Novel ini bergenre horor komedi yang menghibur meski horor. Cinta bisa tumbuh kapan saja dan pada siapa saja. Termasuk cinta Mbak Kunti kepada Nurdin, bestienya yang notabene-nya manusia. Karena patah hati, Mbak Kunti pindah ke daerah lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Lubi Channel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKIBAT SALAH SERVER (14)
Penulis: Linda Lubi
***
Mbak Kunti pengen sarapan nasi gurih komplit. Lengkap dengan dendeng sapi, pergedel dan telur. Ia menelusuri pagi sambil pura-pura joging mencari penjual sarapan yang komplit.
Mbak Kunti menyihir dirinya pakai outfit olah raga kekinian. Sepatunya pun sneaker. Sampai juga ia ke warung sarapan. Nama gerobak sarapannya Lontong Medan Bu Siti. Nasi gurihnya pun ada.
Mbak Kunti memperhatikan warung Bu Siti ramai pembeli. Sebenarnya ia insecure. Mbak Kunti yang memakai masker dan kacamata hitam memberanikan diri untuk membeli sarapan ketika orang-orang sudah sedikit.
"Bu, nasi gurihnya ya komplit ya, 2 bungkus."ujar Mbak Kunti.
"Pakai semua lauknya ya, Kak?" Tanya Bu Siti dengan ramah.
"Iya Bu." Mbak Kunti memperhatikan orang-orang pada sarapan lontong.
"Kakak orang baru ya di sini?" Bu Siti kepo.
"Saya di kampung sana. Agak jauh. Karena olah raga mampir ke mari." Boro-boro olah raga. Mbak Kunti pakai kesaktiannyalah. Menghilang timbul.
"Oh gitu." Bu Siti tak jadi bertanya karena ada pembeli yang lain."56 ribu Kak." Bu Siti menyerahkan pesanan Mak Kunti.
Mbak Kunti menyerahkan selembar uang merah. Lalu dapat kembalian dari Bu Siti. Ia sengaja tidak memberi uang lebih karena Bu Siti dagangannya laris manis. Mending ia beri sama pedagang-pedagang malam saja.
Mbak Kunti sudah sampai di rumah dengan wujud aslinya. Kalau saja di rumahnya ada piring dan sendok, Mbak Kunti pun pengen coba lontong Medan. Tadi pun ia sebelum beli nasi gurih, sudah beli kopi ekspreso. Betapa nikmatnya pagi. Sarapan nasi gurih dan minum kopi.
Mbak Kunti jadi teringat Nurdin lagi. Betapa bahagianya jika ia bisa sarapan bareng Nurdin. Tapi begitu ia membuka matanya, ternyata makhluk yang paling menyebalkan ada di depan matanya.
"Eittt...ngapain kamu?"tanya Mbak Kunti dengan nada tidak senang.
"Ahahaha....." Abang Kunti tertawa malu.
Malu karena merasa tak disukai Mbak Kunti. Padahal ia sudah berusaha seganteng mungkin. Ini dia sudah mandi di rumah Pak Rudi subuh tadi. Tapi masih saja Mbak Kunti jutek padanya.
"Bagi dong, aku mau juga."tanpa persetujuan Mbak Kunti, ia mengambil sebungkus nasi gurih.
Mbak Kunti baru baru saja makan 1 bungkus, langsung main ambil aja Abang Kunti-nya.
"Kamu keluar dari rumah-ku!. Jangan pernah datang lagi dan ganggu kehidupanku. Biasakan sopan dan makan pakai uang sendiri. Jangan pernah ambil makananku. Aku bersusah payah untuk mendapatkannya. Kamu dengan seenaknya mengambil nasi gurih-ku. Dasar kuntilanang nggak bermodal. Keluarrr....." wajah Mbak Kunti serem banget.
Abang Kunti lari kucar-kacir. Nasi gurihnya nggak jadi dimakannya. Ia tinggalkan begitu diusir Mbak Kunti. Ia sangat malu sekali. Berasa nggak punya harga diri.
Kunti-kunti lain pada mengejarnya. Ini dia yang malah mengejar-ngejar Mbak Kunti. Tetap aja nggak pernah dianggap. Apa Mbak Kunti punya kuntilanang yang lain? Oh nooo.....
Mbak Kunti melanjutkan makannya. Ia jadi iri pada manusia. Mereka punya makanan seenak ini. Sedangkan dia dan bangsa-nya justru makan janin bayi, darah, serba yang amis-amis.
Ia tau Salima, istri Nurdin sedang hamil. Bau amis bayinya sudah tercium oleh Mbak Kunti. Karena itu anak Nurdin, makanya tidak disedot oleh Mbak Kunti malam itu.
Bersyukur ia lebih suka makan makanan manusia daripada janin bayi. Jadi Salima aman. Ah...semua karena cinta.
Jangan sampai Abang Kunti membututinya suatu saat jika ia pengen berjumpa Nurdin. Bisa terancam bayi Nurdin dalam perut Salima. Lebih baik Mbak Kunti jangan mencari Nurdin dulu. Biarlah rindu ini dia simpan. Jangan sampai keluarga Nurdin celaka.