Kehidupan seorang pengacara tampan yang sukses dan termuda begitu banyaknya rintangan untuk menghadirkan buah hatinya. Setelah sang istri mengalami keguguran dan hampir meninggal, membuat pria itu trauma untuk memiliki anak lagi.
Dan setelah banyaknya rintangan yang kedua pasangan itu lewati akhirnya Tuhan memberikan buah hati yang tidak terduga. Keluarga Syein begitu lengkap dengan hadirnya penerus keluarga Syein Biglous yang kembar tiga.
Bagaimanakah nasib Jeerewat ketika ia melewati masa-masa kehamilan yang di kelilingi dengan keluarga yang sangat posesif padanya ?
Apakah kehidupan mereka akan tetap bahagia kedepannya atau sebaliknya, silahkan simak cerita ini yah.
Cerita ini adalah lanjutan dari cerita "Istri Seksi Milik Pengacara Tampan".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marina Monalisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hal Terpenting Dalam Pernikahan
Di kediaman Syein kini semua makan bersama, Fiky yang tampak lahap beberapa kali mendapat senggolan dari tangan Dara.
"Ada apa?" tanya Fiky bingung.
Dara pun berbisik. "Jangan makan terlihat rakus seperti itu."
Fiky tersenyum membungkam mulutnya yang tengah terisi makanan banyak. "Sepertinya kau sangat kelaparan yah, Fik?" tanya Tuan Reindra seketika membuat Fiky tersedak dan hampir saja membuang makanan yang berada di dalam mulutnya.
"Iya, sepertinya suamimu sangat kelaparan yah Dara?" tutur Jee yang menambah.
"Maaf semuanya, ini bukan lapar. Tapi...ini karena aku sudah tidak pernah makan makanan rumahan." tutur Fiky yang tersenyum.
Semua menatap pada Dara seakan penuh dengan tatapan menyelidik. "Hehe iya selama hamil aku sudah meminta Dara untuk istirahat memasak." terang Fiky.
"Oh...kirain karena Dara yang sudah tidak mau memasakkan untukmu." ucap Nyonya Flora yang terkekeh.
Fikya hanya tersenyum menatap wajah mereka bergantian dan terakhir matanya menatap ke sebelah. Dara menatapnya begitu tajam seakan ia menginginkan waktu yang begitu cepat agar bisa memukul melampiaskan kekesalannya pada sang suami.
Sementara Fiky hanya berdecak kesal mengapa ia bisa sampai kelepasan bicara tentang makanan itu. Beruntung dirinya bisa menutupi dengan cepat kalau tidak entah kemarahan apa yang akan ia terima dari Dara.
***
Di rumah Sisil yang tengah duduk dengan wajah gelisahnya menunggu kedatangan ayahnya. Pak Heru yang masih saja belum tiba di rumah membuat Sisil tertidur lelap di sofa ruang tamu. Beberapa saat setelah terlelapnya gadis cantik itu barulah Pak Heru tiba.
Mobil yang sudah terparkir dengan sempurna di garasi mobil rumah itu kini perlahan terlihat kaki seorang pria yang turun dari mobilnya. Ia bergegas masuk ke dalam rumahnya dengan menggenggam satu tas kerjanya.
Matanya yang menatap ke salah satu sofa tampak melihat sosok anak gadisnya yang tengah terlelap. Ia tersenyum mendekatkan langkahnya dan mengusap lembut rambut putrinya.
"Ayah sudah pulang?" tanya Sisil dengan beberapa kali mengerjapkan kedua matanya.
Pak Heru yang seketika mendaratkan bibirnya di kening Sisil dengan segera Sisil terbangun dari tidurnya. Sejak beberapa jam yang lalu ia menanti kepulangan Ayahnya dan kini mereka sudah bertemu.
"Kau mengapa tidur di sini?" tanya Pak Heru yang merasa tidak biasanya melihat putrinya tidur di luar.
"Sisil lagi nunggu Ayah, ada yang mau Sisil bicarakan." tuturnya lembut.
Pak Heru menekuk wajahnya merasa penasaran dengan topik yang ingin anaknya katakan padanya.
"Apa, Sil?" tanyanya.
Kini Pak Heru terlihat duduk di dekat anaknya dan memandangi wajah Sisil yang entah sejak kapan sudah begitu tumbuh dewassa.
"Ayah, em...Sisil ingin bertanya tentang ucapan Ayah tadi siang." tuturnya ragu seraya menggigit kecil bibir bawahnya.
"Yang di restoran?" tanya Pak Heru.
Sisil mengangguk pelan menatap wajah Ayahnya dengan penasaran dan tidak sabarannya. Pak Heru menghela nafasnya pelan dan terkekeh. Membuat Sisil semakin mengernyitkan dahinya dalam merasa tidak mengerti dengan reaksi yang di berikan oleh ayahnya.
"Kau sungguh serius kan dengannya?" tutur Pak Heru.
"Ayah, Sisil tentu serius, jika tidak untuk apa Sisil mau menjalani hingga saat ini." terang Sisil.
"Ayah tahu jika maksud dia menikah menunggu usahanya berjalan, tentu tujuannya agar bisa membawamu hidup dengan mudah dan bisa membuat pernikahan kalian dengan meriah bukan?" tutur Pak Heru menebak rencana Ravindra.
Sisil yang membenarkan perkataan ayahnya tak bisa mengelak ia akhirnya mengakui jika kekasihnya sedang kesulitan dalam perekonomian saat ini. Pak Heru menjelaskan pada putrinya jika pernikahan itu bukan serta merta untuk menunjukkan kemampuan kita membuat acara yang megah pada semua orang. Tujuan pernikahan adalah unutk beribadah dan saling membahagiakan satu sama lai.
Yang terpenting dalam pernikahan bukanlah kemewahan yang mereka miliki tapi kekuatan cinta yang mereka bina hingga kahir hayat.
"Jadi, Ayah...." Sisil menggantung ucapannya pada Pak Heru.
"Menikahlah jika kalian sudah siap, Ayah tidak meminta untuk kalian harus membuat acara yang megah. Buatlah acara sederhana saja jika Ravindra memang serius denganmu." terang Pak Heru dan berlalu meninggalkan putrinya.
Seketika Sisil yang begitu senangnya berlari meninggalkan ruangan itu menuju kamarnya dan segera meghubungi Ravindra. Sambungan telfon pun terhubung, segera Sisil menarik nafasnya karena kegirangan.
"Dengarkan aku baik-baik." tutur Sisil dengan wajah yang tersenyum.
"Iya, katakanlah aku mendengarnya." sahut Ravindra.
Sisil yang sudah menceritakan apa yang baru saja ia dengar dari ayahnya sungguh membuat Ravindra benar-benar terkejut.
"Apa ayahmu serius dengan ucapannya?" tanya Ravindra tidak yakin jika ayah Sisil tidak meminta untuk di meriahkan saat pernikahan putrinya.
"Iya ayahku sungguh serius dan ia tidak mementingkan untuk acara besar-besaran. Yang terpenting adalah pernikahan yang sah dan keseriusan kita untuk kedepan." jelas Sisil.
"Yasudah kalau begitu besok aku akan menemui ayamu di rumah." ucap Ravindra yang enggan menunggu lama lagi.
Jika bisa secepatnya mengapa harus mengundurnya lagi, sudah lama Ravindra menahan diri untuk menikahi kekasihnya itu. Namun karena faktor perekonomiannya yang saat ini sedang tahap perjuangan untuk naik ke lebih tinggi lagi akhirnya ia harus bisa sabar.
Sisil benar-benar terkejut mendengar ucapan Ravindra dadanya berdetak tidak beraturan. Rasanya sungguh seperti mimpi mendengar hal yang sejak lama ia nantikan.
"Kau serius?" seru Sisil.
"Apa aku pernah bercanda denganmu?" sahut Ravindra.
Akhirnya keduanya pun mengakhiri panggilan itu dengan wajah yang begitu terlihat ceria.
***
Malam hari tampak Zidan yang tengah ribut berdebat dengan Delon, mereka terus berebut tempat tidur.
"Apa yang kalian ributkan sih?" tanya Zeyra yang baru saja membersihkan wajahnya di kamar mandi. Sedangkan Zidan dan Delon sudah lebih dulu selesai.
"Mah, Zidan mau tidur di situ." sahut Zidan yang mengadu pada Zeyra.
"Apa kau tidak ingin tidur di kamarmu, Nak?" tanya Zeyra lembut sembari mengelap wajahnya dengan handuk kecil.
Zidan tampak menggelengkan kepalanya enggan menjawab karena rasanya sudah sangat kesal karena Delon. Matanya yang sudah berkaca-kaca membuat Zeyra tidak tega jika harus meminta anaknya pergi dari kamarnya
Akhirnya ia pun menghela nafasnya kasar mengiyakan putranya untuk tidur di kamar itu. "Zidan di sini, biar Papah yang di tengah." ucap Delon menepuk bagian kasur.
"Mamah, Zidan maunya di tengah." ucap Zidan terdengar lirih.
Zeyra yang segera merebahkan tubuhnya di atas kasur segera memeluk putranya yang ia letakkan di tengah-tengah antara ia dan suaminya.
Delon yang kesal lagi-lagi tidak bisa memeluk tubuh istrinya kini memeluk tubuh Zidan. "Papah, minggil tangannya." pintah Zidan setengah berteriak.
"Papah mau peluk Zidan juga, kan tidak bisa meluk Mamah." sahut Delon yang menenggelamkan wajahnya di punggung putranya.
Zidan terus menepis kasar dan menggeserkan tubuhnya menjauh dari Delon. "Astaga kalian ini?" seru Zeyra yang bangun dari tidurnya karena merasa tempat mereka tidur terus bergerak tak karuan.
Delon dan Zidan terlihat terus berkelahi tangan tanpa suara, Zeyra yang kembali membaringkan tubuhnya di tengah-tengah dan membelakangi suaminya kini sudah tidak ada lagi keributan di tempat tidurnya.
Sesaat setelah itu Zidan yang sudah mulai terlelap hingga melepaskan pelukannya pada tubuh ibunya.
dengerin novel ini aja bisa nangis anjai
sedih banget menusuk hati kepergian jee
ya ampunn
jee
plis bikin prart ke 3 jee
bikin sakit keritis dan sembuh kembali aja
gak rela jee meningal ya tuhan