Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengambil alih
"ARGH! Wanita itu sudah nggak bisa dibiarkan lagi!"
Vara memukul kemudi dengan kesal. Emosinya benar-benar memuncak setelah mendengar penjelasan Azka tentang kondisi restoran dan apa yang dilakukan Diana.
Tanpa membuang waktu, Vara segera menginjak pedal gas. Ia ingin secepat mungkin tiba di restoran.
Beberapa menit kemudian, mobil Vara akhirnya berhenti mendadak di depan Vara Anderson Rest****oran.
Vara langsung turun dari mobil dan melangkah masuk.
Begitu memasuki restoran, langkahnya terhenti.
Restoran yang biasanya dipenuhi pelanggan kini terlihat begitu sepi. Tak ada satu pun pelanggan yang terlihat di dalam restoran. Tangannya mengepal pelan, menahan kekesalan yang mulai menyelimuti hatinya.
"Semuanya berkumpul!"
Suara Vara terdengar tegas dan membuat seluruh karyawan yang berada di dalam restoran langsung menoleh.
Mereka tampak terkejut melihat kedatangan Vara.
Beberapa saat kemudian, para karyawan mulai berkumpul di hadapannya.
Azka dan Kania juga segera bergabung.
Vara menatap satu per satu wajah karyawannya, lalu tatapannya berhenti pada Azka dan Kania.
"Kania."
"Iya, Bu?"
"Saya sudah katakan, ganti bahan makanan dengan bahan premium seperti biasa. Kalau soal uang, kamu bisa langsung bilang kepada saya." Vara berbicara tegas. "Ikuti saja kemauan wanita itu tanpa harus mengurangi kualitas dan cita rasa makanan."
Kania menundukkan kepalanya. "Maaf, Bu. Saya sudah menjalankan perintah Ibu. Tapi Nyonya Diana selalu memeriksa stok bahan makanan. Setiap kali saya membeli bahan premium, beliau langsung menggantinya dengan bahan lain."
Vara menghela napas panjang. Mertuanya benar-benar sudah keterlaluan. Ia kemudian mengalihkan pandangan kepada karyawan lainnya.
"Selama mertua saya ambil alih restoran ini, kalian merasa tertekan bekerja di sini?"
Tidak ada yang langsung menjawab.
Vara menatap mereka satu per satu.
"Jawab saya dengan jujur. Saya tidak akan memarahi kalian."
Salah seorang karyawan akhirnya mengangkat tangan.
"Katakan," ujar Vara.
Karyawan itu menarik napas sebelum berbicara.
"Jujur, Bu. Sejak Nyonya Diana mengambil alih, saya merasa tertekan. Apa pun yang kami lakukan selalu dianggap salah."
"Iya, Bu," sahut karyawan lain. "Jauh berbeda dengan waktu Ibu yang mengurus restoran."
"Banyak pelanggan juga mulai mengeluh, Bu," timpal yang lain.
Vara mengusap wajahnya.
"Bahkan bahan makanan yang dibeli Nyonya Diana kualitasnya nggak layak untuk digunakan di restoran seperti ini," ujar seorang karyawan.
"Kami sudah beberapa kali menyampaikan hal itu, tapi beliau tetap memakainya."
Azka akhirnya maju melangkah. "Bu, Vara. Kami mohon Ibu kembali mengurus restoran ini."
Vara langsung menatapnya.
"Jujur, kami rindu bekerja di bawah kepemimpinan Ibu."
"Benar, Bu Vara," sahut karyawan lainnya.
Sonya, selaku manejer keuangan, ikut angkat bicara.
"Saya juga sudah bingung, Bu. Sejak Nyonya Diana mengambil alih, pemasukan terus menurun. Saya bahkan nggak tahu harus menggunakan uang yang mana lagi untuk menutup kerugian."
Vara terdiam.
Tatapannya kembali menyapu seluruh karyawan di hadapannya.
Mereka masih membutuhkan pekerjaan ini. Dan ia tidak mungkin membiarkan mereka kehilangan mata pencaharian hanya karena kesalahan Diana.
Vara akhirnya mengangguk. "Baik."
Semua orang menunggu kelanjutan ucapannya.
"Saya akan kembali mengurus restoran ini."
Wajah para karyawan seketika berubah cerah.
"Benarkah, Bu?"
"Syukurlah!"
"Terima kasih, Bu Vara!"
Vara tersenyum kecil melihat reaksi mereka.
"Saya juga minta maaf atas sikap mertua saya selama ini. Tapi kalian tenang saja. Sebagai gantinya, saya akan memberikan bonus untuk kalian. Anggap saja sebagai kompensasi karena kalian sudah bekerja dalam kondisi yang membuat kalian tertekan."
Beberapa karyawan langsung terkekeh. Suasana yang sebelumnya tegang perlahan mencair.
Vara kemudian kembali memasang wajah serius. "Tapi sebelum itu, kita harus memperbaiki semuanya."
Ia menatap restoran yang sepi.
"Sekarang, tutup restoran."
Para karyawan saling berpandangan.
"Kita rapat!"
••••
Setelah rapat dengan karyawan selesai, Vara langsung pulang ke rumah. Ia ingin menemui mertuanya dan membicarakan masalah restoran.
"Bibi Rati, Mama di mana?"
Bibi Rati yang sedang menyapu langsung terkejut melihat kedatangan Vara.
"Eh, Non Vara." Bibi Rati mengelus dadanya. "Bibi pikir siapa. Nyonya kayaknya ada di kolam renang, Non."
Vara mengangguk singkat. "Terima kasih, Bi." Ia segera bergegas menuju kolam renang.
Dari kejauhan, Vara melihat Diana sedang duduk santai di kursi di samping kolam sambil membaca majalah.
Melihat itu, Vara langsung merasa kesal. Restorannya sedang kacau, tetapi Diana justru bisa bersantai seolah tidak terjadi apa-apa.
Vara menghela napas pelan.
"Mama."
Suara Vara terdengar lembut, meski ia harus bersusah payah menahan emosi.
Diana menurunkan majalah.
"Iya, Nak?"
Vara menghampiri lalu duduk di samping Diana. Tanpa basa-basi, ia bertanya. "Kenapa kondisi restoranku bisa sampai seperti ini, Ma?"
Diana mengernyitkan dahi. "Memangnya kenapa dengan restoran?"
"Restoranku sepi, Ma. Pemasukan juga anjlok. Banyak pelanggan yang mengeluhkan kualitas makanan."
Diana malah mengibaskan tangannya.
"Ah, mereka saja yang nggak tahu kualitas makanan. Mama memang berencana mengubah beberapa hal di restoranmu."
Vara mengepalkan tangannya, berusaha menahan emosi.
"Bukan soal kualitas, Ma. Tapi bahan makanan Mama ganti, kan?"
Diana langsung menatap tajam Vara. "Kamu menuduh Mama?"
"Aku bukan menuduh Mama. Tapi, itu kenyataannya. Mama mengganti bahan makanan dengan bahan yang kualitasnya lebih rendah."
Diana mendengus. "Chef-nya saja yang nggak becus masak. Kalau memang masaknya nggak enak, ganti chef saja. Mama sudah punya rekomendasi chef lain."
Vara menggeleng pelan, tak habis pikir dengan ucapan mertuanya. Ia sudah memberikan kesempatan, tetapi Diana justru terus mencari alasan. Kali ini, Vara tidak mau memberinya kesempatan lagi.
Vara menghela napas berat.
"Aku akan mengambil alih restoranku."
Deg!
Diana langsung menatap tajam Vara.
"Apa maksud kamu, Vara?"
"Aku ingin mengurus sendiri restoranku, Ma."
"Vara, masalah sepele ini kenapa kamu perbesar? Mama tahu Mama salah, tapi bukan begini caranya."
"Mama tahu Mama salah, tapi Mama malah santai di sini dan membiarkan restoranku hancur, hah?!"
Untuk pertama kalinya, suara Vara meninggi di hadapan Diana.
Diana langsung terkejut. "Vara... kamu membentak Mama?"
Vara terdiam. Ia menarik napas panjang, lalu menurunkan suaranya. "Maaf, Ma. Aku kelepasan."
Diana langsung memasang wajah sedih.
"Mama nggak menyangka kamu akan seperti ini, Vara. Kamu sudah berubah."
Vara menatapnya datar. "Sudahlah, Ma. Jangan drama."
Vara berdiri. "Restoranku hampir hancur gara-gara Mama. Aku akan mengambil alih lagi."
Dalam hati, Diana tersenyum dingin.
Memang itu rencanaku. Membuat restoranmu hancur.
Namun, senyum itu segera menghilang. Ia belum menyangka Vara akan mengambil alih secepat ini.
Diana menggeleng. "Tidak. Kamu tidak boleh mengambil alih."
"Kenapa tidak? Restoran itu milikku."
Diana terdiam. Ia tidak ingin Vara kembali mengurus restoran secepat ini. Rencananya bahkan belum berjalan sesuai yang ia inginkan.
"Vara, maafkan Mama." Diana akhirnya menurunkan egonya. "Mama janji akan mengembalikan restoranmu seperti dulu lagi. Lagi pula, kamu juga sekarang mengurus perusahaan. Kamu pasti sibuk."
"Dulu aku juga bisa mengurusnya. Kenapa sekarang nggak bisa?" Vara langsung memotong ucapannya. "Pokoknya aku akan kembali mengurus restoran. Mama tinggal di rumah saja."
Tanpa menunggu jawaban Diana, Vara berbalik dan meninggalkan tempat itu.
Diana hanya bisa menatap kepergian menantunya dengan wajah kesal.
"Sial."
Tangannya mengepal.
"Kenapa bisa Vara tahu secepat ini?"
Diana segera mengambil ponselnya dan menghubungi Dirga.
Tak lama kemudian, panggilan tersambung.
"Halo, Mah?"
"Dirga!"
Nada suara Diana terdengar kesal.
"Vara berubah!"
"Apa?!"