Aldara, wanita yang hatinya baru saja remuk redam ditinggalkan kekasih demi wanita lain, berusaha menyembunyikan kesedihannya di balik senyum tenang agar tidak dikasihani orang lain. Ketika dipanggil oleh kenalannya, Siska, untuk bertemu di kafe langganan, ia tidak menyangka bahwa kunjungannya kali ini akan menjadi titik balik hidupnya. Di sana ia diperkenalkan kepada Aries—seorang pemuda pendiam namun memiliki pesona tersendiri. Pertemuan yang awalnya terasa biasa saja perlahan membuka jalan bagi sebuah kisah baru yang akan menyembuhkan luka lama dan mengajarkan Aldara arti cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chinta Maulana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 005: Awal yang Penuh Harapan
Keesokan paginya, sinar matahari perlahan menyelinap masuk lewat celah tirai jendela kamar Aldara, membangunkannya dari tidur yang semalam terasa tidak terlalu nyenyak. Pikirannya masih terus melayang, mengingat kembali setiap kata dan peristiwa yang terjadi semalam di taman kota bersama Aries. Di hatinya masih tersisa rasa takut yang samar, bekas luka masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, namun di sisi lain, mulai tumbuh benih harapan baru yang perlahan terasa hangat. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri, bahwa tidak semua orang akan menyakiti seperti yang pernah dialaminya dulu.
Baru saja Aldara selesai merapikan tempat tidurnya, ponsel di meja samping tempat tidurnya berdering lembut. Begitu melihat nama yang tertera di layar, sudut bibirnya otomatis terangkat membentuk senyum yang tak bisa disembunyikan. Panggilan itu datang dari Aries.
“Halo, selamat pagi,” sapa Aldara dengan nada suara yang lebih lembut dari biasanya.
“Selamat pagi juga, kesayanganku. Sudah bangun dan sarapan?” tanya Aries dari seberang telepon, suaranya terdengar hangat dan menenangkan hati.
“Baru saja bangun, belum sempat menyiapkan makanan,” jawab Aldara jujur.
“Ingat ya, sayang, jangan sampai melewatkan waktu makan, apalagi sampai perut kosong, itu tak baik buat kesehatan kamu,” pesan Aries dengan nada perhatian yang tulus.
“Iya, nanti aku makan kok,” jawab Aldara sambil tetap tersenyum, meski tahu Aries tak bisa melihat senyumannya.
“Baiklah kalau begitu, aku tutup teleponnya dulu ya. Sebentar lagi aku harus berangkat ke tempat kerja,” pamit Aries.
“Iya, hati-hati di jalan,” balas Aldara lembut.
Setelah sambungan terputus, Aldara segera bersiap mandi dan merapikan diri. Hari ini, ia mengenakan pakaian sederhana seperti biasa, kaos polos dipadukan celana jins, namun tetap terlihat memikat dengan pesona alaminya. Ia pun berangkat mengendarai motornya menuju kafe tempat ia dan teman-temannya biasa berkumpul, sekalian untuk mengisi perut yang mulai terasa lapar.
Sesampainya di kafe, Aldara melangkah masuk dan langsung melihat Sheina, Hafizah, serta Dede Ara sudah duduk menunggunya.
“Aldara!” panggil Hafizah dengan suara lembutnya.
“Hai semuanya. Sepertinya kalian sudah pesan makanan, bahkan sudah pesankan untukku juga ya? Tahu saja kalau aku lapar,” ucap Aldara sambil tersenyum melihat hidangan yang sudah tersaji rapi di atas meja.
“Tentu saja dong, kami tahu kebiasaan Kakak yang sering lupa makan kalau tidak diingatkan,” jawab Dede Ara santai.
“Oh iya Dar, kebetulan sekali aku dengar ada gosip menarik nih soal kamu,” kata Sheina tiba-tiba, membuat alis Aldara mengerut penasaran.
“Gosip apa? Cepat katakan,” desak Aldara makin ingin tahu.
“Gosipnya… katanya kamu sudah punya pacar baru nih. Benarkah? Kenalin dong siapa orangnya,” tanya Sheina tak sabar.
Aldara hanya menepuk dahinya sambil tertawa kecil. “Nanti saja aku kenalkan kalau sudah waktunya. Sekarang belum bisa, dia sedang sibuk bekerja.”
Belum sempat obrolan berlanjut, ponsel Aldara kembali berdering. Kali ini tampil panggilan video dari Aries.
“Assalamualaikum, sayang,” sapa Aries begitu wajah Aldara terlihat jelas di layar.
“Walaikumsalam, sayangku,” jawab Aldara lembut.
Sementara itu, ketiga temannya hanya diam sambil memutar bola mata malas melihat kemesraan yang terasa begitu dekat lewat layar ponsel.
“Kamu belum mulai kerja?” tanya Aldara.
“Baru saja sampai di tempat kerja, sebentar lagi baru mulai kerjanya. Jangan lupa makan ya,” ucap Aries.
“Iya, ini sedang duduk mau makan. Kebetulan juga sedang berkumpul bersama teman-teman,” jawab Aldara.
“Baiklah, lanjutkan saja makannya. Aku matikan teleponnya dulu ya, sampai nanti malam,” pamit Aries.
“Iya, hati-hati bekerja,” balas Aldara.
Begitu sambungan terputus, ketiga sahabatnya langsung meledakkan godaan dan candaan yang tak berkesudahan. Suasana pun menjadi hangat dan riang saat mereka berempat menikmati makanan bersama, menyambut hari baru yang kini terasa lebih berwarna bagi Aldara.
Dede Ara adalah gadis yang berumur 19 tahun, dia sahabat baik Aldara yang juga sudah dianggap adik sendiri. Dede Ara juga tipe gadis yang ceria dan super cerewet.
HAFIZAH adalah sosok gadis yang kalem dan tak banyak bicara. Dia baru berumur 28 tahun.
SHEINA gadis yang baik hati dan sangat perhatian sama Aldara dia berumur 28 tahun.