NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 29 Wakadanna Menyelamatkanku!|

...|Legacy of Soryu|...

......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......

Tanpa membuang waktu lagi, Shu menekan tombol panggil pada kontak tersebut. Ia mengaktifkan mode pengeras suara dan menyodorkan ponsel itu ke depan mulut Davian, sementara tangan lainnya tetap memegang pisau lipat, siap menyayat jika Davian berani berteriak meminta tolong atau memberi kode rahasia.

Suara nada sambung terdengar. Hanya dua kali berdering sebelum suara berat dan familiar menjawab dari seberang sana.

"Davian. Ada apa?" tanya Bara langsung tanpa basa-basi.

Shu memberikan isyarat dengan ujung pisaunya, menekankan sedikit pisau itu ke kulit Davian sebagai ancaman.

"Ngomong," perintah Shu tanpa suara, bibirnya hanya bergerak membentuk kata.

Davian menarik napas dalam-dalam, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar.

"W-wakadanna... ini saya."

Shu menekan ujung pisaunya sedikit lebih dalam ke arah leher Davian, membuat asisten itu meringis. Shu memberikan kode dengan gerakan mulut, menginstruksikan kalimat yang harus diucapkan oleh Davian.

"Katakan: Datang ke Jalan Merah Tua Nomor 44, gudang tua di ujung jalan, Jakarta Barat. Sekarang. Sendirian," bisik Shu tanpa suara.

Davian menelan ludah, suaranya bergetar saat berbicara ke arah ponsel.

"W-wakadanna... Tolong ke Jalan Merah Tua Nomor 44... gudang tua di ujung jalan, di Jakarta Barat. Dan... Dan jangan bawa anak buah Anda. Datanglah sendirian, Wakadanna... Cepatlah, saya takut sekali... hiks..."

Pertahanan Davian runtuh. Bayangan pisau tajam, ancaman hidung hilang, dan fakta bahwa ia menjadi umpan untuk bosnya membuat air matanya mengalir deras. Ia menangis sesenggukan, suaranya terdengar sangat menyedihkan di speaker telepon.

"Davian?! Tenang, tarik napasmu!" Suara Bara terdengar sangat khawatir, nada yang belum pernah Davian dengar sebelumnya.

"Kamu bersama siapa di sana? Berikan teleponnya padanya. Biar aku bicara langsung dengan orang itu."

Mendengar perhatian Bara, Davian malah makin histeris. Ia merasa bersalah karena harus menjebak bosnya, namun ia juga tidak punya pilihan lain.

"Nggak mau! Hiks... Pokoknya jangan tanya-tanya lagi, Wakadanna! Langsung ke sini saja secepatnya! Cepatlah, hiks... Saya tidak mau mati dalam keadaan jomblo di gudang berdebu ini!" ratap Davian sambil menangis lebih kencang.

Shu memutar bola matanya, merasa muak sekaligus takjub dengan drama yang dibuat tawannya. Ia segera menarik ponsel itu menjauh dari Davian sebelum asisten itu membocorkan hal yang tidak-tidak.

"Sudah dengar kan, Soryu?" Shu akhirnya bersuara, suaranya berat dan penuh kemenangan.

"Asisten kesayanganmu ini sedang menangis seperti anak kecil di sini. Aku beri kau waktu dua jam. Datang sendirian atau kau bisa menjemputnya dalam bentuk potongan-potongan kecil setelahnya."

Shu langsung mematikan sambungan telepon itu secara sepihak. Ia menatap Davian yang masih sesenggukan.

"Berhenti menangis, Letoy! Suaramu merusak telingaku," bentak Shu sambil menyimpan ponsel Davian ke saku jaketnya.

"Gimana... gimana nggak nangis! Hiks... Wakadanna pasti marah sekali kalau tahu jadwal rapat besok jadi berantakan gara-gara ini!" sahut Davian di sela isak tangisnya, membuat Shu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat prioritas asisten yang aneh ini.

Shu mendengus kasar, ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu sambil menatap Davian dengan pandangan malas. Matanya menyipit, memperhatikan asisten yang masih gemetar dengan kacamata miring itu dari ujung kaki hingga ujung kepala.

"Dilihat-lihat lagi, kau benar-benar tidak ada gunanya ya?" Shu memainkan pisau lipatnya, memutar-mutar benda tajam itu di antara jemarinya dengan lihai.

"Enaknya kau diapakan ya, Letoy? Bagaimana kalau aku mulai memotong jari-jarimu satu per satu supaya kau tidak bisa lagi mengetik jadwal rapat bosmu itu?"

Davian yang tadinya menangis, tiba-tiba berhenti sesenggukan. Ia menatap Shu dengan tatapan yang mendadak berubah dari takut menjadi sangat jijik. Ia memperhatikan wajah Shu, lalu hidungnya mengendus udara di sekitarnya dengan ekspresi mual.

"Dih, jangan sok asik deh," semprot Davian, suaranya masih sengau. "Walaupun muka Anda itu mirip sekali dengan Wakadanna, tapi ada satu perbedaan besar yang membuat Anda tidak akan pernah bisa menandingi dia."

Shu mengangkat alis. "Oh ya? Apa itu?"

"Anda bau," ujar Davian datar, tanpa filter. "Wakadanna itu wangi parfum mewah, kalau lewat saja aromanya bisa menenangkan saraf otakku. Lah Anda? Baunya campuran asap rokok kretek murah, keringat dan... debu jalanan. Jujur aja ya, saya lebih merasa takut sama bau badan Anda daripada sama pisau itu."

Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Shu tertegun sejenak sebelum wajahnya memerah padam karena murka. Ia berhenti bermain dengan pisaunya.

"Apa kau bilang?!" bentak Shu, suaranya menggelegar. "Siapa juga yang mau dimiripkan dengan tuan gay-mu yang sok elit itu? Dan dengar ya letoy, aku tidak bau! Ini bau maskulin, bau kerja keras! Dasar asisten manja, hidungmu saja yang sudah terlalu sering mencium bau uang sampai lupa bau laki-laki asli!"

"Laki-laki asli bukan berarti tidak mandi!" balas Davian tidak mau kalah. "Ingat ya, personal branding itu penting!"

"Diam kau! Kalau kau bicara satu kata lagi soal bau badan, aku akan menyumpal mulutmu dengan kaos kakiku yang belum dicuci selama seminggu!" ancam Shu dengan napas memburu.

Di tengah aksi saling sindir yang absurd itu, pintu besi gudang berderit terbuka. Andrew melangkah masuk. Namun, ia seketika menghentikan langkahnya saat melihat Shu sedang berdiri di depan Davian dengan wajah yang sudah merah padam, sementara sang tawanan justru sibuk mencibir bos-nya.

Andrew mengerutkan kening, menatap pemandangan di depannya dengan bingung. Biasanya, jika Shu menginterogasi orang, suasananya akan mencekam dan berdarah-darah. Tapi kali ini, ia justru berbeda.

Ada apa dengan Tuan Muda Shu? batin Andrew heran. Kenapa dia malah meladeni ocehan asisten ini? Apa dia berencana menjadikannya rekan adu mulut yang baru untuk menggantikan posisiku?

"Tuan muda Shu," panggil Andrew ragu. "Bara Soryu sudah terdeteksi bergerak menuju ke sini. Dia benar-benar datang sendirian."

Shu menarik napas dalam, mencoba menenangkan diri dan kembali ke mode seriusnya. Ia merapikan jaket kulitnya dengan kasar. "Bagus. Biarkan dia masuk. Aku ingin melihat seberapa berharga asisten cerewet ini di matanya."

Davian hanya mendengus pelan sembari bergumam, "Tetap saja baunya nggak enak..." yang langsung dibalas dengan tatapan mematikan dari Shu.

...***...

Shu kemudian memberikan instruksi cepat kepada Andrew untuk mengatur posisi. Ia sengaja menaruh kursi tepat di tengah-tengah ruangan, menghadap lurus ke arah pintu gudang.

Sementara Davian, yang tangannya masih terikat, dipaksa turun dari kursi dan diposisikan meringkuk di lantai semen yang kotor. Tali tambang kini melilit pergelangan kaki dan badannya hingga asisten itu tidak bisa berkutik, persis di bawah kaki Shu yang sedang bersedekap.

Dengan gaya angkuh, Shu duduk di kursinya dan dengan sengaja menginjakkan satu sepatu botnya yang kotor ke atas punggung Davian, seolah-olah menggunakan asisten itu sebagai pijakan kakinya.

"Aduh! Orang bau! Punggung saya ini bukan keset!" protes Davian dengan suara teredam lantai.

"Diam," desis Shu.

Pintu besi gudang berderit terbuka dengan suara memekakkan telinga. Cahaya lampu motor dari luar masuk ke dalam, membentuk siluet tinggi seorang pria. Bara Soryu melangkah masuk dengan tenang. Wajahnya tetap datar, namun matanya langsung menangkap pemandangan di tengah-tengah ruangan.

Bara berhenti lima langkah di depan mereka. Belum sempat ia memproses situasi atau mengeluarkan suara, Shu langsung mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi.

"Sekarang!" perintah Shu.

Empat anak buah Shu melompat keluar dari belakang pintu. Dua di antaranya langsung menodongkan senjata tumpul, sementara dua lainnya dengan sigap melilitkan tali ke tubuh Bara.

Bara tidak melakukan perlawanan fisik yang berarti demi keselamatan Davian. Dalam hitungan detik, kedua tangan Bara sudah terikat kuat di belakang punggungnya.

Shu menyunggingkan senyum tipis kemenangan. Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menambah tekanan kakinya pada punggung Davian yang merintih kecil.

"Akhirnya kita bertemu secara resmi, Bara Soryu," ujar Shu dengan suara yang bergema di langit-langit gudang. "Selamat datang di wilayahku."

Bara menatap Shu, lalu beralih menatap Davian yang meringkuk di bawah kaki pria itu. "Kau sudah mendapatkan apa yang kau mau. Lepaskan dia."

"Sabar," balas Shu sembari memainkan pisau lipatnya lagi. "Kita baru saja mau memulai obrolannya...."

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!