Maya menikah dengan Ryan yang berasal dari desa. Setelah menikah mereka tinggal di rumah Maya yang di beli sebelum dia menikah.
Awalnya adik Ryan dan istrinya datang, mereka bilang hanya menumpang sebentar sampai mendapatkan kontrakan baru di Jakarta. Namun sudah sampai sebulan mereka menginap, bukannya pergi malah ibunya Ryan yang dari kampung datang dan ikut tinggal di rumahnya.
Mereka tidak mau bekerja, mereka justru menjadikan Maya sebagai pembantu.
Puncaknya, adik Ryan menampar Maya, sementara Ryan hanya diam saja tanpa membelanya. Saat itu Maya sadar, ia bukan lagi seorang istri di rumah tangganya sendiri.
Maya yang marah akhirnya memilih menjual rumah itu, dan menggugat cerai suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28
Rumah bekas Mia sudah kosong dan terkunci rapat, suasana semakin sunyi dan canggung.
Barang-barang mereka masih bertumpuk di pinggir jalan. Beberapa tetangga sudah tidak lagi mengintip, tapi rasa malu tetap menggantung di udara. Rukmini duduk di atas koper besar, wajahnya tegang dan lelah. Ia menatap putra sulungnya yang berdiri diam dengan tangan di pinggang.
“Sekarang kita harus bagaimana, Rian?” tanya Rukmini, suaranya serak karena terlalu banyak berteriak.
Rian mengusap wajahnya, mencoba menenangkan diri. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Lukman yang hanya duduk di trotoar sambil memainkan ponselnya, Sonya menghibur Janu agar tidak menangis, dan tumpukan barang yang tidak tahu harus dibawa ke mana.
“Ibu pulang saja ke kampung bersama Lukman,” ucap Rian akhirnya. Suaranya pelan tapi tegas. “Susah cari kontrakan di sini, Bu. Harga di kota mahal. Lebih baik Ibu kembali dulu.”
Rukmini langsung mendelik tajam. Matanya menyipit, penuh ketidakpercayaan dan amarah.
“Kamu merasa keberatan menghidupi kami?” serunya tidak terima. Suaranya meninggi lagi. “Ibu membesarkan kamu dari kecil, susah payah, sekarang kamu suruh Ibu pulang kampung seperti barang buangan? Ibu tidak mau! Ibu tetap di sini. Kau harus cari kontrakan untuk kami!”
Rian menghela napas panjang, mencoba menahan kesabaran yang semakin menipis. Ia sudah lelah. Lelah dengan drama, lelah dengan tuntutan, lelah dengan rasa bersalah yang terus dipaksakan.
“Bukan begitu, Bu,” jawabnya sabar, meski rahangnya mengeras. “Gajiku tidak akan cukup untuk membayar kontrakan yang besar, plus biaya makan kalian semua. Listrik, air, popok, semuanya. Kecuali kalau Lukman mau bekerja.”
Ia sengaja melirik adiknya yang sejak tadi hanya diam. Lukman langsung mengangkat wajah, ekspresinya tersinggung.
“Maksud Kakak apa?” tanya Lukman ketus. “Aku sedang susah cari kerja. Bukan berarti aku malas.” lanjutnya tidak terima.
Rian menatapnya datar. “Sudah berbulan-bulan, Luk. Sudah cukup lama. Kalau Ibu dan kalian tetap ingin tinggal di kota, maka harus ada yang membantu biaya. Aku tidak sanggup menanggung semuanya sendirian lagi. Apalagi sekarang rumah sudah tidak ada. Aku juga harus menafkahi putriku"
Rukmini berdiri, wajahnya memerah. “Jadi sekarang kamu menyalahkan adikmu? Menyalahkan Ibu? Semua ini salah Mia! Tapi kamu lebih memilih membela dia daripada keluarga sendiri!”
Rian tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap sepatu yang berdebu. Di hatinya, ia tahu percakapan ini akan berulang seperti dulu, ibunya akan mengungkit jasa, adiknya akan merasa tersinggung, dan akhirnya ia yang harus mengalah. Tapi kali ini, setelah kehilangan rumah dan istri, ia merasa tidak punya tenaga lagi untuk mengalah.
Sonya yang sejak tadi diam akhirnya berbicara pelan, “Kak… kalau memang susah, kami bisa cari kontrakan yang lebih kecil. Atau… kami ikut Kakak dulu sementara.”
Rian menggeleng. “Aku sendiri masih belum tahu harus tinggal di mana. Kontrakan untuk satu orang saja sudah berat, apalagi untuk kalian semua.”
Keheningan kembali mengisi. Hanya suara Janu yang rewel dan angin sore yang berhembus. Rukmini duduk kembali dengan wajah kesal, sementara Lukman membuang muka. Rian berdiri di tengah mereka, merasa semakin terjepit.
Ia baru saja kehilangan rumah, kehilangan istri, dan sekarang keluarganya menuntut tempat tinggal yang tidak sanggup ia berikan. Untuk pertama kalinya, Rian benar-benar tidak tahu harus bagaimana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah berdebat panjang di pinggir jalan, mendengar keluhan ibunya yang tidak ada habisnya, dan melihat adiknya yang hanya bisa mengeluh tanpa solusi, ia merasa cukup, kali ini dia harus tegas. Ia mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi penjualan tiket, lalu memesan empat tiket bus malam menuju kampung halaman mereka. Tanpa banyak bicara, ia menunjukkan layar ponsel kepada Rukmini dan Lukman.
“Ini tiket kalian. Bus berangkat jam sembilan malam dari terminal. Aku sudah bayar. Ibu, Lukman, Sonya, dan Janu pulang ke kampung malam ini.” ucap Rian datar. Dia tidak bisa lagi menghidupi mereka, apalagi di Jakarta semuanya serba mahal.
Rukmini langsung membelalak. “Kamu serius? Kamu mengusir Ibu?!” serunya tidak terima.
“Bukan mengusir, Bu,” jawab Rian, suaranya tenang tapi tidak lagi lembut. “Aku tidak sanggup menanggung kalian di kota ini. Kontrakan mahal, gajiku terbatas, dan Lukman belum bekerja. Lebih baik pulang dulu. Di kampung masih ada rumah nenek. Nanti kalau keadaan sudah stabil, baru kita bicarakan lagi.”
Lukman berdiri, wajahnya merah. “Kakak tega sekali! Setelah semuanya, kami disuruh pulang seperti ini?”
Rian menatap adiknya lama. “Aku sudah terlalu lama mengalah, Luk. Sekarang aku pilih yang terbaik untuk semua. Termasuk untuk diriku sendiri.” tegasnya.
Ia menyerahkan print-out tiket yang baru saja ia dapat dari minimarket terdekat, beserta sedikit uang tunai untuk ongkos dan makan di perjalanan. Rukmini masih protes, menangis, mengancam tidak akan mengakui Rian sebagai anak, tapi Rian tidak lagi terpancing. Ia hanya berdiri diam, menunggu mereka menerima kenyataan.
Setelah memastikan barang-barang mereka dimasukkan ke dalam taksi yang akan mengantar ke terminal, Rian menghela napas panjang. Ia menatap ibunya untuk terakhir kali malam itu.
“Hati-hati di jalan, Bu. Kabari kalau sudah sampai.” pesannya.
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik. Langkahnya cepat menjauh dari kerumunan koper, tangisan, dan protes. Ia tidak menoleh lagi. Meskipun sang ibu dan adiknya berteriak memanggil namanya, Rian tetap tidak menoleh.
Rian berjalan menuju jalan raya, memesan ojek, lalu pergi meninggalkan mereka.
Di dalam hatinya, ada rasa bersalah yang masih tersisa. Tapi lebih dari itu, ada rasa lega yang aneh, ia tidak mengalah. Ia memilih untuk berhenti menanggung beban yang sudah terlalu lama menghancurkan hidupnya. Tapi rasanya semua itu percuma.
Harusnya Rian bersikap tegas sejak dulu, tidak harus menunggu istrinya menceraikannya.
*****
Setelah berkeliling, akhirnya Rian mendapatkan kosan yang tidak terlalu besar dan juga tidak sempit, tapi cukup untuk dia tempati. Ia duduk di tepi ranjang, menatap foto pernikahannya dengan Mia yang masih tersimpan di galeri ponselnya. Ada rasa sesal yang dia rasakan.
Air matanya jatuh tanpa disuruh.
“Maafkan aku, Sayang. Aku baru sadar setelah semuanya terlambat.” ucap Rian lirih.
Namun, permintaan maaf itu hanya menggema di kamar kosong. Mia sudah memilih pergi, dan Rian tidak tahu apakah masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya, atau tidak.
Sementara itu, di rumah orang tuanya, Mia sedang menemani Kayla bermain. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk dari pengacaranya.
"Proses perceraian bisa segera dilanjutkan. Apakah Anda siap menghadiri sidang berikutnya?"
Mia menarik napas panjang, lalu membalas singkat.
"Saya akan menghadirinya"
Ia meletakkan ponsel dan memeluk Kayla erat.
Kali ini, ia ingin memulai hidup baru tanpa harus terus mengorbankan kebahagiaannya sendiri.