khawatir.
"Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Nanti, kalau sudah ada waktu yang tepat, aku akan beritahu semuanya padamu!" jawabnya menghindar, ia tak ingin Raven terlibat dalam masalah ini.
Senyum di bibir Raven perlahan luntur. Matanya menatap Sara lekat, ada perih samar yang tersembunyi di sana. "Kau tidak percaya padaku?" bisiknya dengan suara yang terdengar terluka. "Aku ini suamimu, sekaligus sahabat kecilmu... kenapa rasanya kau masih menaruh tembok di antara kita?"
"Aku tahu itu, Raven," balas Sara lembut namun tegas, menyadari nada kecewa dalam ucapan suaminya. "Tapi ini menyangkut Kakekku. Aku harus memastikan semuanya dengan caraku sendiri dulu."
"Kalau begitu biarkan aku membantumu! Katakan saja apa yang sedang kau cari, aku akan bantu sekuat tenagaku!" tawarnya tulus tanpa ragu.
Sara terdiam sejenak. Ada benarnya juga ucapan Raven. Dia bukan hanya suaminya, tapi juga sahabat masa kecil yang selalu bisa dipercaya. Lagipula, Raven adalah tetangga lama keluarga Wijaya, pasti dia tahu sesuatu.
"Baiklah kalau begitu," putus Sara akhirnya, merasa beban di pundaknya perlahan berkurang. "Nanti malam kita bicarakan semuanya di apartemen. Sekarang aku dan Kak Leon harus melanjutkan perjalanan dulu."
"Baiklah," ucap Raven sambil mengangguk mengerti. "Hati-hati di jalan. Jangan lupa kabari aku kalau sudah sampai di tujuan."
"Iya, kalian juga hati-hati di jalan!" sahut Sara dengan senyum hangatnya.
Raven membalas senyuman istrinya lalu sebelum beranjak ia mendekat pada Leon. "Pak Leon titip istriku ya!" bisik Raven pelan.
Leon mengangguk paham sambil tersenyum tipis. "Tenang itu sudah tugas saya melindunginya!" singkatnya tegas.
Setelah itu, tanpa menambah kata lain, Raven segera menaiki kembali motornya dan memberi isyarat pada Alden, Arga, serta Angga untuk ikut pergi. Setelah sosok mereka menghilang di tikungan jalan, Sara dan Leon pun segera melajukan kembali kendaraan mereka, melanjutkan misi yang sempat tertunda tadi.
*
*
Sementara itu di vila kediaman Don Vincenzo, suasana terasa tenang dan megah. Setelah makan malam selesai, Don memanggil asisten kepercayaannya masuk ke ruang kerja pribadinya. Mark mendekat dengan sikap siap siaga, mendengarkan dengan saksama setiap perkataan tuannya.
"Siapkan hadiah-hadiah terbaik untuk dikirim ke kediaman keluarga Wijaya besok pagi. Dan satu lagi, siapkan juga acara penyambutan untuk cucu kandungku. Aku harus segera mengumumkan kepada publik bahwa Chelsea adalah cucu sah keluarga Vincenzo," perintah Don dengan nada tegas namun menyiratkan kebahagiaan yang mendalam.
Mark terdiam sejenak, ragu untuk menyampaikan keraguannya namun merasa bertanggung jawab atas keselamatan dan nama baik tuannya. Dengan hati-hati ia membuka suara. "Mohon maaf Tuan Don... bukankah ini terasa agak terburu-buru? Sebaiknya kita memastikan segala kebenaran terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan sebesar ini."
Alis Don seketika bertaut menatap tajam. "Apa maksud perkataanmu? Apakah kau meragukan cucuku sendiri? Dia sudah lama kesepian setelah kedua orang tuanya meninggal. Aku sebagai kakeknya harus memastikan dia bahagia. Akan kutebus semua penyesalan ini dengan memberikan kebahagiaan yang pantas dia dapatkan," tegas Don, matanya sedikit memerah menahan sesak setiap kali mengingat putrinya satu-satunya telah tiada.
"Bukan begitu maksud saya, Tuan!" cepat-cepat Mark memperjelas. "Saya hanya berpikir langkah ini terlalu cepat. Lagipula... bagaimana dengan Nona Sara? Bukankah sebaiknya Tuan juga meminta pendapatnya? Bagaimanapun juga, Nona Sara sudah Tuan angkat sebagai cucu, dan itu artinya ia juga bagian dari keluarga Vincenzo."
Don terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk menyadari kelalaiannya. "Kau benar juga. Aku hampir melupakan Queen. Baiklah, besok setelah pertemuan urusan perusahaan di Krisnawardhana selesai, suruh Queen datang ke sini. Aku ingin membicarakan masalah ini dengannya."
"Siap, Tuan. Segera akan saya atur," jawab Mark patuh sambil menunduk hormat. Ia pun berjalan mundur keluar ruangan. Di balik pintu yang tertutup rapat, ia menghela napas panjang pelan. "Semoga dugaan saya salah, Tuan. Saya tidak ingin melihat Tuan hancur untuk kedua kalinya karena penyesalan," batinnya penuh kecemasan.
*
*
Malam harinya di apartemen mereka, Sara dan Raven duduk berhadapan di ruang tengah yang hangat. Suasana hening sejenak sebelum Sara akhirnya menceritakan semua yang ia rasakan, lihat, dan dengar saat berada di kediaman keluarga Wijaya tadi siang bersama sang Kakek.
Raven mendengarkan dengan saksama, wajahnya perlahan berubah serius seiring berjalannya cerita. "Kau benar... Semua ini terdengar sangat janggal dan tidak masuk akal. Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Kita harus menyelidiki latar belakang keluarga Wijaya lebih dalam lagi."
"Tapi aku bingung harus mulai mencari dari mana," gumam Sara tampak bimbang.
Raven tersenyum tipis, menatap istrinya dengan pandangan penuh keyakinan. "Tenang saja. Mommy dan Daddy pasti tahu seluk-beluk asal-usul keluarga Wijaya serta kejadian masa lalu mereka. Besok kita temui Mommy."
Mata Sara seketika berbinar penuh harapan, rasa lega kembali menyelimuti hatinya. "Baiklah kalau begitu! Terima kasih, suamiku. Rasanya jauh lebih tenang kalau kita menghadapi ini bersama. Sekarang mari kita istirahat dulu, aku jadi tak sabar menemui Mommy besok."
"Suamiku! Jadi kau sekarang mengakui aku sebagai suamimu secara resmi ya?" goda Raven dengan mata berbinar jahil.
Sara seketika salah tingkah, pipinya memerah seketika. "Ah! Apaan sih kau, Raven! Memang kita suami istri kan? Sudahlah, aku malas berdebat denganmu. Dah, aku masuk duluan!" elaknya sambil berjalan cepat menuju pintu kamar.
Raven tersenyum lebar melihat tingkah istrinya, lalu segera ikut bangkit berdiri. "Tunggu suamimu dong! Aku juga mau tidur!" serunya sambil berlari kecil menyusul Sara.
Bersambung...
Ayo Sara, kumpulkan semua bukti-bukti itu/Determined/, Ku menunggu pembalasanmu pada mereka, orang yang telah membunuh keluargamu, dan juga mengambil semua hak-hak yang seharusnya menjadi milikmu/Determined//Determined/