Hai, ceritanya aku revisi lagi ya! ada beberapa kalimat yang di tambah dan di hilangin!
Laura Hendrik wanita cantik yang berusia 21 tahun, terpaksa menikah dengan pria asing karena kesalah pahaman dari warga yang mengira mereka tengah kumpul kebo.
Namun bagaimana jika orang asing itu adalah Arvin Indorto, musuh bebuyutan nya sejak kecil? apakah akan tumbuh benih cinta di antara mereka? atau pernikahan mereka akan kandas begitu saja?
Tidak ketinggalan sosok pria tampan yang selalu membuat hati Laura menghangat, kisah cinta segitiga antara mereka akan di mulai!
Yuk ikutin kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dina yuwita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah sakit
Bau disinfektan langsung menusuk hidung seorang pria yang baru memasuki ruangan VIP, terlihat di sana terbaring sosok wanita paruh baya dengan tubuh yang di penuhi banyak alat medis. perlahan pria itu melangkah mendekat dan duduk di samping brankar.
"Mama" ucap pria itu menatap nanar wajah pucat wanita yang melahirkannya ke dunia. "Maaf kalo belakangan ini aku jarang nemenin Mama disini. Mama pasti kesepian kan" bibirnya tersenyum kecil namun kedua matanya mengeluarkan cairan bening.
"Mama tau, aku suka sama seseorang tapi...." Fiza tidak melanjutkan kalimat, mengingat wajah wanita yang sudah bersemayam di dalam hatinya. "Maaf Ra"
Ya, Fiza yang seharusnya bersama Laura kini justru berada di rumah sakit. bukan karena lupa atau sengaja tidak ingin bertemu. namun tepat ketika dirinya ingin masuk ke mobil, seseorang yang beberapa jam lalu memukulnya tiba-tiba muncul hingga terpaksa membatalkan pertemuan dengan Laura.
Saat itu Aldi memperlihatkan sebuah video dimana alat medis yang membantu hidup mama nya di lepas satu persatu. alat itu akan terpasang kembali dengan syarat asalkan Fiza berhenti mengejar Laura, wanitanya. tentu saja sebagai anak Fiza langsung saja setuju. karena semenjak Mama koma akibat kecelakaan 10 tahun lalu, keluarga Aldi lah yang membiayai seluruh perawatan dan juga sekolah nya, mengingat mereka bukanlah orang yang berada.
Ceklek
Suara kenop pintu yang di buka mengalihkan pandangan Fiza, dalam sekejap suhu ruangan langsung berubah saat mata kedua pria jangkung itu saling bertatapan dengan tajam.
"Apa lagi?" tanya Fiza tanpa ekspresi pada sahabat atau sekarang bisa di bilang sebagai musuh.
"Anda tau sendiri saya dokter di sini dan tentu kedatangan saya untuk memeriksa keadaan pasien" jawab Aldi tersenyum lebar.
"Cih...langsung ke inti maksud kedatangan Lo kesini"
Mendengar kalimat sinis tersebut, Aldi tertawa tanpa suara sambil berjalan mendekat. "Gimana kabar bibi ku yang tersayang" Aldi mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah Irma namun segera di tepis oleh Fiza.
"Jangan sentuh Mama gue!" tegas Fiza menggertakkan gigi. jika dia tidak memikirkan posisinya saat ini, mungkin dia akan menghajar Aldi tanpa ampun.
"Wow tenang, nggak akan gue apa-apain. asalkan Lo nggak melanggar kesepakatan kita tadi, maka nyokap Lo akan baik-baik aja" bisik Aldi menyeringai kemudian berbalik pergi meninggalkan ruangan.
Ruang rawat VIP itu kembali sunyi, hanya ada suara alat-alat medis. Fiza kembali duduk menggenggam jemari sang Mama, seolah membantu mengurangi tekanan yang sedang dia alami.
"Tunggu! darimana dia tau kalau aku suka sama Laura?" kening Fiza berkerut menyadari hal ini. kecuali satu hal, Aldi mengirimkan mata-mata untuk mengawasinya selama ini.
*
*
*
Saat baru membuka pintu Laura tertegun ketika melihat sosok yang sejak tadi malam dia hindari kini sudah berada di depannya. ya, semalam setelah sampai di rumah Laura segera mengunci pintu kamar agar Arvin tidak bisa masuk. dia tidak ingin sampai tetangga bangun di tengah malam karena keributan akibat dirinya lepas kendali dengan menghajar habis-habisan atas apa yang telah di perbuat oleh bajingan tengil itu.
Seolah tidak ada siapapun, Laura kembali melanjutkan aktivitas pagi hari. walaupun ada sedikit rasa risih karena sejak tadi sepasang mata terus menatapnya tanpa henti dari pantulan kaca. setelah di rasa penampilannya sudah rapi, Laura meraih tas beserta laptop bersiap untuk berangkat ke kampus.
"Kemana?" tanya Arvin menghadang jalan keluar.
"Bukan urusan Lo!" ketus Laura menepis tangan yang menahan pintu.
Brak
"Gue sebagai suami berhak tau semua urusan Lo, jadi jawab?!" Bentak Arvin menggebrak pintu dengan sangat kuat, membuat Laura mundur satu langkah. mungkin jika yang ada di posisi nya saat ini seorang lansia, maka dapat di pastikan orang tersebut meninggal di tempat.
"Gue mau ke kampus, puas sekarang?" Laura menatap tajam pria yang sudah berani membentak, padahal dia tidak melakukan kesalahan apa pun.
"Sepagi ini, Lo pikir gue percaya?" Arvin terkekeh sinis
"Terserah" ucap Laura malas meladeni omongan yang menurutnya tidak jelas. "Seharusnya kan gue yang marah, kenapa malah kebalik" batin Laura berdecak kesal.
Baru saja berjalan dua langkah, Laura langsung merasakan tubuhnya melayang. "Awh, Arvin apa yang Lo lakuin!" maki Laura karena pria itu tiba-tiba menggendong dan menghempaskan tubuhnya dengan cukup keras di atas kasur. untung saja empuk, bagaimana kalau tidak? tulangnya bisa patah kan.
"Iya gue gila dan itu karena Lo!" bisik Arvin menghimpit tubuh wanitanya.
"Vin Lo mau apa, jangan macem-macem. Minggir sekarang, Mila udah nungguin gue" Laura berusaha keras mendorong tubuh Arvin, namun tenaganya kalah kuat apalagi sekarang kedua tangannya terkunci menjadi satu di atas kepala.
"Nggak akan sebelum semua yang ada di tubuh Lo jadi milik gue" mata Laura melotot, dia tau betul maksud dari ucapan Arvin yang artinya harus menyerahkan mahkota miliknya sekarang juga.
Belum sempat Laura menolak, perkataannya langsung tertelan begitu benda kenyal dan basah meraup bibirnya secara kasar "Gue mohon jangan sekarang Vin" pinta Laura ter-engah setelah ciuman yang cukup panjang.
"Kenapa? Apa Lo pikir gue nggak sehebat sialan itu untuk bikin Lo puas?" sindir Arvin sambil menekan bagian inti Laura yang masih berbalut celana kulot.
"Maksud Lo apa huh?" Laura mengernyit bingung
"Lo tau persis apa maksud gue!" tanpa aba-aba, Arvin langsung kembali menyatukan bibi mereka. bahkan dia dengan ganas merobek baju yang di kenakan Laura hingga kini polos tanpa sehelai benangpun. melahap rakus dua gundukan kenyal yang begitu pas di genggaman, tanpa mengindahkan suara wanita yang sejak tadi meronta untuk di lepaskan.
"Vin aaaakkhhhh, cukup!ini sakit!" teriak Laura menangis mencengkram erat kasur ketika Arvin memaksa sesuatu di bawah sana menerobos masuk ke intinya secara kasar.
Sejenak Arvin diam menatap wajah kesakitan wanita di bawah kungkunhannya. "***** dia masih virgin" umpatnya yang kini justru bingung harus bagaimana, lanjut atau berhenti di sini. Akhirnya Arvin memilih untuk meneruskan, sudah kepalang masuk. namun kali ini ia lakukan dengan sangat pelan dan lembut sampai rasa sakit yang Laura rasakan berubah jadi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan.
*
*
*
*
Bersambung.....
Yuk dukung karya ku dengan cara😍
🤍Like
🤍 Komen
🤍 Fav/Subscribe
🤍 Hadiah/Vote sebanyak-banyaknya 😻