NovelToon NovelToon
SULUNG

SULUNG

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Action / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DIFAN2

Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.

Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aura sang panglima

Penyusuran menembus kanopi Alas Purba malam itu terasa sangat mistis sekaligus menyiksa bagi Hera Grahansa.

Sulung berjalan dengan langkah-langkah yang stabil, cepat, dan terukur. Keseimbangan tubuh pria itu luar biasa mengagumkan, dia melompati dahan-dahan pohon raksasa seolah hukum gravitasi bumi tidak berlaku baginya.

Sementara itu, Hera yang berada di atas pundak Sulung terpaksa pasrah.

Kepalanya yang menggantung ke arah bawah membuat pandangannya berputar. Dia terpaksa melihat kegelapan lantai hutan yang jauh di bawah mereka, diselimuti kabut tebal yang merayap lambat di antara jalinan akar raksasa.

Aroma tubuh Sulung yang maskulin—campuran bau kayu gaharu, keringat bersih, dan hawa dingin hutan—memenuhi indra penciuman Hera, perlahan menggeser keharuman manis dari bunga Dream Flower yang melekat di jaket gunungnya.

Setelah beberapa menit menembus keheningan malam yang mencekam, Sulung akhirnya melakukan lompatan panjang dari dahan terendah.

Tubuhnya meluncur mulus, mendarat tanpa suara di atas permukaan tanah merah yang gembur. Begitu kakinya menapak bumi, dia berjalan beberapa meter menuju sebuah area tebing batu yang agak terlindung dari embusan angin malam.

Dengan gerakan yang cepat namun tetap menjaga agar tawanannya tidak terempas ke tanah, Sulung menurunkan Hera dari pundaknya. Dia melepaskan kuncian lengannya, membiarkan kedua kaki sepatu bot gunung wanita itu kembali berpijak di atas tanah basah.

Begitu cengkeraman itu lepas, Hera langsung melangkah mundur tiga kali secara refleks. Dia merapatkan punggungnya pada dinding tebing batu yang dingin, menatap pria di depannya dengan pandangan yang berapi-api penuh amarah berbaur waspada.

Tangannya bergerak cepat, meraba ransel kecil di punggungnya untuk memastikan kantung sampel berisi Dream Flower miliknya masih aman di dalam sana.

Sulung berdiri tegak di hadapan Hera, berjarak sekitar dua meter. Di bawah temaram cahaya bulan yang menembus celah pepohonan purba, garis-garis ketampanan liarnya terlihat semakin jelas.

Matanya yang tajam sewarna elang malam menatap lurus ke dalam manik mata Hera. Tangan kanannya bertumpu santai pada gagang pedang Khanjar kuno yang terikat di pinggangnya. Pria itu tidak bicara, namun postur tubuhnya memancarkan otoritas kekuasaan yang mutlak dan menuntut kepatuhan.

"Siapa kau?" tanya Hera dengan suara yang diusahakan setegas mungkin, meskipun bibirnya sedikit bergetar karena hawa dingin yang menusuk. "Dan tempat apa ini? Aku punya hak untuk tahu! Aku seorang profesor dari kota."

Sulung tidak langsung menjawab. Dia hanya diam, membiarkan kesunyian hutan menjawab pertanyaan wanita itu. Matanya menyapu pakaian gunung modern Hera yang dinilainya sangat aneh, lalu pandangannya beralih pada tas ransel kecil di punggung wanita itu.

Hidungnya mengendus udara tipis di antara mereka. Aroma manis yang khas dari bunga suci tidak bisa membohongi insting tajamnya.

"Kau mengambil bunga suci klan kami," ucap Sulung akhirnya. Suaranya terdengar sangat dingin, berat, dan setiap katanya diucapkan dengan artikulasi yang penuh tekanan rendah.

"Aku hanya mengambil sampel untuk penelitian medis!" balas Hera keras kepala. Dagunya terangkat menantang, menolak untuk tunduk begitu saja pada pria berpakaian kulit binatang ini.

"Ibuku sedang sakit keras di kota, dia menderita kanker otak. Bunga itu bisa menjadi kunci obat untuk menyelamatkan nyawanya! Aku tidak punya niat buruk untuk merusak hutanmu atau apa pun!"

Sulung mengambil satu langkah maju. Pergerakan kecil itu mendadak membuat atmosfer di sekitar tebing batu terasa sangat menekan, seolah-olah pasokan oksigen di tempat itu mendadak menyusut drastis.

Aura dominan yang keluar dari tubuh pria itu begitu pekat, memaksa watak keras kepala Hera untuk sedikit mengerem egonya yang tinggi.

"Bunga itu bukan milik duniamu, Wanita," kata Sulung, matanya berkilat tajam menembus keremangan malam. "Melewati pembatas pita merah berarti menyerahkan nyawamu pada hukum Alas Purba. Manusia dari kota selalu membawa petaka dan kerusakan bagi tempat ini."

"Aku sudah bilang, aku tidak berniat merusak!" potong Hera, suaranya naik satu oktav karena jengkel dinilai sebagai perusak alam. "Kami di sini menggunakan pendekatan sains! Dan dengar ya, aku punya tim keamanan di balik pembatas pohon itu.

Mereka pasti sedang mencariku sekarang bersama pengawal bersenjata lengkap. Jadi, sebaiknya kau serahkan tas ini baik-baik dan tunjukkan jalan keluar ke arah pita merah sebelum mereka datang kemari dan membuat masalah dengan klanmu!"

Mendengar ancaman tentang 'pengawal bersenjata' dan 'tim keamanan kota', Sulung sama sekali tidak menunjukkan rasa takut, cemas, atau terkejut.

Garis wajahnya tetap sekeras batu karang. Bibir tipisnya justru melengkung sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat dingin, misterius, dan meremehkan gertakan Hera.

"Tidak akan ada yang datang menjemputmu," ujar Sulung datar.

"Apa maksudmu?! Jangan meremehkan mereka! Baskara dan Yudha itu tim keamanan terlatih dan bersenjata!" seru Hera, tidak terima tim kebanggaan ayahnya diremehkan begitu saja.

Sulung tidak berniat menjelaskan lebih panjang atau berdebat kusir tentang bagaimana ruang dimensi Alas Purba telah bergeser dan mengunci jalannya begitu garis pita merah dilangkahi oleh manusia luar.

Dia tahu, jalan pulang bagi wanita di depannya ini telah tertutup sepenuhnya, setidaknya sampai Bulan Purnama Merah tiba.

Panglima klan itu membalikkan badan, memunggungi Hera dengan ketenangan yang luar biasa. Dia mengayunkan tangan kanannya, memberikan isyarat gerakan yang pendek namun sangat tegas agar wanita itu mulai bergerak mengikutinya menembus kegelapan.

"Jalan," perintah Sulung tanpa menoleh sedikit pun.

"Bagaimana kalau aku menolak?!" tantang Hera, melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh dan tetap memilih terpaku di dinding batu tebing.

Watak keras kepalanya benar-benar menguji kesabaran sang panglima.

Sulung menghentikan langkah kakinya sejenak. Dia tidak membalikkan badan untuk menatap Hera, namun tangan kanannya perlahan bergerak turun, mencengkeram gagang Khanjar tulang purbanya dengan mantap.

Suara gesekan tipis saat bilah senjata purba itu ditarik sedikit dari sarungnya terdengar sangat nyata, tajam, dan intimidatif di tengah keheningan Alas Purba yang mati.

"Kau ikut berjalan di belakangku sekarang," ucap Sulung, suaranya merendah namun dipenuhi ancaman yang mutlak, "atau kau memilih tinggal di sini sendirian dan menjadi santapan empuk bagi mahluk malam yang kelaparan di dalam kegelapan hutan ini."

Aura ancaman yang sangat dingin dan nyata itu membuat Hera tertegun. Dia menelan ludah yang terasa sangat kesat di tenggorokannya. Sifat keras kepala dan ego akademisnya yang setinggi langit mendadak harus berbenturan keras dengan insting bertahan hidup yang paling primitif.

Hera melirik ke arah kegelapan hutan di sekeliling tebing batu yang tampak sunyi namun menyimpan sejuta bayangan mengerikan, lalu beralih menatap punggung tegap Sulung yang sudah mulai melangkah menjauh menembus kabut.

Dengan perasaan dongkol yang luar biasa, bibir yang mengerucut kesal, dan helaan napas frustrasi, Hera akhirnya menghentakkan kaki bot gunungnya ke tanah dengan gusar. Dia terpaksa melangkah lebar, berjalan mengikuti sang panglima misterius menembus kegelapan malam yang kian pekat di dalam dunia baru Alas Purba.

1
FiaNasa
namanya sungsang,,apa waktu lahir kedunia dia dalam keadaan sungsang kah😄,,,hemmm...suka dg karakter sungsang ini,,kek nya dia pria jenaka n sangat menghargai wanita..kau hoda lah terus kakak mu yg pintu kulkas 2 pintu itu sungsang😂😂😂bolehlah kugoda juga si sungsang ini🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
kok masih pada ragu akan kemampuan Hera ya padahal Hera lo.sudah banyak membantu para prajurit n rakyat alas purba
falea sezi
sulung ini jin apa demit thor secara klo. manusia kn g mungkin ya 🤭
DIFAN2: ikut i terus alur ceritanya kak,👍🙏
total 1 replies
falea sezi
mampus jd orng gk percaya mistis
FiaNasa
Hera,,,jika kau tidak bisa bersama sulung,,biar AQ saja yg menggantikan nya,,,,waddawwww🤣🤣🤣
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
ternyata endingnya dipending😂😂😂padahal degup jantung kalian berisik smpai terdengar ketempatku,,kupikir jafi😂😂😂😂😂
FiaNasa: kehabisan stok sabar🤣🤣🤣
total 2 replies
FiaNasa
wadidawwwww...fuananssss....fuanasssss....merinding sebadan²😂😂
DIFAN2: 😄😄😄😄😄😄😄
total 3 replies
FiaNasa
haredanggggggg🤣🤣🤣🤣
FiaNasa
tenang saja,,nanti Hera juga diantar pulang kok sama sulung
E F
dr bab brp thor?????
E F: heehhe
okey thor💪😍
total 2 replies
neni nuraeni
lnjut💪💪💪 kak thor
FiaNasa
mas sulung bener² udah posesif sama Hera,,udah jatuh cinta ...tidakkah kau merasakan getaran² cintahhh Dimata sulung her,,jgn kau abaikan cintanya mas sulung,klau kau tidak sanggup mencintainya .biar AQ saja yg mencintainya 🤣🤣🤣meledakkkkkk🤣🤣🤣
E F
lanjutty💪🙏😍
FiaNasa
sudah deh deh an beruntung mas sulung segera pulang
FiaNasa
kau pasti bisa melawannya Hera,,ayo tunjukkan kemampuanmu
E F
lanjutttt thor💪🙏😍
DIFAN2: Siap kak 👍
total 1 replies
Luna
next kak
DIFAN2: ditunggu ya kak 🙏
total 1 replies
FiaNasa
part menegangkan...
FiaNasa
pak tetua adat..klau lumutnya kurang ditempatku banyak Lo,,disawah²
FiaNasa: mau berapa kilo😄😄
total 2 replies
FiaNasa
kok AQ jadi curiga ya,,jgn² authornya ini ahli fisika😄
FiaNasa: pasti nya ini😄😄
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!