Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (10)
Penulis: Linda Lubi
Mbak Kunti berjalan dengan menyamar sebagai wanita. Bajunya seksi. Membuat mata para lelaki nakal yang masih gentayangan di luar, terbelalak kagum.
"Bang, nasi gorengnya 2 bungkus." Mbak Kunti mengambil bangku plastik untuk duduk.
"Pakai apa, Dek?"
"Pakai apa saja, Bang. Bikin yang spesial. Jangan pedas ya. Takut kuping dan bibir saya berasap, Bang." Dipikir Abang penjual nasi goreng gerobak, Mbak Kunti bercanda. Padahal ciyus itu.
"Ah adek ini suka berkombur jugak ya." Mbak Kunti pura-pura budek aja.
Di belakang Mbak Kunti ada seorang pria yang menelan saliva melihat kemolekan tubuh Mbak Kunti. Diam-diam ia punya rencana busuk.
"Ini Dek. 60 ribu. Komplit isinya." Abang nasi goreng menyerahkan 2 bungkus nasi goreng.
Ia menutup termos nasi goreng kembali. Jika sudah habis, ia berencana pulang. Masih ada sekitar 5 bungkus lagi yang belum terjual.
Sengaja ia menggoreng sebanyak 1 termos nasi agar nasi gorengnya tetap hangat dan pembeli tidak lama menunggu. Kalau habis, ia buat lagi. Selalu begitu.
"Kembaliannya untuk Abang saja." Mbak Kunti memberikan uang 100 ribu rupiah.
"Alhamdulillah...terima kasih ya, Dek. Semoga rezekinya selalu lancar. Aamiin!" Abang nasi goreng kesenangan.
Mbak Kunti berjalan dengan gontai. Ia sengaja jalan-jalan dulu. Ia tahu, ada seorang laki-laki yang belum lelah dengan kejelekannya, seperti mengintilnya. Mbak Kunti pinisirin, mau apa laki-laki itu.
"Hai cantik. Pulang ke mana, biar abang antar." Laki-laki itu ingin men-sejajarkan posisinya agar berdampingan dengan Mbak Kunti setelah berada di area perkampungan.
"Pulang ke sana, Bang." Kepala Mbak Kunti berputar ke belakang dengan wajah berdarah-darah dan rambut kusut masai.
"Ha...ha...hantuuuu....." Laki-laki itu lari lintang pukang.
Namun Mbak Kunti makin menakut-nakutinya. Kebetulan sudah lama ia tidak menakut-nakuti manusia. Sejak pindahan ke kampung ini. Yang model begini wajib dibikin jera.
Mbak Kunti menarik kerah bajunya. Lalu laki-laki itu terangkat dan berteriak kenceng.
"Ampun...ampun..." wajahnya memelas tapi tidak membuat Mbak Kunti empati.
Banyak kan model manusia begini. Entah apa yang mau dipandang. Sudahlah jelek tak termaafkan. Miskin pula. Motor aja nggak punya. Hidup, lagi. Mbak Kunti bukannya mau body shaming. Tapi gara-gara kelakuannya yang meresahkan, jadi bikin Mbak Kunti illfeel. Jika dibandingkan dengan Nurdin yang lelah dengan ketampanannya, laki-laki ini nggak ada apa-apanya. Nggak ada akhlak pula.
Mbak Kunti menjulurkan lidahnya yang panjang sembari menyerikai, membuat laki-laki itu terkencing-kencing. Bau banget. Mbak Kunti mual-mual.
"Kok sengit begini baunya?" Mbak Kunti melepaskan kerah bajunya.
Sebelum laki-laki itu pingsan dengan sukses, Mbak Kunti kabur duluan. Ia menghilangkan diri. Sesampai di rumah, Mbak Kunti masih mual-mual. Laparnya jadi hilang. Padahal kecoak aja ditelan Mbak Kunti. Masa sama air kencing laki-laki itu, Mbak Kunti bisa semaput. Huwekkk.....
Mbak Kunti sudah berubah ke mode awal. Pakai daster kebangsaan kuntilanak. Ia ingin memejamkan matanya sejenak. Bau itu masih terasa sampai sekarang. Beginilah resiko berteman dengan Nurdin. Segala kebiasaan Nurdin ia ikutin. Mandi, sikat gigi, makan makanan manusia (bukan bangkai), tidur di kasur, bukan di pohon atau kandang sapi terbengkalai.
Nurdin yang selalu wangi, membuat Mbak Kunti terasa nyaman. Banyak kan manusia yang keteknya bau banget. Nurdin itu beda. Dihhh...kenapa Nurdin lagi yang jadi perbandingannya?
Mbak Kunti jambak-jambak rambutnya.