Menikahi seorang duda beranak tiga dipikirnya akan membawa kebahagiaan baru, namun kenyataan menjadi ibu tiri ternyata jauh lebih rumit dari yang dibayangkan. Di balik pintu rumah yang tampak sempurna, ia harus berhadapan dengan penolakan halus, bahkan kasar, serta dinamika tiga anak dengan karakter yang bertolak belakang.
Mampukah Ayu meluluhkan hati anak-anak tirinya dan mempertahankan rumah tangganya, atau justru menyadari bahwa ketulusan saja tidak pernah cukup?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17: Liburan Akhir Pekan
Sabtu pagi menyapa Jakarta dengan cuaca yang sangat cerah. Langit biru membentang tanpa awan, membiaskan sinar matahari hangat yang menembus sela-sela pepohonan di pekarangan rumah Yoga.
Sejak pukul lima pagi, Ayu sudah sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk perjalanan akhir pekan yang telah direncanakan suaminya.
Yoga ingin memanfaatkan akhir pekan ini sebagai momen family bonding, sebuah upaya besar untuk melelehkan kebekuan dan mendekatkan hubungan antara Ayu dan kedua anak remajanya.
Tempat wisata alam yang dipilih berada di kawasan dataran tinggi yang sejuk, lengkap dengan pemandangan perbukitan hijau, wahana permainan keluarga, dan spot-spot foto yang indah.
Ayu menata beberapa wadah bekal berisi camilan, roti isi, potongan buah segar, serta beberapa botol air mineral ke dalam tas piknik besar. Meski lengannya yang dulu terluka sudah sembuh total, rasa gugup di hatinya justru kian membuncah.
"Semoga perjalanan hari ini bisa membuat suasana lebih cair..." bisik Ayu dalam hati sembari merapikan jilbab segiempat berwarna krem yang dipadukan dengan gamis santai yang anggun.
Namun, harapan manis itu langsung dibenturkan oleh kenyataan pahit saat waktu keberangkatan tiba pada pukul tujuh pagi.
Di ruang tengah, Kenzo dan Lea berdiri bersedekap dada dengan raut wajah yang sangat masam. Keduanya sudah mengenakan pakaian santai, Kenzo dengan jaket hoodie abu-abu dan celana jeans, sementara Lea mengenakan kaus kasual dan celana kargo.
"Papa, aku gak mau ikut," cetus Kenzo datar, sambil menatap ayahnya yang sedang merapikan barang di dalam bagasi mobil SUV hitam mereka.
"Iya, Pa. Kenapa kita harus ikut sih? Kalau tahu wanita itu ikut, Lea mending di rumah aja atau main sama temen-temen!" Timpal Lea, dengan suara yang lebih tajam dan ketus.
Yoga menghentikan aktivitasnya, berbalik, dan menatap kedua anak remajanya dengan pandangan mata yang sangat tegas dan berwibawa. Raut wajahnya tidak menunjukkan toleransi sedikit pun untuk penolakan kali ini.
"Cukup, Kenzo, Lea!" tegur Yoga dengan suara yang dalam. "Papa tidak menerima alasan apa pun hari ini. Kita ini satu keluarga. Tidak ada yang tinggal di rumah. Kalian berdua harus ikut!"
"Tapi, Pa—" sela Lea protes.
"Gak ada tapi-tapi, Lea!" potong Yoga cepat dan mantap. "Masuk ke mobil sekarang. Papa tidak mau mendengar keluhan lagi."
Melihat ketegasan ayahnya yang tidak bisa dibantah, Kenzo dan Lea hanya bisa mendengus kesal.
Dengan langkah kaki yang dihentak-hentakkan kasar, keduanya masuk ke dalam mobil SUV tersebut. Kenzo mengambil posisi di kursi baris ketiga paling belakang, sementara Lea duduk di baris kedua dekat jendela, dan memilih menyendiri di sudut.
Ayu yang menyaksikan perdebatan kecil itu hanya bisa menghela napas halus. Ia lalu melangkah masuk ke dalam mobil, mengambil tempat di baris kedua di samping Moana yang sudah duduk manis di car seat anak-anak. Sementara Yoga mengambil alih kemudi di depan.
Roda mobil SUV hitam itu meluncur membelah jalan tol menuju kawasan pegunungan. Perjalanan yang memakan waktu hampir tiga jam itu diwarnai oleh atmosfer yang sangat kontras di dalam kabin mobil.
Di baris belakang dan sudut jendela, Kenzo dan Lea benar-benar mengisolasi diri. Keduanya memasang earphone di telinga masing-masing, menundukkan kepala, dan sibuk mengusap layar ponsel pintar mereka tanpa henti.
Wajah mereka membeku dalam ekspresi dingin, seolah-olah menolak hadir di dalam ruang yang sama dengan Ayu.
Sebaliknya, di sisi lain kabin, Moana menjadi sumber keceriaan yang tak pernah padam. Gadis kecil itu duduk menempel di samping Ayu, matanya yang bulat menatap berbinar-binar ke luar jendela melihat pemandangan pepohonan dan jalanan yang mendaki.
"Ibu! Lihat itu! Ada gunung gede banget!" seru Moana riang sambil menunjuk ke arah bukit hijau di kejauhan.
Ayu merangkul bahu kecil Moana dengan lembut, seraya mengulas senyum hangat yang memancarkan kasih sayang tulus. "Iya, Sayang... Itu namanya perbukitan. Nanti di atas sana udaranya makin dingin, lho."
"Wah, asyik! Moana mau lihat bunga-bunga sama main ayunan besar di sana nanti sama Ibu!" celoteh Moana tanpa henti, sambil menyandarkan kepalanya yang beraroma sampo bayi ke lengan Ayu.
Melihat keakraban dan kemanjaan Moana pada Ayu, dada Lea serasa dihantam gelombang cemburu yang amat pekat.
Dari sudut matanya, Lea memperhatikan bagaimana tangan Moana memeluk erat pinggang Ayu, serta bagaimana Ayu mengusap pelipis Moana dengan begitu telaten.
Setiap tawa kecil yang keluar dari mulut adik bungsunya terasa seperti pengkhianatan bagi kenangan almarhumah ibu mereka.
Rasa benci di hati Lea pun kian membara hebat.
Mencoba menjadi ibu tiri yang baik dan merangkul semua anak, Ayu membuka tas bekal di pangkuannya. Ia mengambil satu wadah berisi potongan buah stroberi dan apel yang sudah diiris rapi.
Ayu membalikkan badannya sedikit, dan menatap Lea dengan senyuman paling tulus yang ia miliki.
"Lea... Mau buah segar? Ini Ibu sudah cuci dan potongkan stroberi manis," tawar Ayu selembut mungkin, sambil mengulurkan wadah buah itu ke arah Lea.
Namun Lea sama sekali tidak menoleh. Gadis remaja itu tetap menatap lurus ke arah layar ponselnya, dan pura-pura tidak mendengar panggilan Ayu meski jarak mereka hanya beberapa puluh sentimeter.
Ayu menahan napas pelan, lalu mencoba mengalihkan pandangannya ke baris paling belakang tempat Kenzo duduk.
"Kenzo... Mau roti isi atau buah?" tawar Ayu lagi, dan berusaha pantang menyerah.
Sama halnya dengan adiknya, Kenzo tidak menyahut sedikit pun. Ia hanya memiringkan posisinya menghadap jendela luar, dan membiarkan pertanyaan Ayu menggantung dingin di udara kabin mobil.
Ayu perlahan menarik kembali tangannya, dan menutup wadah buah itu rapat-rapat. Ada denyut nyeri yang menyengat di ulu hatinya, namun ia berusaha menguasai raut wajahnya agar Yoga tidak menangkap kekecewaan tersebut.
Tak lama kemudian, Yoga melirik ke arah kaca spion tengah. "Kenzo, Lea, jalan tol di depan sepertinya agak macet. Kalian mau minum atau makan bekal dulu?" tanya Yoga.
Seketika itu juga, seolah sihir dingin meluntur saat sang ayah berbicara, Kenzo melepaskan satu earphone nya dan menjawab dengan suara sopan. "Gak usah, Pa. Aku masih kenyang."
Lea pun ikut merespons dengan cepat. "Iya, Pa. Lea juga nanti aja makan pas sampai di lokasi."
Ayu yang menyaksikan perbedaan sikap itu hanya bisa menundukkan kepalanya sambil meremas jemarinya sendiri di balik lipatan gamis.
Penolakan halus namun menyolok itu mempertegas garis batas yang dibuat kedua anak remajanya. Mereka hanya mau menganggap Yoga, dan sepenuhnya menganggap Ayu sebagai angin lalu.
Bersambung...