Ardina harus menerima kenyataan pahit saat mengetahui bahwa bayi dalam kandungannya akan terlahir cacat.
Derita seolah tak berhenti sampai disitu saja, setelah kakak kandung suaminya meninggal, Farhan diberi amanah untuk menikahi mantan kakak iparnya yang sedang dalam kondisi baru saja melahirkan bayi.
Ardina merasa semakin asing di rumah mertuanya, sebab Sarah, istri baru Farhan bersikap egois dengan menguasai Farhan untuk dirinya sendiri serta mengabaikan Ardina.
Bagaimanakah nasib Ardina selanjutnya?
Apakah ia akan tetap bertahan, atau memilih berpisah dengan berbagai resiko?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah
#2
“Kamarmu, Mas? Masih ingat dengan kamar ini?! Sementara kamu begitu asyik di kamar yang lain? Aku juga istrimu, Mas! Aku masih punya hak atas dirimu!” jerit Dina meluapkan emosinya.
“Sementara kamu bisa berbagi kehangatan dengan dia, tidakkah kamu pikirkan aku yang juga merindukan pelukanmu, merindukan bisikan suaramu, merindukan semua hal manis yang dulu hanya kau tujukan padaku!”
Farhan gelagapan, ia tahu ia bersalah, karena seminggu ini tak mendatangi Dina untuk menunaikan kewajibannya yang merupakan hak istri pertamanya. “Maafkan Mas, tapi Malika rewel setiap malam, Mas jadi tak tega meninggalkannya,” kata Farhan mengemukakan penyebab yang sesungguhnya.
“Mas tak tega meninggalkannya? Tapi tega meninggalkan aku?!”
Kedua mata Dina melotot tajam, wajahnya merah padam, serta basah karena air mata.
“Dia masih bayi, Sayang, sedangkan kamu—”
“Kenapa? Aku sudah dewasa? Tua? Jadi tak butuh pelukan suami? Begitu?! Mana janjimu yang katanya ingin bersikap adil!?”
Tak peduli dengan Farhan yang berusaha keras membenarkan sikapnya, tapi Dina pun tak ingin menjadi orang yang kesepian seorang diri, kesakitan seperti orang yang menunggu mati.
“Bukan begitu, aku pun tak tega meninggalkan Sarah menimang Malika seorang diri sepanjang malam.” Farhan kembali beralasan, entah benar atau salah, hanya Tuhan saja yang tahu.
“Baiklah, Mas. Jadi tak ada gunanya aku disini, aku hanya kau anggap asing, begitu pula dengan anakku yang tidak kalian kehendaki. Aku mau pulang ke rumah orang tuaku, dan melahirkan di sana, dekat orang tua dan juga keluargaku.”
Farhan seketika diliputi kepanikan, jika Dina pulang ke rumah orang tuanya, maka masalah rumah tangga mereka akan segera diketahui oleh keluarga besar istrinya. Jika Dina pulang, maka ia harus bersiap menanggung resiko kerugian.
Jika sampai perceraian terjadi, maka Farhan harus membagi 50% saham permana Group untuk Dina, sesuai dengan perjanjian awal dua keluarga sebelum mereka menikah. Namun, tanpa banyak orang tahu, jauh sebelum perjanjian itu dibuat, Farhan sudah jatuh cinta pada Dina sejak SMA, karena Farhan adalah kakak tingkat Dina pada saat itu.
“Suamimu ada di sini, bila aku tak ridho, maka satu langkah pun kamu tak bisa meninggalkan tempat ini!” Alih-alih mencegah, Farhan Justru menggunakan kekuasaannya sebagai seorang suami.
“Mas! Kenapa kamu begitu egois?!”
“Aku tidak egois, aku hanya mengkhawatirkan keselamatanmu dan— dan— anak kita.”
Pandai sekali Farhan bersilat lidah, bila sudah terdesak, anak yang tidak ia kehendaki kehadirannya, bisa ia jadikan tameng demi menyelamatkan kekuasan yang ada dalam genggamannya.
“Mas, mengkhawatirkan anak kita?” Tepat seperti dugaan Farhan, Dina langsung luluh bila mendengar anaknya mendapat perhatian dari ayah kandungnya.
“Tentu saja, Sayang. Apalagi kandunganmu sudah berusia 8 bulan, ini masa rawan untuk melakukan perjalanan jauh.”
•••
Rupanya, hanya sesaat itu saja perhatian Farhan, karena beberapa hari kemudian, Dina kembali mendapatkan perlakuan tidak mengenakkan.
Wanita itu terpaksa pergi ke rumah sakit dengan diantarkan sopir pribadi saja, Farhan tidak bisa mengantar sebab alasan kesibukannya di tempat kerja.
“Pergilah bersama sopir,” kata Farhan memberi solusi.
“Tapi, Mas juga perlu mendengar penjelasan dokter soal anak kita, lagian kan—”
“Sudah lah, Din, jangan jadi perempuan manja, dikit-dikit minta antar, dikit-dikit ngambek mengurung diri di kamar, dikit-dikit cemburu pada Malika. Kamu sadar nggak, kalau Malika itu masih bayi yang butuh perhatian ekstra dari orang dewasa di sekitarnya, terutama Farhan ayahnya.”
Belum sempat Dina menjelaskan, Bu Sintia sudah bertausiyah, seperti ustadzah yang sok bijaksana. Padahal hanya ingin melindungi keegoisannya, serta membela menantu yang sudah memberikan cucu yang sehat tidak ada cacat fisik seperti bayi yang akan dilahirkan Dina beberapa minggu kedepan.
Intinya apapun yang dilakukan Dina, adalah hal yang salah, dan apapun yang dilakukan Sarah adalah hal yang luar biasa.
Akhirnya Dina hanya bisa diam, dan berlalu kembali ke kamar untuk bersiap mendatangi dokter. Ia tak lagi membantah, karena tak bisa, dan siapa yang paling bahagia? Tentu saja Sarah. Wanita itu memang terlihat diam serta menurut, tapi dalamnya hati manusia siapa yang tahu.
“Tuh, begitu, tuh, kalau dinasehati, langsung saja pergi. Dasar menantu tak punya sopan santun,” tuding Bu Sintia.
“Sudah, Bu. Jangan marah, nanti tekanan darah Ibu jadi naik. Ini minum dulu obat herbalnya, tadi pagi pas masak sarapan, aku menyeduhnya untuk Ibu.” Sarah memberikan nampan berisi secangkir air seduhan obat herbal untuk Bu Sintia.
“Terima kasih, kamu memang menantu paling berbudi,” sanjung Bu Sintia pada Sarah, kemudian melirik sinis ke arah Dina yang sedang berjalan tertatih menuju kamar. “Tidak seperti dia, huh!”
Dalam hati Sarah, wanita itu melonjak bahagia, karena Bu Sintia semakin benci pada Ardina, padahal dahulu Ardina disanjung dan dipuji saat awal-awal menjadi menantu Bu Sintia. Karena kedatangan Ardina bersamaan dengan datangnya sokongan dana untuk Permana Group yang sedang berada di tepi jurang.
•••
Malam harinya saat pulang kerja, Farhan mendengarkan aduan dari Bu Sintia dan Pak Jatmiko yang mengatakan bahwa Dina belum kembali ke rumah. Sejak pamit ke dokter siang tadi, hingga malam menjelang, Dina belum juga ada kabar. Sementara ponselnya mati.
“Paling-paling istrimu sedang foya-foya,” tuduh Pak Jatmiko.
Farhan menyipitkan mata, dia bertanya-tanya, kiriman apakah ini?
Dan ketika pulang, kejutan sudah menanti Dina di rumah.
Tatapan tajam penuh intimidasi kembali diterima Dina, Ibu mertuanya mencibir sinis, dan Farhan alih-alih memberikan pembelaan. Pria itu justru aktor utama yang merasa paling tersakiti. “Kenapa baru pulang? Ibu bilang kamu pergi sejak pagi.”
“Tadi aku nyaris pingsan, Mas. Dan dokter memberikan infus padaku sebab sudah beberapa hari asupan makananku belum mencukupi kebutuhan nutrisi harian.”
“Lalu, ini foto apa?!” Farhan terlihat murka melihat foto yang ia terima beberapa jam lalu di ponselnya.
Foto itu memperlihatkan Dina yang berjalan gontai dipapah sopir mereka.