sejak lahir, dia tak sempurna.
ibunya ditinggalkan pergi oleh sang ayah, saat ia masih dalam kandungan.
sang ibu mengandung seorang diri, karena bapaknya pergi mencari nafkah dan biaya persalinan sang ibu.
sampai ia lahir ayahnya tak menghendakinya dan datang membawa madu untuk ibunya.
sejak lahir penduduk desa mengatakannya pembawa petaka, karena ia lahir tak sempurna. kini ia hidup berdua bersama sang ibu.
sementara sang ayah pergi dengan wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon atikah@72, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amplop Putih Dari Jakarta
Pagi dirumah Bintang, Padang Sabana Kolorai.
Angin timur masih kencang bawa debu, tapi pintu kayu jati Rumah Bintang yang semalam ditutup rapat itu sudah dibuka lagi.
Sari, Johan, dan Bintang yang demamnya sudah turun jadi 37,5 duduk di dipan kayu jati. Di depan mereka, di atas dipan yang sama tempat Bintang dulu kejang sebelum donor sumsum, ada satu amplop putih yang belum dibuka sejak 3 hari lalu.
Amplop putih asli dari Yayasan Bintang Kecil Jakarta. Bukan yang palsu dari PT Nikel kemarin yang bawa koper ratusan juta.
Amplop ini datang tiga hari lalu, sebelum Bintang diculik, sebelum Sari pendarahan, sebelum video viral tiga juta views. Waktu itu Sari tidak sempat buka karena sibuk selamatkan Bintang.
Mama Leni datang dari dapur bawa air hangat, "Buka saja Sari, sudah beberapa hari, siapa tahu itu rezeki asli, bukan seperti yang palsu kemarin."
Johan dengan tongkatnya, pegang amplop itu, tangannya gemetar, "Sari, kalau ini sama seperti kemarin, yang mau beli tanah dan Bintang, kita bakar saja. Tapi kalau ini asli..."
Sari ambil amplop itu. Kertasnya tebal, putih bersih, ada stempel asli Yayasan Bintang Kecil Jakarta Pusat, bukan fotocopy seperti yang palsu kemarin. Ada tulisan tangan di depannya, "Untuk Adik Bintang yang Ajaib dari Kolorai - Dari Ibu Ani".
Sari buka pelan-pelan, seperti setahun lalu dia buka sertifikat tanah warisan ayahnya.
Di dalamnya ada dua surat dan satu cek.
Surat pertama, tulisan tangan:
_"Bu Sari yang baik, saya Ibu Ani, ketua Yayasan Bintang Kecil Jakarta. Saya nonton video Ibu Sari melahirkan Bintang sendirian di badai setahun lalu yang viral di TikTok 5 juta views. Saya nangis.
Saya punya anak juga cacat kaki seperti Bintang, tapi sudah meninggal karena tidak ada donor sumsum seperti Bintang. Saya ingin Bintang jadi duta yayasan kami, bukan untuk dijual, tapi untuk cerita ke anak-anak cacat lain kalau mereka bisa berlari seperti Bintang. Kami kirim 100 juta bukan untuk beli Bintang, tapi untuk bangun Rumah Bintang di Kolorai jadi klinik kecil untuk ibu-ibu melahirkan seperti Ibu dulu.
Dan kami ingin undang Ibu, Johan, Bintang ke Jakarta bulan depan, semua biaya kami tanggung, untuk ketemu anak-anak kami. Tidak ada paksaan jual tanah. Tanah dua hektar itu milik Ibu. Kami cuma mau bantu._
_PS: Saya dengar PT Nikel pakai nama kami untuk tipu Ibu. Itu palsu Bu, kami sudah lapor polisi. Kami yayasan asli, bukan anak perusahaan tambang._
_Salam sayang, Ibu Ani"_
Surat kedua, cek asli Bank Mandiri ratusan juta, atas nama Sari, bisa dicairkan di Bank Mandiri Waingapu.
Sari baca surat tulisan tangan itu keras-keras di Rumah Bintang, suaranya gemetar, air matanya jatuh ke cek seratus juta itu.
Johan yang baca juga, tongkatnya jatuh, dia peluk Sari dan Bintang di dipan kayu itu.
"Jadi... ini yang asli... bukan yang mau beli tanah dua hektar lima puluh juta... ini yang mau bantu bangun klinik... untuk ibu-ibu seperti Sari yang melahirkan sendirian..." Johan nangis, pertama kalinya sejak lumpuh, Johan nangis keras seperti anak kecil.
Bintang yang demamnya sudah turun, lihat ibunya nangis, ikut nangis, tapi sambil pegang foto dirinya yang bisa berlari di sabana, foto yang kemarin dia bilang "Rumah jangan jual".
Mama Leni yang dengar, langsung sujud syukur di tanah sabana depan Rumah Bintang, "Ya Allah... masih ada orang baik di Jakarta..."
Tapi kebahagiaan itu cuma sepuluh menit.
Tiba-tiba, dari jauh di padang sabana, suara motor trail merah itu lagi! Motor yang sama yang culik Bintang 2 hari lalu! Yang kemarin parkir jauh lihat Rumah Bintang!
Motor itu datang kencang, bukan 1, tapi 3 motor trail merah! Debu sabana naik tinggi!
Orang kacamata hitam yang kemarin bawa koper ratusan juta itu datang lagi! Tapi kali ini tidak pakai kemeja putih, pakai jaket hitam lagi, dan bawa surat baru, bukan koper uang!
Dia berhenti depan Rumah Bintang, lihat Sari pegang cek ratusan juta asli itu, dan ketawa sinis,
"Wah, dapat 100 juta asli ya Bu Sari? Dari yayasan asli? Selamat ya Bu. Tapi sayang Bu, tanah 2 hektar ini sudah kami gugat di Pengadilan Negeri Waingapu pagi ini. Ini surat gugatannya. Karena Ibu tolak jual 50 juta kemarin, sekarang kami gugat gratis, kami bilang tanah ini tanah sengketa negara, bukan warisan ayah Ibu. Sidangnya minggu depan.
Kalau Ibu menang, silakan pakai 100 juta itu bangun klinik. Kalau Ibu kalah, tanah dan Rumah Bintang ini jadi milik PT Nikel, dan Ibu harus kembalikan 100 juta itu untuk bayar denda pengrusakan kaca 15 juta plus pencemaran nama baik video viral 3 juta views itu, total denda dua ratusjuta!"
Dia lempar surat gugatan pengadilan itu ke tanah sabana depan Rumah Bintang, debu terbang kena surat itu.
"Oh iya Bu, satu lagi," dia lanjutkan, "Anak Ibu Bintang itu, kami sudah daftarkan ke Dinas Sosial sebagai anak terlantar karena Ibu hamil pendarahan tidak mampu jaga anak, jadi minggu depan Dinas Sosial akan ambil Bintang ke panti asuhan Waingapu, demi kebaikan Bintang. Sampai jumpa di pengadilan Bu Sari, ibu hamil yang pecahkan kaca!"
3 motor trail merah itu pergi lagi, tinggalkan debu dan surat gugatan di tanah.
Sari pegang cek 100 juta asli itu, pegang surat tulisan tangan Ibu Ani yang baik itu, dan lihat surat gugatan pengadilan yang di tanah itu.
100 juta asli untuk bangun klinik vs gugatan tanah gratis + Bintang mau diambil Dinas Sosial + denda ratusan juta.
Baru saja selamat dari pendarahan, baru saja Bintang selamat dari kejang, baru dapat rezeki asli, sekarang datang musibah lebih besar.
Johan ambil surat gugatan itu dari tanah, bacanya, tangannya gemetar lebih keras dari saat baca surat seratus tiga puluh juta kemarin.
"SIDANG TANAH 2 HEKTAR... 7 HARI LAGI... DI PN WAINGAPU... PENGGUGAT: PT NIKEL SEJAHTERA... TERGUGAT: SARI KOLORAI... OBJEK SENGKETA: TANAH 2 HEKTAR + RUMAH BINTANG... TUNTUTAN: GANTI RUGI 200 JUTA..."
Bintang yang lihat ayahnya gemetar, tiba-tiba berdiri dari dipan kayu, dengan kaki yang dulu bengkok yang sekarang bisa berlari, Bintang berlari kecil ke depan Rumah Bintang, ambil surat gugatan itu dari tangan Johan, sobek jadi dua!
"BINTANG JANGAN! ITU SURAT PENGADILAN NAK!" Mama Leni teriak!
Tapi Bintang yang umur 1 tahun 15 hari itu, yang dulu dibilang kutukan, yang bisa berlari karena cinta tanpa syarat, sobek surat gugatan itu sambil bilang dengan suara jelas pertama kalinya kalimat panjang,
"Rumah Bintang... tidak... dijual... Bintang... tidak... panti..."
Surat gugatan itu sobek jadi dua di tangan Bintang, tertiup angin timur sabana, terbang ke arah Waingapu, ke arah Jakarta.
Sari peluk Bintang yang baru sobek surat pengadilan itu, Johan peluk keduanya dengan tongkatnya.
Di tangan Sari masih ada cek 100 juta asli dari Ibu Ani yang baik.
7 hari lagi sidang. 7 hari untuk selamatkan tanah 2 hektar, Rumah Bintang, dan Bintang dari panti asuhan.
Apakah 100 juta itu cukup untuk sewa pengacara di Waingapu? Apakah video viral 3 juta views itu bisa jadi bukti kalau PT Nikel yang jahat? Apakah Ibu Ani dari Jakarta asli akan datang bantu?
Sari lihat ke langit sabana Kolorai yang mendung lagi, seperti setahun lalu saat dia melahirkan sendirian di badai.
"Bintang, Mama tidak akan biarkan kamu ke panti asuhan nak, seperti Mama tidak biarkan kamu dibuang ke laut setahun lalu..."
Silahkan jawab DATANG atau TIDAK
jawaban terbaik akan jadi Masukkan ke bab berikutnya. Terimakasih.