NovelToon NovelToon
Montir Ganteng

Montir Ganteng

Status: tamat
Genre:Teen / Romantis / Komedi / Tamat
Popularitas:426.2k
Nilai: 4.9
Nama Author: Dareen

Dareen yang selalu dibandingkan oleh papanya dengan kakak kandungnya yang bernama Aril. Dareen madih kuliah sedangkan Aril sudah bekerja. Dareen akhirnya membuktikan pada papanya bahwa ia bisa mandiri tanpa bantuan dari papanya. Dareen mulai ikut bekerja sebagai montir, karena dia mempunyai paras yang tampan. Akhirnya banyak yang menjuluki Montir Ganteng.

Bagaimana Dareen bisa sukses?
Ikuti ceritanya di Montir Ganteng.

Thank's.
Dareen_Naveen (Boezank Jr.)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dareen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part .28 (Lagu Untuk Yumna)

Bang Aril masih saja bersikap dingin kepada kak Manda. Mungkin sebenarnya bang Aril tidak bermaksud bersikap seperti itu, karena keadaan yang membuat dirinya menjadi berbuat demikian. Apalagi dengan kehamilan kak Manda dan Nila yang semakin terlihat.

Sepulang kuliah, Yumna minta jemput di kampus. Dia menceritakan tentang Ayahnya yang akan resign dari tempat kerjanya. Namun, Yumna sendiri tidak tahu alasannya. Rumah tangga Papanya dan Nila juga semakin memburuk. Sehingga Papanya menjatuhkan talak kepada Nila, entah alasannya apa. Yang jelas, kini mereka sudah tidak satu rumah.

Setelah gue mengantarkan Yumna balik, gue bergegas pergi ke kantor bang Aril, bermaksud menanyakan tentang alasan resign Papanya Yumna.

Ternyata, pak Beni memilih mengundurkan diri dengan beralasan mau membuka bisnis sendiri. Sementara Nila masih tetap bekerja di kantornya Papa.

“Bang.”

“Hem.”

“Gimana keputusan Abang sekarang?”

“Soal apa?”

“Kehamilam Nila,” ucap gue.

Bang Aril mendongak ketika gue bertanya seperti itu. Dengan tatapan yang entah. Akhirnya, bang Aril menaruh ballpoint yang ia pegang, lalu menyenderkan punggungnya di kursi kerja. Menghela napas dan terlihat wajah yang pucat.

Hening.

Gue masih duduk di sofa yang ada dalam ruangan bang Aril, menunggu bang Aril bercerita.

“Entah Dek,” ucap bang Aril memecah suasana hening.

Melihat dari bahasa tubuh bang Aril yang tidak nyaman, sangat terlihat sekali kalau ia sedang stres dengan keadaan sekarang. Sesekali ia mengacak rambutnya ketika terlampau pusing.

“Bang.”

Bang Aril mendongakkan wajahnya.

“Wajar, kalau Abang stres dengan keadaan ini. Tapi gue minta sama Abang, perhatiin istri Abang. Semenjak tahu Kak Manda hamil, abang berubah.”

“Masa sih Dek? Perasaan, biasa aja,” ucap bang Aril.

“Kak Manda cerita ke gue, kalau Abang berubah, gak romantis lagi, makan siang gak pernah ke rumah, makan malampun jarang sekali bersama kami.”

“Abang sibuk, Dek,” ucap bang Aril.

“Sibuk dengan kepusingan Abang, kan? Kak Manda juga stres lihat Abang kek gitu. Inget Bang, Kak Manda lagi hamil anak Abang.”

Gue berdiri dan melangkah menuju pintu ruangan bang Aril. Namun, di pintu ruangan gue berpapasan dengan Nila. Seperti ada yang janggal pada cewek ini. Tapi apa?

Gue melangkahkan kaki keluar dari ruangan bang Aril. Melewati koridor kantor, banyak meja yang berjajar rapi yang terisi oleh karyawan kantor untuk mengerkajan pekerjaan mereka di kantor ini.

“Siang, Pak.”

Kata-kata itu yang gue dengar dari setiap karyawan. Gue hanya tersenyum dan berlalu dari mereka.

Entah, gue merasa enggak betah ada di ruang lingkup kantor. Ruang yang terlalu resmi, yang sangat memperlihatkan mana atasan dan mana bawahan. Berbeda dengan bengkel gue. Gak ada benteng pemisah bagi kami. Sehingga antara pemilik dengan karyawan itu berdampingan dan membentuk keharmonisan seperti keluarga sendiri, bukan seperti atasan dengan bawahannya.

***

“Arghhhh ... sial!”

Lagi-lagi gue terjebak di lampu merah, tidak sengaja gue melihat di cafe yang ada di seberang jalan seperti sosok Nila dengan laki-laki. Apa itu bang Aril? Wajahnya tak terlihat karena terhalang oleh pohon yang ada di cafe tersebut. Gue memutuskan putar balik karena gue penasaran.

Gue lihat dari kejauhan, tapi gue tidak mendengar percakapan mereka. Akhirnya gue memutuskan untuk meminta bantuan sama orang lain. Kebetulan ada dua orang tukang parkir yang sedang berjaga. Gue membiarkan motor gue diparkir di cafe ini lalu menyebrang menghampiri tukang parkir yang berada di seberang jalan.

“Sorry bang, gue ganggu.”

Mereka yang sedang bermain kartu, mungkin hanya untuk mengisi waktu luang sebagai tukang parkir, serentak melihat ke arah gue.

“Motorna nu mana kang? (Motornya yang mana bang?),” tanya salah satu tukang parkir.

“Sanes, Kang. Abdi bade nyuhunkeun pitulung, tiasa henteu? (Bukan, Bang. Saya mau minga tolong, bisa enggak?)”

“Pitulung naon, Kang? (Minta tolong apa, Bang?)”

Gue akhirnya menerangkan kepada mereka tentang gue yang meminta bantuan untuk merekam pembicaraan Nila yang ada di seberang sana. Nanti dia duduk di samping meja mereka. Agar Nila tidak curiga gue minta si tukang parkir untuk memesan minuman. Akhirnya mereka paham dengan tujuan gue. Salah satu dari mereka mengikuti gue. Asli, serasa jadi detektif hari ini.

“Tong hilap pamayaranana, nya Kang? (Jangan lupa bayarannya, ya Bang?)” Sambil terkekeh.

“Beres!”

Sambil gue menunggu rekaman dari tukang parkir, gue membeli Es goyobod yang ada di pinggir jalan. Kalau ada yang enggak tahu, es goyobod itu adalah minuman segar khas sunda. Isinya berupa adonan sagu aren yang kenyal, dengan kuah santan kental, susu kental manis dan diberi serutan es.

“Iyeu Kang, rekamanana. (Ini Bang, rekamannya.)”

Tukang parkir itu memberikan hasil rekaman itu. Gue Play, terdengarlah suara Nila dan seorang laki-laki yang ternyata bukan bang Aril. Gue memberikan uang sebagai tanda terimakasih karena dia telah membantu gue.

“Seu’eur teuing, Kang? (banyak sekali, Bang?)"

“Teu nanaon, anggap weh rejeki keur Akang. Nuhun nya. (Gak papa, anggap aja rejeki buat Abang. Makasih ya.)”

Setelah gue menerima rekaman itu, langsung gue bergegas pulang.

Kebiasaan, kak Manda lagi nongkrong di teras depan. Gue memperhatikan perut yang mulai membuncit, mungkin karena kehamilan kak Manda yang memasuki usia empat bulan.

“Udah pulang Reen?”

Sapa kak Manda yang mengagetkan gue dikala sedang melamun.

“Udah, Kak. Ayok masuk Kak. Hari udah mulai gelap.”

Kak Manda mengekor dari belakang. Tumben, kak Manda nurut sama gue? Dalam hati. Seperti biasa, Mama mengajak untuk makan bersama. Kami sekeluarga makan bareng, masih tanpa bang Aril di sini.

Sebenarnya, kangen sih makan bareng bang Aril. Kurang lengkap rasanya keluarga ini tanpa adanya sosok Abang yang penyayang. Walau kemarin ini, kami sempat salah paham.

Gimana dengan perasaan kak Manda ya? Gue aja sebagai adiknya bang Aril, ada rasa kangen. Kangen abang gue yang periang, penyayang dan perhatian. Semoga semuanya bisa berlalu dengan cepat. Masalah ini capat terselesaikan, karena gue tahu bang Aril lagi dalam masa terpuruknya. Karena gue yakin bang Aril itu sebenarnya orang yang baik.

.

Gue melangkahkan kaki menuju anak tangga, menaiki satu per satu anak tangga dengan sedikit berlari. Gue kunci pintu kamar dan memasang eaephone agar rekaman ini tidak ada yang mendengar selain gue.

Gue play rekaman yang berdurasi kurang lebih lima belas menit. Dimana ada suara Nila dan seorang laki-laki.

‘Kamu pinter banget sayang, setelah Om Beni kere, kamu langsung deketin Bosmu yang lebih kaya.’

‘Haha ... ya iya lah, aku udah bosen hidup miskin, sayang.’

Itu inti percakapan mereka, yang lainnya mereka membahas yang menurut gue enggak penting.

“Masih banyak yang mesti gue selidikin, kek nya Nila orang yang gak beres. Mana Yumna udah enggak serumah lagi sama Nila. Ya Allah, tolong hambamu ini untuk memecahkan masalah bang Aril,” ucap gue.

***

Udah beberapa hari ini, gue enggak ketemu Yumna. Malam minggu ini gue putuskan untuk ajak jalan Yumna. Gak jauh-jauhlah, gue berencana pergi ke Alun-alun kota bandung yang ramai dengan lautan manusia. Dengan harapan, gue bisa sedikit santai dengan melihat keramaian dan canda tawa dari orang-orang yang sedang berada di sana. Terlebih, kalau bersama Yumna.

.

Tok ... Tok ... Tok ....

Gue mengetuk pintu.

“Permisi,”

Pintu pun di buka dari dalam oleh seorang Ibu paruh baya.

“Malam, Tante,” ucap gue.

“Iya, cari siapa, ya?” Terlihat ekspresi wajah heran.

“Kenalin Tan, Saya Dareen. Yumnanya ada?”

“Oh, iya. Ini Dareen, maaf ya, Tante agak lupa. Terakhir Tante lihat kamu di pesta pertunangan Abang kamu, ya? Mari masuk.”

Memang, dulu kami sempat bertemu di pesta pertunangan bang Aril. Tapi enggak saling sapa. Mamanya Yumna sudah mengenal gue sebagai anak dari Papa yang menjadi CEO di perusahaan suaminya bekerja dulu. Namun saat itu memang gue dan Yumna belum saling mengenal. Dulu juga terlihat kalau Mamanya Yumna ngobrol dengan Mama gue, walau hanya sebentar.

“Mau minum apa, Nak?”

“Enggak usah Tante, makasih.”

“Ya udah, tunggu sebentar ya. Tante panggil dulu Yumnanya.”

Wanita paruh baya itu kemudian melenggang menaiki anak tangga. Sesekali, gue melihat ruangan dalam rumah ini. Ada banyak foto keluarga yang terpasang dalam ruangan ini. Foto-foto Yumna banyak sekali terpajang. Bahkan, ada foto anak kecil di situ, mungkin itu foto Yumna waktu masih kecil.

“Oppa? Tumben ke sini enggak bilang dulu? Biasanya juga nunggu di depan doang,” ucap Yumna.

“Kakak ingin ketemu sama orang tua mu, Na. Masa pacaran dari dulu belum pernah ketemu sama calon mertuanya?”

“Heleh, gombal.”

Wajah Yumna memerah.

“Papamu di mana, Na?”

“Papa lagi keluar kota.”

“Oh. Jalan yuk, Na? Mumpung masih jam tujuh malam.”

“Ke mana?”

“Ke Alun-alun aja yang deket.”

Yumna ke kamar untuk mengambil jaket dan tas kecil.

“Bu, Yumna jalan dulu, ya?”

“Iya, hati-hati.”

“Mari, Tan.” Gue pamit.

Awal pertama bertemu Mamanya Yumna, Allhamdulillah, responnya baik. Beliau welcome menerima kedatangan gue. Mungkin sebelumnya, Yumna sudah menceritakan kalau gue udah jadi pacarnya. Jadi Mamanya enggak banyak tanya.

Seperti biasa, gue membawa motor kesayangan gue si R25. Gue memberikan setangkai mawar merah dan boneka kecil berwarna violet yang sengaja gue taruh di motor.

Terlihat wajahnya memerah. Yumna meraih setangkai mawar merah itu dan menciumnya.

“Makasih, Oppa.”

Gue tersenyum.

“Aku seneng banget malam ini. Oppa udah bertemu Ibu, memberikan mawar merah untukku dan boneka kecil yang cantik berwarna violet, seperti warna kesukaanku.”

Yumna memeluk erat boneka kecil itu. Akhirnya, kami bergegas berangkat takut nanti pulangnya kemalaman. Yumna melingkarkan tangannya di pinggang gue sambil memegang boneka yang gue kasih. Sesampainya di alun-alun, kami hanya menikmati suasana dan ngobrol setelah beberapa hari ini kami tidak bertemu. Ada rasa kangen kalau tidak bertemu Yumna.

“Tunggu bentar ya, Na.”

Gue meminjam gitar dari sekumpulan anak muda yang sedang nongkrong. Gue mulai memainkan gitar, memetik senar dan menyanyikan sebuah lagu untuk Yunma.

***Hanya dirimu yang ku cinta

Takkan membuat aku jatuh cinta lagi.

Aku merasa,

Kau yang terbaik untuk diriku.

Walau ku tau kau tak sempurna,

Takkan membuat aku jauh darimu.

Apa adanya,

Ku kan tetap setia kepadamu.

Tuhan, jagakan dia

Dia kekasihku

Kan tetap milikku

Aku sungguh, sungguh mencintai

Sungguh menyayangi

Setulus hatiku***.

Mata Yumna terlihat berkaca-kaca, entah dia terharu atau kah dia ingin menangis mendengar suara gue.

Hehe gue gak tahu.

1
Sulaiman Efendy
WADUHHH,, UDH TAMAT RUPANYA...
Sulaiman Efendy
👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
Sulaiman Efendy
MAMPUS LO RIL.. MKANYA JDI LAKI2, JGN GOBLOK,, MNTANG2 ISTRI BLM HAMIL, LLU SLINGKUH...
Sulaiman Efendy
PARAH TU NILA,,UDH JDI ISTRI BENI, MSH JUGA MAIN BLAKANG SAMA ARIL. DN ARIL MMG LKI2 BODOH..
Sulaiman Efendy
KN KALIAN BSA CEK KSUBURAN.. KNP SOLUSINYA HRS SELINGKUH. UDH ITU SELINGKUH DGN WANITA BKAS PAKAI..
Sulaiman Efendy
PSTI MANDA BLM HAMIL,, MKANYA SI ARIL SELINGKUH,, BSA JDI NI SI ARIL YG MNDUL..
Sulaiman Efendy
KLO BENGKEL UDH RAME PELANGGAN, KNP GK REKRUT PEKERJA BIAR GK KETETERAN..
Sulaiman Efendy
WAHHH SI ARIL SELINGKUH NI KYKNYA
Sulaiman Efendy
DINASEHATKN AWALNYA SJA SADAR, SKRG MLH MKIN PARAH..
Sulaiman Efendy
LBH BAGUS LO SELIDIKI, ATAU LO CHAT SI NILA..
Sulaiman Efendy
SEBESAR APA GAJI BENI DI PRUSAHAAN PAPA DAREEN, HINGGA BSA BLANJAIIN NILA BRG2 BRANDED, JGN2 KORUPSI TU SI BENI
Sulaiman Efendy
DI BLANJAIIN BENI, WAJAR BRANDED..
Sulaiman Efendy
BISA JDI MMG ANAK BENI, DN SI BENI SELINGKUH SAMA NILA..
Sulaiman Efendy
JGN2 YUMNA ANAK SI BENI...
Sulaiman Efendy
YA AMPUN NILA, UDH DI NASEHATI DAREEN. MSH AZA BRHUBUNGN DGN SI BENI..
Sulaiman Efendy
WAAHHH DARI TANTE2, MBAK2, SEBAYA, DN ABG, SUKA MA DAREEN..
Evi
thoor hubungan Aril sama nila bagai mana,. itu si nila hamil ank siapa bpk nya???
jd penasaran aq thoor
abdan syakura
Assalamu'alaikum kak Darren..
salken....
Kuy.....nyimak nih...😊🤝👍💪
Dareen: waalaikum salam, ..
terima kasih udh singgah di novel saya, Kak 🙏
total 1 replies
Qaisaa Nazarudin
dapet brondong nih🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Katanya Nila ini seumuran dgn Ariel iya,berarti tua Nila iya sama Darren..😅😅
Dareen: iya 😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!