Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.
Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.
Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.
Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32. Orang Kaya Baru
Dengan mobil Cindy, keduanya berangkat menuju rumah yang ada di Cluster Permata. Demi melakukan transaksi langsung dengan pemilik lama, yang telah menunggu bersama notaris.
Proses penandatanganan berkas berjalan sangat cepat dan mulus. Uang tujuh ratus juta hasil perasan dari Bagas. Seketika berpindah tangan, meresmikan kepemilikan bangunan megah berlantai dua itu atas nama Mawar.
Usai transaksi, Mawar melangkah keluar menuju halaman rumah mewahnya yang asri. Menghirup udara dengan senyum kemenangan yang berkilat penuh kesombongan.
“Cindy,” panggil Mawar seraya merapikan kacamata hitamnya.
“Iya, Mai? Ada yang bisa kubantu lagi?” tanya Cindy sigap, sejenak berdecak oleh perubahan drastis nasib teman masa kecilnya.
“Tolong beri label ‘Rumah Dikontrakkan’ untuk rumah lamaku di kawasan kumuh itu ya?” pinta Mawar tanpa membalikkan badan. “Aku tidak mau menginjakkan kaki lagi di tempat miskin itu, apalagi melihat kenangan busuk bersama tetangga julid, dan si buta Melati. Biarkan rumah itu menghasilkan uang sewa saja.”
“Siap, Mai! Nanti sore langsung kupasang papan pengumumannya.” Angguk Cindy patuh. Meski dalam hatinya menggerutu. Karena secara tidak langsung, Mawar juga mengatai dirinya.
-----
Malam itu. Di rumah mewahnya. Mawar berdiskusi dengan Turi.
“Aku sudah tidak bekerja di kantor utama lagi, Ma,” akunya, gamblang.
“Lho, lho, lho. Kok bisa itu lho?” Turi membulatkan mata. “Kita ini butuh duit Mai, buat hidup. Kalau kamu nggak kerja. Mau makan apa kita nanti.”
“Aku sudah memikirkan itu, Bu.” Mawar mendengkus, “Mawar, berencana mau buka bisnis,” koarnya, menyombongkan diri. “Ya kali. Rumah segede gini. Nggak ada penghasilan.”
“Baguslah. Mau kerja apa kamu?” Turi mencecar tak sabar. Matanya langsung ijo begitu mendengar kata ‘bisnis’, yang notabene identik dengan orang kaya.
“Mungkin skincare, furniture atau … apa sajalah, yang berhubungan my passion.” Mawar mengibaskan tangan.
Mendengar istilah asing. Turi tersenyum lebar. “Wah, anak Ibu memang hebat. Nggak sia-sia, Ibu menyekolahkanmu sampai perguruan tinggi.”
“Ya dong. Aku kan cum-laude.”
“Cum-laude apaan?”
“Mahasiswa dengan prestasi tertinggi.”
“Wah hebat. Pantas kamu pas wisuda, Ibu disuruh maju. Ibu jadi makin bangga sama kamu.” Turi menepuk-nepuk pundak sang putri. “Kamu mau makan apa? Biar Ibu masakin. Mau lodeh, sambelan terong atau sayur asem?”
“Aduh, Bu. Please deh. Kita ini sudah tinggal di perumahan elite. Sudah jadi golongan orang kaya. Jadi makanan harus disesuaikan dong,” protes Mawar, mengerutkan kening ketus. “Besok Ibu harus bisa masak makanan internasional. Seperti steak, salmon, sushi ….”
“Lho-lho, Susi istrinya Tukul mau dimasak?”
“Bukan Mbak Susi aduhhhh.” Mawar sampai mengacak rambut saking kesalnya, karena sang ibu yang terlalu kampung. “Sushi itu sejenis masakan dari Jepang.”
Turi mengangguk sok paham. “Oh, iya-iya. Sushi. Berarti Ibu harus ke Jepang dulu. Buat belajar masak.”
“Kalau itu bisa lewat internet.” Mawar mencebik. “Tapi sepertinya jalan-jalan ke Jepang boleh juga. Mana tahu ketemu jodoh spek Mackenyu.”
“Eh Ibu nggak setuju ya, kamu berjodoh sama penyu. Maunya Ibu tetap harus manusia. Paham?”
Melongo Mawar menatap wajah Turi. “Sudahlah. Aku capek jelasin. Aku mau tidur. Ibu rapikan semua gih. Aku lelah.”
“Iya deh. Tapi jangan lupa duit buat pegangan Ibu ya? Kamu kan udah kaya sekarang.” Turi menyodorkan tangan.
Meski raut wajahnya mengerut karena kesal. Mawar tetap memberi sejumlah nominal ke Turi. Supaya wanita itu diam.
----
Mawar melangkah terburu-buru. Menyusuri koridor rumah sakit yang beraroma antiseptik menyengat.
Tangannya mencengkeram tas mewah erat, mencoba meredam kegugupan yang melanda dadanya.
Hari ini, ia harus memastikan rencananya berjalan mulus. Operasi virginity adalah satu-satunya tiket emas agar ia bisa tampil sempurna sebagai wanita suci di hadapan pria kaya yang akan dijebaknya nanti.
Begitu namanya dipanggil, Mawar langsung masuk ke ruang konsultasi dan duduk di hadapan seorang dokter spesialis paruh baya.
"Selamat pagi, Mbak Mawar. Ada keluhan apa hingga Mbak ingin berkonsultasi mengenai prosedur rekonstruksi selaput dara?" tanya Dokter Reni ramah seraya memeriksa lembar formulir.
"Saya mau melakukan operasi keperawanan secepatnya, Dok," potong Mawar tanpa basa-basi, suaranya terdengar tidak sabar.
"Berapa pun biayanya, saya bayar tunai hari ini. Yang penting jadwalnya minggu ini."
Dokter Reni tersenyum tipis, lalu menatap Mawar dengan tenang. "Sebelum prosedur apa pun dilakukan, kita harus melakukan pemeriksaan fisik dan tes laboratorium standar terlebih dahulu, Mbak. Tolong ikuti suster ke ruang periksa."
Mawar mendengkus pelan. Sebelum akhirnya, dengan terpaksa ia menuruti prosedur tersebut.
Setelah melalui serangkaian tes darah dan pemeriksaan USG, Mawar kembali duduk di kursi pasien dengan raut wajah cemas.
Dokter Reni memandangi hasil cetakan USG di tangannya, lalu menghela napas panjang sebelum menatap Mawar secara mendalam. "Mbak Mawar, saya punya kabar yang harus saya sampaikan sebelum kita membahas prosedur operasi lebih jauh."
"Apa, Dok? Apa karena hasilnya bagus. Sehingga saya bisa langsung operasi lusa besok?" desak Mawar, sambil memajukan tubuh.
"Operasi virginity sama sekali tidak bisa dilakukan," jawab Dokter Reni tegas. "Sebab, Mbak Mawar saat ini sedang hamil. Usia kandungannya sudah masuk minggu keenam."
Deg.
Dunia Mawar seolah runtuh seketika. Wajahnya seketika pucat, dan bibir gemetar hebat. "N-nggak mungkin! Dokter pasti salah periksa! Saya cuma berhubungan sekali waktu itu! Nggak mungkin saya hamil!"
"Hasil tes darah dan USG tidak pernah bohong, Mbak. Ada kantung janin yang berkembang dengan sangat baik di dalam rahim Anda," jelas Dokter Reni dengan nada prihatin.
Bayangan wajah Herwanto yang tua, kasar, dan menjijikkan seketika melintas di kepala Mawar. Kilasan malam kelam saat tubuhnya digagahi jejaka tua itu membuat perutnya mual luar biasa. Darah daging Herwanto sedang tumbuh di dalam tubuhnya. Hal yang tak pernah ia duga sebelumnya.
"Nggak! Ini nggak boleh terjadi!" Mawar mendadak histeris. Ia memukul meja dokter dengan keras, air matanya menetes deras akibat rasa panik dan jijik yang membakar dada. "Saya nggak mau bayi ini! Gugurkan sekarang, Dok! Gugurkan!"
"Mbak Mawar, tenang dulu ....."
"Gimana saya bisa tenang?!" teriak Mawar memotong ucapan Dokter. Dengan napas memburu dan mata yang memerah penuh keputusasaan. "Bayi ini haram! Bayi ini bakal hancurin seluruh masa depan saya! Saya bisa membayar Dokter berapa saja. Tapi tolong keluarkan darah daging busuk ini dari perut saya! Saya tidak mau anak ini!"
"Dengar baik-baik, Mbak Mawar!" suara Dokter Reni meninggi, mencoba menyadarkan pasiennya yang mulai hilang kendali. "Aborsi tanpa indikasi medis yang jelas itu ilegal dan sangat berbahaya! Apalagi melihat riwayat kesehatan dinding rahim Anda yang menipis, tindakan aborsi paksa bisa memicu resiko serius."
"Saya nggak peduli soal resiko! Yang penting anak ini mati!" amuk Mawar, mencengkeram tepi meja hingga kuku-kukunya memutih.