Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 Mulai Berubah
Malam itu, Kania berbaring membelakangi Firman di tepi ranjang. Matanya memang terpejam, tetapi ia sama sekali belum tertidur.
Air mata yang sejak tadi ditahannya matian-matian kembali mengalir deras, merembes membasahi sarung bantal.
Di belakangnya, Firman mengembuskan napas panjang, terdengar lelah sekaligus frustrasi.
"Kamu masih marah?" tanyanya lirih.
Tak ada jawaban.
"Kania, kamu dengar aku, kan?" panggil pria itu menggeser tubuhnya sedikit mendekat, menatap punggung bergetar istrinya.
Kania tetap bergeming. Sebenarnya ia mendengar setiap kata yang diucapkan suaminya dengan sangat jelas. Hanya saja, ia sudah terlalu lelah, terlalu hancur untuk kembali menjelaskan sesuatu yang sejak awal tak pernah dipercaya oleh pria itu.
Firman kembali bersuara, kali ini nadanya terdengar seperti sedang menasihati anak kecil. "Sayang, harusnya kamu minta maaf saja sama mama."
Mendengar itu, dada Kania kembali sesak. Jantungnya seolah diremas tangan tak kasat mata.
"Simpel, kan? Kamu tinggal bilang maaf, urusan selesai. Biar kamu sama mama juga nggak canggung lagi di rumah ini. Aku capek kalau pulang kerja harus melihat kalian saling bermusuhan," lanjut Firman dengan entengnya.
"Simpel katanya?!" jerit Kania dalam hati.
Bagaimana mungkin mengakui sebuah kehinaan dan kejahatan yang tak pernah ia lakukan dianggap sesuatu yang sederhana?
"Lagi pula, kalau memang bukan kamu yang ambil, aku yakin mama juga nggak akan sembarangan menuduh. Pasti ada alasannya kenapa cincin itu bisa ada di tasmu."
Kania kembali memejamkan mata. Air matanya menderas. Ucapan suaminya barusan jauh lebih menyakitkan daripada seribu bentakan dan makian dari Tuti.
Berarti sampai detik ini, Firman tetap meyakini bahwa dirinya adalah seorang pencuri. Suaminya sendiri menganggapnya serendah itu.
"Aku cuma ingin rumah ini damai," pungkas Firman seraya membalikkan badan, membelakangi Kania.
Tak ada sahutan.
Beberapa menit kemudian, suara napas Firman mulai teratur dan memberat. Pria itu tertidur pulas, seolah baru saja menyelesaikan masalah sepele. Sementara Kania masih terjaga, menatap langit-langit kamar dengan mata bengkak.
"Terserah! Kalau kamu memang menganggap aku pencuri Mas. Aku sudah nggak sanggup menjelaskan apa pun lagi."
Ia menarik selimut hingga menutupi separuh wajahnya. Malam itu, Kania menangis hingga dadanya terasa kebas.
*
*
Keesokan paginya...
Meski semalaman hampir tidak tidur, Kania tetap bangun sebelum azan Subuh berkumandang. Rutinitasnya tak berubah. Ia memasak sarapan, menyeduh kopi, lalu menyetrika pakaian kerja Firman dengan rapi.
Tak sedikit pun ia memperlihatkan sisa air mata atau kesedihan yang sedang menggerogoti dadanya. Ekspresinya datar. Hatinya sudah mati rasa.
Saat Firman keluar dari kamar dengan kemeja yang belum dikancingkan sempurna, Kania sudah berdiri menunggunya sambil membawa dasi.
"Mas."
Firman menghampiri. Tanpa sepatah kata pun, Kania mulai merapikan kerah kemeja suaminya, lalu memasangkan dasi dengan gerakan gesit yang sudah sangat dikenalnya.
Firman terus memperhatikan wajah istrinya lekat-lekat.
"Kamu nggak marah lagi?" tanya Firman hati-hati.
Kania menatap mata suaminya sekilas, lalu hanya tersenyum tipis. Sangat tipis.
"Nggak."
Jawaban teramat singkat itu justru membuat hati Firman terasa aneh. Biasanya, Kania selalu cerewet di pagi hari, bertanya soal pekerjaannya, mengingatkan bekal, atau sekadar bercerita tentang bunga di halaman. Kini, wanita itu hanya diam bagai manekin bernapas.
"Aku pulang telat hari ini. Ada meeting dengan klien," ucap Firman mencoba memecah kecanggungan.
"Iya, Mas."
"Nggak usah ditunggu. Tidur duluan saja."
"Iya."
Tak ada pertanyaan klien dari mana atau rengekan jangan pulang kemalaman. Sama sekali tak ada perhatian berlebih seperti biasanya.
Setelah simpul dasi selesai dirapikan, Kania mengambil tas kerja Firman di atas sofa, lalu menyerahkannya.
"Nih, Mas."
Firman menerimanya. Namun sebelum melangkah pergi, pria itu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna biru berlapis pita.
Kania mengernyit tipis. "Ini apa?"
Firman tersenyum, mengira ini akan meluluhkan hati istrinya. "Buka saja nanti setelah aku berangkat. Anggap saja hadiah dariku."
Kania menatap kotak itu sejenak, lalu mengangguk pelan. "Terima kasih."
Melihat reaksi Kania yang terlampau tenang, Firman menaikkan tangannya, ingin mengusap puncak kepala istrinya seperti biasa. Namun entah mengapa, melihat tatapan kosong Kania, ia mengurungkan niatnya dan menurunkan tangannya kembali.
"Aku berangkat."
"Hati-hati, Mas."
Firman turun ke ruang makan, menelan sarapannya dengan terburu-buru, lalu berpamitan kepada ibunya. Tak lama kemudian, suara mesin mobilnya menghilang dari balik pagar halaman.
Baru lima menit suasana rumah menjadi tenang, pintu kamar utama terbuka kasar. Tuti keluar dengan riasan tebal dan pakaian branded yang sangat rapi. Ia berjalan angkuh menghampiri Kania yang sedang merapikan meja makan.
"Nanti siang teman-teman arisan Mama mau datang ke sini," titah Tuti tanpa basa-basi.
Kania menoleh dengan wajah datar. "Iya, Ma."
"Masak yang enak. Jangan masakan kampung seperti sayur lodeh atau tempe mendoan. Sajikan hidangan yang pantas untuk nyonya-nyonya besar. Jangan sampai bikin Mama malu di depan teman-teman Mama! Paham?!"
Kania mengangguk pelan. Bukannya segera pergi ke dapur, wanita itu justru mengulurkan telapak tangannya ke arah ibu mertuanya.
Tuti mengernyitkan dahi, menatap tangan Kania dengan jijik. "Apa?!"
"Uang belanjanya mana, Ma?" pinta Kania tenang.
Wajah Tuti seketika berubah merah padam. Matanya melotot tajam. "Kamu masih berani minta uang sama Mama?!"
Kania menarik napas panjang. "Pokoknya aku minta uang belanja."
"Memangnya uang sisa kemarin kurang?! Kamu ini boros sekali jadi perempuan!"
Kania tersenyum tipis. Senyum yang terasa begitu kelam dan pahit. "Aku ini kan miskin, Ma," ucapnya mengulang semua hinaan Tuti padanya semalam.
Tuti terdiam, sedikit tersentak mendengar nada bicara menantunya.
"Aku ini cuma perempuan miskin, istri cacat yang bisanya cuma numpang hidup dan jadi beban mas Firman. Semua uang belanja bulan ini juga sudah mas Firman serahkan untuk Mama pegang," lanjut Kania.
Ketenangan luar biasa itu membuat bulu kuduk Tuti berdiri sekaligus memancing amarahnya.
"Kamu berani menyindir Mama, hah?!" bentak Tuti.
"Nggak, Ma," jawab Kania santai. "Kalau Mama ingin teman-teman arisan disuguhi daging sapi impor dan buah-buahan mahal, tolong kasih uang belanjanya. Karena di dompetku cuma ada dua puluh ribu."
"Dasar perempuan nggak tahu diri!"
Wajah Tuti memerah menahan ledakan emosi. Kali ini ia tak punya pilihan. Dengan rahang mengeras, wanita tua itu membuka tas mahalnya, menarik beberapa lembar uang seratus ribuan dengan kasar.
"Nih!"
Bukannya memberikan uang itu ke tangan Kania, Tuti sengaja melempar lembaran uang merah itu hingga berhamburan jatuh ke atas lantai.
"Pokoknya semua harus cukup!" desis Tuti bengis.
Kania menunduk. Perlahan, ia berjongkok, memungut lembaran uang itu satu per satu dari bawah kaki mertuanya. Harga dirinya telah lama mati, jadi perlakuan ini tak lagi mengejutkannya.
"Kalau sampai ada menu yang kurang pantas, jangan harap Mama akan menambah sepeser pun!"
Kania berdiri, menggenggam uang itu erat-erat hingga buku jarinya memutih. "Mama tenang saja."
Lagi-lagi, jawaban pasrah yang terlalu tenang itu justru membuat dada Tuti semakin sesak oleh rasa jengkel. Wanita tua itu akhirnya berbalik dan pergi ke ruang depan.
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor