NovelToon NovelToon
0000

0000

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Bad Boy / Kutukan
Popularitas:84
Nilai: 5
Nama Author: M Rizky Ferdiansyah

Berhati-hatilah dengan ponselmu saat frekuensi malam sedang kosong.
​Di sudut kamar kos yang sempit di kawasan Teladan, Medan, Faris ketagihan membuang waktu di media sosial untuk mengalihkan rasa cemas akibat PHK. Hingga suatu malam, sebuah mitos urban tentang nomor pemanggil kematian melintas di layarnya. Sebuah ketukan tidak sengaja memicu dering ke nomor 0000.
​Sambungan itu tidak pernah memanggil operator. Sambungan itu justru mengundang sesosok iblis tak berkulit yang mencari saluran suara untuk berpindah ke dunia nyata.
​Sejak malam itu, ponsel Faris menjadi gerbang teror. Panggilan terus berjalan tanpa bisa dimatikan, dan setiap detik yang berlalu menuntut imbalan darah dari orang-orang di sekitarnya. Terjebak dalam perburuan waktu antara kejaran entitas supranatural dan ancaman menjadi pembunuh tak sengaja, Faris harus membongkar rahasia di balik frekuensi 0000—sebelum giliran jiwanya yang ditarik masuk ke dalam layar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M Rizky Ferdiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan Dibalik Frekuensi

Jalan Sutomo menjelang siang terasa lengang namun menyesakkan. Deretan ruko tua berarsitektur era 80-an berdiri membisu dengan cat kusam yang terkelupas, sebagian besar tutup atau hanya dijadikan gudang penyimpanan barang.

​Faris melangkah tergesa-gesa menyusuri trotoar berlubang, menundukkan kepala rapat-rapat di balik kupluk jaket parasutnya. Setiap kali berpapasan dengan pejalan kaki atau pengendara sepeda motor, dadanya berdebar kencang. Ia takut ponsel di sakunya tiba-tiba melancarkan serangan seperti di pasar tadi.

​Ia berhenti di depan ruko nomor 42B. Bangunan tiga lantai itu tampak mangkrak dengan papan nama seng yang sudah berkarat bertuliskan PT Delta Media Broadcast. Kaca depannya tertutup debu tebal dan dilapisi kertas koran tua dari dalam.

​Faris mendorong pintu besi beroda yang sedikit terbuka di sudut bawah.

​Sreeek...

​Suara gesekan besi berkarat bergema di dalam ruangan lantai satu yang gelap dan berbau debu lembap serta kertas lapuk. Faris menyelinap masuk, lalu segera menutup kembali pintu besi tersebut.

​"Kak Maya?" panggil Faris, suaranya gemetar dan memantul di dinding semen telanjang.

​Tidak ada jawaban. Hanya kegelapan dan keheningan yang menyambutnya.

​Faris melangkah menuju tangga beton di sudut ruangan. Setiap pijakan terasa berat. Di saku celananya, ponsel pintar yang memanggil nomor 0000 memancarkan pendar cahaya merah yang makin terang menembus kain celananya. Hawa dingin dari perangkat itu merambat ke paha Faris, membuat kakinya kaku.

​Ia menaiki tangga hingga mencapai lantai tiga.

​Berbeda dengan dua lantai di bawahnya yang kosong, lantai tiga ini tampak seperti laboratorium rakitan. Kabel-kabel coaxial hitam berukuran tebal menjalar liar di lantai bagaikan akar pohon. Puluhan monitor tabung tua dan monitor datar modern berjajar di atas meja-meja kayu panjang, memancarkan spektrum sinyal radio, kurva frekuensi audio, serta tampilan peta digital Kota Medan.

​Di tengah ruangan itu, seorang wanita berusia sekitar tiga puluh tahun duduk membungkuk di depan tiga layar monitor yang menyala. Rambut hitamnya diikat asal-asalan ke belakang, mengenakan kemeja flanel bergaris yang digulung hingga siku. Matanya yang membingkai kacamata berbingkai hitam tebal menatap tajam ke arah Faris.

​"Kunci pintu tangga di belakangmu," kata Maya tanpa basa-basi. Suaranya serak persis seperti di telepon.

​Faris berbalik, menarik kait besi di pintu kayu menuju lantai tiga, lalu melangkah mendekati meja Maya dengan napas terengah-engah.

​"Kau... Kau Maya?" tanya Faris.

​Maya tidak langsung menjawab. Ia berdiri, meraih sebuah alat berukuran sebesar genggaman tangan yang memiliki antena pendek—sebuah RF Signal Detector—lalu mengarahkannya ke tubuh Faris.

​Beep! Beep! Beep! BZZZZT!

​Alat di tangan Maya menjerit histeris. Jarum penunjuk frekuensi melonjak ke batas maksimal, memancarkan sinyal merah bahaya.

​"Frekuensi EMF-nya sudah menembus 120 Microtesla," gumam Maya, mukanya mengeras. Ia menatap leher Faris yang tertutup kupluk. "Buka jaketmu."

​Faris menelan ludah, lalu menurunkan kerah jaketnya. Bekas memar biru kehitaman berbentuk cengkeraman lima jari memanjang di kulit lehernya tampak makin pekat, bahkan beberapa bagian kulitnya mulai mengelupas seperti terkena radang dingin (frostbite).

​Maya meringis pelan, namun matanya memancarkan ketegangan yang terukur. "Duduk di kursi kayu itu. Jangan sentuh kabel apa pun."

​Faris menurut. Ia meletakkan ponselnya yang masih memanggil nomor 0000 di atas meja terisolasi berlapis karet yang ditunjukkan Maya.

​Panggilan Berlangsung: 0000

Durasi: 07:12:04

​"Sebenarnya apa yang terjadi denganku, Kak? Kenapa nomor gila ini bisa ada? Kenapa Bang Jaka bisa jadi korban?!" ceceh Faris, menumpahkan seluruh keputusasaannya.

​Maya menarik kursi putarnya, duduk tepat di seberang Faris. Ia menghela napas panjang sebelum menunjuk ke arah salah satu monitor tabung yang menampilkan dokumen arsip tua berwarna kekuningan.

​"Nomor 0000 bukan nomor telepon biasa," ujar Maya pelan. "Itu adalah kependekan dari Zero Frequency Channel—saluran kosong yang tidak dialokasikan oleh Kementerian Komunikasi atau operator seluler mana pun di Indonesia."

​Faris mengerutkan dahi. "Kalau tidak ada fungsinya, kenapa ponselku bisa memanggilnya?"

​"Karena saluran itu memang sengaja diciptakan," potong Maya tegas. "Tahun 1998, tempat ini—ruko yang kau pijak sekarang—adalah stasiun pemancar stasiun radio dan TV kabel swasta lokal. Pemiliknya, seorang teknisi gelombang elektromagnetik bernama Hendra, mencoba eksperimen gila. Dia percaya bahwa dunia gaib atau entitas supranatural berada di spektrum frekuensi gelombang radio amat rendah (Extremely Low Frequency)."

​Faris menyimak dengan bulu kuduk bergidik.

​"Hendra merakit pemancar khusus di lantai ini untuk membuka gerbang komunikasi itu," lanjut Maya, menunjuk ke arah sudut ruangan tempat sebuah mesin pemancar kuno sebesar lemari es berdiri tertutup kain hitam. "Tapi dia gagal mengendalikannya. Di jam dua pagi pada malam peluncuran frekuensi 0000, seluruh kru di ruko ini ditemukan tewas. Telinga dan mata mereka pendarahan hebat. Dan tubuh Hendra... ditemukan tergantung di menara pemancar dengan leher patah."

​"Jadi... entitas di balik telepon itu adalah Hendra?" tanya Faris dengan suara gemetar.

​"Bukan," jawab Maya dengan tatapan dingin. "Hendra cuma pintunya. Apa yang masuk melalui saluran 0000 malam itu adalah sesuatu yang jauh lebih tua dan lebih lapar. Entitas tanpa wujud fisik yang memanfaatkan transmisi sinyal digital untuk mencari wadah. Setiap kali ada orang yang secara tidak sengaja menekan angka 0000 di jam dua pagi—di saat lalu lintas sinyal kota berada di titik terendah—saluran itu akan terhubung."

​Maya mengetuk layar monitor yang menampilkan kurva gelombang suara.

​"Dua tahun lalu di Padang Bulan, adek kandungku... mengalami hal yang sama persis denganmu. Dia tidak bertahan lewat dari delapan jam. Pukul sepuluh pagi, otaknya mati karena terhantam pendarahan hebat."

​Faris terpaku. Rasa bersalah dan teror membakar dadanya. "Jadi aku... aku tidak punya harapan?"

​"Kau punya, kalau kau mau melakukan apa yang kukatakan," balas Maya, menatap Faris tajam. "Ponselmu sekarang bertindak sebagai relay station atau stasiun pemancar ulang. Entitas itu memakai baterai dan antena ponselmu untuk mengumpulkan energi. Kita harus memotong aliran sinyalnya langsung dari pusat pemancar lama Hendra di atas atap ruko ini."

​Tiba-tiba, seluruh monitor di ruangan itu berkedip hebat.

​Bzzzzzt!

​Suara ketukan kuku—tek... tek... tek...—kembali terdengar. Kali ini bukan dari speaker ponsel Faris, melainkan memancar serentak dari belasan monitor tabung di dalam ruangan tersebut.

​Layar monitor yang menampilkan dokumen arsip mendadak mati, berganti menjadi warna merah darah. Dari balik speaker audio meja Maya, suara desah napas basah yang berat berembus nyaring, membuat suhu udara di lantai tiga merosot drastis hingga napas Faris mengembun.

​Di layar ponsel Faris yang tergeletak di atas meja karet, sebuah pesan baru terketik liar:

​0000: Kau membawaku ke rumah lamaku, Faris. Terima kasih.

​Maya mendadak berdiri dari kursinya, wajahnya pucat pasi. "Tidak mungkin... dia meretas sistem pemancarku!"

​Lampu gantung di plafon ruko meledak satu per satu, melempar ruangan lantai tiga itu ke dalam kegelapan yang mengerikan.

1
M Rizky Ferdiansyah
seru bangettt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!