NovelToon NovelToon
PENGANTIN SANG JENDERAL

PENGANTIN SANG JENDERAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:253
Nilai: 5
Nama Author: Dede Queen

Dia dipaksa menggantikan sepupunya yang kabur — menikah dengan pria yang ditakuti seluruh kekaisaran.

Lin Meiying hanyalah putri yang dikucilkan. Demi menyelamatkan keluarganya, ia memakai pakaian merah pengantin dan berdiri di tempat yang bukan haknya — di hadapan Wei Chen, Jenderal perkasa yang dijuluki "Dewa Perang Berdarah Dingin".

Dia tahu: suaminya tidak menginginkannya. Pernikahan ini hanya perintah kaisar. Di kediaman yang megah namun beku, Meiying diperlakukan seperti tamu asing, bukan istri.

Namun kesabaran dan kelembutan pelan-pelan meruntuhkan dinding es di hati sang jenderal. Rahasia kelam terungkap, musuh mengintai dari mana saja, dan saat cinta akhirnya tumbuh... takdir justru menguji mereka paling berat.

Akankah Meiying tetap menjadi pengantin bayangan yang terlupakan? Atau dia yang akan menaklukkan hati terkeras di seluruh kekaisaran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dede Queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Kebenaran di Balik Topeng

Cahaya yang memancar dari telapak tangan Ling Yue tidak menyilaukan, melainkan lembut—seperti kabut pagi yang menyelimuti lembah, perlahan membentang ke segala arah, menyentuh atap rumah-rumah batu, menyusuri dinding tebing, hingga menyatu menjadi kubah besar yang melindungi seluruh pemukiman. Di bawah pijaran cahaya itu, ketegangan yang menyelimuti warga perlahan mereda, digantikan oleh rasa tenang yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Namun di sisi lain, wajah Paman Gao justru mengeras, matanya menyipit menatap kubah itu seolah melihat sesuatu yang paling dibencinya.

"Jadi itulah rahasia yang dijaga turun-temurun," suaranya rendah, namun gemuruh kemarahan tertahan terdengar jelas di setiap kata. "Bukan kekuatan untuk menaklukkan dunia, melainkan sekadar dinding pelindung... Betapa mengecewakannya."

Ling Yue tidak bergeming. Ia berdiri tegak, tangan kanannya masih terangkat, cahaya mengalir perlahan dari jemarinya. "Kekuatan sejati tidak butuh ditakuti. Ia ada untuk mereka yang membutuhkan tempat pulang. Dan kau tidak akan pernah mengerti itu."

Paman Gao tertawa pelan, namun tawanya tidak sampai ke mata. "Aku tidak mengerti? Aku yang merencanakan semua ini sejak sepuluh tahun lalu. Aku yang mengatur pernikahan itu. Aku yang mengirim anak asuhku ke sisimu untuk mengawasi setiap gerak-gerikmu. Kau pikir aku tidak tahu apa yang tersembunyi di balik dinding batu ini?" Ia melangkah maju selangkah, jubah ungunya berkibar tertiup angin yang tiba-tiba kencang. "Kekuatan ini bisa diubah. Bisa ditekuk ke kehendak siapa pun yang cukup kuat. Dan aku akan membuktikannya."

Ia mengangkat kedua tangannya ke udara. Di telapak tangannya, kabut hitam pekat mulai berkumpul—bukan bayangan biasa, melainkan energi yang menggerogoti cahaya di sekelilingnya, menelan pendaran lembut itu sedikit demi sedikit. Warga di belakang Ling Yue mengeluarkan suara terkejut; beberapa orang memegangi dada mereka seolah napas mereka pun ikut terhisap.

"Ini..." Bai Su melangkah maju, wajahnya pucat. "Ini kekuatan yang dilarang. Dari mana kau mendapatkannya?"

Paman Gao tersenyum tipis, semakin lebar kabut hitam itu membentang. "Dari tempat yang sama dengan yang kalian sembunyikan. Ada yang lain tertidur jauh di dalam bumi ini, kekuatan yang tidak mau diakui oleh para pendiri klan kalian. Kekuatan yang tidak memaafkan, tidak memilah, dan tidak berbagi." Ia menatap kubah cahaya yang mulai bergetar. "Dan hari ini, aku akan membangunkannya sepenuhnya."

"Jangan!" teriak Ling Yue, namun kata-katanya tertelan oleh gemuruh tanah yang tiba-tiba berguncang. Retakan halus muncul di permukaan kubah pelindung, memancarkan cahaya samar yang berkedip-kedip seolah takut. Ling Yue merasakan beban berat menimpa bahunya; lututnya gemetar, namun ia menahan diri agar tidak jatuh. Ia tidak boleh jatuh. Bukan sekarang, bukan saat semua orang bergantung padanya.

Di sampingnya, Li An melangkah maju, berdiri tegak di antara Ling Yue dan Paman Gao. Pedangnya terhunus sepenuhnya, berkilau di bawah cahaya yang kontras—putih di satu sisi, hitam pekat di sisi lain.

"Mundur, Paman," ucapnya tegas, suaranya tenang namun memancarkan keteguhan yang tak tergoyahkan. "Aku tidak ingin melawanmu. Tapi aku tidak akan membiarkanmu menyakiti mereka."

Paman Gao menatap keponakannya itu lama, seolah baru pertama kali melihatnya dengan benar. Kabut hitam di tangannya perlahan mereda, namun tatapannya justru menjadi lebih tajam, lebih dalam, seolah menembus ke masa lalu yang terkubur.

"Kau benar-benar berpikir aku adalah pamanmu, Li An?" suaranya berubah, tidak lagi dingin, melainkan sarat dengan kepahitan yang tak terbayangkan. "Bahwa aku mengasuhmu, melatihmu, memberimu nama dan kedudukan—hanya karena aku peduli pada saudara kandungku?"

Li An tertegun. "Apa maksudmu?"

"Maksudku..." Paman Gao melangkah maju selangkah, kabut hitam di sekelilingnya perlahan lenyap, menyisakan sosok lelaki yang tampak tiba-tiba menua bertahun-tahun dalam sekejap mata. "...bahwa aku bukan pamanmu, Li An. Aku adalah ayahmu."

Keheningan menyelimuti aula itu, begitu pekat hingga suara napas terdengar seperti gemuruh. Li An mundur selangkah, pedang di tangannya bergetar pelan. "Itu... tidak mungkin. Ayahku tewas di medan perang saat aku masih kecil. Ibu yang mengatakannya."

"Ibumu..." Paman Gao tersenyum pahit, matanya berkaca-kaca namun tidak ada air mata yang jatuh. "Ibumu wanita yang baik. Dia mencintaimu lebih dari apa pun. Tapi dia juga takut. Takut pada siapa aku sebenarnya, takut pada apa yang bisa kulakukan. Jadi dia berbohong. Kepadamu, kepada semua orang. Dan aku membiarkannya. Karena aku pikir... mungkin memang lebih baik bagimu tumbuh tanpa beban memiliki ayah sepertiku."

Ia berhenti sejenak, menatap tangan yang dulu pernah menggendong anak kecil itu, tangan yang kini penuh kekuatan gelap.

"Aku tidak pergi berperang dan tidak kembali. Aku dikucilkan. Karena aku berani mencari kekuatan yang dilarang oleh para tetua klan ini—kekuatan yang menurutku dibutuhkan untuk melindungi semua orang, bukan untuk bersembunyi selamanya. Saat aku kembali, kau sudah berusia lima tahun, dan ibumu tidak membiarkanku mendekat. Dia menyuruhku pergi, mengatakan bahwa kehadiranku hanya akan membahayakanmu. Jadi aku pergi... tapi aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku mengawasimu dari jauh. Saat kau sakit, saat kau belajar berjalan, saat pertama kali memegang pedang... aku ada di sana."

Li An berdiri diam, napasnya terasa berat, seolah ada batu besar menindih dadanya. Ingatan-ingatan samar muncul di benaknya—bayangan sosok yang berdiri di balik pohon saat ia berlatih di halaman istana, hadiah-hadiah kecil yang ditinggalkan di ambang pintu tanpa nama, suara yang terdengar serupa namun tak pernah bisa ia temukan pemiliknya. Ia selalu mengira itu hanyalah khayalan anak yang merindukan sosok ayah. Ternyata semuanya nyata.

"Kau..." suaranya pecah pelan. "Kau mengirimku ke pernikahan ini... bukan untuk melindungiku?"

"Aku mengirimmu ke sana agar kau bisa menemukan tempatmu di dunia yang aman," jawab Paman Gao lembut, namun matanya kembali mengeras. "Agar kau bisa mengenali siapa keturunanmu sebenarnya. Ling Yue bukan sekadar putri klan ini—dia adalah kunci. Satu-satunya orang yang bisa membuka jalan menuju kekuatan yang bisa menyelamatkan seluruh negeri dari kehancuran yang akan datang. Tapi bukan dengan cara bersembunyi seperti ini." Ia menunjuk kubah cahaya yang perlahan retak semakin banyak. "Kekuatan ini lemah. Ia hanya menahan, tidak mencegah. Sementara di luar sana, kekuatan lain semakin kuat, dan jika ia bangun sepenuhnya, tidak ada tempat tersembunyi yang aman."

"Jadi kau ingin mengambil alih, memaksakan kehendakmu..." potong Ling Yue pelan, meski kakinya masih gemetar menahan beban kubah itu. "...karena kau berpikir hanya caramu yang benar?"

"Karena aku telah melihat apa yang akan terjadi jika kita menunggu saja," jawab Paman Gao tajam. "Aku telah melihat bayangan kehancuran. Api yang akan melahap kerajaan, dan tidak ada dinding pelindung yang cukup tebal untuk menahannya." Ia menatap Li An. "Itulah sebabnya aku membutuhkanmu, An. Bukan sebagai alat, melainkan sebagai penerus. Kita berdua, ayah dan anak, bisa membangun sesuatu yang bertahan. Bukan perisai yang rapuh, melainkan benteng yang tak bisa dihancurkan."

Li An menatapnya lama—pria yang selama ini ia hormati, yang ia percaya, yang ternyata adalah ayahnya sendiri. Di satu sisi ada rasa rindu yang selama ini ia sembunyikan, keinginan untuk dekat, untuk diakui. Namun di sisi lain, ia melihat kebenaran yang menyakitkan: cara pria di hadapannya ini memperoleh kekuatan itu, pengorbanan yang ia lakukan, orang-orang yang terluka demi tujuannya. Cinta tidak bisa dibangun di atas penderitaan orang lain.

"Aku mengerti mengapa kau melakukannya," ucap Li An pelan, namun tegas. "Dan aku tidak menolak bahwa darahmu mengalir di tubuhku. Tapi... aku tidak bisa ikut bersamamu."

Paman Gao terdiam. "Kau yakin?"

"Aku yakin," jawab Li An. Ia menoleh sekilas ke arah Ling Yue, menemukan kekuatan di tatapan gadis itu—tatapan yang penuh pengertian, bukan penghakiman. "Kekuatan yang dipaksakan, yang diambil tanpa persetujuan, tidak akan pernah membawa kedamaian. Ia hanya akan menciptakan ketakutan. Dan ketakutan melahirkan kekerasan, yang pada akhirnya akan menghancurkan pemiliknya sendiri." Ia kembali menatap ayahnya. "Itulah yang terjadi pada mereka yang dulu mencari jalan yang sama. Dan aku tidak ingin mengulanginya."

Wajah Paman Gao berubah, perlahan kehilangan kelembutan yang sempat muncul. "Kalau begitu... kau memilih melawanku."

"Aku memilih melindungi apa yang benar," jawab Li An, pedangnya terangkat sedikit lebih tinggi. "Dan jika itu berarti melawanmu... maka aku akan melakukannya. Meski berat."

Keheningan turun kembali, kali ini lebih dingin, lebih tajam. Paman Gao menatap anaknya sendiri, dan di matanya terlihat sesuatu yang seperti kesedihan, namun segera tertutup oleh tekad yang keras.

"Baiklah," ucapnya pelan. "Jika itu pilihanmu... maka aku tidak akan menahanmu. Tapi ketahuilah—apa pun yang terjadi selanjutnya, bukan salahku. Ini pilihanmu."

Ia mengangkat kedua tangannya kembali. Kabut hitam yang tadi mereda kini bangkit kembali, lebih tebal, lebih gelap, berputar kencang di sekelilingnya hingga membentuk badai kecil di tengah aula. Cahaya dari kubah pelindung berkedip semakin cepat, retak-retak di permukaannya semakin lebar. Ling Yue merasakan beban di pundaknya bertambah berkali-kali lipat; napasnya tersengal, keringat dingin menetes di dahinya, namun ia tetap berdiri. Ia tidak akan menyerah. Tidak saat orang-orang yang kini menjadi keluarganya bergantung padanya.

"Kita tidak bisa menahannya sendirian," kata Bai Su mendekat ke samping Ling Yue, suaranya tegas. Ia mengangkat tangannya, dan cahaya dari tubuhnya menyatu dengan kubah itu, menambahkan kekuatan baru. "Kita semua keturunan klan ini. Kekuatan ini milik kita semua."

Satu per satu warga yang berdiri di belakang mereka ikut mengangkat tangan. Cahaya dari tubuh mereka menyatu, mengalir menjadi sungai cahaya yang hangat, mengisi kembali retakan-retakan di kubah itu, memperkuatnya, membuatnya bersinar lebih terang dari sebelumnya. Ling Yue merasakan beban di pundaknya berkurang; ia tidak sendirian. Semua orang ada di sini, bersamanya.

Paman Gao tertegun melihatnya. "Mustahil... tidak mungkin..."

"Kau salah satu hal penting," ucap Ling Yue, suaranya kini jernih dan kuat. "Kekuatan ini tidak dimiliki satu orang saja. Ia hidup di antara kita, di dalam setiap orang yang memilih melindungi sesamanya. Itulah rahasia yang tak pernah kau pahami."

Kubah cahaya itu kini bersinar begitu terang hingga kabut hitam di hadapannya terdorong mundur, perlahan namun pasti. Paman Gao mundur selangkah, lalu selangkah lagi, matanya tak percaya melihat kekuatan yang selama ini ia anggap lemah justru bangkit begitu hebatnya.

"Tidak... ini tidak benar..." gumamnya, kabut hitam di tangannya mulai terurai. "Aku melakukan semua ini demi kebaikan kalian... agar kalian selamat..."

"Kami tahu," jawab Li An pelan, melangkah mendekat, pedangnya masih terhunus namun tidak lagi diarahkan untuk menyerang. "Niatmu mungkin baik. Tapi caramu salah. Dan sekarang... berhentilah, Ayah. Sebelum semuanya hancur tak bisa diperbaiki lagi."

Paman Gao menatapnya, dan untuk sesaat, bayangan keraguan muncul di matanya. Namun sebelum ia sempat menjawab, suara dentuman keras terdengar dari kejauhan—bukan dari arah mereka, melainkan dari bagian terdalam lembah, tempat sumber kekuatan purba itu berada. Tanah berguncang hebat, dan di kejauhan, cahaya merah menyala naik ke langit, membelah kabut tipis yang menyelimuti lembah.

Wajah Bai Su berubah pucat. "Itu... tidak seharusnya terjadi."

Paman Gao menoleh, matanya melebar. "Dia... sudah bangun lebih cepat dari yang kukira."

"Siapa?" tanya Ling Yue.

"Kekuatan yang kutakutkan," jawab Paman Gao pelan, suaranya kehilangan ketegasannya. "Yang tidak bisa ditahan oleh perisai mana pun sendirian." Ia menatap mereka berdua, lalu ke arah cahaya merah yang semakin terang. "Dan sekarang... kita semua berada dalam bahaya yang sama."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!