Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.
Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.
Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Teng teng teng!
Jam istirahat pertama berbunyi nyaring memecah kesibukan belajar keras pagi itu.
Husen baru saja melangkah keluar dari kelas saat Dimas berjalan masuk dengan senyum lebar membawa sekotak besar piza hangat.
Aroma keju leleh dan sosis panggang yang sangat sedap langsung memenuhi seluruh penjuru ruang kelas XI-7 seketika.
Sreng.
Rico dan teman-temannya langsung menelan ludah menatap kotak makanan mewah berlogo restoran mahal itu dengan mata berbinar.
"Halo adik-adik semua, maaf mengganggu waktu jam istirahat kalian sebentar ya."
Dimas meletakkan kotak piza raksasa itu di atas meja kayu guru dengan senyum hangat bak malaikat tak bersayap.
"Bapak sengaja memesan makanan ini untuk merayakan kemenangan luar biasa kalian di lomba tingkat kota minggu lalu."
"Ayo maju ke depan, semuanya pasti kebagian kok, jangan malu-malu sama Bapak."
Siska dan beberapa anak perempuan lainnya langsung bersorak kegirangan dan maju berebut mengambil potongan piza tersebut.
"Wah, makasih banyak ya Pak Dimas, Bapak ini baik banget deh pengertian sama perut kita yang keroncongan!"
"Beda banget sama guru-guru lama yang pelitnya minta ampun kalau disuruh traktir muridnya."
Dimas tertawa pelan dan mengelus puncak kepala salah satu siswa laki-laki dengan penuh kasih sayang yang sangat palsu.
"Bapak ini kan usianya masih muda, anggap saja Bapak ini seperti kakak kalian sendiri saat berada di lingkungan sekolah ini."
"Kalau kalian ada masalah atau butuh teman curhat soal pelajaran, jangan sungkan-sungkan datang ke meja Bapak di ruang guru ya."
Bara melirik sekilas ke arah Nisa dari ujung matanya dan memberikan isyarat anggukan pelan yang nyaris tidak terlihat oleh siapa pun.
Bara lalu perlahan berdiri dari kursinya dan berjalan santai mendekati meja guru dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
"Bapak beneran ikhlas mau traktir kita semua piza mahal begini nih?"
"Nggak ada maksud pamrih apa-apa di balik makanan enak ini kan, Pak Dimas?"
Bara bertanya dengan nada curiga khas preman jalanan yang sengaja dia buat-buat agar terlihat sangat natural di mata sang guru baru.
Dimas langsung menyentuh dada kirinya dengan ekspresi wajah yang sedikit terkejut namun tetap tersenyum ramah menenangkan.
"Tentu saja tidak ada maksud buruk apa pun, Bara."
"Bapak hanya tahu kalian sudah bekerja sangat keras di bawah tekanan Pak Husen yang terkenal sangat keras dan tegas itu."
Dimas mulai melemparkan kalimat pancingan halus untuk secara perlahan menjelekkan citra Husen di mata murid-muridnya sendiri.
"Belajar keras memang hal yang bagus, tapi kalian ini kan masih remaja yang butuh waktu luang untuk bersantai dan menikmati masa muda."
"Kalau Pak Husen terlalu memaksa dan keras menekan kalian, kalian bisa cerita ke Bapak, nanti Bapak yang bantu mediasi bicara dengan beliau."
Rico yang baru saja menggigit pinggiran pizanya langsung mengangguk-angguk setuju dengan kepolosan yang sengaja dia buat-buat.
Nyam nyam.
"Bener banget itu Pak, Pak Husen tuh kalau lagi ngajar galaknya minta ampun, kita sering disuruh jemur di lapangan pas lagi panas terik."
"Gue sampai gosong nih kulitnya gara-gara dihukum latihan debat tiap sore berturut-turut tanpa libur."
Dimas tersenyum penuh kemenangan dalam hatinya mendengar rentetan keluhan dari salah satu murid terdekat ketua kelas itu.
"Sangat gampang sekali mengambil hati anak-anak bodoh dari kalangan kelas bawah ini."
"Hanya dengan sekotak piza dan sedikit simpati palsu, mereka sudah berani mengeluhkan perlakuan wali kelasnya sendiri kepadaku."
Dimas membatin dengan perasaan yang sangat sombong, tidak sadar bahwa dia sedang masuk ke dalam perangkap jebakan yang jauh lebih dalam.
"Kasihan sekali kalian harus menanggung beban seberat itu setiap hari."
"Mulai besok Bapak akan coba ajukan ke sekolah agar jam latihan sore kalian dikurangi setengahnya biar kalian bisa pulang cepat."
Nisa yang masih duduk diam di bangkunya hanya mendecih pelan dalam hati melihat akting rendahan pria pembohong di depan kelas itu.
"Pria ini benar-benar tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa di dalam ruangan ini."
"Dia pikir kesetiaan buta yang sudah dibangun dengan darah dan keringat bisa dibeli lunas dengan seloyang roti bundar murahan."
Nisa akhirnya berdiri dan ikut mengambil satu potong piza dingin dengan wajah datarnya yang sangat khas.
"Terima kasih makanannya, Pak Dimas, kami sangat menghargai niat baik Bapak hari ini."
"Semoga Bapak betah dan berumur panjang mengajar di kelas kami yang penuh dengan kejutan ini."
Di balik jendela luar kelas yang menghadap ke arah koridor, Husen berdiri bersandar di tembok dengan kedua tangan terlipat santai di dada.
Dia bisa mendengar seluruh percakapan palsu di dalam kelas itu dengan sangat jelas menggunakan fokus pendengaran auranya.
"Akting Bara dan Rico luar biasa natural, pantas saja mereka bisa bertahan hidup bertahun-tahun kerasnya di jalanan kota."
Husen tersenyum bangga melihat bagaimana murid-muridnya dengan cerdas memanipulasi sang manipulator ulung tanpa ketahuan sama sekali.
Ting!
Sistem kembali berdenting memberikan analisis tingkat keberhasilan singkat mengenai interaksi yang baru saja terjadi di dalam sana.
[Laporan Radar Sabotase]
[Target Dimas Anggara merasa rencananya telah sukses sebesar 40%]
[Target berencana mengirimkan laporan palsu mengenai tindak kekerasan mental guru kepada Yayasan sore ini juga]
Husen mengangguk pelan membaca niat busuk yang tertera jelas di layar biru bercahaya tersebut.
"Dia rupanya mau mencoba memainkan kartu kekerasan mental terhadap murid untuk mencari celah memecatku?"
"Sayang sekali, senjata laporan palsu itu justru akan menjadi pedang makan tuan saat kebenarannya terungkap telak nanti di panggung provinsi."
Husen merogoh saku kemejanya dan mengambil ponsel lamanya yang layarnya sedikit retak di bagian ujung.
Tut tut tut.
Dia menekan deretan nomor panggilan ke seorang kenalannya dari masa lalu yang masih menjabat penting di Dinas Pendidikan kota.
"Halo, Pak Antonius, ini Husen."
Suara dari seberang sambungan telepon terdengar sangat terkejut sekaligus senang menerima panggilan langka tersebut.
"Astaga Husen, akhirnya kamu mau menghubungi saya juga setelah berita kemenangan besar sekolahmu itu masuk TV lokal!"
"Ada yang bisa kubantu hari ini, sahabat lama yang keras kepala?"
Husen menatap ke arah hamparan awan putih di langit biru dengan sorot mata yang perlahan menajam dan penuh perhitungan matematis.
"Saya sangat butuh daftar nama panitia seleksi provinsi dan jejak aliran dana rekening mereka selama setahun terakhir ini."
"Ada hama tikus besar dari Yayasan Arunika yang harus kita basmi bersama secara hukum bulan depan."
Antonius terdiam selama beberapa saat lalu tertawa pelan dengan nada suara yang seketika berubah menjadi sangat serius.
"Ternyata kamu masih semengerikan dulu saat menyusun strategi pembalasan dendam dari balik layar, Husen."
"Baiklah, akan kukirimkan dokumen rahasianya ke email pribadimu malam ini juga tanpa jejak."
Klik.
Sambungan telepon terputus cepat dan Husen memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana abu-abunya.
Permainan kucing-kucingan psikologis yang sangat mematikan ini resmi dimulai di wilayahnya.
Dan Husen tentu saja tidak akan pernah membiarkan sang tikus sombong itu lolos hidup-hidup dari perangkapnya.