NovelToon NovelToon
CEO Arogan Jatuh Cinta

CEO Arogan Jatuh Cinta

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: B.E.P

Dave merupakan CEO di perusahaan properti. ia dikenal sabagai bos yang arogan. Setiap penjualan yang tidak mencapai target, ia tidak ragu untuk memecatnya. Sudah banyak karyawan yang menjadi korbannya.

Disisi lain, ada seorang wanita pekerja keras, lembut dan baik hati. Namanya Emma. Ia seorang kurir pengantar pizza.

Emma tinggal bersama dua adiknya yang masih sekolah di SD. Ibunya sudah lama meninggal. Tepatnya saat melahirkan adiknya yang terakhir. Ayahnya adalah seorang penjudi yang selalu kalah. Hutangnya sangat banyak.

Emma memilih tinggal di sebuah apartemen dengan harga sewa yang terjangkau. Ia akan bekerja kerasa untuk memenuhi kebutuhan hidup dan ia tak peduli pada ayahnya.

Perusahaan properti, perkembangannya selalu menurun. Ayahnya Dave, langsung ambil alih pimpinan. Ia menegur keras kearoganan Dave.

Sebagai pembelajaran hidup, ayahnya membuat Dave bekerja ditempat pamannya dan disitulah ia mendapat pelajaran hidup dari Emma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon B.E.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 12

Sup daging yang telah selesai dibuat Nyonya Smith dan Emma, sudah tersaji diatas meja. Mangkuk dan sendok juga tertata mengitari hidangan utama makan malam.

Nyonya Smith dan suaminya serta Emma dan kedua adiknya sudah berkumpul dimeja makan. Harum dari kaldu daging sangat menggugah selera, rasanya sudah tidak sabar untuk mencicipinya.

Diluar, hujan masih belum reda. Air nya gemercik dan membasahi kaca jendela. Suasana didalam ruangan pun terasa dingin, cocok sekali jika makan malam menggunakan hidangan yang berkuah dan hangat.

Tuan Smith jadi yang pertama untuk mencicipi masakan istrinya. Ia mengambil beberapa sendok kuah sup dan dituangkan ke mangkuknya. Tak lupa ia juga mengambil beberapa irisan daging. Uapnya yang masih mengepul, masuk ke hidung pria itu. Serasa sup itu memintanya untuk segera mencicipinya.

Perlahan Tuan Smith menyendok sop daging di mangkuknya. Sebelum dimasukkan ke mulut, ia tiup sejenak agar tidak terlalu panas.

Saat didalam mulut rasanya benar-benar sangat gurih dan semua bumbunya terasa pas. Ketika ditelan, kehangatan langsung terasa, cocok sekali dengan suasana dingin di ruangan.

Giliran Emma yang mengambil sup daging. Ia menyendok kuah dan daging ke mangkuknya serta ke dalam mangkuk kedua adiknya. Ia pun segera mencicipinya. Rasanya memang sangat enak.

Luna dan Ryan juga perlahan mencicipi sup daging yang masih mengepul uapnya di mangkuk masing-masing. Sesekali mereka tiup, agar lebih hangat sebelum dimakan. Setelah masuk ke mulut, mereka berdua menunjukkan senyuman manis. Tidak bohong, hidangan makan malam ini sangat enak.

Mereka semua yang ada di meja makan pun begitu menikmati sup daging sapi. Tak ada obrolan, mereka fokus ke mangkuk masing-masing, ditemani suara gemercik air hujan yang turun semakin lebat.

Tak terasa, perut sudah terasa kenyang. Mereka semua pun menyelesaikan makan malam. Nyonya Smith segera membereskan mangkuk kotor diatas meja. "Sepertinya kita tadi masaknya kebanyakan Emma," ucapnya saat melihat wadah besar isi sup daging masih tersisa sekitar satu porsi.

"Iya, sepertinya," jawab Emma. Ia berdiri ingin membantu Nyonya Smith.

"Apa kamu mau menyimpannya di apartemenmu, Emma ? Siapa tahu nanti malam, Luna atau Ryan mau makan lagi," ujar Tuan Smith.

"Tidak, aku sudah kenyang," sahut Luna. "Kalau semakin banyak makan, aku tidak mau gendut seperti Ryan." Ia melirik Ryan yang duduk disampingnya.

"kamu yang gendut ya Luna," jawab Ryan tak terima. "kamu aja tadi makan sop nya habis banyak. Jadi kamu yang gendut," lanjutnya.

Kedua adiknya pun saling berdebat. Lucu rasanya melihat mereka. Emma, Tuan Smith dan Nyonya Smith pun tersenyum karena terhibur dengan tingkah mereka berdua.

"Sudah, sudah, tidak usah saling berdebat." Tuan Smith mencoba melerai. Kedua adik Emma, akhirnya berhenti adu argumen lalu berpindah ke sofa ruang tamu untuk menonton kartun.

"Emma kamu berangkat jam berapa kerjanya ?" tanya Tuan Smith.

"Malam ini aku tidak berangkat, besok jadwalku berangkat," jawab Emma sambil mengelap meja.

"Kalau begitu lebih baik sup daging ini kamu berikan ke tetangga apartemen kita," ucap Tuan Smith. "Saat pulang tadi, sepertinya pintu unit tiga terbuka dan ada orangnya. Kemungkinan penghuni baru. Kamu antarkan saja ke sana. Dari pada sup ini terbuang percuma, padahal rasanya enak," lanjutnya. Ia lalu berdiri dan menghampiri kedua adik Emma.

Memang di unit nomor tiga ada penghuni baru. Penghuninya pria paling menjengkelkan didunia—Dave. Ia ingin sekali menolak memberikan sup daging kesana. Tapi ia bingung harus mengatakan apa.

Kalau tiba-tiba Emma bilang tidak mau, pasti akan membuat Tuan dan Nyonya Smith bertanya apa alasannya. Jika ia jawab unit itu dihuni Dave, pria sombong, angkuh dan tidak tahu diri, pasti akan makin panjang ceritanya.

Setelah selesai mencuci semua mangkuk kotor dan gelas, Nyonya Smith memindahkan sisa sup daging ke mangkuk plastik. Sementara Emma masih mengelap meja yang sudah dilap beberapa kali, mungkin masih kurang bersih baginya.

"Ini Emma, kamu segera berikan saja," ucap Nyonya Smith sambil menutup mangkuk plastik. "Selagi masih hangat. Kalau sudah dingin kurang enak untuk dinikmati," lanjutnya.

Emma tak bisa menolak, terpaksa ia harus melakukannya. "baiklah, saya akan antarkan sekarang saja," ucapnya.

Emma pun berjalan keluar sambil membawa mangkuk plastik isi sup daging di kedua tangannya. Ia berjalan beberapa langkah dan sampai tepat didepan pintu unit nomor tiga.

Emma terdiam sejenak. Terbayang kembali momen pria itu sombong dan angkuh tadi siang. Sikapnya dan caranya berkata sangat menjengkelkan.

"Terpaksa aku melakukan ini. Aku harap ini yang terakhir kalinya aku berurusan dengan Dave diluar tempat kerja," gumam Emma lirih. Ia lalu mengetuk pintu. Tidak lama kemudian pintu terbuka.

"Ternyata kamu Emma," ucap Dave. "Aku pikir kurir makanan. Ada apa kamu menemuiku ?" lanjutnya.

"Aku hanya ingin memberikan ini," kata Emma sambil memberikan mangkuk plastik.

Dave menerimanya. Mangkuk itu terasa hangat. "Apa ini ?" ucapnya.

"Itu sup daging, masih hangat."

Dave membuka tutupnya sedikit. Tercium baunya yang menggoda selera. "Sebenarnya tidak usah repot-repot membuatkanku ini hanya untuk menyambutku," katanya.

"Apa maksudmu ?" tanya Emma heran.

"Aku tahu. Bilang aja kalau kamu senang aku tinggal disini. Makanya kamu buatkan aku sup daging yang masih hangat untuk menyambut kedatanganku."

"Siapa yang mau menyambutmu ?" Emma mulai kesal.

"Ya kamu lah, siapa lagi. Tidak perlu gengsi, ucapkan saja yang sejujurnya."

Lagi-lagi kesabaran Emma diuji. "Jangan terlalu percaya diri. Aku memberikan ini, murni makanan ini sisa makan malam. Aku tidak ada niatan sekali pun menyambutmu," ucapnya.

"Jangan bohong," jawab Dave. "Jangan-jangan kamu diam-diam sedang menyiapkan acara untuk menyambutku," lanjutnya.

"Diam Dave !, aku sudah muak dengan sikapmu," kata Emma. "Lebih baik, kamu masuk kedalam lagi, lalu makan," lanjutnya.

"Oke kalau begitu, tapi kalau kamu memang sedang menyiapkan pesta penyambutanku, aku sangat bahagia jika kamu tidak melupakan kue stroberi. Aku suka rasa stroberi."

Emma berusaha menahan amarahnya yang semakin membara. Ia menghela napas sejenak. "Sekarang lebih baik kamu berhenti bicaranya dan masuk lagi. Selagi aku masih sabar," ucapnya.

"Oke, kalau kamu memaksa," jawab Dave. Ia pun menutup pintu.

"Eiitts," sahut Emma. Ia seketika menahan pintu dengan tangan kanannya. Pintu pun tak sepenuhnya tertutup.

"Katamu aku segera masuk, sekarang apa lagi ?"

"Kamu lupa ya ?" ucap Emma. "Coba kamu ingat-ingat apa yang aku katakan tadi siang dihalte bus," lanjutnya.

"Hemm, sepertinya kamu tidak bilang apa-apa."

"Coba kamu ingat-ingat lagi."

"Emma, yang aku ingat kamu tidak bilang apa-apa. Lebih baik kamu ulangi saja perkataanmu. Semakin banyak mengingat, perutku semakin lapar."

"Serius, Dave ? Kamu lupa ?"

"Sudah, katakan lagi saja. Aku sudah semakin lapar."

Emma menghela napas lagi. "Aku ingin kamu mengingatnya seumur hidup. Kalau kami lupa, berarti otakmu yang bermasalah. Biasakan setiap menerima bantuan ucapkan terima kasih," ucapnya.

"Ooooh," kata Dava sambil mengangguk. "Sudah itu aja yang mau kamu katakan ?" lanjutnya.

"iya."

Tiba-tiba Dave langsung menutup pintu. Sontak Emma pun terdorong.

"Kamu banyak sekali bicara, aku sudah makin lapar," ucap Dave. Samar-samar terdengar dari luar.

Emma terlihat masih terkejut dengan sikap Dave. Ia tak menyangka pria itu akan menutup pintu tiba-tiba.

Ddddaaaveeee..!!! Batin Emma. Ia rasanya ingin berteriak saat itu juga, tapi seakan tak mampu karena takut mengganggu kenyamanan.

Dengan perasaan yang masih kesal pada pria itu, Emma kambali ke unit nomor empat. Sebelum masuk, ia tenangkan emosionalnya. Jangan sampai ketika sudah didalam membuat Tuan dan Nyonya Smith penasaran dengan apa yang telah dialaminya.

1
Endah Lestary
ceritanya simpel ga ribet mikir dan ga kepanjangan pula.semoga semakin sukses 🥰
Putry Chan
jadi dia bos nya harus nungguin tanggapan orang ini dulu
@Semua orang
ya udh aku tinggal jejak di sini yah, semoga si author menepati yg di katakannya. semangat thor 💜💜💜
@Semua orang
ini pilihannya yg mana motor atau skuter
@Semua orang
hallow em.
@Semua orang
ala ebew
@Semua orang
PD banget om
@Semua orang
kayaknya ni org macam kayak aki mono itu ih.
@Semua orang
ho'oh
@Semua orang
hah cepet banget pak james, aneh. oh iya saran dari aku itu setelah tanda kutip hurufnya harus kapital udh itu aja.
@Semua orang
sekeras apapun cari duit org juga butuh rileksasi om
@Semua orang
dor
@Semua orang
di gw mah gerah bukan dingin, blm hujan lagi.
@Semua orang
hallow pak, salken pak.
Rumah Pena
lanjuuut
Rumah Pena
ceritanya seru dan menarik. lanjuttttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!