"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Aku duduk tenang di kursi dengan sikap yang begitu mendominasi ketika Belinda baru saja kembali. Begitu memasuki ruangan, dia langsung menghampiriku, tetapi langkahnya sedikit terhenti saat mendapati tatapanku yang tajam. Aku bisa melihat keterkejutan dan kegelisahan di wajahnya. Sepertinya dia mulai menebak bahwa aku sudah mengetahui semua perbuatannya, meskipun dia masih berusaha menyembunyikan kecemasannya.
"Sayang, ka... kamu sudah kembali?" tanyanya gugup.
Aku hanya menjawab singkat, "Hmm."
Belinda kemudian mendekatiku dan memelukku dari belakang. Beruntung ada sandaran kursi yang menjadi penghalang antara tubuhnya dan punggungku, meskipun kedua tangannya tetap melingkar di leherku. Biasanya aku tidak keberatan dengan sikap manjanya seperti ini, tetapi sekarang sentuhannya justru membuatku merasa jijik. Aku bahkan harus menahan diri agar tidak langsung menepis tangannya.
"Kamu sudah makan? Kebetulan aku bawakan ayam teriyaki kesukaanmu," ujarnya sambil tetap memelukku.
Aku tidak menanggapi pertanyaannya karena sama sekali tidak tertarik dengan basa-basi semacam itu. Tanpa mengalihkan pandangan darinya, aku langsung menanyakan hal yang sejak tadi mengganggu pikiranku.
"Aku mencium bau rokok dan parfum lelaki dari tubuhmu. Kamu berbuat macam apa di luar sana?"
Seketika itu juga Belinda menarik tangannya dari leherku. Perubahan sikapnya begitu kentara hingga suasana ruangan yang semula terasa biasa saja mendadak menegang. Dia berdiri di samping kursi dengan wajah gelisah, tampak sibuk mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaanku.
"Ta... tadi aku bertemu dengan klien. Nggak sengaja di... dia..."
"Belinda! Kamu tahu aku benci pembohong?" potongku cepat.
"I... iya, aku tahu, Sayang. Aku benar-benar bertemu klien tadi, jadi nggak heran kalau tubuhku bau rokok dan parfum lelaki."
Aku tidak menanggapi pembelaannya. Tatapanku tetap tertuju padanya, membuat Belinda semakin salah tingkah. Karena tidak kunjung mendapatkan respons dariku, dia akhirnya berusaha mengalihkan pembicaraan seolah ingin menghindari pertanyaan yang tidak mampu dijawabnya dengan meyakinkan.
"Gi... gimana? Apa kamu sudah menemukan Dinda? Dia hanya pura-pura pergi, kan?"
Darahku seketika mendidih mendengar pertanyaannya. Bahkan dalam situasi seperti ini, Belinda masih saja berusaha menjadikan Dinda sebagai kambing hitam. Seandainya aku belum mengetahui kedoknya, mungkin aku sudah kembali memercayai perkataannya dan ikut menyalahkan Dinda seperti yang selama ini kulakukan. Namun, kali ini aku tidak akan membiarkannya mengalihkan kesalahan dengan cara yang sama.
"Dinda tidak ada hubungannya dengan masalah kita, Belinda," tegasku sambil menatapnya lekat. "Jangan bawa-bawa namanya setiap kali kamu kehabisan alasan."
Belinda terdiam sesaat sebelum mencoba menjelaskan maksudnya. "Aku cuma bertanya, Sayang. Semalaman kamu mencarinya dan tanpa memberikan kabar padaku dan..."
"Dan apa?" Aku mengulang perkataannya dengan nada datar. "Dan kamu berhak bermain-main di luar sana?"
"Aku bukan bermaksud begitu." Dia menggeleng cepat, berusaha mempertahankan senyum canggung di wajahnya. "Aku hanya kesal saja karena kamu mengabaikan aku."
Aku menyandarkan punggung ke kursi sambil terus mengamatinya. "Menarik. Jadi kamu berhak bermain dengan yang lain di luar sana?"
Belinda langsung kehilangan kata-kata. Jemarinya saling meremas di depan tubuh, sementara matanya bergerak gelisah seolah sedang mencari celah untuk mengalihkan pembicaraan sekali lagi.
"Aku nggak mengerti maksudmu, Sayang."
"Tidak mengerti atau pura-pura tidak mengerti?"
"Kenapa kamu bicara seperti itu padaku?" Suaranya mulai bergetar. "Apa aku melakukan kesalahan?"
Aku tertawa pendek, lalu mengubah posisi duduk agar bisa menatapnya dengan lebih leluasa. "Kamu ingin aku menyebutkan kesalahanmu satu per satu?"
Belinda menelan ludah sebelum menggeleng pelan. "Aku benar-benar nggak tahu apa yang kamu bicarakan."
"Kalau begitu, jelaskan pertemuanmu dengan klien tadi. Siapa namanya?"
Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Namanya... namanya Pak Rudi."
"Pak Rudi yang mana?"
"Aku nggak tahu nama lengkapnya. Dia salah satu klien yang dikenalkan oleh temanku."
"Temanmu siapa?"
Kali ini Belinda tidak langsung menjawab. Keraguan yang terlihat di wajahnya semakin jelas, sementara alasan yang sejak tadi disampaikannya mulai terdengar tidak meyakinkan. Aku membiarkannya berdiri di hadapanku tanpa berusaha membantu, memberinya kesempatan untuk menjelaskan kebohongannya sendiri. Namun, semakin lama dia terdiam, semakin terlihat bahwa dia tidak memiliki jawaban yang bisa dipertanggungjawabkan.
"Sayang, kenapa kamu menginterogasiku seperti ini?" tanyanya akhirnya, mencoba kembali memasang wajah memelas. "Aku capek. Aku baru pulang dan ingin menghabiskan waktu bersamamu."
"Kalau kamu memang ingin menghabiskan waktu denganku, seharusnya kamu tidak pulang membawa bau rokok dan parfum lelaki lain, lalu berharap aku akan menerima alasan seadanya."
"Aku sudah bilang tadi, aku bertemu klien!"
"Dan aku sudah bilang kalau aku benci pembohong."
Aku bangkit dari kursi, membuat Belinda spontan mundur selangkah. Dia menatapku dengan mata membesar, mungkin karena selama ini aku tidak pernah memperlakukannya seperti ini. Aku selalu berusaha memenuhi keinginannya, bahkan ketika itu berarti menyakiti orang lain. Namun, setelah mengetahui apa yang sebenarnya dia lakukan, aku tidak lagi berniat membiarkannya mengendalikan keadaan dengan sikap manja atau air mata.
"Mulai sekarang, jangan pernah menyebut nama Dinda untuk menutupi kesalahanmu sendiri," kataku tegas. "Aku sudah cukup lama membiarkanmu membuatku percaya bahwa semua masalah dalam hidupmu disebabkan olehnya."
Wajah Belinda seketika memucat. "Kamu... kamu sudah bertemu Dinda?"
"Itu bukan urusanmu."
"Tapi aku istrimu, Danu!"
"Justru karena kamu istriku, aku berhak mendapatkan kejujuran darimu."
Belinda terdiam. Dia tidak lagi berusaha mendekat atau menyentuhku. Sebaliknya, tatapannya mulai dipenuhi kecurigaan, seolah akhirnya menyadari bahwa sikapku malam ini bukan sekadar akibat suasana hatiku yang buruk.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya lirih. "Kenapa kamu tiba-tiba berubah seperti ini? Apa ada seseorang yang mengatakan sesuatu tentangku?"
Aku menatapnya beberapa saat sebelum menjawab, "Kamu tidak perlu sibuk mencari tahu siapa yang berbicara padaku. Lebih baik kamu mulai memikirkan apa yang sudah kamu lakukan."
"Sayang, aku bersumpah aku nggak melakukan apa-apa."
"Jangan bersumpah kalau kamu masih berniat berbohong."
Belinda menggigit bibirnya. Dia masih berusaha membaca ekspresiku, mencari petunjuk yang bisa membantunya memahami seberapa banyak yang sudah kuketahui. Namun, aku tidak memberinya kesempatan untuk kembali memutarbalikkan keadaan. Aku berbalik menuju meja, mengambil sebuah map cokelat yang sudah kusiapkan sejak tadi, lalu mengeluarkan sejumlah foto beserta bukti-bukti lain di dalamnya.
Tanpa banyak bicara, kulemparkan semuanya tepat ke dada Belinda. Foto-foto itu berhamburan sebelum jatuh ke lantai, membuatnya terkejut dan buru-buru memungut beberapa lembar yang berada paling dekat dengannya. Begitu mengenali isi foto-foto tersebut, wajahnya semakin pucat. Jemarinya tampak gemetar ketika dia mengambil satu per satu bukti yang selama ini berusaha kusembunyikan darinya.
"Sa... Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya."
Aku menatapnya dingin. "Aku tidak butuh penjelasan, Belinda. Kita bertemu saja di persidangan. Dan aku harap kamu tidak mengulur waktu."
"A... apa?" Dia mendongak dengan tatapan tidak percaya. "Kamu mau menceraikan aku?"
"Kalau tidak, memangnya apa yang harus kulakukan?" balasku tegas. "Apa aku harus tetap bersama perempuan yang sudah mengkhianatiku? Bahkan ketika kita hendak melaksanakan ijab kabul, kamu justru melayani lelaki lain."
Belinda menggeleng cepat, seolah masih berharap bisa menyangkal semua yang terpampang di tangannya. "Bukan begitu, Sayang. Kamu salah paham. Aku bisa menjelaskan kenapa semua itu terjadi."
"Mulai sekarang, jangan berharap aku akan kembali memercayaimu seperti dulu," tegasku sebelum berbalik meninggalkannya.
"Danu, tunggu! Kita bisa membicarakan ini baik-baik! Aku begini semua juga karena salahmu!" serunya panik.
Aku yang hendak melangkah pergi langsung menghentikan langkahku lalu menatapnya.
"Salahku?"
mantan suami pecundang🙄🙄
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...