Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gubuk di Atas Awan
Ketegangan di pelataran batu perkampungan Klan Atas Awan belum juga surut. Sebelum melangkah pergi menuju pohon tertingginya, Sulung membalikkan tubuhnya sejenak.
Pria bertubuh tegap itu menatap Tetua Bara dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin. Kilatan di matanya yang sewarna elang malam seolah mengirimkan pesan terakhir yang tidak tertulis namun mutlak.
Wanita ini di bawah perlindungan ku. Jangan berani mengusiknya.
Tetua Bara yang tadinya berapi-api, mendadak membeku di bawah intimidasi visual tersebut. Beliau hanya bisa mengepalkan tangan tuanya pada tongkat hitam, rahangnya mengeras menahan amarah yang tertahan.
Tidak ada satu pun penduduk klan atau prajurit pemegang tombak di tempat itu yang berani membuka mulut untuk membantah. Di Alas Purba, perintah sang Panglima Tertinggi adalah hukum yang setara dengan tajamnya bilah Khanjar.
Sulung kemudian berbalik, menatap Hera dengan pandangan datarnya yang khas. Tanpa banyak bicara, dia mencengkeram pergelangan tangan Hera dan menuntunnya menuju dasar pohon raksasa yang tumbuh di tengah perkampungan.
Pohon itu adalah yang paling masif di antara semuanya, menjulang tinggi menembus batas kabut hingga dahan-dahan teratasnya seolah menyentuh awan malam.
"Kita naik,"
ucap Sulung pendek.
Hera mendongak, menatap jalinan tangga akar alami yang meliuk-liuk memutari batang pohon raksasa tersebut menuju ketinggian langit. Rasa pening di kepalanya kembali berdenyut karena kelelahan fisik yang teramat sangat.
"Naik ke atas sana?" gerutu Hera, melipat kedua tangannya di dada sambil mengerucutkan bibirnya kesal. Watak keras kepalanya kembali bergejolak. "Kau bercanda, ya? Kakiku sudah mau copot setelah berlari dari kejaran orang-orang berkuda gila tadi, dan sekarang kau menyuruhku memanjat gedung pohon ini?"
Sulung tidak membalas keluhan itu dengan kata-kata. Dia hanya menatap Hera selama tiga detik dengan aura menuntut kepatuhan yang pekat, membuat nyali profesor muda itu mendadak sedikit menciut.
Tanpa memedulikan gerutuan Hera lebih lanjut, Sulung langsung membalikkan badan dan mulai memanjat anak tangga akar dengan kelincahan yang luar biasa, seolah dia sedang berjalan di atas tanah datar.
"Hei! Sulung! Tunggu dulu!" teriak Hera kesal.
Mau tidak mau, dengan napas yang terengah-engah dan kaki yang terasa seberat timah, Hera terpaksa mengangkat sepatu bot gunungnya.
Dia mulai melangkah naik, memanjat jalinan akar purba tersebut demi mengikuti langkah sang pelindung misteriusnya. Angin malam bertiup semakin kencang seiring posisi mereka yang kian tinggi, menerbangkan rambut panjang Hera yang acak-acakan.
Setelah perjuangan memanjat yang menguras sisa tenaga, mereka akhirnya sampai di sebuah pelataran kayu luas yang bertumpu di dahan terbesar pohon tersebut. Di sanalah berdiri tempat tinggal Sulung—sebuah gubuk eksotis yang tampak menyatu dengan alam sekitarnya.
Sulung mendorong pintu kayu tebal yang menjadi gerbang huniannya, lalu melangkah masuk terlebih dahulu.
Hera menyusul di belakangnya, melangkah masuk ke dalam kediaman sang panglima dengan sisa kekesalan yang masih membakar dada.
Namun, begitu kakinya menginjak bagian dalam gubuk, rasa takjub secara ilmiah mendadak menghentikan gerutuan di mulutnya.
Interior gubuk itu sangat eksotis dan unik bagi mata seorang ilmuwan kota. Seluruh dinding gubuk terbuat dari jalinan batang bambu hitam dan anyaman serat pohon purba yang sangat rapat, menahan embusan angin dingin malam dengan sempurna.
Lantainya berupa papan kayu jati utuh yang dihaluskan, terasa sejuk saat bersentuhan dengan sol sepatunya.
Di bagian tengah ruangan, terdapat sebuah tungku batu melingkar yang berisi bara api dari kayu gaharu, mengeluarkan asap tipis yang menyebarkan aroma wewangian menenangkan sekaligus mengusir nyamuk hutan.
Di sudut ruangan, berjejer rapi beberapa rak kayu yang menampung mangkuk-mangkuk tanah liat, kendi air dari batu, serta berbagai macam kulit binatang yang dikeringkan.
Yang paling menarik perhatian Hera adalah jajaran senjata kuno yang tergantung di dinding pelataran dalam; beberapa tombak berujung gigi binatang purba, busur panah kayu hitam, dan perisai kulit yang dipenuhi goresan bekas pertempuran hebat.
Di sisi kanan ruangan, terdapat sebuah ranjang besar yang unik—jalinan tanaman merambat yang dibentuk sedemikian rupa menjadi kerangka kasur, dengan lapisan tebal kulit beruang hutan yang tampak sangat empuk sebagai alas tidurnya.
Sulung berjalan menuju tungku batu, melemparkan beberapa ranting kayu kering ke dalam bara api hingga nyala api kembali membesar dan menerangi ruangan yang temaram.
Dia melepaskan sarung pedang Khanjar-nya dari pinggang, meletakkannya di atas meja kayu pendek dengan bunyi tak yang solid, lalu berbalik menatap Hera yang masih berdiri terpaku di dekat pintu.
"Ini tempat tinggalmu sekarang," kata Sulung datar, memecah keheningan di dalam gubuk eksotis tersebut.
Hera mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Dia melepaskan tas ransel kecilnya dengan hati-hati, memeluknya erat di depan dada seolah itu adalah benda paling berharga di dunia—karena di dalam tas itulah sampel obat ibunya berada. Dia menatap Sulung dengan sisa-sisa gengsi profesor kotanya yang keras kepala.
"Tempat tinggal?" Hera mendengus pelan, matanya menyapu sekeliling interior gubuk. "Ini lebih mirip sarang pemburu daripada rumah manusia. Tapi terserahlah, setidaknya di sini hangat dan tidak ada kakek-kakek bertato api yang mau memenggal kepalaku."
Hera berjalan perlahan mendekati kehangatan tungku batu, lalu mendudukkan tubuh lelahnya di atas sebuah balok kayu datar di dekat api. "Dengar, Sulung. Aku menghargai tempat ini. Tapi besok pagi, setelah aku istirahat, kau tetap harus membantuku mencari jalan kembali ke pita merah. Paham?"
Sulung tidak menjawab. Dia hanya menatap Hera yang sedang menghangatkan tangannya di depan api dengan pandangan datarnya yang tidak terbaca, seolah tuntutan wanita kota itu hanyalah sebuah suara angin lalu yang akan segera terbantahkan oleh hukum Alas Purba.