Pengantin Pengganti Untuk Mafia.
Laura dijebak saat dia berniat bekerja sebagai seorang Nanny di sebuah mansion besar McManaman, Irlandia. Ia justru dijadikan pengantin untuk menggantikan putri berharga sekaligus pewaris McManaman dan menikahkan Laura dengan seorang Killian Marcano demi keuntungan sekaligus menjadi jembatan perdamaian antara dua keluarga mafia Irlandia dan New York.
Tekanan, ancaman, darah dan nyawa menjadi taruhan bagi Laura sehingga dia terjebak dalam lingkaran Sindycat. Dan berniat meracuni Killian Marcano di malam pertama mereka.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon Dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OTM — BAB 12
DUA HARI TANPA KILLIAN
Langkah Laura terasa berat namun tetap tegap saat ia melangkah keluar dari ruangan kerja Vincenzo, menyusuri lorong panjang menuju sayap kamar. Jendelanya besar dan jernih, membiarkan cahaya remang rembulan menyinari lantai marmer, namun pemandangan yang tertangkap mata membuatnya terhenti mendadak.
Suara gaduh dari halaman samping — bukan suara kendaraan atau percakapan, melainkan bunyi letusan pendek yang telanjang dan tajam. Ia mendekat perlahan, napasnya tertahan di kerongkongan.
Di sana, di bawah langit yang mulai menggelap, terhampar tanah yang kelam. Tiga orang pria tergeletak diam, darah mulai merembes membasahi rumput. Salah satunya mengenakan jubah keagamaan yang kini ternoda merah gelap. Di hadapan mereka, duduk seorang wanita di kursi lipat yang ditempatkan seakan menonton pertunjukan — Sandra, bersila, tenang, seakan yang dilihatnya bukanlah nyawa yang direnggut, melainkan hal yang biasa terjadi setiap sore.
“Itulah kenapa berpikir sebelum bertindak, dasar bajingan.” kata Sandra penuh emosi melihat para pengkhianat itu.
“Ap-apa yang mereka... ”
Laura mundur selangkah, kakinya terasa tak mampu bergerak lebih jauh. Wajahnya pucat pasi. Siapa mereka? Mengapa dibunuh? Kerja sama apa yang sesungguhnya terjalin antara McManaman dan Marcano, selain bisnis yang disembunyikan? Apa dunia yang sebenarnya ia masuki?
Pikirannya berputar liar, seakan ingin melompat keluar dari kepala. Ia tercekat, tak mampu mengeluarkan suara.
"Ketakutanmu sangat berbeda dengan keturunan McManaman."
Suara itu terdengar tenang, namun membuat seluruh tubuh Laura menegang. Ia berbalik mendadak. Di sana, berdiri Zoey — rambut jingganya tampak bercahaya meski cahaya redup, bibirnya menyeringai tipis, matanya menelusuri wajah Laura yang gemetar.
Laura menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, memaksakan wajahnya tampil tenang — menampilkan peran yang sejak awal dipaksakan kepadanya.
"Tidak semua orang terbiasa melihat kematian di halaman rumahnya," jawabnya, suaranya bergetar halus namun ia berusaha menegakkannya. "Bahkan putri keluarga terpandang pun tidak harus terbiasa dengan pemandangan semacam itu."
Zoey tertawa pelan — bukan tawa mengejek, melainkan tawa yang seakan tahu sesuatu yang Laura pura-pura tak ketahui. Ia melangkah mendekat ke jendela, menatap ke bawah di mana anak buah mulai memasukkan jenazah-jenazah itu ke dalam peti kayu yang sudah tersedia.
"Kau pikir keluarga McManaman hidup di atas permukaan yang bersih?" ucapnya pelan, matanya tetap tertuju pada pemandangan itu. "Menjadi putri dari sindikat seharusnya kau sudah terbiasa melihat hal-hal indah seperti itu."
Laura mengerutkan kening. "Sindikat?"
Zoey berbalik perlahan, menatapnya lekat. "Jangan berpura-pura lugu, Laura. McManaman maupun Marcano — keduanya sama saja. Bajingan yang bergerak di dunia bawah tanah. Di mana hukum ditulis dengan peluru, dan kesepakatan ditegakkan dengan darah."
Darah mengalir ke wajah Laura lalu menghilang seketika. Ia tahu. Ia menduga. Namun mendengarnya diucapkan begitu lurus, tanpa tabir, membuat kakinya terasa lemas. McManaman bukan sekadar keluarga kaya yang kejam. Mereka adalah bagian dari dunia gelap yang kini menyeretnya masuk tanpa izin. Dan seharusnya dia tidak melamar pekerjaan menjadi Nanny di Irlandia.
Ia teringat wajah ayahnya, ibunya — kematian mereka yang disebut kecelakaan, namun kini terasa bukan kebetulan. Teringat pula ucapan Kieran — ancaman mengenai Lily, yang dikatakan dimasukkan ke rumah sakit jiwa tanpa alasan yang masuk akal.
Lehernya terasa panas, napasnya menjadi berat hingga ia mengusap lehernya.
Zoey mengernyit melihat perubahan itu. "Kau terlihat tidak baik-baik saja."
"Aku... aku harus kembali ke kamar," jawabnya cepat, berbalik melangkah pergi sebelum wanita itu melihat lebih jauh kegelisahan yang tak dapat ia sembunyikan.
Langkahnya terburu, tak menoleh ke belakang.
Namun sebelum sampai di sayap kamar, suara lain terdengar — bukan letusan, melainkan desahan yang tertahan, lembut namun terdengar jelas di sudut ruangan yang sepi dekat perapian.
“Aaahh~ ”
“Emm~”
Laura berhenti. Ia melirik ke arah sumber suara. Di sana, di kursi lebar yang diterangi cahaya api yang berkedip, terlihat sesosok wanita muda — salah satu pelayan — duduk di pangkuan seorang pria. Pakaiannya melorot hingga pinggang, punggungnya telanjang di bawah cahaya remang. Laura hendak berbalik pergi, namun gerakan itu berhenti mendadak.
Terlalu cepat.
Pria itu mendorong pelayan tadi ke samping — bukan pelukan, melainkan sentakan kasar.
Brugh!
Tentu tubuh pelayan itu tergeletak tak bergerak di lantai. Di lehernya terlihat noda merah yang menggelap. Muchus duduk di sana, jubah tidurnya terbuka lebar, pistol diletakkannya di meja samping tanpa penyesalan sedikit pun.
Laura terpaku, kaku, tak mampu bergerak. Dunia di sekelilingnya seakan berhenti berputar.
“Sexy bitch...” Muchus mengikat tali jubahnya perlahan, lalu mengangkat pandangannya.
Dan saat itulah matanya bertemu dengan mata Laura yang membelalakkan ngeri. Ia tidak terkejut — hanya menyeringai, pelan, penuh kemenangan yang kelam. Ia melangkah mendekat, tanpa terburu-buru, seakan tahu gadis itu tak dapat lari.
Dan Laura benar-benar kaku seolah melihat penampakan yang mengerikan. Ia ingin lari namun tubuhnya gemetar hebat dan jantungnya berpacu sampai keringat dingin membasahi pelipisnya.
Tangan pria itu menyentuh pipi Laura yang dingin dan tegang. Ibu jarinya mengusap bibir yang gemetar dengan jarak wajah yang begitu dekat.
"Jangan takut..." bisiknya lembut, suaranya penuh godaan yang mengerikan. "Aku bisa menghiburmu. Kita bisa bersenang-senang, selagi Killian pergi."
Bibir Laura bergetar hebat. Matanya melirik sekilas ke arah sosok yang tergeletak di dekat perapian, lalu kembali menatap pria di hadapannya. Ia mundur selangkah, lalu berbalik dan berlari — secepat yang kakinya mampu, tak menoleh, tak berhenti hingga pintu kamarnya tertutup rapat dan dikunci berkali-kali.
Ia merosot ke lantai di balik pintu lalu bergegas meringkuk di atas kasur, menarik selimut menutupi tubuhnya yang gemetar hebat. Isak tangisnya tertahan di kerongkongan, tak berani keluar sepenuhnya. Ia sendirian. Di sarang orang-orang yang tak segan membunuh siapa pun.
-‘Lebih baik aku bunuh diri daripada membiarkan mereka menyentuhku dan membunuhku...’ batinnya, air mata mengalir di pelupuk mata yang tak lagi mampu menahan.
Terdengar ketukan di pintu. Pelan namun berat, berulang.
Laura yakin itu adalah bahaya, dan dia tidak ingin membukanya meski ketukan itu terdengar lagi, dan lebih keras. Namun Laura tak beranjak, matanya terpejam rapat, berjanji pada dirinya sendiri — tak akan membuka pintu itu untuk siapa pun.