Rekaila Amanda tidak menyangka setelah dua tahun berpisah akan kembali dipertemukan dengan mantan suaminya. Reka, begitu ia akrab di sapa, memutuskan menjauhi kehidupan mantan suami dengan alasan yang hingga detik ini tidak diketahui oleh sang mantan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23.
Merasa rencananya berjalan dengan sempurna, sesuai dengan ekspektasi, mommy-nya Leon pun tersenyum dalam hati.
"Mana cucu gantengnya mommy? Mommy ingin menggendongnya."
"Baby Richard di kamar, mom. Sebentar, Reka akan mengajaknya ke sini." Reka berlalu ke kamar dan tak lama berselang, wanita itu kembali dengan menggendong putranya.
"Cucu gantengnya Oma....." Mommy langsung mengambil alih cucunya dari gendongan Reka.
Bayi laki-laki tersebut langsung mengukir senyum polosnya dan menyentuh wajah Omanya.
"Sayang...." Mommy-nya Leon terenyuh dengan pergerakan tangan baby Richard. Wanita paruh baya tersebut menghujani pipi cucunya dengan kecu-pan sayang. "Kamu benar-benar ganteng, nak. Wajahmu sangat mirip dengan Daddy-mu sewaktu kecil."
Mommy menoleh pada Reka.
"Sekalipun kamu ingin mengelak dan mengatakan bahwa dia bukan anaknya Leon, semut pun pasti tidak akan percaya."
Reka tertunduk mendengar kata-kata mommy, karena kenyataannya wajah putranya dan Leon bagaikan pinang dibelah dua.
"Kata orang, kalau wajah anak sangat mirip dengan ayahnya itu artinya sang ayah sangat mencintai ibu dari anaknya, nyonya." Sang pengacara keluarga terdengar berkomentar.
"Bukan sangat cinta lagi pak, Daddy-nya cucu saya bahkan hampir gila saat bercerai dulu. Kalau bukan karena dijodohkan, mungkin putraku yang malang ini tidak akan mau lagi mengenai wanita."
Leon sama sekali tidak menepis, karena faktanya memang demikian.
Reka langsung memandang Leon pada saat mendengar ucapan mommy. Begitu pula dengan Leon, pria itu pun mengarahkan pandangan pada ibu dari putranya, hingga sesaat pandangan mereka pun bertemu, sebelum akhirnya Reka yang lebih dulu memutuskan pandangan diantara mereka.
"Ohiya, mommy dengar Reka juga bekerja, benar begitu?." Mommy kembali memandang pada Reka.
Reka mengangguk mengiyakan. "Benar, mom." Kalau tidak bekerja, lalu darimana ia bisa mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, begitu dalam hati Reka saat ini. Hingga detik ini Reka belum pernah sekalipun menggunakan black card pemberian Leon, kecuali untuk membeli keperluan baby Richard. Ia tak ingin membebani Leon dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, karena mereka tak lagi terikat dalam hubungan apapun selain orang tua bagi baby Richard. Sudah cukup dengan memberi tumpangan, Reka tak mau lagi membebani Leon dengan kebutuhannya yang lain. Meskipun hampir setiap saat Leon mengingatkan dirinya untuk tak perlu sungkan menggunakan black card pemberiannya, tetap saja Reka enggan melakukannya.
"Kalau Reka sedang bekerja, kalian bisa menitipkan baby Richard pada mommy! Lagian, setelah mas Lexi memutuskan untuk pindah ke rumah baru mereka, kediaman Fernandez jadi sepi."
"Kalau Leon terserah Reka saja, mom." Kata Leon.
"Memangnya mommy tidak merasa direpotkan?." Reka akhirnya angkat bicara. Kini Reka duduk di sofa double yang berada di ruang tengah, berdampingan dengan mommy yang memangku baby Richard.
"Ada-ada saja kamu ini.... Mana ada seorang Oma merasa di direpotkan oleh cucunya sendiri. Kalau kalian ada urusan, mommy akan membawa baby Richard pulang bersama mommy dan kalian bisa menjemputnya lagi sore nanti!."
Leon mengangguk saat Reka meliriknya.
"Baik, mom." Balas Reka.
"Satu lagi, dulu kalian hanya melangsungkan pernikahan secara sederhana, tidak ada perayaan apapun. Kalau boleh saat menikah lagi nanti, mommy ingin kalian mengadakan pesta!." Sekedar saran dari mommy. Sepulang dari apartemen semalam, mommy mendatangi apartemen asisten Kiran. Wanita paruh baya tersebut mengulik banyak informasi dari asisten pribadi putranya tersebut dan salah satu informasi yang cukup mengejutkan bagi mommy-nya Leon adalah kebenaran tentang Reka yang bukan anak kandung dari tuan Hafidz. Awalnya asisten Kiran enggan memberikan informasi apapun, akan tetapi ancaman mommy-nya Leon mampu membuat pria itu membuka mulut.
Jujur, setelah mengetahui bahwa Reka bukanlah anak kandung dari keluarga yang selama ini dianggapnya sebagai orang tua kandungnya, membuat mommy-nya Leon merasa iba pada ibu dari cucunya tersebut. Kini ia sadar, mengapa perlakuan tuan Hafidz dan sang istri pada Reka begitu berbeda dari perlakuan mereka pada sang putri bungsu, rupanya Reka hanyalah anak adopsi.
Baik Leon maupun Reka belum merespon saran mommy untuk melangsungkan resepsi pernikahan.
Beberapa saat kemudian, mommy berpamitan. Wanita itu membawa sang cucu bersamanya.
Sepeninggal mommy, suasana di apartemen terasa canggung bagi Reka. Setelah resmi berpisah, ini kali pertama ia dan Leon berduaan saja tanpa embel-embel urusan pekerjaan.
"Tidak perlu canggung seperti itu! Kita telah memiliki baby Richard, dan pastinya untuk mendapatkan baby Richard, kita sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar berduaan saja, Reka."
Nampak semburat merah di wajah cantik Reka saat mendengar Leon berkata demikian. "Kamu ngomong apa sih, mas."
"Mas hanya sekedar mengingatkan saja agar kamu tidak perlu merasa canggung seperti ini saat kita hanya berdua saja."
"Hmm."
"Reka....."Kini mimik wajah Leon berubah lebih serius.
Reka lantas menoleh pada Leon yang kini menempati sisi sofa yang sebelumnya ditempati oleh mommy.
"Mengapa dulu kamu meminta cerai dari mas hanya karena ayahmu sering meminta uang kepada mas?."
Hening untuk sesaat, Reka menatap wajah serius Leon.
"Orang serakah seperti mereka tidak pantas mengambil keuntungan dari orang sebaik kamu, mas."
"Tapi mas sanggup untuk memberikannya, Reka. Uang yang mereka minta pun tidak akan membuat mas sampai jatuh miskin. Seandainya sejak awal mas tahu kalau itu alasan kamu yang sebenarnya, mas pasti tidak akan menuruti keinginan kamu untuk bercerai."
"Tapi pada akhirnya, mas juga bersedia menceraikan aku."
"Mas sangat mencintaimu, Reka. Mas tidak sanggup mengekang kamu dalam belenggu pernikahan yang justru tidak membawa bahagia untukmu. Seandainya kamu tahu bagaimana hancurnya hati mas dulu, saat kamu mengatakan tidak akan pernah mencintai mas sampai kapanpun? Sakit, rasanya sakit sekali, Reka."
Mendengar kalimat terakhir Leon mampu membuat hati Reka menjerit.
"Aku justru melakukan semua karena aku sangat mencintaimu, mas." Batin Reka. Wanita itu merasa belum sepantasnya mengakui semua ini sekarang, karena ia belum bertemu dan meminta maaf pada Georgina.
"Tapi sekarang, mas tak lagi peduli dengan cinta kamu. Jika kita kembali bersama nanti, mas tidak akan pernah melepaskan kamu lagi, sekalipun kamu tidak akan pernah mencintai mas. Cinta mas untukmu, itu saja sudah cukup."
Mungkin karena terlalu terbawa suasana, Reka hanya diam saja tatkala Leon perlahan tapi pasti terus mengikis jarak diantara mereka, hingga akhirnya pria itu menempelkan bi-birnya pada bi-bir mungilnya. "Cup." Hanya sebuah kecu-pan singkat namun mampu membuat jantung Reka seperti ingin melompat dari tempatnya.
"Terima kasih telah bersedia kembali bersama mas, Reka. Walaupun kamu melakukannya hanya demi anak kita, mas tetap bahagia." Ungkap Leon setelah menyudahi kecu-pannya.
*
Di waktu yang sama, mobil Georgina baru saja tiba di alamat restoran yang dikirimkan Ibnu semalam. Wanita itu menyapu pandangan pada deretan mobil yang terparkir di halaman restoran, mencari keberadaan mobil Ibnu.
"Ternyata dia sudah tiba lebih dulu." Gumam Georgina setelah berhasil menemukan keberadaan mobil Ibnu.
Mana bintang 🌟🌟🌟🌟🌟 sayang-sayangnya aku......😍😍🥰🥰🥰😘😘😘😘
Ibnu lebih gila lagi...