Di tinggal meninggal dunia oleh suami bukan keinginanku. namun terkadang ketika sebuah pilihan datang manusia tidak dapat menolaknya.
Saat pak Burhan dan Bu Salma menemui ku, agar aku menikahi anaknya Prasetio yang sudah beristri aku tidak punya jalan lain kecuali menerimanya.
karena keterbatasanku dalam mencari nafkah, dan demi menolong Prasetio yang kata ibunya butuh pendamping lantaran istrinya sakit parah.
Disinilah letak kesalahanku, tetapi ternyata justru kesalahanku ini adalah petunjuk terang tentang kematian ibuku.
Suatu hari tak sengaja aku menemukan selembaran dokumen, yang tercantum nama ayahku di lemari Pak Burhan, akhirnya sejarah kelam masa lalu terbongkar, aku tahu siapa sebenarnya suamiku Prasetio, Pak Burhan, Prilia istri pertama suamiku, ibunya Prilia, dan Bu Salma ibu mertuaku.
Ada apa sebenarnya di balik kematian ibuku?
Bagai mana selanjutnya hubunganku dengan Prasetio setelah semua terkuak?
Simak kisah panjangku dalam WANITA YANG TIDAK LAGI SAMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aina susiyanti77, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 : Tabir Gelap Masa Lalu
"Di saat yang mendesak paket kuota malah habis." Aku menggerutu sendiri, "Sudah lah besok pagi saja beli voucher sekalian berangkat ke kantor Nya." Pikirku.
Setelah lama bolak balik karena gelisah akhirnya aku tertidur juga, saat bangun waktu sudah menunjuk kan pukul enam pagi.
Aku langsung bangun menyiapkan segala keperluan Pak Burhan, dan anak anak.
Seperti biasa ku siap kan segelas teh hangat di atas meja dalam kamar Pak Burhan, juga sepiring nasi bersama telur ceplok di tambah kecap asin mikado kesukaan nya. Kalau Beliau bangun nanti bisa tinggal minum saja, meski strok tapi ayah mertuaku itu masih bisa kalau megang gelas, meski gemetar. Bahkan berjalan pun bisa meski lambat.
Semua pekerjaan ku laku kan dengan gerak cepat, termasuk memakai kan baju Rian yang baru saja selesai ku mandikan, sementara Siska tidak aku ijinkan mandi karena takut demam lagi.
Sebelum pergi aku masuk ke kamar ayah mertuaku dulu, ingin memastikan keadaan nya. Ternyata beliau masih tidur.
Aku menggendong Rian dan menuntun Siska melalui pintu dapur, menuju rumah Bu Aminah untuk menitipkan Rian dan Siska di sana .
"Eh, Rian ganteng sekali?" Sapa Bu Aminah ramah sesampainya aku di rumahnya bersama anak anak. "Sudah siap berangkat May?" tanyanya lembut sambil mengajak Siska dan Rian masuk.
"Sudah, Bu. Maaf ya, Bu, jadi merepotkan... Saya titip Siska sama Rian sebentar sekalian nanti tolonglah lihat lihat sesekali ayah mertuaku dia sendirian di rumah," ucapku.
"Iya Maya Ayo masuk anak-anak," jawabnya.
Sesampai di dalam rumah, aku duduk di sofa bersama anak anak. Bu Aminah menatap wajahku lembut.
"May... duduk dulu sebentar, sebenarnya ada hal penting yang harus Ibu sampaikan. Sudah lama sekali Ibu ingin memberi tahu kamu soal ini, tapi terkadang Ibu merasa tidak enak hati. " Ucapnya pelan.
"Ada apa Bu? " Tanyaku penasaran.
Bu Aminah menarik napas panjang dan menatap wajahku lekat-lekat.
"Jadi sekarang kamu sudah tahu pemilik asli perkebunan yang di kelola suamimu, dan kamu akan mengambil alih hakmu? " Bu Aminah bertanya pelan dan terlihat sangat hati hati.
"Aku sedikit banyak mendengar cerita dari ayah mertuaku tentang perkebunan itu dan dari dokumen yang ku pelajari ini sepertinya legal... Untuk tahu kepastian yang sebenarnya makanya aku akan pergi menemui Pak Baskoro Bu, dan itu juga atas perintah ayah mertuaku. "
"Laki laki baik. " Bu Aminah menjawab pelan.
"Iya ayah mertuaku yang laki laki memang baik bu. " Jawab ku tanpa melanjutkan kalimatku tentang mertuaku itu.
"Sebenarnya.... " Kalimat itu menggantung.
"Sebenarnya apa Bu? " Jawabku penasaran.
" Maya... nama ibumu Pertiwi kan?
" loh Ibu mengenal ibu saya?" tanyaku kaget.
"Inilah yang ingin Ibu ceritakan selama ini, namun ibu takut dan ragu. " Ia kembali menundukkan wajahnya yang tirus itu. Lalu seraya menarik nafas panjang Beliau mulai bercerita.
"Sebenarnya pemilik asli rumah yang kalian tinggali ini adalah rumah almarhum kakekmu, dulu Ibu bekerja lama di keluarga kakekmu, bahkan rumah yang ibu huni saat inipun adalah rumah dari pemberian kakekmu, Beliau orang baik, dan sangat terkenal dermawan di kampung ini. " Aku mengangkat alis mendengar keterangannya.
"Terus Bu? " ujarku seraya mengangkat Rian yang ingin duduk di atas pangkuanku.
"Ibumu adalah anak tunggal dari Almarhum kakek Subroto dan nenek Mu Siti almarhumah, dia nama yang memang ku kenal adalah leluhurku.
Saat masi remaja ibumu adalah kembang desa, banyak laki laki yang ingin melamarnya, tetapi ibumu menolak, karena dia sudah jatuh cinta pada almarhum ayahmu Pak Hendra. " Bu Aminah menghela nafas sebentar sambil menelan ludah.
"Pak Hendra ayahmu dan Pak Burhan adalah dua sahabat yang bekerja di perkebunan kakekmu. Karena kejujuran mereka serta kinerja mereka yang baik, keluarga besar kakekmu sangat menyayangi ke dua pria itu, hingga saat ibumu mengatakan akan menikah dengan Pak Hendra, tidak ada satupun keluarga dari kakekmu yang menghalangi. "
"Iya Bu terus?" ujarku pelan makin penasaran.
Bu Aminah berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara pelan.
"Tapi ternyata, saat itu ayahmu sudah punya istri dan tiga orang anak...."
"haaaa punya istri? " Aku teriak spontan.
"Iya Pak Hendra sudah beristri namun mereka berpisah sebelum Pak Hendra bekerja dengan kakekmu, Beliau hanya laki laki yang berpenghasilan sangat pas pasan kala itu."
"Hemmmmmm." Aku mendesah panjang.
"Setelah menikahi ibumu Pak Hendra terangkat drajat dan martabatnya, apa lagi setelah kakekmu sakit sakitan kemudian meninggal dunia, tak lama kemudian nenek pun menyusul kakekmu cuma dalam jarak waktu tiga bulan.
" Alhasil seluruh harta kakekmu jatuh ke tangan ibumu, karena ibu mu anak satu satunya ...saat itu kamu masih sangat kecil dan bude lah yang sering mengasuh mu, oh ya saat kau kecil kau memanggil Ibu dengan sebutan Bude, kamu sudah bude anggap anak sendiri karena mulai dari kamu lahir bude yang sudah merawat mu. "
Bu Aminah menatapku dengan penuh kasih sayang, hemmm ...pantas sejak aku berada di sini Beliau bersikap sangat baik padaku.
"Sejak kakek dan nenekmu meninggal semua kepengurusan perkebunan ayah mu yang handel, di tangan ayahmu perkebunan itu makin berkembang pesat. '' Bu Aminah menghela nafas lagi kemudian melanjutkan ceritanya.
"Sampai suatu hari istri dari ayahmu datang, dan mengancam akan menghilang kan semua nyawa anak anaknya apa bila Pak Hendra tidak mau rujuk. "
"Waduh." Spontan aku teriak mendengar kalimat ' itu.
"Sebegitu nya Bu?! " Tanyaku
"Iya akhirnya ayahmu diam diam rujuk tanpa sepengetahuan Ibumu sampai ibumu di ajak pindah ke rumah yang di buatnya di daerah Palembang. "setelah kejadian itu.
"Palembang? " Tanyaku penasaran bukankah di Palembang adalah rumah orang tuaku yang sudah aku jual demi mengobati almarhum suamiku dulu.
"Setelah kalian pindah, ayahmu membawa anak dan istrinya menempati rumah itu, rumah yang kalian huni sekarang. "
"Lantas di mana istri dari ayahku itu saat ini bu? " Bu Aminah kembali menatap wajahku.
"Istri dari ayahmu berada di Pekan Baru di komplek sebuah perumahan elit di kawasan perkotaan, semua anak anaknya juga tinggal di kota yang sama, karena di sana adalah kantor pusat perkebunan orang tuamu maya. "
"Hmmmmm aku benar benar tidak tahu ternyata aku punya saudara meski beda ibu, yang ku tahu ayah saat meninggal...Beliau memang sudah mewariskan rumah di Palembang itu untukku dan di buat atas namaku, itu saja" ujar ku pelan sambil membelai rambut anak ku
"Kapan kapan aku ingin bertemu saudara seayahku itu Bu. " Ujarku polos.
"Kau sudah bertemu terus dengan saudaramu itu Maya. "
"Haaaaa apa maksut Ibu?! "
"Yaaaa karena saudaramu itu adalah Prilia, istri dari Prasetio suamimu saat ini. "
Aku melompat kaget sampai sampai Rian yang ada dalam pangkuanku ikut bergerak hampir jatuh, karena tubuhku bergetar demikian hebat.
Benar benar bagai di sambar petir di siang bolong, " jadi Prilia itu adalah saudara beda ibu.. artinya dia sebenarnya tahu selama ini tentang aku, tetapi aku yang buta dan benar benar tidak paham situasi." Gumam ku pelan.
Aku sangat berterima kasih atas penjelasan Bu Aminah, semakin jelas dan terang sekarang tabir yang menutupi rezekiku selama ini.
Bersambung
kyknya pribahasanya ; "karena setitik TINTA, rusak susu sebelahnya"
atau sudah ganti di era digital?
sekarang prasetyo yg berlutut, lantainya keramik.😇😇😇😇😇