Dirga mengira Vara adalah istri polos yang mudah dibohongi. Namun, Vara sudah mengetahui perselingkuhan dan rencana busuk suaminya.
Kini, hanya perlu berpura-pura menjadi wanita yang sama... sebelum semuanya kebalik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelukan kenangan...
Bzzt! Bzzt!
Ponsel Vara yang tergeletak di atas meja tiba-tiba bergetar. Vara yang sedang sibuk dengan dokumennya langsung menoleh. Nama Bibi Rati tertera di layar.
"Bi Rati," gumamnya. "Nggak biasanya dia menelepon."
Vara segera mengambil ponselnya lalu mengangkatnya. "Iya, Bi?"
"Non..." Suara Bibi Rati terdengar bergetar, seperti menahan tangis.
"Bi, ada apa?" tanya Vara panik. Bagi Vara, Bibi Rati bukan sekadar pembantu. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Bibi Rati sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Mendengar suara wanita yang sudah merawatnya sejak kecil itu seperti sedang menangis membuat Vara langsung khawatir. "Bibi tenang dulu. Tarik napas pelan, lalu buang."
Bibi Rati mengikuti perintah Vara. Beberapa saat kemudian, suaranya terdengar sedikit lebih tenang.
"Bibi sudah bisa cerita?"
"Iya, Non."
"Ya sudah, ada apa, Bi? Nggak biasa Bibi menelepon aku sedang kerja."
"Non Vara... Pak Dirga..." Suara Bibi Rati kembali bergetar. "Pak Dirga selingkuh..."
Vara langsung terdiam.
"Dari mana Bibi tahu?"
"Waktu Non pergi kerja, saya ke meja makan untuk membereskan. Tapi langkah saya langsung terhenti saat melihat wanita yang datang tadi pagi sedang bermesraan dengan Pak Dirga." Bibi Rati menarik napas panjang. "Bahkan Nyonya Diana dan Non Bela juga terlihat biasa saja, seakan-akan mereka sudah tahu semuanya, Non."
Vara kembali terdiam. Meskipun dirinya sudah mengetahui kebenaran itu, mendengar pengakuan Bibi Rati tetap membuat dadanya terasa sesak.
"Bi, sebenarnya aku sudah tahu, Bi," ucap Vara pelan.
"Apa?! Non serius?"
"Iya, Bi."
"Ya Tuhan, Non..." Bibi Rati kembali menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka Vara yang sudah ia anggap seperti anak sendiri dan dirawatnya dengan sepenuh hati harus disakiti seperti ini.
"Bi, jangan nangis."
"Non, kenapa Pak Dirga tega banget sama Non? Apa dia nggak sadar kalau dia bisa sampai seperti sekarang juga karena Non?" Suara Bibi Rati terdengar serak. "Non Vara sudah memberikan semuanya untuk dia."
Vara terdiam sejenak.
"Mungkin memang ini sudah jadi takdir Vara, Bi."
"Andai Tuan Besar masih hidup, mungkin Pak Dirga sudah lenyap di tangannya karena sudah melukai hati putrinya."
Vara menarik napas pelan. "Jangan pikirkan itu, Bi. Sekarang Vara nggak mau menangisi apa yang sudah terjadi. Vara cuma ingin memastikan semuanya kembali ke tempat yang seharusnya."
"Non..."
"Bi, Bibi mau bantu aku nggak?"
"Bantu apa, Non? Kalau Bibi bisa, pasti Bibi akan melakukannya."
Vara kemudian mengatakan sesuatu kepada Bibi Rati. Setelah mendengar penjelasan Vara, Bibi Rati akhirnya memahami maksudnya.
"Baik, Non. Bibi mengerti."
"Bibi bisa melakukannya?"
"Bisa, Non. Bibi akan bantu."
"Terima kasih, Bi. Tapi Bibi harus hati-hati. Jangan sampai mereka tahu kalau Bibi sudah mengetahui semuanya."
"Iya, Non. Bibi akan hati-hati."
"Kalau begitu, Bibi lanjutkan saja seperti biasa."
"Baik, Non. Maaf Bibi sudah mengganggu."
"Nggak masalah, Bi."
Panggilan berakhir.
Vara menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi, lalu tatapannya jatuh pada sebuah foto yang terletak di atas meja.
Vara mengambil foto itu.
Dalam foto tersebut, ia berdiri di antara kedua orang tuanya. Sang ayah memeluknya dari satu sisi, sementara ibunya memeluknya dari sisi lain. Senyum mereka bertiga terlihat begitu hangat.
"Dad, Mom..." suara Vara bergetar. "Kalian apa kabar?"
"Vara rindu dengan kalian..."
Air mata perlahan mengalir di pipinya.
"Kalian pasti sudah tahu, kan, apa yang Vara rasakan sekarang?"
Bibirnya bergetar. "Dad, Mom... Vara hancur." Isaknya pecah. "Vara dikhianati oleh suamiku sendiri..."
Vara memeluk foto itu erat-erat, seolah sedang memeluk kedua orang tuanya.
"Doakan Vara, ya... Vara harus bisa menghadapi semuanya."
Di luar ruangan, Reno yang hendak memberikan sebuah dokumen kepada Vara langsung menghentikan langkahnya.
Mendengar suara tangis Vara membuat tangannya mengepal erat.
"Dirga..." gumamnya dengan rahang mengeras. "Bajingan. Suatu hari nanti kau akan membayar semuanya."
Reno tidak akan mengganggu Vara. Ia akhirnya memilih untuk mundur dan membiarkan Vara menenangkan dirinya terlebih dahulu. Urusan dokumen bisa menunggu.
Beberapa saat kemudian, Vara menghapus air matanya. Ia kembali menatap foto kedua orang tuanya.
Tatapannya perlahan berubah. Kesedihan masih terlihat di matanya, tetapi ada keteguhan yang mulai kembali.
"Dad, Mom... Vara nggak akan membiarkan para benalu itu merebut apa yang sudah kalian siapkan untuk Vara."
Jarinya mengusap wajah kedua orang tuanya yang ada di dalam foto.
"Vara akan menjaganya."