NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayangan di Balik Tirai

Kegelapan di ruang tamu rumah Ardhana terasa pekat dan mencekam, seolah-olah udara itu sendiri telah membeku. Zidan berdiri tegak di balik pilar marmer besar yang memisahkan ruang tamu dari koridor menuju dapur. Napasnya ditahan, setiap inderanya dipertajam untuk mendeteksi suara sekecil apa pun dari luar. Di sampingnya, Viona menggenggam erat sebuah vas bunga kristal berat—senjata improvisasi satu-satunya yang bisa ia jangkau dalam kegelapan. Pak Wahyu sudah bergerak lebih dulu, menghilang ke arah tangga belakang menuju ruang keamanan pusat yang memiliki akses ke semua kamera CCTV dan sistem kunci elektronik rumah.

Hening. Hanya ada desau angin malam yang menerobos celah-celah jendela dan denting jam dinding antik yang berdetak lambat, terdengar seperti palu godam di telinga Zidan.

Crunch.

Suara langkah kaki di atas kerikil taman depan. Bukan satu orang. Ada tiga, mungkin empat. Langkah mereka hati-hati, namun terlatih. Ini bukan preman jalanan yang nekat; ini adalah pasukan khusus yang disewa Wijaya.

Zidan memberi isyarat tangan kepada Viona untuk tetap diam dan mundur perlahan ke arah dapur. Ia tahu bahwa jika penyerang berhasil masuk melalui pintu utama, mereka akan langsung menyisir ruang tamu. Zidan memilih posisi strategis di dekat tangga utama, tempat ia memiliki keunggulan ketinggian dan elemen kejutan.

Tiba-tiba, kaca jendela ruang tamu pecah berantakan. Suara dentingan kaca yang hancur memecah keheningan malam, diikuti oleh sosok hitam yang melompat masuk dengan gesit. Sosok kedua dan ketiga menyusul lewat pintu samping yang tampaknya sudah dibobol paksa. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dan masker wajah, membawa senjata tumpul dan pisau lipat.

"Check room! Cari flashdisk itu!" perintah salah satu penyusup dengan suara berbisik namun tegas.

Zidan menunggu hingga dua orang penyusup melewati posisinya, mengarah ke area ruang keluarga di mana laptop-laptop tadi diletakkan. Saat orang ketiga, yang tampak menjadi pemimpin kelompok karena posturnya yang lebih tegap, mulai memeriksa rak buku di dekat tangga, Zidan bertindak.

Dengan gerakan cepat dan senyap, Zidan melompat dari balik pilar. Ia tidak menyerang dengan pukulan, melainkan menggunakan teknik judo dasar yang pernah ia pelajari saat kuliah. Ia mengunci lengan pemimpin itu dari belakang, menekan titik saraf di lehernya hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh tanpa sempat berteriak. Sebelum dua rekannya sempat bereaksi, Zidan sudah menarik tubuh pemimpin itu sebagai tameng hidup.

"Jangan bergerak!" teriak Zidan keras, suaranya bergema di seluruh ruangan. Lampu sorot tiba-tiba menyala terang benderang, menyilaukan mata para penyusup.

Dari arah balkon lantai dua, Pak Wahyu muncul dengan senapan angin berpeluru karet di tangannya, didampingi oleh dua anggota tim keamanan pribadi Raka yang berseragam lengkap. Sirene alarm rumah berbunyi nyaring, membelah malam Semarang.

Para penyusup itu terpaku. Mereka menyadari bahwa ini bukan serangan biasa, melainkan perangkap yang sudah disiapkan. Pemimpin mereka, yang masih dikunci oleh Zidan, mencoba memberontak, namun Zidan semakin mengencangkan cengkeramannya.

"Siapa yang mengirim kalian?" tanya Zidan dingin, mendekatkan wajahnya ke telinga pria itu. "Wijaya? Atau Budi?"

Pria itu hanya tertawa kecil, darah mengalir dari hidungnya akibat benturan saat jatuh. "Kalian pikir ini selesai? Tuan Wijaya punya mata di mana-mana. Bahkan di dalam rumah ini."

Kalimat itu membuat darah Zidan membeku. Di dalam rumah ini?

Sebelum Zidan bisa menggali informasi lebih lanjut, suara ledakan kecil terdengar dari arah garasi bawah tanah. Asap tebal mulai mengepul dari ventilasi udara. Tim keamanan Raka segera bereaksi.

"Mereka mencoba membakar bukti di server cadangan!" teriak salah satu anggota keamanan. "Ada bom asap di ruang server!"

Viona, yang sejak tadi bersembunyi di balik meja dapur, segera berlari menuju panel kontrol kebakaran. "Aku bisa mematikan sistem ventilasi untuk mencegah asap menyebar ke ruang utama! Tapi kita harus evakuasi sekarang!"

Zidan melepaskan kuncian pada pemimpin penyusup itu, lalu menendangnya hingga pingsan. "Ikat dia! Jangan biarkan dia kabur atau bunuh diri!" perintahnya pada tim keamanan.

Namun, kekacauan belum berakhir. Dari arah tangga belakang, sosok kelima muncul. Bukan penyusup bertopeng, melainkan seseorang yang sangat dikenali Zidan dan Viona.

Itu adalah Mbak Surti, asisten rumah tangga setia yang sudah bekerja di keluarga Ardhana selama dua puluh tahun. Wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang sebuah ponsel tua.

"Maafkan saya, Nden... Maafkan saya, Mas Zidan..." ucap Surti dengan suara parau, air mata mengalir deras di pipinya yang keriput. "Mereka mengancam anak saya. Mereka bilang akan menculik cucu saya jika saya tidak memberikan kode akses pintu belakang dan jadwal jaga tim keamanan."

Viona terkesiap, tangannya menutup mulutnya. Pengkhianatan dari orang terdekat selalu menjadi luka yang paling dalam. Zidan merasa dadanya sesak, namun ia menahan amarahnya. Ia memahami betapa liciknya strategi Wijaya. Tidak hanya menyerang fisik, tapi juga memanipulasi kelemahan emosional korban.

"Surti," ucap Zidan pelan, mendekati wanita tua itu. "Di mana anakmu sekarang?"

"Dalam mobil hitam di gerbang depan, Mas. Mereka bilang akan melepaskannya jika saya berhasil mengambil flashdisk itu sebelum polisi datang."

Zidan menoleh ke arah Viona. Viona mengerti. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan flashdisk palsu yang telah mereka siapkan sebelumnya sebagai umpan. Flashdisk asli masih tersimpan aman di tempat yang hanya diketahui Zidan dan Viona.

"Ambil ini, Surti," kata Viona, menyerahkan flashdisk palsu itu dengan tangan yang stabil meski hatinya hancur. "Bawa ini pada mereka. Katakan pada mereka bahwa ini satu-satunya salinan. Dan katakan pada mereka... bahwa Zidan Ardhana tidak pernah kalah begitu saja."

Surti menatap Viona dengan rasa terima kasih dan ketakutan. Ia mengambil flashdisk itu, lalu berlari keluar melalui pintu depan yang sudah dibuka paksa oleh tim keamanan untuk menjebak penyusup lainnya.

Dalam hitungan menit, sirene polisi terdengar semakin dekat. Cahaya biru dan merah dari mobil patroli menerangi fasad rumah Ardhana yang megah. Para penyusup yang tersisa, melihat situasi yang sudah tidak menguntungkan, mencoba kabur melalui pagar belakang, namun sudah dihadang oleh tim keamanan Raka yang profesional.

Zidan berjalan menuju teras depan, memandang kekacauan di halamannya. Taman yang biasanya rapi kini penuh dengan pecahan kaca, jejak sepatu kotor, dan sisa-sisa asap. Ia merasa lelah yang luar biasa, bukan hanya secara fisik, tapi juga mental. Pertempuran ini menggerogoti jiwanya.

Pak Wahyu turun dari tangga, wajahnya terlihat lebih tua sepuluh tahun. Ia meletakkan senapan anginnya di atas meja teras.

"Mereka menangkap empat orang, Zidan," lapor Pak Wahyu. "Termasuk pemimpinnya. Polisi sudah mengamankan lokasi. Tapi Surti... dia berhasil lolos dengan flashdisk palsu itu."

"Apakah itu risiko yang worth it, Yah?" tanya Zidan, menatap ayahnya.

Pak Wahyu menghela napas panjang. "Kita butuh pengakuan dari mereka. Jika Surti berhasil menyerahkan 'bukti' itu kepada Wijaya, dan Wijaya merasa menang, dia akan lengah. Dia akan berpikir perang sudah selesai. Saat itulah kita akan menghabisinya dengan bukti asli dan konferensi pers besok pagi."

Zidan mengangguk. Strategi mereka memang berbahaya, melibatkan nyawa Surti dan keluarganya sebagai taruhan. Namun, dalam permainan catur tingkat tinggi, terkadang Anda harus mengorbankan bidak untuk menyelamatkan raja.

Tiba-tiba, ponsel Zidan bergetar. Sebuah pesan video masuk dari nomor anonim. Zidan membuka pesan itu. Video tersebut menunjukkan Surti sedang menyerahkan flashdisk kepada seorang pria bertubuh besar di dalam mobil hitam. Pria itu tersenyum puas, lalu berkata pada kamera: "Beritahu Zidan, pesta baru saja dimulai. Besok, seluruh isi flashdisk itu akan kami siarkan ke publik. Versi kami."

Zidan tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh perhitungan. Ia membalas pesan itu dengan satu kata: "Tunggu."

Ia menoleh ke Viona, yang sedang memeluk bahunya, menggigil kedinginan dan ketakutan. Zidan memeluknya erat, merasakan detak jantung wanita itu yang masih cepat.

"Kita selamat malam ini, Vion," bisik Zidan di telinganya. "Tapi besok... besok kita akan menghancurkan mereka."

Viona menatap mata Zidan. Di sana, ia tidak lagi melihat kebingungan atau keraguan. Ia melihat api determinasi yang terbakar habis-habisan. Cinta mereka mungkin lahir di tempat yang salah, di tengah pusaran kebencian dan warisan berdarah, tetapi malam ini membuktikan bahwa mereka adalah mitra perang yang paling mematikan.

Langit fajar mulai menyingsing di ufuk timur Semarang, mewarnai awan dengan gradasi ungu dan oranye. Cahaya baru datang, namun bagi keluarga Ardhana, hari itu bukanlah awal dari kedamaian, melainkan babak final dari sebuah perang total. Dan mereka siap untuk bertarung sampai titik darah penghabisan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!