NovelToon NovelToon
Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Asisten Rahasia Penguasa Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen / Ketos
Popularitas:856
Nilai: 5
Nama Author: nalana lalasya

• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.

• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: Lembur Tengah Malam

Tumpukan map tebal berwarna merah menyala di sudut meja belajar Eca rasanya kayak lagi tertawa mengejeknya. Jam dinding di kamarnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Suasana di dalam rumah sudah sepi senyap, hanya terdengar suara detak jarum jam yang konstan. Orang tua Eca pasti sudah terlelap di kamar mereka masing-masing sejak dua jam yang lalu. Tapi di sini, di dalam kamar berukuran tiga kali tiga meter ini, Eca masih harus berkutat dengan tumpukan kertas sialan milik Angkasa Argantara Mahendra.

"Sialan banget sih itu cowok! Ini mah namanya bukan ngeringkas materi, tapi nyalin satu buku paket Geografi!" umpat Eca pelan dengan suara tertahan sambil memijat pangkal hidungnya yang terasa luar biasa pegal karena memakai kacamata terlalu lama.

Di atas meja, buku tulis tebal bersampul hitam milik Angkasa baru terisi sekitar setengah halaman. Eca harus menulis dengan tangan secara manual, meniru gaya tulisan cowok yang rapi namun tegas agar tidak dicurigai oleh guru mata pelajaran besok pagi. Tangan kanan Eca rasanya sudah mau kram, dan jari telunjuknya mulai kapalan karena mencengkeram pulpen terlalu kuat.

Setiap kali dia berniat untuk melempar pulpennya ke lantai, mematikan lampu, dan langsung pergi tidur, bayangan kartu pelajar lamanya yang dipegang erat oleh Angkasa langsung berputar otomatis di otaknya. Kalau sampai foto asli gue dan status pindahan gue dari SMA Wijaya kesebar di mading sekolah besok pagi, habis sudah ketenangan hidup gue, batin Eca merinding ketakutan. Kejadian perundungan traumatis di sekolah lamanya benar-benar membekas, dan dia tidak akan membiarkan hal buruk itu terulang kembali di SMA Taruna Bangsa. Terpaksa, dengan sisa-sisa tenaga, Eca mengambil pulpennya lagi dan melanjutkan menulis baris demi baris ringkasan materi yang membosankan itu.

Sambil terus menulis, ingatan Eca kembali melayang pada kejadian di kelas XI MIPA 3 tadi siang, tepat setelah dia mengantarkan kopi Americano dingin ke ruang OSIS. Begitu dia melangkah masuk ke dalam kelas dengan napas yang masih tersengal-sengal sambil mendekap tumpukan map merah tebal itu, teman sebangkunya, Nadya, langsung menatapnya dengan mata membelalak syok.

"Ca! Lo ngapain bawa map-map OSIS sebanyak itu? Jangan bilang lo dihukum sama Angkasa buat ngerjain semua tugas kelompok atau tugas pribadi dia?" tanya Nadya heboh dengan suara berbisik yang sangat histeris saat itu. Beruntung, suasana kelas sedang jam kosong karena para guru sedang mengadakan rapat darurat di ruang kepala sekolah.

Eca cuma bisa tersenyum kecut sambil mengangguk pasrah, berpura-pura menjadi cewek cupu yang tidak berdaya. "Iya, Nad. Katanya ini sebagai bentuk tanggung jawab dan ganti rugi karena aku udah bikin sepatu mahalnya kotor tadi pagi."

Nadya langsung menepuk jidatnya sendiri dengan dramatis. "Aduh, Eca... lo beneran apes tingkat dewa di hari pertama sekolah. Si Angkasa itu emang terkenal suka semena-mena banget sama murid yang kelihatan cupu atau siapa pun yang berani cari masalah sama dia. Biasanya, korban-korban yang pernah berurusan sama dia nggak bakal bertahan lama di sekolah ini. Ada yang langsung minta pindah sekolah karena nggak kuat dikucilkan atau di-bully satu sekolah gara-gara perintah dia. Lo yang kuat ya, mending turutin aja dulu maunya daripada posisi lo di sini terancam bahaya."

Eca menghela napas panjang mengingat ucapan Nadya. Murid-murid di SMA Taruna Bangsa benar-benar sudah menganggap Angkasa sebagai raja diraja yang mutlak dan tidak bisa disentuh oleh aturan hukum sekolah. Tapi bagi Eca, Angkasa tak lebih dari cowok egois, arogan, dan menyebalkan yang memanfaatkan kekuasaan kekayaan orang tuanya untuk menindas murid lain yang dianggap lemah. Lihat aja nanti, Angkasa. Begitu gue berhasil nyari celah buat ngambil kartu pelajar itu balik dari dompet lo, gue bakal pastiin lo nggak akan bisa nyuruh-nyuruh gue lagi seumur hidup lo! tekad Eca dalam hati, matanya berkilat penuh dendam di bawah temaram lampu belajar.

PIP!

Mendadak, ponsel pintar Eca yang tergeletak di sebelah buku tulis bergetar pelan. Layarnya menyala, menampilkan sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal di aplikasi WhatsApp. Eca mengernyitkan dahi dengan heran. Jarang sekali ada orang yang mengiriminya pesan di tengah malam buta begini, apalagi dia baru saja pindah sekolah dan belum sempat menyebarkan nomor ponsel barunya ke banyak orang selain kepada Nadya untuk urusan tugas kelompok.

Eca membuka kunci ponselnya dengan ragu, lalu membaca pesan singkat tersebut.

Nomor Tidak Dikenal:

Gimana ringkasan materi Geografi gue? Udah selesai lo kerjain belum?

Jantung Eca mencelos seketika begitu membaca untaian kalimat itu. Bulu kuduk di lehernya mendadak merinding. Hanya ada satu orang di dunia ini yang tahu kalau dia sedang terjaga tengah malam begini untuk mengerjakan ringkasan materi.

Eca:

Ini siapa ya?

Nomor Tidak Dikenal:

Menurut lo? Siapa lagi di sekolah itu yang punya kuasa penuh buat dapetin nomor HP baru lo dalam waktu kurang dari lima menit lewat akses data administrasi sekolah?

Fix. Ini mutlak Angkasa. Eca langsung merutuk dalam hati dengan sejuta umpatan kasar. Benar-benar tidak ada celah privasi yang aman dan tertutup jika sudah berurusan dengan anak pemilik yayasan sekolah. Data pribadinya yang tersimpan di ruang tata usaha dengan sangat mudah diakses oleh cowok itu hanya dengan sekali jentikan jari.

Eca:

Belum selesai, Kak. Ini materinya banyak banget. Tangan aku udah mau kram dan copot rasanya.

Angkasa:

Gue nggak mau tahu dan nggak peduli sama alesan lo. Pokoknya besok jam tujuh pagi sebelum bel masuk berbunyi, buku itu harus udah ada di atas meja ruang OSIS dalam keadaan rapi tanpa ada coretan tip-ex sedikit pun. Kalau sampai belum selesai atau tulisan lo berantakan kayak ceker ayam... lo tahu sendiri kan apa konsekuensinya bagi masa depan lo di sekolah ini?

Eca menatap layar ponselnya dengan muka yang memerah padam karena menahan amarah yang sudah meluap-luap. Rasanya dia ingin sekali mengetikkan makian dan kata-kata kasar untuk membalas pesan singkat cowok arogan itu, tapi akal sehatnya langsung memperingatkan bahwa posisinya saat ini sedang kalah telak dan terpojok.

Eca:

Iya, Kak. Ini lagi aku usahain dikerjain sampai selesai.

Angkasa:

Bagus. Selamat lembur tengah malam, Asisten Pribadi.

Setelah pesan terakhir yang super menyebalkan itu masuk, tidak ada balasan lagi dari seberang sana. Status WhatsApp Angkasa langsung berubah menjadi offline. Eca melempar ponselnya ke atas kasur dengan perasaan kesal yang luar biasa. "Dasar cowok psikopat gila! Jam segini bukannya tidur malah neror dan ngancem orang!" gerutu Eca frustrasi sambil mengacak rambut kuncir duanya dengan gemas.

Eca kembali menatap sisa halaman buku paket Geografi yang belum diringkas. Masih ada sekitar dua bab penuh lagi yang harus dia salin dengan tulisan tangan yang rapi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, rasa kantuk yang mulai menyerang matanya dengan hebat, serta tubuh yang lelah, Eca kembali memegang pulpennya. Dia memaksakan matanya tetap terbuka lebar di bawah temaram lampu belajar kamarnya yang redup.

Namun, tepat saat Eca hendak menuliskan kalimat pertama di bab baru, sebuah pikiran aneh tiba-tiba melintas di otaknya. Kenapa Angkasa sampai repot-repot menerornya lewat WhatsApp tengah malam hanya untuk memastikan sebuah tugas ringkasan materi? Apakah ini murni karena hukuman sepatu kotor, atau... Angkasa sengaja ingin memastikan bahwa Eca tidak sedang merencanakan sesuatu untuk kabur dari sekolah?

Lebih jauh lagi, Eca teringat tatapan misterius Angkasa di ruang OSIS siang tadi yang seolah menantangnya. Ada sesuatu yang janggal yang disembunyikan oleh cowok itu, dan Eca bersumpah akan mencari tahu rahasia di balik sikap Angkasa yang terobsesi untuk mengendalikannya. Malam pertamanya sebagai murid pindahan yang harusnya dilewati dengan tidur nyenyak, kini resmi berubah total menjadi babak baru permainan rahasia yang penuh dengan intrik berbahaya!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!