Rengganis Jeyang (28 Tahun) yang akrab disapa Ganis ditugaskan mengajar di Sekolah Menengah Pertama swasta favorit di Provinsi Jawa Tengah. Siapa sangka Ganis yang menjadi Guru BP di sekolah swasta tersebut membawanya kepada Ndaru Ayodia. Pria matang berusia 40 tahun, duda 3 anak yang salah satu anaknya adalah murid bandel di Sekolah tempat Ganis mengajar.
Ganis ingin bertemu dengan Ndaru untuk membicarakan masalah kenakalan Abimanyu di Sekolah. Namun kesibukan Ndaru sebagai Kandidat Gubernur Jawa Tengah membuatnya selalu menolak panggilan Ganis.
Hingga akhirnya Ndaru bersedia bertemu di sela-sela safari kampanye nya dan menimbulkan gosip jika Ganis adalah kekasih Ndaru. Elektabilitas Ndaru Dipertanyakan seiring memanasnya situasi menjelang pemilihan Gubernur.
Novel ini adalah hasil imajinasi saya sendiri. Jika ada kesamaan nama tempat itu hanya fiksi. Di novel ini tidak melulu membahas politik karena Ndaru seorang Gubernur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SheisUgly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STAY GOLD ! KEEP CALM........
...Menikah bukan berarti saling mencintai kan?...
🌿🌿🌿🌿🌿
Seandainya saja, jika Harit tidak menemukan buku agenda di tasnya dan mencurinya, mungkin saja Ganis tidak akan terjebak kencan dengan playboy macam Harit. Setelah Ganis menunjukkan pesan whatsapp dari Harit, terlihat rahang Ndaru mengeras, dia menghela nafas kasar.
Entah keberapa kalinya Harit coba menguras kesabaran Ndaru yang berani mendekati Rengganis. Tidak diberi tahu pun, seharusnya Harit menghindar karena itu istrinya. Mungkin Harit hanya memancing emosi Ndaru. Pak Gubernur tahu, istrinya itu bukan tipe wanita yang Harit suka. Harit menyukai wanita yang lebih tua dan dewasa. Sedangkan Ganis lebih muda 2 tahun dari Harit, meskipun dalam silsilah keluarga besarnya, Harit harus memanggil Ganis dengan sapaan Mbak atau Kakak.
Jika hanya memaki, Harit sudah kebal. Dipukulpun, Harit membalasnya dengan senyum mengejek. Ndaru pernah memukul Harit karena membawa wanita menginap di flatnya saat mereka masih tinggal di Paris.
Ganis yang pada awalnya takut jika Ndaru marah karena ceroboh menaruh buku sembarangan, hanya bisa mengelus pucuk kepala Istrinya. Meyakinkan Ganis bahwa dia tidak akan marah. Harit memang sengaja menjebak Ganis agar menuruti keinginan gilanya.
Dengan izin suaminya, Ganis mendatangi Harit di tempat yang sudah ditentukan laki-laki gila itu. Lelaki berwajah menawan dan menghanyutkan. Ganis mengakuinya.
Harit ternyata sudah memesan private room di restoran yang menyajikan masakan western itu untuk menjamu Bu Gubernur. Meskipun begitu, Ganis tidak merasa spesial untuk Harit. Bisa saja laki-laki itu hanya akan menghinanya.
Ganis menampakkan gestur jengahnya ketika sudah duduk di hadapan Harit yang malam ini - lagi-lagi - membuat para wanita terpesona. Ganis hanya butuh istighfar dalam hati agar tidak terhanyut oleh pesona setan yang menjelma jadi malaikat. Serigala yang memakai selimut bulu domba atau musang yng berkamuflase menjadi ayam.
"Pacar sakit?" Harit sedikit membungkukkan badan agar bisa melihat wajah Ganis dengan intens. Harit khawatir wanita ini bukan wanita yang diajaknya berkencan. Dengan wajah tertutup masker medis warna hijau dengan mengenakan jaket dan kepala tertutup hoodie. Rambut sebahu wanita ini tampak terurai dan sedikit berantakan. Biasanya, Bu Gubernur sangat manis saat mengahadiri acara-acara penting.
Ganis menurunkan masker bedahnya tanpa membuka hoodie yang menutup kepalanya. Sebenarnya, Ganis merasa sesak nafas jika harus mengenakan masker, daripada besok dia masuk laman akun gosip yang menangkap basah dirinya makan malam dengan adik sepupu suaminya. Menyamar menjadi orang sakit mungkin jadi pilihan yang terbaik.
"Kan kamu yang sakit !" Balas Ganis menohok. Wanita itu enggan berbicara manis dengan adik iparnya ini.
"Aku emang sakit jiwa gara-gara mikirin kamu !" Harit mengulum senyum yang bisa membuat gadis atau istri orang melayang tinggi. Ganis hanya berdehem dan membuang muka.
"Saya enggak mau basa basi Harit. Saya sudah dateng kesini jadi mana buku saya?" Kedua tangan Ganis diletakkan diatas meja tertutup dengan jaket yang kebesaran.
"Come on Beib, kita belum makan. Jangan nanya masalah buku lah..."
"Saya kesini bukan mau makan tapi saya mau ngambil buku agenda saya yang ada sama kamu. Mana?" Telapak tangan Ganis menjulur, meminta buku itu dari Harit sekarang.
Bibir Harit merekah, seolah dia hanya mempermainkan Rengganis, namun dengan cepat ekspresi nya berubah jadi mengerikan. Ganis yang sudah mengantisipasi dari awal, tidak terkejut. Memang benar Harit adalah jelmaan siluman. Pria itu menegakkan badan dengan jari telunjuk mengetuk meja dengan ritme teratur.
"Perkiraanku enggak salah" Dia menghela nafas kemudian agak merosot sedikit dari tempatnya bersandar.
Ganis mencoba tak menampakkan wajah terkejut dengan alis terangkat dan dahi mengerut. Wanita itu tidak mau terlihat bodoh di depan Harit.
Ganis hanya terdiam sebagai respons.
"Kamu sengaja kan menikah sama Ndaru hanya demi uang?"
Ganis berdecak, Harit pasti sudah membaca buku agenda yang memuat tulisan tangannya sendiri, tentang hak-hak dan kewajiban pasangan.
"Itu nafkah wajib Mas Ndaru buat saya, wajar jika suami saya memberi saya uang. Kamu jangan mengada-ngada !" Ganis sedikit menggeram menatap tajam Harit.
"Ok, aku bisa maklum soal itu. Tapi Ndaru enggak boleh nyentuh kamu tanpa seizin kamu dan kamu nerima uang dari dia ! Kamu liciknya kelewatan !" Harit yang biasanya manis kini dengan wajah tegasnya menunjuk wajah Ganis menggunakan telunjuknya.
Ganis merasa kalimat yang dilontarkan padanya adalah kalimat yang sangat membuat tenggorokannya tertohok dan membuat suaranya tertahan untuk menjadikan perdebatan ini jadi tidak seimbang. Namun dia tidak sepenuhnya salah, Ganis tidak mencintai Ndaru, dan Ndaru juga tidak memaksa Ganis untuk berhubungan lebih layaknya suami istri. Dengan kata lain mereka berdua sama-sama ikhlas !!!
"Apa hubungan suami istri hanya melulu soal ranjang? Oh, saya lupa jika yang saya ajak bicara ini playboy yang suka ngomongin ranjang !" Ganis meledek dengan senyumnya lalu melengos lagi ke arah lain.
Keduanya terdiam, Harit memang sudah membaca buku agenda milik Ganis dan dia sangat terkejut dengan catatan di dalamnya. Mereka berdua hanya partner untuk memuluskan tugas Ndaru sebagai Gubernur sekaligus menjadi ibu sambung bagi ketiga anaknya.
"Jadi selama ini kamu mencintai anak-anak juga karena dibayar? Enggak tulus?" Kembali, Harit mempertanyakan ketulusannya dalam pernikahan. Layaknya pengasuh yang harus sabar mengasuh anak orang lain karena di gaji. Bukan ketulusan yang timbul dari hati.
"Terserah kamu menilai saya seperti apa Harit. Kalau kamu mengira ini gimmick yang sengaja saya ciptakan untuk terlihat seperti ibu tiri berhati malaikat, itu urusan kamu." Ganis menanggapi datar. Gadis itu berusaha menutupi gejolak hatinya yang kini kecewa mendapat nilai rendah dari Harit. Bilang jika dirinya tulus pada pria ini juga tidak akan mengubah persepsi Harit yang menganggapnya hanya berbohong.
Biar waktu yang menjawab dan semoga Harit panjang umur agar suatu saat bisa melihat ketulusannya. Ganis juga tak merasa berhati malaikat pada anak-anak karena dia juga pernah mengeluh meskipun dalam hati. Dia hanya manusia biasa.
"Ok, mana buku saya. Ini sudah malam dan saya harus pulang. Kamu juga sudah dapat apa yang kamu inginkan dari saya kan?" Mata Ganis memicing, Menatap Harit penuh keangkuhan.
Pria itu mengambil buku Rengganis tanpa membuka suara. Setelah ini, Ganis berharap jika Harit tak akan berpura-pura lagi untuk menggodanya.
.
.
.
.
.
"Sudah selesai ?" Ndaru menoleh ke arah jok kiri mobilnya saat istrinya itu baru saja menutup pintu mobil.
"Udah Mas, yuk pulang?" Ganis menggeret sabuk pengaman untuk dipasangkan di jok yang didudukinya. Ndaru merasakan gestur tubuh dan nada bicaranya yang sedikit berbeda dari biasanya. Istrinya ini cenderung lebih pendiam.
Ndaru melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir restoran western itu. 10 menit berlalu Ganis masih terdiam dengan hoodie menutup kepalanya.
"AC nya matiin aja kalau kamu kedinginan" Setelah berkata Ndaru berdehem untuk mengawali obrolan dan sedikit melirik ke arah istrinya yang hanya menatap lurus ke jalanan.
Tidak ada balasan apapun Dari Rengganis, Wanita itu benar-benar mematung dan membuat Ndaru bingung. Setelah pertemuannya dengan Harit, istrinya menjadi pribadi yang berbeda.
Apa yang telah Harit lakukan padanya?
Ndaru menekan pemutar musik di dashboard, dan lagu Simple Plan ~ Welcome to My life terdengar. Dan anehnya Ganis tidak protes. Biasanya istrinya itu mengeluh dan menggantinya dengan lagu-lagu KPOP kesukaannya.
"Apa Harit kurang ajar lagi sama kamu?"
"Kapan dia enggak kurang ajar sama saya mas?" Masih dengan posisi yang sama istrinya menjawab lalu mendesah.
"Kalau gitu biar saya besok nemuin dia. Pasti ada yang Harit inginkan dari saya" Ndaru menoleh keaeah istrinya sebentar, dia makin antusias jika istrinya mau di ajak Bicara. Ndaru siap dengan segala kemungkinan jika istrinya itu mengamuk, mengomel, marah, daripada Ganis harus menutup rapat mulutnya.
"Enggak usah Mas. Dia enggak bakalan ganggu saya lagi kok" Ganis lalu menunduk, kedua tangannya saling meremas. Merasakan sentuhan ke cincin pernikahannya. Emas putih dengan berlian kecil yang menghiasinya. Di bagian dalam cincin kawin itu, terukir nama Ganis dan Ndaru dalam aksara jawa. Begitu detail cincin ini dibuat seperti pernikahannya ini tidak main-main.
"Beneran ? Aku masih khawatir. Dia pasti punya maksud tersembunyi !" Ndaru menggeram pelan. Dia sebenarnya tidak bisa marah pada istri yang selalu ada untuknya ini.
"Dia memang punya maksud tersembunyi."
"Terus??? Kamu nurutin permintaan dia lagi?
Ndaru kali ini tampak tak sabaran. Ganis menoleh sebentar ke arah suaminya. Senyumnya terbit meskipun masih tertutup hoodie.
"Enggak kok Mas. Emang dia siapa bisa ngancem-ngencem saya ?"
Ganis menatap kedepan, senyum yang baru saja dia tunjukkan berubah menjadi senyum kecut. Matanya panas, air matanya memaksakan diri untuk jatuh, namun Ganis harus menahannya.
Bukankah kali ini dia tak akan mengalah?
1001 ancaman Harit, bahkan kata-kata Harit yang menyakitkan tidak akan mengubah komitmen untuk terus bersama Ndaru. Bukan hinaan Harit yang menuduhnya licik dengan pernikahan ini namun ketulusannya untuk anak-anak yang dia sayangkan.
Ganis tulus menerima anak-anak Ndaru menjadi bagian dari hidupnya. Tidak di panggil Mama atau Bunda oleh anak tirinya, tak membuatnya gentar untuk menyayangi mereka.
Bagi Ganis, panggilan hanya formalitas. Dengan panggilan Tante pun, anak-anak bisa merasakan ketulusan Rengganis. Dia tidak mau memaksakan panggilan itu hanya untuk merasa dihargai dan dianggap. Suatu saat anak-anak pasti akan memanggilnya Bunda jika mereka telah menerima Rengganis dengan tulus.
Lagipula, masih ada Amara kan?
Ibu kandung mereka.
"Tadi pas di restoran kamu makan?" Tanya Ndaru tiba-tiba setelah hening selama 10 menit.
"Enggak Mas. Saya kan cuma mau ambil buku. Bukan mau makan"
Ndaru terkekeh, padahal saat berangkat tadi Ndaru membelalakkan mata ketika istrinya mengenakan outfit seperti orang yang mau berobat ke puskesmas. Ndaru menyarankan agar dia berpakaian lebih pantas, namun istrinya itu mengomel jika dirinya hanya menuruti perintah Harit, bukan mau pergi ke acara PKK.
"Gimana kalau kita makan nasi pecel di deket Simpang Lima? Ku belum pernah kan makan disana?" Tawar Ndaru.
"Tapi dibungkus aja ya Mas?"
"Ok, Bu Gubernur" Ganis seketika cemberut Ndaru memanggil namanya menggunakan jabatan yang dimiliki saat ini. Ndaru menyunggingkan senyum, dia lega istrinya kembali dalam keadaan normal. Meskipun Ganis masih penasaran dengan pertemuan istrinya dan Harit.
🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Bonus Scene !
Ganis membakar buku agenda itu di halaman belakang sebelum buku itu di temukan oleh orang lain dan akan menimbulkan masalah untuknya dan Ndaru. Ganis membakarnya bukan semata-mata untuk menghilangkan jejak, lebih dari itu, dia menyesal menulis perjanjian konyol dengan Ndaru ketika akan menikah. Sehingga Harit menyangka dia menyayangi anak-anak demi uang.
Setelah buku terbakar habis, Ganis bangkit dari jongkoknya dan Ndaru telah berdiri di belakangnya. Ndaru merangkul bahu Ganis, meremasnya perlahan.
"Mas Ndaru percaya kan sama saya?" Ganis berkata lirih.
"Saya percaya sama kamu." Ndaru menepuk bahu untuk menenangkan istrinya.
"Pernikahan kita memang dilandasi komitmen saja tanpa cinta. Saya memang menganggap Mas Ndaru seperti orang asing tapi dimata saya anak-anak Mas Ndaru sudah menjadi bagian hidup saya, Mas Ndaru percaya kan?" Ganis mendongak, menatap suami disampingnya yang lebih tinggi darinya meskipun Ganis menggunakan heels.
"Jika kamu mau saya bisa, belajar mencintai kamu"
"Saya belum butuh cinta. Ayo, kita sambut tamunya Mas Ndaru."
Ganis meninggalkan suaminya sendiri di kebun untuk menemui tamu suaminya yang datang bersilaturahim ke rumah dinas.
Ganis dan Ndaru sepakat, rumah dinas terbuka bagi siapa saja yang ingin datang. Apalagi warga yang mau menyalurkan aspirasi.
"Assalamualaikum" Sang tamu menyapa.
"Waalaikumsalam" Ganis dan Ndaru kompak tersenyum memyambut tamu dari Jakarta.
"Saya Rangga Langit Kelana Pak dan ini sekretaris saya Riza Hermawan" Seorang pria tampan layaknya eksekutif muda dan pemimpin tinggi sebuah perusahaan menjabat tangan Pak Gubernur.
"Saya Ndaru Ayodia"
Jabatan tangan beralih ke Bu Gubernur. "Saya Rengganis, mari silahkan duduk Pak" Ganis membawa tamunya untuk duduk di ruang tamu. Anak-anak yang baru masuk dari arah depan tak tahu jika ada tamu yang datang. Dan terpaksa mereka akan ikut Bersalaman dan menjelma jadi anak-anak penurut. Jika tahu ada tamu, mereka lebih baik memutar masuk lewat pintu belakang.
"Anak-anak sini yuk salim dulu sama Om-Om ganteng ini"
Ketiga anak kucing pun menurut, ketiganya mencium punggung tangan Pak Langit dan Pak Riza dengan wajah yang manis.
"Wah, anaknya Pak Ndaru ?"
"Iya Mas, anak saya. Yang sulung namanya Abimanyu masih SMP kelas 9, yang nomer Dua namanya Nawang kelas 5 SD. Yang bungsu Sadewa masih kelas 2. Mari Mas silahkan diminum Enggak usah terlalu formal kalau bicara sama saya."
Langit dan Riza mengangguk bersamaan.
"Saya senang sekali Mas Langit menanamkan modalnya disini. Bisa menyerap tenaga kerja di daerah kami."
"Iya Pak, saya tertarik sekali untuk berinvestasi disini, daerahnya juga tenang dan nyaman. Semoga ya Pak kedepannya bisa berjalan dengan lancar." Langit meyakinkan. Ndaru sangat senang saat ada orang asli Indonesia yang mau berinvestasi membuka lapangan kerja. Yang penting mematuhi peraturan daerah dan membayar pajak, itu sudah cukup. Ditambah lagi harus menggunakan Sumber Daya Manusia yang tersedia disini.
"Ini Mas Riza sekretarisnya ya Mas? Biasanya sekretaris itu perempuan"
"Iya Pak, untuk antisipasi saja biar istri saya juga nyaman kalau saya tinggal kerja di luar daerah" Langit terkekeh.
"Oh, Mas Langit sudah berkeluarga to. Saya kira masih single. Masih terlihat muda gitu lho"
"Ah, Pak Ndaru bisa aja."
"Bos saya baru nikah Pak dan alhamdulillah mau di karuniai momongan" Riza Menimpali agar obrolan semakin Hangat.
"Oh, hamil ya Pak. Sudah berapa bulan?" Rengganis tak tahan untuk diam saja menyimak.
"Baru trimester pertama Bu, dan alhamdulillah anak saya kembar"
"Wah alhamdulillah banget ya Mas, saya sama Pak Ndaru mendoakan semoga lancar selamat sampai lahiran"
Obrolan bergulir dan kini bergeser ke meja makan untuk menikmati perjamuan. Sesekali Langit berbisik untuk berbicara dengan Riza.
"Wah pas makan disini gue malah keinget bini dirumah. Lagi apa ya dia? Terus anak-anak gue sedang apa di perut Mimannya?" Langit menundukkan wajah mendekat kepada Riza yang sedang menikmati makan siangnya.
"Makanya kita selesain cepet biar cepet juga balik ke Jakartanya"
"Gue pengen anak-anak gue entar kayak anak Pak Gubernur juga. Mereka santun banget" Kembali Langit berbisik.
Mereka kembali mengobrol santai di meja makan.
Ndaru dan Rengganis memang sepakat untuk menjadi partner yang baik. Tak perlu permisi untuk belajar Mencintai. Tanya saja dalam hati, apa dirinya sudah bisa melupakan masa lalu?
🌿🌿🌿🌿🌿
Note for readers n authors tersayang, jadi tokoh Langit dan Riza disini adalah tokoh dari novel LANGIT JINGGA, author : Chida.
Kisahnya ringan banget guys dan uwuu syekali pasangan romantis ini.
Skuyy langsung meluncur.
Gimana? Seru n uwuu kan??
Thanks for Kak Chida
Thanks for pembacaaaa.
see you !
ga ingat apa pwngalaman suami dia dan mantan mantunyaa duluuu, dan skrng mamak pengen ganis punya lakian model Yudha jugaa
ckckckxck
baru kenal udh main tangan ajaa...
masa 3 tahun pacaran bs ga terdeteksi sihh
knp jg sy baru koment ya, padahal baca kisah ini bertahun² lalu🤭
kisah seperti ini sy sukaaaaa banget. ttg keluarga, karir, tp konflikx ga berat