Celine Wang pernah percaya bahwa cinta mampu mengubah hati seorang pria yang dingin.
Selama tiga tahun pernikahannya dengan Alexander Wu, pewaris keluarga konglomerat Wu Group, Celine berusaha menjadi istri yang sempurna. Ia merawat rumah mereka, mendampingi Alexander ketika menghadapi kesulitan, dan diam-diam membantu menyelamatkan perusahaan suaminya dari krisis keuangan.
Namun, semua pengorbanannya tidak pernah dianggap berarti.
Bagi Alexander, Celine hanyalah wanita biasa yang beruntung mendapatkan tempat di keluarga Wu. Terlebih lagi, kehadiran Evelyn Zhao, cinta pertama Alexander yang kembali ke Shanghai, perlahan menghancurkan rumah tangga mereka.
Atas hasutan Evelyn dan tekanan keluarganya, Alexander menuduh Celine sebagai wanita yang tidak tahu diri, menandatangani surat perceraian, lalu mengusirnya dari rumah tanpa memberinya kesempatan menjelaskan kebenaran.
Pada malam yang sama, Celine mengetahui bahwa sebagian besar penderitaan yang dialaminya bukanlah kebetulan. Ada
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 - AKU BUKAN MILIKMU LAGI
Pagi itu, Celine Wang berdiri di depan jendela apartemennya sambil memandangi foto dokumen yang diterimanya semalam.
Tiga nama tercetak di atas kertas tua itu: William Wang, Victor Wu, dan Evelyn Zhao.
Tanggal penandatanganannya hanya berselang dua hari sebelum kematian ayahnya.
Jika dokumen tersebut asli, Evelyn bukan sekadar perempuan yang kembali ke kehidupan Alexander dan menghancurkan pernikahan mereka. Ia mungkin memiliki hubungan dengan rahasia yang telah dikubur selama bertahun-tahun.
Namun, Celine tidak ingin terburu-buru menyimpulkan sesuatu.
Ia sudah terlalu sering melihat bagaimana kebohongan bisa menyamar sebagai kebenaran.
Ponselnya berdering. Daniel Zhou menghubunginya setelah memeriksa salinan dokumen yang dikirimkan Celine.
“Ada masalah,” kata Daniel tanpa basa-basi.
“Apa yang kau temukan?”
“Foto dokumen itu memperlihatkan tanda tangan yang tampak konsisten dengan beberapa dokumen lama, tetapi kita belum bisa memastikan keasliannya. Aku membutuhkan salinan dengan resolusi lebih tinggi atau dokumen aslinya.”
“Bagaimana dengan nama Evelyn?”
“Namanya memang tercantum. Namun, itu belum membuktikan bahwa dia terlibat dalam kematian ayahmu. Bisa saja dia hanya menjadi saksi, perantara, atau seseorang yang tidak memahami isi perjanjian tersebut.”
Celine menghela napas.
“Jadi, kita kembali membutuhkan bukti.”
“Benar. Dan aku punya satu saran. Jangan menemui Alexander sendirian sebelum kita mengetahui dokumen apa yang sebenarnya dia miliki.”
Celine terdiam sejenak.
“Aku tidak berniat menemui Alexander.”
Namun, baru saja ia mengucapkan kalimat itu, sebuah pesan masuk dari mantan suaminya.
Ada hal penting yang harus kita bicarakan. Temui aku siang ini di kantor Wu Group. Aku akan menunjukkan dokumen asli yang kutemukan.
Celine menatap pesan tersebut cukup lama sebelum membalas.
Baik. Aku datang untuk membahas dokumen, bukan masa lalu kita.
Balasan Alexander tiba beberapa detik kemudian.
Aku mengerti.
Celine meletakkan ponselnya. Ia tidak tahu apakah Alexander benar-benar mengerti atau sekadar ingin mendapatkan kesempatan untuk berbicara dengannya.
Apa pun alasannya, ia akan datang dengan satu tujuan: mencari kebenaran.
Tepat pukul dua siang, Celine memasuki gedung Wu Group.
Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di tempat itu. Dahulu, ia sering datang untuk mengantarkan makan siang kepada Alexander atau menunggu suaminya menyelesaikan rapat. Ia mengenal setiap sudut lobi, setiap lorong, bahkan aroma kopi yang selalu memenuhi lantai eksekutif.
Namun, hari ini semuanya terasa asing.
Para pegawai yang mengenalinya berbisik ketika ia berjalan melewati meja resepsionis.
“Itu mantan istri Tuan Wu, bukan?”
“Katanya sekarang dia bekerja dengan Shen Capital.”
“Kenapa dia kembali ke sini?”
Celine tidak menoleh.
Ia bukan lagi perempuan yang merasa harus menjelaskan setiap langkahnya kepada orang lain.
Ketika pintu lift terbuka di lantai eksekutif, sekretaris Alexander menyambutnya dengan sopan.
“Nona Wang, Tuan Wu sudah menunggu.”
Celine mengangguk dan memasuki ruang kerja yang dahulu sering dikunjunginya.
Alexander berdiri di dekat meja, mengenakan setelan abu-abu gelap. Di atas meja terdapat sebuah map hitam.
“Aku senang kau datang,” katanya.
“Aku datang karena kau mengatakan memiliki dokumen asli.”
Senyum tipis Alexander menghilang. Ia mempersilakan Celine duduk, tetapi perempuan itu memilih tetap berdiri.
Alexander tidak memaksanya.
Ia membuka map tersebut dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen tua.
“Ini ditemukan di ruang arsip pribadi ayahku. Ada perjanjian pengalihan aset, catatan pembayaran, dan surat yang ditulis beberapa hari sebelum ayahmu meninggal.”
Celine mengambil dokumen itu dengan hati-hati.
Matanya langsung tertuju pada kode transaksi 0917.
Dokumen tersebut menunjukkan bahwa sejumlah aset milik keluarga Wang dialihkan ke sebuah perusahaan perantara sebelum akhirnya masuk ke dalam struktur pendanaan Wu Group. Namun, halaman yang menjelaskan tujuan akhir transaksi telah hilang.
“Siapa yang menyimpan dokumen ini?” tanyanya.
“Ayahku.”
“Apakah dia menjelaskan alasannya?”
“Tidak. Ketika kutanya, dia hanya menyuruhku berhenti menyelidiki masa lalu.”
Celine mengangkat wajah.
“Dan kau menurutinya?”
Alexander terdiam.
“Waktu itu, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku hanya mengetahui bahwa ada perselisihan bisnis antara ayah kita.”
“Jadi, kau tidak pernah mencoba mencari tahu lebih jauh?”
“Aku mencoba.”
“Tetapi tidak cukup keras.”
Kalimat itu membuat Alexander menunduk.
Ia tidak membantah. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diamnya selama bertahun-tahun mungkin telah membantu seseorang menyembunyikan kebenaran.
Celine kembali membaca dokumen tersebut.
“Di mana surat yang kau sebutkan tadi?”
Alexander menyerahkan selembar kertas yang dilipat empat.
Tulisan tangan William Wang tampak jelas meskipun sebagian tintanya telah memudar.
Victor, aku tidak akan membiarkan pengalihan aset ini dilakukan tanpa persetujuan yang sah. Jika dokumen asli tidak dikembalikan, aku akan mengungkap semuanya kepada pihak berwenang.
Celine merasakan dadanya sesak.
Ayahnya telah mengetahui adanya sesuatu yang salah.
Dan ia telah berusaha menghentikannya.
“Apakah kau memahami apa artinya ini?” tanyanya pelan.
Alexander mengangguk.
“Ayahmu mungkin sedang berusaha menghentikan pengalihan aset ketika dia meninggal.”
“Jangan menyebutnya kemungkinan tanpa bukti,” ujar Celine tajam. “Kita belum tahu apakah kematiannya berkaitan langsung dengan perjanjian ini.”
“Aku tidak bermaksud—”
“Yang kita tahu adalah keluargamu menyimpan dokumen ini selama bertahun-tahun, sementara keluargaku kehilangan segalanya dan ayahku meninggal tanpa sempat menjelaskan apa yang terjadi.”
Alexander terdiam.
Celine memasukkan salinan dokumen ke dalam map yang dibawanya.
“Aku akan meminta Daniel memeriksa semuanya melalui jalur hukum. Dokumen asli ini harus diamankan dan tidak boleh diubah atau dimusnahkan.”
“Aku akan membantu.”
Celine menatapnya dingin.
“Kau bisa membantu dengan mengatakan seluruh kebenaran, Alexander. Bukan hanya bagian yang menurutmu aman untuk diceritakan.”
Alexander berjalan mengikutinya ketika Celine hendak meninggalkan ruangan.
“Celine, tunggu.”
Ia berhenti, tetapi tidak berbalik.
“Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu.”
“Kalau itu tidak berkaitan dengan dokumen, aku tidak tertarik.”
“Ini berkaitan dengan kita.”
Celine akhirnya menoleh.
Alexander menatapnya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Selama enam bulan terakhir, aku terus memikirkan keputusan yang kuambil malam itu. Aku tahu aku menyakitimu. Aku tahu aku tidak pernah memberimu kesempatan untuk menjelaskan apa pun sebelum menandatangani surat cerai.”
Celine mendengarkan tanpa menyela.
“Aku juga mulai menyadari bahwa banyak hal yang kuketahui tentangmu ternyata tidak benar. Aku terlalu mudah mempercayai orang lain dan terlalu sulit mempercayai istriku sendiri.”
“Lalu?”
Alexander menarik napas panjang.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Celine menatapnya lama.
Dahulu, kalimat seperti itu mungkin cukup untuk membuatnya menangis lega. Ia pernah menunggu Alexander meminta maaf, berharap suatu hari suaminya akan menyadari bahwa dirinya juga memiliki perasaan dan harga diri.
Namun, saat kesempatan itu akhirnya datang, hatinya tidak lagi bereaksi seperti dulu.
“Kau ingin memperbaiki semuanya karena kau menyesal telah menyakitiku,” katanya pelan, “atau karena sekarang kau melihat aku bisa hidup tanpamu?”
Alexander tampak terpukul.
“Aku tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.”
“Kalau begitu, jangan meminta jawaban dariku.”
“Celine, aku masih—”
“Jangan.”
Satu kata itu menghentikannya.
Celine melangkah mendekat, menatap langsung ke matanya.
“Dengarkan aku baik-baik, Alexander. Aku pernah mencintaimu dengan seluruh hatiku. Aku pernah menganggap kebahagiaanmu sebagai kebahagiaanku sendiri. Aku mendukungmu ketika perusahaanmu berada dalam kesulitan dan tetap bertahan ketika kau tidak punya waktu untukku.”
Suaranya bergetar sedikit, tetapi ia tetap melanjutkan.
“Namun, ketika aku membutuhkanmu, kau memilih mempercayai orang lain. Kau memberiku surat cerai seolah tiga tahun pernikahan kita tidak pernah berarti apa-apa.”
Alexander mengepalkan tangan.
“Aku tahu aku salah.”
“Penyesalanmu tidak menghapus apa yang terjadi.”
“Aku tidak meminta kau melupakan semuanya. Aku hanya ingin kesempatan untuk membuktikan bahwa aku bisa berubah.”
Celine menggeleng pelan.
“Kesempatan itu pernah kuberikan kepadamu setiap hari selama kita menikah. Kau tidak menggunakannya.”
Alexander menunduk. Tidak ada kalimat yang mampu membantah kenyataan tersebut.
Celine mengangkat dagunya.
“Aku bukan milikmu lagi, Alexander. Kau tidak berhak menentukan dengan siapa aku bekerja, ke mana aku pergi, atau kapan aku harus memaafkanmu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu, hormati keputusanku. Mulai sekarang, hubungan kita hanya sebatas urusan hukum dan penyelidikan.”
Ia berbalik menuju pintu.
Alexander tidak mengejarnya kali ini.
Ia hanya berdiri diam, menyaksikan perempuan yang pernah menjadi istrinya meninggalkan ruangan tanpa menoleh sedikit pun.
Dan untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami bahwa kehilangan Celine bukan lagi ancaman yang bisa dihindarinya dengan meminta maaf.
Itu adalah akibat dari pilihannya sendiri.
Di dalam lift, Celine akhirnya mengembuskan napas panjang.
Tangannya sedikit gemetar ketika ia mengeluarkan ponsel dan menghubungi Daniel.
“Aku mendapatkan dokumennya,” katanya.
“Apa isinya?”
“Bukti bahwa ayahku menentang pengalihan aset. Ada juga surat yang menunjukkan bahwa Victor Wu mengetahui keberatan ayahku.”
“Jangan kirimkan dokumen itu melalui saluran biasa. Aku akan menyiapkan pemeriksaan resmi.”
Celine mengangguk meskipun Daniel tidak bisa melihatnya.
“Daniel, ada satu hal lagi. Aku bertemu Alexander.”
“Apakah dia mencoba membujukmu kembali?”
“Ya.”
“Dan apa jawabanmu?”
Celine memandang bayangannya sendiri di dinding lift.
“Aku mengatakan kepadanya bahwa aku bukan miliknya lagi.”
Setelah panggilan berakhir, ia merasakan kesedihan lama perlahan berubah menjadi ketenangan.
Ia tidak membenci Alexander seperti dahulu. Namun, ia juga tidak ingin kembali menjadi perempuan yang mengorbankan dirinya demi mempertahankan seseorang yang tidak menghargainya.
Pintu lift terbuka.
Celine melangkah keluar menuju cahaya sore.
Ponselnya bergetar sekali lagi. Kali ini, pesan itu berasal dari nomor tak dikenal.
Bagus. Kau sudah mendapatkan dokumennya. Sekarang, tanyakan kepada Alexander siapa yang berada di dalam mobil bersama William Wang pada malam kecelakaan.
Celine berhenti berjalan.
Jantungnya berdegup kencang.
Ia menatap pesan itu, lalu memandang gedung Wu Group di belakangnya.
Dokumen yang baru saja diperolehnya ternyata hanya membuka sebagian kecil dari rahasia yang lebih besar.
Seseorang mengetahui apa yang terjadi pada malam ayahnya meninggal.
Dan orang itu mungkin mengetahui bahwa kecelakaan tersebut bukanlah sebuah kecelakaan biasa.
Celine menyimpan ponselnya, kemudian melangkah menuju pintu keluar.
Kali ini, ia tidak akan kembali kepada Alexander sebagai istri yang meminta cinta.
Jika pria itu mengetahui sesuatu tentang kematian ayahnya, ia akan menuntut jawabannya.
Bukan demi menyelamatkan pernikahan mereka.
Melainkan demi keadilan yang telah dirampas dari keluarganya selama bertahun-tahun.