Sebagian besar cerita berdasarkan TEORI KONSPIRASI ELIT GLOBAL nyata.
(SERI KE 7 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Sepuluh tahun berlalu.
Kini Harumi bertugas sebagai penyidik Jatanras, sementara Haruma menjadi dokter forensik kepolisian. Di balik meja autopsi dan olah TKP, dua bersaudara ini menghadapi serangkaian pembunuhan sadis dan aneh.
Petunjuk misterius pada jasad para korban membawa mereka membongkar konspirasi gelap sebuah keluarga Taipan (penguasa bisnis) yang diam-diam menjadi bagian dari sekte penyembah iblis internasional bernama "THE ONE".
Berbekal keahlian forensik, analisis hukum, serta mata batin spiritual, Haruma dan Harumi berjuang meruntuhkan cengkeraman sihir hitam dan kekuasaan elit global demi menegakkan keadilan.
Sanggupkah mereka berdua menghentikan sekte penyembah iblis "THE ONE" tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 UCAPAN DEK NIZA YANG MENYAKITKAN
Semburat merah keemasan di ufuk barat perlahan-lahan melarut ditelan pekatnya malam.
Langit pedesaan berganti gelap, dihiasi tatanan bintang gemintang yang memancar jernih di atas atap-atap rumah warga. Suara jangkrik dan suara dedaunan yang saling bergesekan disapa angin malam berhembus konstan, menyebarkan hawa sejuk yang meresap hingga ke dalam serat kain.
Di teras depan rumah keluarga Zaki, pendaran lampu pijar berwarna kuning hangat telah dinyalakan, menerangi pekarangan rumput yang teduh. Aroma harum tumisan bumbu dapur dan wangi bunga melati dari tepi teras berbaur lembut dengan aroma tanah basah usai disiram sore tadi.
Brummm...
Suara deru mesin mobil MPV perak yang mulai terdengar agak kasar bergema dari arah lorong depan. Lampu utamanya yang mulai agak redup menyinari pagar kayu pekarangan.
Pria paruh baya berusia empat puluh tiga tahun berkulit cokelat agak gelap karena sudah sering terbakar matahari melangkah turun dari dalam kabin mobil miliknya itu.
Pria itu tak lain dan tak bukan adalah Zaki—ayah angkat Haruma dan Harumi—yang baru saja pulang dari tempatnya bekerja sebagai Tim Leader perusahaan penyedia jasa internet. Celana kain hitamnya agak kusut, dan kemejanya tergulung hingga ke siku.
Pada saat yang bersamaan, dari sudut lorong pekarangan samping, terdengar derit rantai sepeda kecil berhias keranjang hitam. Dek Niza—putra kandung Zaki dan Nisa yang masih duduk di kelas tiga Sekolah Dasar—mengayuh sepedanya dengan tawa riang, memarkirkan sepedanya tepat di samping mobil ayahnya.
Namun, kondisi Dek Niza sore menjelang malam itu sungguh memprihatinkan.
Kaos yang dikenakannya berbercak tanah cokelat, rambut hitamnya berantakan, dan kedua dengkul kakinya belepotan lumpur sawah kering usai berkejaran dengan teman-teman sebayanya di galengan.
Nisa yang baru saja melangkah keluar dari pintu depan membawa sapu lidi seketika membelalakkan matanya.
"Astagfirullahal'adzim! Niza!" jerit Nisa dengan suara nyaring khas ibu-ibu desa, menunjuk dengkul putra bungsunya. "Main sepeda ke mana kamu jam segini baru pulang?! Lihat itu baju sama dengkul belepotan lumpur begitu! Kan Ibu sudah bilang, kalau sudah masuk waktu Maghrib itu pulang! Jangan ugal-ugalan di dekat galengan sawah!"
Niza yang berusia sembilan tahun itu langsung memanyunkan bibirnya, menundukkan kepala seraya meremas ujung kaosnya. "Aaaa... Ibu mah marahin Niza terus. Orang Niza cuma kepeleset dikit tadi pas ngejar sepedanya Dodi..."
Zaki yang baru saja melepaskan topinya terkekeh pelan, melangkah mendekati Niza lalu mencubit pelan pipi putranya dengan gemas.
"Lagian kamu tuh ya, Niza..." tegur Zaki dengan intonasi berat namun kebapaan. "Nasihat Ibu tuh didengarkan. Kalau dikasih tahu jangan main jauh-jauh ya nurut. Sudah sana, cepat masuk, bilas kaki sama mandinya yang bersih!"
"Iya, Ayah..." gumam Niza bersungut-sungut, melangkah masuk menaiki tangga teras dengan kaki menghentak-hentak kesal.
Namun, begitu Zaki menegakkan tubuhnya dan memutar pandangan mata ke arah pintu tengah rumah... raut wajah lelah pria paruh baya itu seketika berubah terang benderang!
Di ambang pintu, Haruma dan Harumi melangkah keluar seraya menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling hangat.
Haruma mengenakan baju rumah abu-abu yang anggun, sementara Harumi mengenakan kaos hitam santai dengan lengan kiri yang tertutup rapi oleh balutan perban kassa steril di balik kain bajunya.
"Ayah...!" sapa Haruma dan Harumi secara serempak.
"Ya Allah... Haruma! Harumi!" seru Zaki penuh kejutan gembira.
Zaki seketika meletakkan tas kerjanya di atas bangku teras, lalu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Haruma dan Harumi langsung mendekat, mencium telapak tangan ayah angkat mereka dengan rasa hormat dan kasih sayang yang teramat mendalam, lalu memeluk tubuh tegap sang ayah.
Zaki mengusap-usap puncak kepala kedua putri angkatnya dengan telapak tangannya yang kasar namun penuh kehangatan.
"Anak-anak Ayah yang gagah sudah pulang..." bisik Zaki penuh rasa syukur, matanya berbinar-binar gembira. "Gimana kabar kalian di kota, Nak? Ayah kangen... Pantesan dari tadi sore dada Ayah rasanya hangat banget, ternyata dua srikandi Ayah mau pulang ke rumah."
Harumi terkekeh renyah, merangkul pinggang ayahnya dengan gaya khasnya. "Alhamdulillah, Ayah! Rumi sama Kak Ruma dapat jatah libur dua hari nih dari Komandan. Makanya langsung meluncur pulang ke rumah biar bisa ketemu Ayah sama Ibu!"
"Masya Allah... Alhamdulillah," ujar Zaki tersenyum lebar. "Ya sudah, ayo masuk! Biar Ayah bersih-bersih dulu, nanti kita makan malam bareng-bareng!"
.....
.....
Satu jam kemudian, suasana di dalam ruang tengah rumah keluarga Zaki terasa begitu hangat, hidup, dan penuh kebahagiaan.
Di atas karpet kain bermotif bunga yang terhampar di lantai ubin, tatanan makan malam telah tersaji sempurna. Tiga porsi Iga Bakar Rempah Mbah Sambel yang dibeli Haruma dan Harumi tadi siang telah dihangatkan kembali oleh Nisa. Uap gurih beraroma kecap manis, ketumbar, dan sisa aroma bakaran arang batok kelapa memenuhi ruangan, membangkitkan selera makan siapa pun.
Zaki yang sudah selesai mandi dan mengenakan sarung tenun hijau serta kemeja koko santai duduk bersila di sisi tengah karpet. Di sebelah kirinya, Nisa duduk merapikan piring-piring nasi hangat. Sementara Haruma dan Harumi duduk berhadapan dengan kedua orang tua angkat mereka, menikmati makan malam dengan kebersamaan yang amat hangat.
"Aduuuhhh... ini iga bakar Mbah Sambel emang ndak ada tandingannya!" puji Zaki seraya mengunyah daging iga empuk bersalut bumbu kecap pedas. "Dagingnya empuk, bumbunya meresap sampai ke dalam tulang! Rumi sama Ruma memang paling mengerti selera Ayah!"
Haruma tersenyum manis, menuangkan air putih hangat ke gelas ayahnya. "Alhamdulillah kalau Ayah suka. Tadi pas lewat Pasar Raya, Rumi yang ngotot mau berhenti beli iga ini khusus buat Ayah sama Ibu."
"Iya dong!" timpal Harumi riang seraya menyantap nasinya dengan lahap. "Biarpun di kota banyak restoran mahal, tetep aja iga bakar ini yang paling juara di lidah Rumi!"
Nisa terkekeh renyah, mengusap bahu Harumi penuh kasih sayang. "Kamu tuh ya, Rumi... kalau soal makan memang selalu paling semangat. Eh, lengan kamu gimana? Masih terasa perih nggak?"
Harumi tersenyum manis, memamerkan lengan kirinya yang terbalut kassa steril. "Sudah aman seribu persen, Ibu! Kan sudah diobati sama Ibu tercinta dan dirawat sama Dokter Haruma. Besok juga udah kering ini!"
Zaki yang mendengarkan hal itu menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tersenyum bangga. "Ayah tadi denger cerita dari Ibu soal aksi kamu melumpuhkan pencopet bersenjata di warung iga... Ayah bangga banget sama kamu, Rumi. Tapi lain kali tetap harus ekstra hati-hati ya, Nak. Keselamatan jiwa kamu itu yang paling utama buat Ayah sama Ibu."
"Siap, Ayahku yang ganteng!" sahut Harumi tertawa bahagia seraya memberikan hormat tegap jenaka.
Tawa renyah dan obrolan hangat bergema memenuhi ruang tengah rumah tersebut. Gelak tawa Zaki dan Nisa yang membuncah bahagia usai mendengarkan cerita-cerita ringan dari Haruma dan Harumi menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu indah dan harmonis.
Akan tetapi...
Di balik kehangatan yang melimpah ruah di ruang tengah tersebut...
Di dalam kamar tidur berjarak lima meter dari ruang tengah, pintu kayu berdinding papan jati sengaja dibiarkan terbuka sedikit, menyisakan celah selebar lima sentimeter.
Di balik celah pintu kamar yang agak temaram itu, Dek Niza sedang duduk sendirian di depan meja belajar kayunya.
Di atas meja, terbuka sebuah buku tulis Bahasa Inggris kelas tiga SD bertuliskan HOMEWORK - LESSON 4: MY HAPPY FAMILY.
Jemari mungil Niza memegang pensil kayu, namun matanya sama sekali tidak tertuju pada lembaran kertas soal di hadapannya.
Sepasang mata bulat milik anak SD berusia sembilan tahun itu berkali-kali melirik keluar lewat celah pintu, menatap secara diam-diam interaksi antara kedua orang tua kandungnya dengan Haruma dan Harumi!
Niza memperhatikan bagaimana Ibu Nisa melayani Haruma dan Harumi dengan senyuman yang teramat sangat lembut, mengusap bahu mereka berulang kali, dan mendengarkan setiap patah kata kedua kakak angkatnya dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa bangga yang luar biasa.
Niza juga melihat bagaimana Ayah Zaki tertawa lepas, menatap Haruma dan Harumi dengan binar mata yang begitu menyala-nyala penuh penghormatan dan kasih sayang.
Pikiran polos khas anak kecil berusia sembilan tahun di dalam kepala Niza mulai berputar liar, membandingkan secara mendalam perlakuan kedua orang tuanya kepada Haruma dan Harumi dengan perlakuan yang diterimanya sendiri sehari-hari!
Di dalam benak polos Niza...
Rasa "cemburu" yang teramat sangat pekat mulai membakar jiwanya.
Niza menundukkan kepalanya, meremas pensil kayunya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kenapa sih... Ibu sama Ayah kalau sama Kak Haruma sama Kak Harumi senyum terus...?" bisik Niza di dalam hatinya yang terluka oleh kepolosan anak kecil. "Kenapa kalau sama Kakak, Ibu bicaranya lembut banget... nggak pernah bentak-bentak...?"
Niza mengingat kembali kejadian-kejadian yang dialaminya beberapa hari terakhir.
Kemarin sore, saat Niza mendapat nilai enam puluh pada ulangan harian Bahasa Indonesia di sekolah, Nisa langsung membentaknya dengan suara tinggi di dapur: 'Niza! Kamu ini gimana sih?! Belajar yang bener! Masa nilai cuma dapat enam puluh?! Coba lihat Kak Haruma dulu pas sekolah, nilainya seratus terus!'
Lalu tadi sore, saat dengkulnya kotor kena lumpur sawah, Ayah Zaki mencubit lengannya seraya menegurnya dengan raut wajah galak di depan teras.
Niza memegangi lengannya yang pernah dicubit, air mata bening mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Kalau Niza nakal dikit... Niza pasti dimarahin, dicubit Ayah..." bisik Niza sesenggukan pelan di balik pintu kamar. "Tapi kalau Kak Harumi sama Kak Haruma... biar bajunya sobek dan berdarah kena pisau, Ibu malah meluk-meluk... Ayah malah bangga-banggain..."
Perasaan cemburu dan rasa terasing yang mendalam menggerogoti sanubari anak kecil itu.
Niza merasa bahwa kehadiran Haruma dan Harumi yang sempurna—seorang dokter spesialis forensik yang anggun dan seorang perwira polisi yang gagah—telah merebut seluruh porsi cinta, perhatian, dan rasa bangga dari kedua orang tua kandungnya.
Niza memang belum memahami bahwa teguran Nisa dan cubitan lembut Zaki adalah bentuk kedisiplinan orang tua dalam mendidik anak kandungnya sendiri.
Di dalam pikiran polos anak SD kelas tiga, yang tertanam hanyalah kesimpulan pahit: Ibu sama Ayah lebih sayang sama Kak Haruma dan Kak Harumi dibanding sama Niza!
Niza menutup buku tulis Bahasa Inggrisnya dengan hentakan kasar, menjatuhkan kepalanya di atas meja belajar seraya menangis tanpa suara.
.....
.....
Pukul 20.30 WIB.
Malam semakin larut...
Angin malam dingin berhembus menembus celah-celah ventilasi rumah...
Acara makan malam di ruang tengah telah selesai dikemas rapi. Nisa dan Haruma telah merapikan piring-piring kotor ke dapur, sementara Zaki menutup pintu depan.
Zaki yang tampak sudah sangat mengantuk usai seharian bekerja keras di proyek pemasangan kabel internet mengusap matanya seraya menggeliat pelan.
"Aduuuhhh... mata Ayah sudah nggak bisa diajak kompromi ini," kata Zaki tersenyum lebar seraya berdiri dari karpet. "Ayah sama Ibu mau masuk kamar duluan ya, Ruma, Rumi... Badan Ayah rasanya pegal-pegal semua."
Nisa melangkah keluar dari dapur membawa kain lap. "Iya, Nak... kalian berdua kalau capek langsung istirahat juga ya di kamar depan. Jangan begadang malam-malam."
Haruma tersenyum manis, memegang lengan ibu angkatnya. "Iya, Ibu... Ayah... selamat istirahat ya. Nanti kalau piring di dapur sudah kering, Haruma yang matikan lampu ruang tengah."
"Iya, Selamat tidur Ayah, Ibu!" timpal Harumi hangat.
"Selamat tidur anak-anak manis..." jawab Zaki dan Nisa serempak seraya melangkah masuk ke dalam kamar tidur utama di lorong tengah.
Pintu kamar tidur utama tertutup rapat, menyisakan keheningan yang menenangkan di dalam rumah.
Haruma melangkah ke dapur, mengambil teko keramik berisi air teh melati hangat yang baru diseduhnya. Ia menuangkan air teh beraroma harum semerbak itu ke dalam dua cangkir bermotif daun hijau khas pedesaan.
Haruma membawa dua cangkir teh hangat itu menuju pintu depan, disusul oleh Harumi di belakangnya.
"Dek... mumpung udaranya sejuk banget dan bintang lagi terang, kita minum teh hangat di teras depan yuk?" tawar Haruma.
Harumi tersenyum lebar, matanya berbinar-binar. "Wah! Boleh banget, Kak! Cocok banget nih malam-malam begini minum teh melati hangat sambil ngobrol santai."
Sret...
Haruma mendorong pintu depan kayu jati rumah mereka.
Dua bersaudari itu melangkah keluar menuju teras depan, lalu duduk berdampingan di atas dua kursi kayu jati berukir sederhana yang menghadap lurus ke arah pekarangan rumput dan pemandangan langit malam.
Haruma meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja kayu kecil di antara kursi mereka.
Slllrrrppp...
Haruma menyesap teh melati hangatnya perlahan, merasakan kehangatan cairan manis itu menetralkan rasa dingin di dadanya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu, menatap bintang-bintang di langit dengan pandangan mata yang begitu sejuk dan penuh ketenangan batin.
Harumi memegang cangkirnya dengan kedua tangan, meniup uap hangat yang membumbung tipis di atas cangkir.
"Aduh, Kak Haruma..." bisik Harumi seraya tersenyum bahagia. "Rasanya tenang banget ya duduk di teras rumah begini. Beda banget sama suasana di markas Polres yang tiap jam isinya cuma ketegangan sama BAP kasus."
Haruma menoleh menatap adiknya, menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling anggun dan penuh rasa kasih sayang.
"Iya, Dek," tutur Haruma lembut. "Rumah ini memang selalu jadi tempat terbaik buat menenangkan jiwa kita. Di sini nggak ada ancaman sihir, nggak ada tekanan pejabat, yang ada cuma cinta dari Ayah, Ibu, sama Dek Niza."
Harumi mengangguk-angguk paham, menyenderkan kepalanya pelan di bahu kakak sulungnya. "Iya, Kak... Rumi bersyukur banget punya Ayah sama Ibu. Walaupun kita bukan anak kandung mereka, tapi kasih sayang mereka benar-benar luar biasa tanpa batas. Dari dulu pas kita pertama kali ketemu juga, Ibu langsung menerima kita dengan tulus."
Namun...
Tepat di saat Haruma dan Harumi sedang menikmati momen kebersamaan yang teramat indah di teras depan tersebut...
Klek... sret!
Pintu kayu depan rumah yang tadinya rapat mendadak tertarik dan terbuka dari dalam.
Sesosok tubuh kecil melangkah keluar dari kegelapan ruang tengah menuju pendaran cahaya kuning lampu teras.
Itu adalah Dek Niza.
Anak laki-laki berusia sembilan tahun itu masih mengenakan baju tidurnya.
Di tangan kanannya, Niza menggenggam erat buku tulis Bahasa Inggrisnya yang agak kusut.
Namun...
Raut wajah Dek Niza saat melangkah keluar ke teras malam itu sungguh tidak biasa.
Wajah polosnya tampak sangat sembap usai menangis, matanya merah membelalak, dan bibir mungilnya terkatup rapat memancarkan kecemburuan serta rasa amarah anak kecil yang telah memuncak!
Haruma dan Harumi seketika menoleh ke arah pintu.
"Eh? Niza...?" sapa Haruma kaget seraya tersenyum ramah. "Kok belum tidur, Sayang? PR Bahasa Inggrisnya sudah selesai dikerjakan?"
Harumi ikut menyapa dengan gaya renyahnya. "Iya nih, Dek Niza... kok malah keluar kamar? Ada soal PR yang susah ya? Sini Kak Harumi bantuin!"
Namun...
Bukannya tersenyum atau mendekat dengan ramah...
Dek Niza justru menghentikan langkah kakinya tepat di tengah teras, berdiri tiga meter di hadapan Haruma dan Harumi.
Sepasang mata bulatnya yang merah menatap Harumi lurus-lurus dengan tatapan kebencian dan "kecemburuan" polos yang teramat sangat pekat.
Dada anak kecil itu naik turun oleh napas yang memburu.
"Loh? Niza...? Kenapa, Dek?" tanya Haruma heran, menyadari ada perubahan emosi yang tidak wajar pada adik laki-laki bungsunya itu.
Niza mengangkat buku tulisnya tinggi-tinggi...
Lalu...
MEMBANTING BUKU TULIS ITU KERAS-KERAS KE ATAS LANTAI TERAS!
PRAKKK!!!
Haruma dan Harumi seketika terperanjat kaget di kursi mereka.
"Niza?!" seru Harumi kaget. "Kamu kenapa sih, Dek?! Kok malah banting buku begitu?!"
Niza menunjuk dada Harumi dengan jari mungilnya yang gemetar hebat. Air mata keharuan dan cemburu meledak meluncur deras membasahi kedua pipinya.
"AKU BENCI SAMA KAK HARUMI! AKU BENCI SAMA KAK HARUMA!" jerit Dek Niza dengan suara melengking tinggi yang memecah keheningan malam!
Deg!!!
Kata-kata jeritan dari mulut anak kecil berusia sembilan tahun itu seketika menghantam dada Haruma dan Harumi bagaikan sambaran petir di malam hari!
Harumi membelalakkan matanya kaget luar biasa. "Niza?! kamu ngomong apa sih?! Benci sama Kakak?! Kenapa?!"
Niza maju dua langkah, dadanya naik turun terisak-isak, memuntahkan seluruh kecemburuan dan rasa sakit hati yang terpendam di dalam pikiran polosnya dengan kalimat-kalimat yang teramat sangat menyakitkan!
"KENAPA SIH KAKAK HARUS PULANG KE RUMAH INI?!" jerit Niza histeris dengan bahasa anak kecil yang tanpa filter. "RUMAH INI BUKAN RUMAH KAKAK! KAK HARUMI SAMA KAK HARUMA KAN CUMA ANAK ANGKAT! KAKAK ITU BUKAN ANAK KANDUNG AYAH SAMA IBU!"
DEGGG!!!
Kata "CUMA ANAK ANGKAT" dan "BUKAN ANAK KANDUNG" meluncur deras dari bibir Dek Niza, menusuk tepat ke dalam bagian sanubari Harumi yang paling dalam!
Raut wajah Harumi seketika memucat kaku. Jantung sang polwan Jatanras berdesir hebat oleh rasa kaget, syok, dan rasa sakit hati yang teramat luar biasa.
Niza tidak berhenti di situ.
Dengan air mata yang semakin deras, anak kecil itu memuntahkan seluruh pikiran cemburu polosnya:
"GARA-GARA KAKAK PULANG, IBU SAMA AYAH NGGAK SAYANG LAGI SAMA NIZA!" jerit Niza histeris seraya menangis sesenggukan.
"Kalau Niza nakal dikit, Ibu selalu bentak Niza! Ayah selalu cubit Niza! Ibu selalu banding-bandingin Niza sama Kak Haruma yang pinter, sama Kak Harumi yang polisi! Tapi kalau sama Kakak... Ibu senyum terus! Ayah meluk-meluk terus! Kenapa sih Kakak nggak tinggal di kota aja selamanya?! Kenapa Kakak harus datang dan ngerebut Ayah sama Ibu dari Niza?! PERGI KAK! AKU BENCI SAMA KAKAK!"
DEG! DEG! DEG!
Setiap patah kata yang diucapkan Dek Niza bagaikan sembilu tajam yang mengoyak-ngoyak dada Harumi!
Harumi berdiri, dan terpaku di atas lantai teras. Napasnya memburu pekat. Rasa sakit hati yang mendalam atas tuduhan bahwa dirinya "ngerebut Ayah dan Ibu" serta statusnya sebagai "anak angkat" seketika membakar emosi dan darah muda sang polwan Jatanras!
Lengan kiri Harumi yang terluka terasa perih, namun rasa perih di hatinya jauh lebih membakar!
"NIZA!!" bentak Harumi dengan suara tinggi yang dipenuhi emosi membara, matanya berkilat-kilat oleh rasa tersinggung dan amarah yang meledak. "JAGA MULUT KAMU YA!! KAMU MASIH KECIL NGGAK USAH NGOMONG SEMBARANGAN SOAL ANAK ANGKAT SAMA ANAK KANDUNG!!"
Harumi melangkah maju satu langkah dengan raut wajah garang, hendak menegur dan memarahi adik bungsunya yang telah berani bicara keterlaluan. Tanpa Harumi tahu apa alasan dibalik keberanian Dek Niza itu.
Namun, tepat sebelum emosi Harumi meledak lebih jauh...
Settt!
Sebuah telapak tangan yang teramat sangat halus, hangat, dan tenang hinggap lembut di pergelangan tangan kanan Harumi.
"Rumi... tahan, Dek! Istighfar!" panggil sebuah suara yang begitu lembut, jernih, dan penuh kedamaian.
Harumi menoleh.
Haruma berdiri di sampingnya.
Dokter forensik anggun itu menatap Harumi dengan pandangan mata yang teramat sangat tenang, penuh kearifan, dan memancarkan kelembutan jiwa seorang kakak sulung.
Pendaran aura keemasan milik Sekar Arum memancar sangat redup dari dalam dada Haruma, menyiram membakar emosi Harumi hingga seketika mereda penuh.
"Kak Ruma..." bisik Harumi dengan suara bergetar parau, air mata menetes di pipinya oleh rasa sakit hati. "Dia... dia ngomong begitu ke kita, Kak..."
Haruma mengusap bahu adik tengahnya dengan hangat, memberikan ketenangan jiwa yang mendalam.
"Sabar, Dek... Istighfar..." tutur Haruma lembut. "Niza itu masih kecil... pikiran anak SD kelas tiga belum sampai ke sana... Dia mungkin cuma lagi cemburu dan merasa kehilangan perhatian dari Ayah sama Ibu... Jangan dilawan pakai amarah ya, Adikku sayang..."
Harumi menarik napas panjang berulang kali, menundukkan kepalanya seraya mengusap air mata di pipinya. "Iya, Kak... Maafin Rumi, Kak..."
Haruma memutar tubuhnya perlahan.
Dengan langkah yang teramat sangat anggun, lembut, dan tenang, Haruma melangkah mendekati Dek Niza yang masih berdiri menangis sesenggukan di tengah teras.
Haruma tidak marah sedikit pun.
Wajah cantiknya sama sekali tidak memancarkan rasa marah atau kesal.
Sebaliknya, pandangan mata Haruma memancarkan rasa kasih sayang, kehangatan, dan pemahaman yang teramat sangat dalam kepada adik laki-laki bungsunya tersebut.
Haruma berlutut di atas lantai teras di hadapan Dek Niza, membuat posisi matanya sejajar dengan mata anak kecil berusia sembilan tahun itu.
Haruma mengulurkan kedua tangannya yang halus, perlahan-lahan menggenggam jemari mungil Niza yang gemetar dan dingin.
"Dek Niza... anak ganteeeng..." panggil Haruma dengan suara yang begitu lembut, merdu, dan menenangkan bagaikan usapan angin malam yang sejuk.
Niza sesenggukan, mencoba menarik tangannya, namun kelembutan genggaman Haruma membuat tubuh anak kecil itu melunak.
Niza menundukkan kepalanya, tidak berani menatap mata kakak tertuanya.
Haruma menjangkau buku tulis Bahasa Inggris yang tergeletak di lantai, merapikan lembarannya yang kusut dengan sangat hati-hati, lalu meletakkannya di pangkuannya.
"Niza... lihat mata Kak Ruma sebentar yuk, Sayang..." pinta Haruma lembut.
Niza mendongakkan kepalanya perlahan, menatap mata jernih Haruma dengan pelupuk mata yang basah oleh air mata.
Haruma menyunggingkan senyuman bahagianya yang paling tulus, mengusap air mata di pipi Niza menggunakan ibu jarinya dengan sangat lembut.
"Niza tahu nggak...?" tutur Haruma dengan penjelasan yang sangat jernih, sederhana, dan menyentuh sanubari anak kecil. "Tahu nggak kenapa Ibu tadi sore bentak Niza pas Niza dapat nilai enam puluh dan pas dengkul Niza kotor kena lumpur sawah?"
Niza menggelengkan kepalanya pelan seraya sesenggukan. "N-nggak tahu... Ibu bentak Niza soalnya... soalnya Ibu benci sama Niza..."
Haruma menggelengkan kepalanya lembut, tersenyum tegar.
"Salah besar, Sayang..." bisik Haruma penuh kedalaman jiwa. "Ibu bentak Niza soal dengkul kotor itu... bukan karena Ibu benci. Tapi karena Ibu sayang banget sama Niza! Ibu takut dengkul Niza kena kuman sawah, takut Niza demam dan sakit. Ibu nggak mau lihat anak gantengnya meringis kesakitan di atas kasur."
Niza tertegun, mendengarkan kata-kata Haruma dengan cermat.
"Dan tahu nggak kenapa Ibu sama Ayah sedih pas nilai Niza dapat nilai enam puluh...?" lanjut Haruma lembut. "Bukan karena Ibu membandingkan Niza sama Kak Haruma. Tapi karena Ayah sama Ibu mau Niza jadi anak yang pinter, punya masa depan yang hebat! Ayah itu sudah berusaha buat penuhi semua kebutuhanmu, Dek... Ayah kerja banting tulang di bawah terik matahari tiap hari biar Niza bisa sekolah tinggi, biar Niza nggak usah kesusahan kaya Ayah dulu. Cubitan lembut Ayah itu adalah tanda sayang biar Niza ingat untuk selalu rajin belajar."
Air mata Niza kembali menetes, namun kali ini bukan karena amarah, melainkan karena rasa penyesalan yang mulai merayap di dalam dadanya.
Haruma memegang kedua bahu Niza, menatapnya dengan penuh kehangatan persaudaraan.
"Niza... dengarkan Kak Ruma baik-baik ya, Sayang," lanjut Haruma dengan suara jernihnya. "Niza benar... Kak Haruma sama Kak Harumi ini memang bukan anak yang lahir dari perut Ibu. Kita berdua adalah anak yang diantarkan sama Allah ke rumah ini, belasan tahun lalu pas Kak Ruma dan Kak Rumi sudah kehilangan orang tua..."
Haruma menunjuk pintu rumah.
"Tapi tahu nggak, Niza...?" tutur Haruma tersenyum haru. "Ayah dan Ibu nggak pernah sekalipun menganggap Kakak sebagai 'orang luar'. Kasih sayang Ibu dan Ayah sama Kakak itu besar banget... sama besarnya seperti kasih sayang Ayah dan Ibu sama Niza!"
Haruma merangkul tubuh mungil Niza, membawanya ke dalam dekapan hangatnya.
"Kak Haruma sama Kak Harumi pulang ke rumah ini... bukan buat ngerebut Ayah dan Ibu dari Niza, Sayang..." bisik Haruma lembut di telinga Niza. "Kita pulang karena kita kangen sama rumah, kangen sama Ayah, Ibu... dan kangen banget sama Dek Niza yang ganteng ini. Kakak berdua kerja di kota itu buat menjaga keamanan, termasuk buat menjaga keselamatan Dek Niza biar bisa main sepeda dengan tenang. Lagian, kalau Kak Ruma dan Kak Rumi nggak pulang ke rumah ini, kami berdua mau pulang ke mana? Rumah Ayah dan Ibu, adalah rumah Kak Ruma dan Kak Rumi, rumah Dek Niza juga..."
Deg!
Kata-kata Haruma yang penuh kehangatan, kearifan, dan kebenaran sejati itu menembus langsung ke dalam bagian sanubari Dek Niza yang paling dalam!
Seluruh dinding rasa cemburu, amarah, dan tuduhan jahat di dalam pikiran anak kecil itu seketika runtuh total, hancur berkeping-keping oleh kelembutan jiwa kakak sulungnya!
Niza menyadari betapa jahat dan kejamnya ucapan yang baru saja dilontarkannya kepada dua kakak angkatnya yang selama ini selalu menyayanginya dan membawakannya oleh-oleh dari kota.
Srrrttt...
Niza memeluk leher Haruma erat-erat, melampiaskan seluruh rasa penyesalan dan kedukaan jiwanya di dalam dekapan Haruma.
"Huwaaa... Kak Rumaaa...!" jerit Dek Niza menangis histeris, air matanya membasahi bahu baju Haruma. "Maafin Niza, Kak...! Niza jahat banget...! Niza udah ngomong sembarangan sama Kakak...! Maafin Niza, Kak Haruma...! Maafin Niza...!"
Haruma tersenyum haru, mengusap-usap punggung adik bungsunya dengan kasih sayang yang melimpah. "Iya, Sayang... Kak Ruma sudah maafkan Niza dari tadi. Niza anak baik... Niza anak pinter..."
Haruma menoleh menatap Harumi yang masih berdiri mengusap air matanya di tepi teras.
Haruma mengisyaratkan adiknya untuk mendekat dengan senyuman hangat. "Rumi... sini, Dek..."
Harumi melangkah mendekat.
Melihat adik bungsunya menangis histeris memohon ampun di dekapan Kakak mereka berdua, seluruh rasa sakit hati dan amarah di dalam dada Harumi seketika luntur musnah tak bersisa!
Yang tersisa di dalam dada Harumi hanyalah rasa kasih sayang yang begitu dalam kepada adik kecilnya.
Harumi berlutut di samping Haruma, merangkul tubuh mungil Dek Niza dari sisi kanan.
"Niza..." panggil Harumi lembut dengan suara serak khas usai menangis.
Dek Niza melepaskan pelukannya dari Haruma, lalu memutar tubuhnya menatap Harumi dengan mata yang sembap dan hidung yang merah.
"K-Kak Rumi... hmmm... maafin Niza ya, Kaaak..." rintih Dek Niza terisak-isak seraya memegang lengan Harumi. "Niza tadi jahat banget ngomong Kakak anak angkat... Niza takut Kak Harumi marah, terus gak mau pulang lagi ke sini... Maafin Niza, Kaaak..."
Harumi tersenyum manis, air mata keharuan menetes di pipinya.
Harumi menarik Dek Niza ke dalam pelukan hangatnya, mencium pipi mungil adik bungsunya berulang kali.
"Iya, Dek Niza ganteeeng..." bisik Harumi renyah penuh rasa kasih sayang. "Kak Harumi udah maafin Niza kok. Kakak gak akan pernah marah sama adik Kakak yang paling imut ini. Kakak bakal selalu pulang buat meluk Niza."
Dek Niza membalas pelukan Harumi erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada Harumi. "Niza sayang banget sama Kak Harumi... sama Kak Haruma..."
"Kakak berdua juga sayang banget sama Dek Niza," sahut Haruma dan Harumi serempak seraya tertawa bahagia.
Tiga bersaudara itu saling merangkul erat di atas lantai teras depan rumah di bawah pendaran cahaya lampu kuning dan terangnya bintang-bintang malam.
Konflik dan kepedihan kecil akibat ucapan polos Dek Niza telah lebur total, berganti dengan ikatan persaudaraan dan kehangatan keluarga yang semakin kokoh dan tak tergoyahkan.
Haruma mengambil buku tulis Bahasa Inggris Dek Niza yang sudah dirapikan.
"Nah... sekarang PR Bahasa Inggrisnya yang belum selesai mana nih?" goda Haruma renyah seraya mengusap air mata di pipi Niza. "Sini, Kak Haruma sama Kak Harumi bantuin kerjakan sampai selesai!"
Niza tersenyum lebar dalam derai air matanya, mengangguk gembira. "Iya, Kak! Soal nomor empat susah banget, disuruh menerjemahkan kalimat 'My family is my biggest happiness'!"
Harumi tertawa renyah, mengacak-acak rambut Niza dengan gemas. "Aduh, itu mah gampang banget, Dek! Artinya: Keluargaku adalah kebahagiaanku yang paling besar! Persis kayak keluarga kita malam ini!"
"Hahaha! Asyik! Kak Harumi pinter!" seru Niza gembira.
Di teras rumah sederhana di pedesaan malam itu, keharmonisan dan cinta kasih keluarga Zaki kembali bersinar terang.
Ujian kecil dalam hubungan persaudaraan mereka telah dilalui dengan kearifan dan kelembutan jiwa.
Dan di bawah naungan kedamaian rumah tersebut, Haruma dan Harumi merasakan betapa indahnya kekuatan cinta keluarga—sebuah benteng suci yang akan selalu menjadi sumber kekuatan tak terbatas bagi mereka untuk menghadapi bahaya apa pun di masa depan.
intinya korbannya itu yg sekiranya bisa jadi saksi kejahatan mereka gitu ya
berat juga ya wkwkwk sihir modern mungkin klo zaman.
penampilan nya udah elit kok nama nya itu