NovelToon NovelToon
Cinta Sang Bos Pada Guru Les Anaknya

Cinta Sang Bos Pada Guru Les Anaknya

Status: tamat
Genre:Duda / CEO / Tamat
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Puja Mardika

Aelsana Jamira, mahasiswi cerdas yang baru lulus kuliah, menerima pekerjaan di Hanggara Group tanpa menyadari bahwa atasannya, Raksa Hanggara, adalah ayah dari Langit, anak yang selama ini ia rawat sebagai pengasuh sekaligus guru lesnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puja Mardika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5

Pak Wahyu akhirnya menyanggupi jadwal pertemuan dengan ayah Langit. Begitu itu beres, Sana menghela napas lega. Dia senang bisa mewujudkan permintaan Langit sebelum pergi.

Mungkin ini cara hatinya menebus rasa bersalah karena akan meninggalkan anak itu. Hanya dengan membayangkan akan segera bertemu ayah Langit dan bicara soal anak itu, dadanya sudah dipenuhi semangat yang sulit dijelaskan.

Jujur saja, dia ingin sekali melihat seperti apa ayah yang sampai tega menelantarkan anaknya sendiri. Dia penasaran, laki-laki macam apa yang bisa begitu dingin pada seorang anak hanya karena pernikahannya sendiri tidak bahagia.

Pagi ini dia memakai satu-satunya gaun formal yang dia punya. Sambil memikirkan kejadian kemarin, matanya tak sengaja tertuju ke jam digital di meja samping tempat tidur. Dia langsung memekik.

"Astaga! Sudah hampir jam sepuluh! Kenapa aku ceroboh banget, sih? Wawancaranya jam setengah sebelas. Gawat kalau telat."

Sana menyambar tas kecil dari atas kasur dan berlari keluar rumah menuju halte.

Sebuah bus yang penuh penumpang hampir berangkat. Tanpa bicara apa-apa, dia menyelinap naik tepat sebelum pintunya menutup.

Untung sekali. Dia tinggal di daerah pinggiran yang berbukit dan jauh dari mana-mana, tempat angkutan umum sangat jarang lewat. Kalau ketinggalan bus ini, entah berapa lama lagi dia harus menunggu.

Sana bersandar di dekat pintu sambil mengeluarkan buku catatan dari tas. Dia mau memeriksa lokasi perusahaan tempat wawancaranya hari ini.

Hah?

Hah? Hah!

Hah? Hah! Hah?

Tidak ada. Tidak ada nama perusahaan, tidak ada alamat. Dia ingat betul pernah mencatatnya. Kenapa sekarang tidak ketemu?

Dia membolak-balik halaman tanpa henti, tapi buku itu kosong. Satu-satunya yang ada hanya deretan angka mirip nomor telepon, ditulis sembarangan di samping coretan gambar di halaman pertama.

Jangan-jangan kemarin dia menerima telepon, langsung setuju datang wawancara, lalu lupa menanyakan alamat dan hanya mencatat nomornya?

Sana menepuk dahinya keras-keras. Ceroboh sekali dia. Sekarang dia hanya bisa berdoa supaya nomor itu memang nomor kantor tempat wawancara hari ini.

Dia mengambil ponsel dan menekan nomor itu. Begitu tersambung, terdengar rekaman sapaan yang lazim di kebanyakan perusahaan.

"Selamat datang di Hanggara Group. Silakan tekan nomor ekstensi tujuan Anda, atau tekan 9 untuk operator..."

Bingo!

Mendengar nama Hanggara Group, Sana langsung lega. Dia ingat kemarin sore ada telepon yang mengabarkan jadwal wawancara, dan memang kalau tidak salah itu dari perusahaan ini juga.

Dia buru-buru menekan angka 438, nomor ekstensi yang dia coret di halaman pertama, lalu mengibaskan rambutnya dan menunggu.

Detik demi detik berlalu. Mungkin baru sepuluh detik, tapi rasanya lama sekali. Sana sudah hampir menyerah.

"Selamat pagi, dengan Satria Kusuma dari Hanggara Group. Ada yang bisa saya bantu?" Untunglah di saat genting itu, suara seorang pria terdengar dari seberang.

Nadanya datar dan nyaris tanpa emosi. Tapi di telinga Sana, suara itu terdengar seperti penyelamat.

Ya, ya, kemarin yang menelepon memang seorang Pak Satria untuk mengundangnya wawancara. Tebakannya benar. Dia nyaris bersorak.

"Selamat pagi, Pak Satria. Saya Aelsana Jamira, yang dijadwalkan wawancara jam setengah sebelas hari ini..." Sana menjelaskan maksud teleponnya sesingkat mungkin, berusaha terdengar tenang.

"Oh, begitu. Kalau begitu saya sampaikan lagi alamat kantor kami. Semoga Mbak tidak terlambat. Kami berada di Jalan Jenderal Sudirman nomor 5, kawasan SCBD..."

Walaupun nada bicara Satria tetap datar seperti mesin penjawab, Sana tidak sempat memikirkannya. Dia hanya tahu pria itu baru saja menolongnya.

"Terima kasih, terima kasih banyak, Pak. Saya mengerti." Setelah berkali-kali berterima kasih, Sana menutup telepon.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!