"Aku akan menumpahkan darahmu di atas ranjang ini, demi rakyatku."
Itu adalah sumpah Dyah Ayu di malam pertamanya sebagai selir rampasan perang. Tangannya menggenggam erat tusuk konde beracun di balik selimut sutra. Namun, Prabu Hayam Vira—Raja kejam yang telah membumihanguskan tanah kelahirannya—hanya menatapnya dingin, lalu mencengkeram pergelangan tangannya.
"Silakan tikam aku, Selirku," bisik sang Raja dengan senyum sinis yang mengintimidasi. "Tapi jika aku mati malam ini, pastikan kau sanggup melihat adikmu dan seluruh rakyatmu dibakar hidup-hidup esok pagi."
Terjebak di dalam Keputren Kerajaan Kagendra yang indah namun beracun, Dyah Ayu harus memutar otak untuk bertahan hidup. Ia bukan hanya harus menghadapi kekejaman Raja, tetapi juga intrik mematikan dari Permaisuri Agung dan puluhan selir yang haus kekuasaan. Niat awalnya hanya satu: menghancurkan kerajaan itu dari dalam.
Namun, seiring berjalannya waktu, kekejaman sang Raja perlahan memudar, tergantikan oleh perlindungan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laygraph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Tuntutan Adat
"Ada abu sekam di ranjangku."
Prabu Hayam Vira mengucapkannya dengan mata masih terpejam, satu lengan terlipat di bawah kepala. Cahaya pagi menyusup dari kisi-kisi jendela Kedaton Dalam dan jatuh di dadanya yang telanjang, di atas balutan kain putih yang membungkus bahunya.
Dyah Ayu, yang sedang duduk di tepi ranjang menyisir rambutnya dengan jari, menoleh. Di atas seprai sutra gading, tersebar butiran-butiran kelabu halus. Di bantal. Di lipatan selimut. Di rambut Raja itu sendiri.
"Hamba sudah mengibaskannya semalam, Gusti."
"Kau mengibaskannya ke ranjangku." Ia membuka sebelah mata. "Tiga ratus tahun para Prabu Kagendra tidur di atas ranjang ini. Kau orang pertama yang membawa separuh lantai pendapa ke atasnya."
"Gusti yang menggendong hamba langsung dari pendapa."
"Karena kau tidak memberiku waktu untuk menyuruh orang menyapu kakimu lebih dulu."
Dyah Ayu tertawa. Tawa itu lolos sebelum ia sempat menahannya, pendek dan sedikit serak, dan ia sendiri terkejut mendengarnya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar suaranya sendiri tertawa.
Hayam Vira membuka kedua matanya sekarang. Ia menatap perempuan di tepi ranjangnya seolah baru saja mendengar bunyi yang tidak ia kenal.
"Lakukan itu lagi."
"Apa, Gusti?"
"Itu. Suara itu." Ia menyingkirkan sebutir abu dari dadanya dengan ujung jari. "Selama satu bulan aku hanya mendengarmu berbicara dengan nada seperti juru tulis yang menghitung karung garam."
***
Sutra merah sumba tersampir di sandaran kursi kayu di sudut bilik. Tirai jendela kamar rias yang kini tidak lagi bisa disebut tirai. Robekan di tepinya terlihat jelas di bawah cahaya pagi, benang-benangnya mencuat tidak beraturan.
Hayam Vira menatap kain itu dari ranjang.
"Bendahara Kedaton akan mengirimiku tagihan untuk tirai itu," gumamnya. "Lalu untuk busana pusaka. Lalu untuk gong yang tidak dipukul. Brahmana Agung barangkali sedang menghitung berapa sesaji yang harus diulang untuk menenangkan leluhur."
"Gusti bisa memotongnya dari tunjangan hamba."
"Tunjanganmu tidak cukup untuk membayar satu kancing busana itu." Ia bangkit dengan satu siku, meringis sedikit saat bahunya tertarik. "Aku harus menjual salah satu gajah dari Medang Utara."
"Utusan mereka tidak akan senang."
"Utusan mereka sudah tidak senang sejak semalam. Kau melihat wajahnya ketika Pak Karto mulai menabuh lesung?" Ia mengulurkan tangan, menangkap seuntai rambut Dyah Ayu yang jatuh di bahu, dan memutarnya di antara jemari. "Ia sedang menghitung berapa orang Watugaluh yang bisa mengangkat alu. Dan berapa banyak dari mereka yang bisa mengangkat tombak."
Dyah Ayu diam sejenak.
"Itu yang Gusti ingin ia hitung?"
"Itu yang ingin kuhitung sendiri." Hayam Vira melepaskan rambutnya. "Ternyata lebih banyak dari dugaanku."
***
Ia turun dari ranjang, mengenakan kain batiknya, dan berjalan ke jendela. Dari sana, atap-atap keraton terbentang sampai ke tembok luar. Di balik tembok itu, samar di bawah kabut pagi, garis pepohonan yang menandai aliran Kali Gending.
"Semalam, saat aku membawamu menembus kerumunan," ucapnya tanpa berbalik, "aku melihat obor di tepi Kali Gending. Satu obor. Tidak bergerak."
Dyah Ayu menyelesaikan kepangan rambutnya sebelum menjawab.
"Nelayan, barangkali, Gusti."
"Nelayan Kali Gending tidak keluar saat purnama. Ikan tidak naik ke permukaan kalau bulan terlalu terang. Ayahku yang mengajariku itu, waktu aku sebesar adikmu."
"Kalau begitu, nelayan yang tidak tahu apa yang diajarkan ayah Gusti."
Hayam Vira berbalik. Ia bersandar di kusen jendela dengan tangan terlipat, dan menatapnya dengan alis yang sedikit terangkat.
"Ia menunggu lama," ucapnya. "Obornya tetap menyala sampai aku melewati gerbang Kedaton. Lalu padam."
"Mungkin ia akhirnya mengerti bahwa ikannya tidak akan datang." Dyah Ayu berdiri, merapikan kemben sutra yang dipinjamnya dari dayang Kedaton. "Lebih baik pulang daripada menunggu sesuatu yang sudah memilih tetap di dasar sungai."
Raja itu menatapnya lama. Lalu ia mendengus, separuh tawa, dan menggeleng.
"Kau bahkan berbohong dengan tata bahasa yang rapi."
"Hamba tidak berbohong, Gusti. Hamba hanya tidak menyebut nama ikannya."
***
Ketukan di pintu bilik datang sebelum Raja itu sempat membalas.
Tiga ketukan. Berat dan tergesa. Abdi Dalem tidak pernah mengetuk seperti itu.
Mahapatih Gajahwira berdiri di ambang pintu ketika Hayam Vira membukanya. Lelaki tua itu sudah mengenakan destar dan kain kebesaran lengkap, dan ia jelas tidak tidur. Kantung matanya bengkak, dan tangannya yang memegang segulung lontar sedikit gemetar.
Ia melirik ke dalam bilik. Ke Dyah Ayu yang berdiri di samping ranjang. Lalu buru-buru menundukkan pandangannya ke lantai.
"Ampun, Sinuwun. Hamba tidak akan mengganggu kalau tidak terpaksa." Ia menyodorkan lontar itu dengan dua tangan. "Sebelum subuh, Rakryan Wiradipa dan Brahmana Agung mendatangi Balai Agung bersama tujuh brahmana candi. Mereka mengajukan dakwaan adat di hadapan Dewan Brahmana."
Hayam Vira membuka lontar itu. Ia membacanya sekali, cepat. Rahangnya mengencang di tengah bacaan, lalu ia memaksanya mengendur lagi.
"Terhadapku?"
"Sinuwun adalah pelindung adat, Sinuwun tidak bisa didakwa oleh adat yang Sinuwun lindungi." Mahapatih menelan ludah. "Dakwaan itu ditujukan kepada Selir Utama."
***
Balai Agung dipenuhi brahmana berjubah putih ketika mereka tiba.
Tujuh orang duduk bersila di undakan ketiga, tempat Dewan Tujuh biasanya duduk. Di tengah mereka, Brahmana Agung yang bermata katarak memegang lontar kuno yang sama dengan yang dibacanya kemarin pagi. Rakryan Wiradipa berdiri di sampingnya, kedua tangannya kembali tersembunyi di dalam lengan baju yang lebar.
Dyah Ayu tidak berdiri di balik tirai emas kali ini. Raja menyuruhnya berdiri di bawah undakan, di tempat terbuka, di depan semua orang.
"Dakwaan pertama," Brahmana Agung membaca dengan suara bergetar. "Membakar busana pusaka Persembahan Sanghyang, yang dijahit pada zaman Prabu ketiga dan disucikan setiap tahun selama dua ratus empat puluh tahun."
Bisik-bisik menjalar di antara para menteri.
"Dakwaan kedua. Mengenakan merah sumba, warna yang hanya boleh dikenakan Permaisuri di hadapan leluhur pada malam purnama."
"Dakwaan ketiga." Lelaki tua itu berhenti, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan. "Meninggalkan Persembahan Sanghyang sebelum sembah kesembilan, sehingga gong penutup tidak dipukul dan leluhur tidak menerima persembahan secara utuh."
Hayam Vira duduk di atas dampar kencana. Ia mengetuk lengan singgasana dengan jari telunjuknya, sekali, dua kali.
"Dakwaan ketiga itu," ucapnya, "seingatku, akulah yang menggendongnya turun dari pendapa."
Beberapa menteri muda menunduk lebih dalam, menahan sesuatu di bibir mereka.
Rakryan Wiradipa melangkah maju satu langkah dan membungkuk.
"Sinuwun tidak bersalah atas apa pun, Sinuwun hanya menjalankan kehendak sebagai Raja. Tetapi menurut adat, seorang penari Sanghyang memikul tanggung jawab atas keutuhan tariannya sendiri." Ia mengangkat wajahnya. Tenang. Sopan. "Jika penarinya tidak bisa menjaga dirinya tetap di atas pendapa sampai gong terakhir, itu kegagalan penari. Bukan kegagalan Raja."
Hayam Vira menatapnya. Lama.
"Kau mengatakan aku seharusnya membiarkannya terjatuh, Rakryan."
"Hamba mengatakan adat tidak memandang siapa yang mengangkatnya, Sinuwun. Adat hanya memandang siapa yang tidak menyelesaikannya."
***
Sidang adat dijadwalkan tiga hari lagi, di hadapan Dewan Brahmana dan seluruh Dewan Tujuh.
Hukumannya dibacakan di akhir dakwaan, tanpa ada yang bertanya: empat puluh kali cambuk di alun-alun, atau diusir dari Keputren dan dikembalikan ke status tawanan perang.
Dyah Ayu mendengarkannya dengan wajah tenang. Ketika Brahmana Agung selesai, ia menyembah sekali ke arah undakan.
"Hamba akan hadir," ucapnya. "Dan hamba mohon izin membawa saksi."
"Saksi siapa?" tanya Rakryan Wiradipa.
"Saksi yang bisa menjelaskan kenapa busana pusaka itu harus dibakar."
Lelaki tua berjanggut putih itu tidak menunjukkan apa pun di wajahnya. Tetapi tangannya bergerak sedikit di dalam lengan bajunya, dan Dyah Ayu melihat kain sutra di lengan itu bergeser, seolah jemari di baliknya mencengkeram sesuatu.
***
Bilik tahanan Kedaton berada di bawah tanah, di ujung lorong batu yang berbau lumut dan minyak jarak dari obor-obor yang menyala sepanjang hari.
Wening duduk di sudut ruangan, di atas tikar pandan yang sudah sobek. Kedua tangannya masih terikat di depan tubuh. Kemben cokelat polosnya kotor oleh debu lantai, dan rambutnya terurai, kusut, menutupi separuh wajahnya.
Lurah Lembu Peteng berjongkok di depannya. Ia sudah berjongkok di sana sejak matahari terbit, dan kini matahari sudah tergelincir.
"Siapa yang memberimu bumbung itu?"
Wening tidak menjawab. Ia hanya menggeleng, sangat cepat, seperti anak kecil yang menolak obat pahit.
"Kalau kau bicara, aku bisa meminta Sinuwun mengampunimu. Kau bisa pulang ke desamu."
Gadis itu mengangkat wajahnya untuk pertama kalinya. Matanya merah dan sembap. Bibirnya pecah-pecah.
"Tidak ada yang pulang," bisiknya. "Ia bisa masuk ke mimpi. Ia bisa masuk ke mana saja. Kalau aku bicara, ia akan tahu sebelum Lurah sampai di pintu."
"Siapa?"
Wening menggigit bibirnya sampai luka di sana terbuka lagi. Ia menunduk dan memeluk lututnya.
Lembu Peteng menunggu. Lalu ia berdiri, lututnya berbunyi setelah berjongkok terlalu lama. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.
"Apa yang kau butuhkan malam ini?"
Gadis itu tidak mengangkat kepalanya. Suaranya teredam di antara lutut.
"Sirih. Kalau boleh. Mulut hamba pahit sekali."
Lembu Peteng menatapnya, lalu menggeleng. "Tidak ada yang masuk ke bilik ini malam ini kecuali penjagaku. Tidak ada makanan, tidak ada sirih. Aku akan kembali saat ayam berkokok."
Ia menutup pintu kayu tebal itu dan memasang palangnya sendiri.
***
Ayam berkokok untuk kedua kalinya ketika teriakan penjaga menggema di lorong batu.
Dyah Ayu tidak mendengarnya. Ia mendengar langkah-langkah yang menyusul sesudahnya: kaki-kaki bersepatu yang berlari di atas batu, pintu-pintu yang dibanting, lalu suara Lurah Lembu Peteng yang meraung memanggil tabib.
Ki Bongkok membangunkannya di Srigading sebelum fajar dengan mengetuk papan lantai dari bawah. Tiga kali. Isyarat yang belum pernah mereka gunakan.
Ia tiba di lorong bawah tanah Kedaton bersama Raja, ketika obor-obor sudah dinyalakan semua dan Tabib Keraton sudah berlutut di samping tubuh di sudut bilik tahanan.
Wening berbaring miring di atas tikar pandan. Matanya setengah terbuka, menatap dinding. Tangannya masih terikat di depan tubuh. Tidak ada luka di lehernya, tidak ada darah di tikar, tidak ada tanda pergulatan. Seolah ia hanya tertidur dengan mata yang lupa terpejam.
Di sudut bibirnya, mengering, sebuah noda merah kecokelatan. Ludah sirih. Dan di antara giginya yang sedikit terbuka, masih terselip segumpal kecil daun sirih yang setengah dikunyah.
"Tidak ada yang masuk," ucap Lembu Peteng. Suaranya serak. Ia berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh. "Palangnya masih terpasang saat penjaga membukanya. Dua orangku berjaga di depan pintu sepanjang malam. Aku sendiri yang memilih mereka."
Tabib Keraton mengeluarkan gumpalan sirih itu dari mulut Wening dengan ujung sumpit bambu. Ia meletakkannya di atas sehelai daun pisang dan mendekatkannya ke obor.
Dyah Ayu melangkah mendekat. Ia mengendus udara di atas daun pisang itu. Sirih, kapur, pinang, dan sesuatu yang lain di bawahnya. Getir dan tajam di pangkal hidung, berbeda dari kecubung.
Tetapi yang menahan pandangannya adalah bentuk daun sirih itu. Gumpalan yang tidak dikunyah habis masih menyimpan lipatannya. Daun itu dilipat tiga kali menjadi segitiga kecil, lalu ujung-ujungnya ditekuk ke dalam dan disematkan dengan sebatang lidi yang sangat tipis.
Di belakangnya, Ki Bongkok mengeluarkan suara kecil. Lelaki tua itu berdiri di lorong dengan punggung bengkoknya bersandar di dinding batu, dan wajahnya yang penuh kerutan sudah kehilangan seluruh warnanya.
"Gusti," bisiknya. Hanya Dyah Ayu yang mendengarnya. "Hamba pernah melihat lipatan seperti itu sekali dalam hidup hamba."
Dyah Ayu tidak menoleh.
"Di mana, Ki?"
Ki Bongkok memejamkan matanya.
"Di bawah bantal Gusti Ratu Kusumawardhani. Pagi hari, sebelum beliau naik ke menara barat."
.. ke sini ... cerutqnya bagus loh
..