NovelToon NovelToon
CINTA SEMANIS PARE

CINTA SEMANIS PARE

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Bad Boy
Popularitas:87
Nilai: 5
Nama Author: Agung Khan

CINTA SEMANIS PARE
Seorang playboy komersil yang terkenal di kampusnya, sangat terkejut ketika bangun tidur mendapati tubuhnya berubah menjadi seorang wanita cantik.
Wanita cantik itu sebenarnya adalah Awen, seorang mahasiswi tercantik di kampus namun sudah meninggal beberapa hari yang lalu.
Alu mempunyai saudara kembar bernama Afu, di mana Afu sangat menyukai awen pada saat Awen masih.
Seiring perjalanan waktu, dari kerumitan yang dialami alu dan perjalanan hidupnya Dia pun akhirnya benar-benar menjadi Awen.
Walaupun awalnya sempat terkendala tentang hubungan darah.
Akhirnya Afu dan Awen, yang sebelumnya adalah alu, akhirnya mereka berpacaran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Khan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SIDANG DUNIA PERI

SIDANG DUNIA PERI

Sementara itu, di dunia yang berbeda dari tempat Awen dan Alu tinggal, terdapat sebuah negeri bernama Antah Berantah

Negeri itu terasa sejuk sepanjang waktu. Tidak ada panas menyengat ataupun hujan yang turun membasahi bumi. Awan-awan putih menghiasi langit, sementara berbagai tumbuhan, bunga, dan buah-buahan tumbuh subur, menciptakan pemandangan yang menyejukkan mata.

Di negeri itulah dunia para peri berada.

Di sebuah aula megah, setiap dinding tampak berkilauan. Lantainya begitu mengilap hingga mampu memantulkan sosok siapa pun yang berdiri di atasnya. Lampion-lampion menggantung di langit-langit, sementara lentera-lentera menempel di sepanjang dinding. Cahaya keemasan dari berbagai ornamen berkilau seperti berlian, membuat siapa pun yang memandangnya akan terpesona.

Di tengah aula yang luas, sejumlah peri berkumpul dan duduk membentuk lingkaran. Di salah satu sisi ruangan, sebuah singgasana berdiri megah. Seorang wanita cantik duduk di atasnya, memancarkan cahaya dari seluruh tubuhnya.

Cahaya itu menyerupai bintang-bintang kecil atau kunang-kunang yang mengelilinginya. Setiap kali dia bergerak, percikan cahaya tertinggal di udara sebelum perlahan memudar.

Dialah Ratu Peri.

Di hadapannya, beberapa peri lain berkumpul. Mereka tidak kalah cantik, meskipun keindahan sang ratu tetap sulit ditandingi.

Sementara itu, seorang peri berbaju merah muda duduk terpisah dari yang lainnya.

Mereka sedang mengadakan sidang untuk membahas suatu perkara penting.

Sayap sang ratu, yang menyerupai sayap lebah atau capung, bergerak perlahan menjaga keseimbangan tubuhnya. Dengan mahkota keemasan di kepalanya, kewibawaan dan kebijaksanaannya semakin terpancar.

Sang ratu kemudian menunjuk seorang peri yang berdiri di hadapan peri berbaju merah muda tersebut.

“Ahsin, coba jelaskan kesalahan apa yang telah dilakukan Ling Ling sehingga kita harus mengumpulkannya di sini.”

Ahsin mengangkat sedikit selendang yang menjuntai di sisi tubuhnya. Gaun hijaunya bergerak lembut ketika dia melangkah maju. Setelah itu, dia membungkukkan tubuh sebagai tanda hormat.

“Ratu, Ling Ling telah melakukan kesalahan dalam menuliskan takdir kehidupan seorang wanita bernama Awen. Dia juga salah menuliskan takdir cinta yang seharusnya belum berakhir. Akibat kesalahannya, kehidupan wanita itu justru terputus karena Ling Ling menuliskan kematian untuknya.”

Ahsin berhenti sejenak sebelum melanjutkan penjelasannya.

“Padahal, catatan kematian tersebut seharusnya ditujukan kepada seorang pria bernama Alu.”

Sang ratu mengalihkan pandangannya kepada Ling Ling, peri berbaju merah muda yang duduk terpisah dari para peri lainnya.

“Ling Ling, apakah kamu tahu kesalahan yang telah kamu lakukan?”

Ling Ling perlahan mengangkat wajahnya.

“Saya tahu, Ratu. Saya telah salah menuliskan takdir cinta dan kehidupan seseorang.”

Sang ratu mengangguk kecil. Dia kemudian bangkit dari singgasananya dan berjalan perlahan di hadapan para peri. Setiap kali melangkah, percikan cahaya keemasan berjatuhan dari tubuhnya sebelum menghilang di udara.

“Baiklah. Mengingat statusmu masih sebagai peri cinta magang, kamu tetap harus menerima hukuman atas kesalahan tersebut.”

Ahsin segera mengangkat wajahnya. Dia mencoba memberikan pembelaan untuk peri yang berada di bawah bimbingannya.

“Maaf, Ratu. Kesalahan ini juga menjadi tanggung jawab saya. Saya kurang memperhatikan tindakan Ling Ling. Padahal, dia masih magang dan seharusnya saya terus mendampinginya.”

Sang ratu menoleh kepada Ahsin.

“Ahsin, ini bukan sepenuhnya kesalahanmu. Ling Ling memang masih harus melalui proses pembelajaran. Aku memahami bahwa kemampuannya belum sempurna.”

Sang ratu kembali menatap Ling Ling.

“Karena itu, hukumannya adalah turun ke dunia manusia dan menjadi pendamping manusia. Namun, dia tetap harus bertanggung jawab atas kesalahannya. Dia harus memperbaiki takdir cinta yang telah dirusaknya dan mencarikan tubuh yang tepat agar wanita bernama Awen dapat kembali menjalani kehidupannya.”

Ahsin tampak ragu.

“Tetapi, Ratu, saya khawatir Ling Ling belum siap turun ke dunia manusia. Kemampuannya masih sangat terbatas sebagai seorang peri.”

“Justru itulah tanggung jawabmu, Ahsin,” jawab sang ratu tegas. “Aku ingin kamu membimbingnya. Entah bagaimana caranya, pastikan Ling Ling berhasil memperbaiki takdir cinta manusia bernama Awen tersebut.”

Ahsin menundukkan kepala.

“Baik, Ratu.”

Setelah menyampaikan keputusannya, sang ratu membubarkan sidang.

Para peri pun beranjak meninggalkan aula. Sebagian mengepakkan sayap dan terbang menuju tempat masing-masing.

Sementara itu, Ling Ling segera menghampiri Ahsin dan memeluknya erat.

“Ibu Peri, maafkan saya. Saya sudah membuat Ibu repot.”

Ahsin membelai rambut Ling Ling yang berwarna putih.

“Sudahlah, Ling Ling. Apa yang sudah terjadi biarlah terjadi. Sekarang, kamu harus benar-benar mempelajari hukumanmu dan menyelesaikan semuanya dengan baik.”

Ling Ling mengangguk kecil.

“Sekarang, kamu harus turun ke dunia manusia dan mencari tubuh yang tepat untuk menghidupkan kembali Awen,” lanjut Ahsin.

“Tetapi, Ibu Peri, sebenarnya saya sudah mencari-cari tubuh yang tepat. Saya tidak menemukannya, kecuali tubuh seorang laki-laki yang seharusnya menjadi korban kecelakaan waktu itu.”

Ahsin mengerutkan kening.

“Apakah kamu sudah mencoba memasukkan jiwa Awen ke dalam tubuh laki-laki itu?”

“Sudah, Ibu Peri. Namun, tubuh itu selalu menolaknya. Energi yin di dalam tubuh laki-laki tersebut terlalu kuat sehingga jiwa Awen selalu tertolak.”

Ahsin terdiam sejenak, memikirkan jalan keluar.

“Kalau begitu, Ling Ling, kamu tidak perlu takut. Sekarang, pindahkan saja jiwa laki-laki itu ke tubuh Awen. Mumpung tubuh Awen belum rusak dan belum dikuburkan.”

Ling Ling menatapnya dengan ragu.

“Lalu, bagaimana dengan tubuh laki-laki itu?”

Ahsin mengeluarkan sebuah kantong kecil dan menyerahkannya kepada Ling Ling.

“Bawa bubuk peri ini. Setelah kamu memindahkan jiwa laki-laki itu ke tubuh Awen, taburkan bubuk ini ke tubuhnya.”

Ling Ling menerima kantong tersebut.

“Tetapi, bagaimana caranya, Ibu Peri?”

“Kamu harus melakukannya ketika laki-laki itu sedang tertidur agar dia tidak menyadari apa yang terjadi.”

“Tetapi, Ibu Peri, itu kan—”

Belum sempat Ling Ling menyelesaikan perkataannya, Ahsin sudah memotongnya.

“Sudah, cepat pergi! Selesaikan tugasmu sebelum tubuh Awen benar-benar dikuburkan.”

Ling Ling akhirnya mengangguk. Dia segera mengepakkan sayapnya dan melesat menuju dunia manusia.

---

Ling Ling tiba di rumah duka tempat jasad Awen disemayamkan.

Ruangan itu sedang sepi. Tidak ada seorang pun di sana. Hanya tersisa beberapa bekas pembakaran uang kertas mainan di sekitar tempat persemayaman.

Ling Ling mendekati jasad Awen, lalu mengeluarkan bubuk peri dari kantongnya.

Dia menaburkan bubuk itu ke tubuh Awen.

Seketika, tubuh tersebut bergetar hebat dan memancarkan cahaya keemasan. Tubuh Awen perlahan terangkat ke udara.

Dalam sekejap, tubuh itu berubah dan kembali terbaring dengan wujud Alu.

Ling Ling mengembuskan napas lega. Dia kemudian mengeluarkan bubuk pengganti waktu dan menebarkannya ke seluruh ruangan agar siapa pun yang datang tidak menyadari perubahan yang baru saja terjadi.

Setelah memastikan semuanya aman, Ling Ling segera terbang menuju apartemen Alu.

Di sana, Alu sedang tertidur sambil memeluk Afu.

Melihat kesempatan itu, Ling Ling segera mendekati mereka. Dia menaburkan bubuk peri ke tubuh Alu.

Perlahan, tubuh Alu berubah menjadi tubuh Awen yang cantik. Gadis itu tetap tertidur tanpa menyadari apa yang sedang terjadi.

Ling Ling kembali menebarkan bubuk pengganti waktu agar Afu tidak mengetahui perubahan tersebut ketika terbangun.

Setelah itu, dia mengambil kantong lain berisi bubuk perubahan wujud.

Bubuk tersebut ditaburkan ke tubuh Alu yang kini telah berubah menjadi Awen. Perlahan, tubuh itu menyusut hingga berukuran kecil.

Ling Ling dengan hati-hati memasukkan tubuh tersebut ke dalam sebuah kantong.

Setelah memastikan tubuh itu tersimpan dengan aman, dia kembali terbang menuju rumah duka.

Di sana, jasad Awen masih terbaring di tempatnya semula.

Ling Ling mengeluarkan bubuk perubahan wujud dan menaburkannya ke tubuh Awen hingga tubuh itu menyusut.

Kemudian, dia mengeluarkan tubuh Alu yang sebelumnya telah berubah menjadi Awen. Dia meletakkannya di atas altar tempat jasad Awen semula disemayamkan.

Ling Ling kembali menaburkan bubuk perubahan wujud. Tubuh kecil tersebut perlahan membesar hingga kembali ke ukuran normal dengan penampilan Awen.

Kini, tubuh Awen yang berada di atas altar sebenarnya adalah tubuh Alu yang telah berubah wujud.

Ling Ling meraba tas di pinggangnya dan mencari kantong berisi bubuk penukar jiwa.

Setelah menemukannya, dia menaburkan bubuk tersebut ke tubuh Alu.

Seketika, sesosok bayangan pria keluar dari bagian atas kepala tubuh itu.

Ling Ling segera mengeluarkan sebuah alat penangkap jiwa, lalu menangkap bayangan tersebut. Setelah berhasil mengurungnya, dia memasukkan jiwa Alu ke dalam tabung kecil yang terbuat dari kaca.

Dia memeriksa kembali tempat persemayaman untuk memastikan semuanya telah selesai.

Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, Ling Ling membawa tubuh Alu yang telah berubah menjadi Awen dan tabung berisi jiwa Alu kembali ke apartemen.

---

Sesampainya di apartemen, Ling Ling meletakkan kembali tubuh Alu yang berwujud Awen di tempat tidur, tepat di samping Afu.

Dia kemudian menaburkan bubuk perubahan jiwa ke tubuh tersebut hingga wujudnya kembali seperti Alu.

Setelah itu, Ling Ling membuka tabung kecil yang berisi jiwa Alu. Dia menggunakan bubuk penukar jiwa untuk mengembalikan jiwa tersebut ke tubuh Alu yang kini terbaring di samping Afu.

Ling Ling memperhatikan tubuh Alu cukup lama.

“Sudahlah. Untuk saat ini, semuanya sudah beres. Tubuh Awen sekarang sudah kembali berwujud Alu. Tidak akan ada yang mencurigainya.”

Dia kemudian mengeluarkan sebuah jam pasir dan meletakkannya di bawah tempat tidur mereka.

“Kalau pasir di jam ini habis, tubuh Alu akan berubah dengan sendirinya menjadi tubuh Awen.”

Ling Ling mengangguk puas, merasa tugasnya telah selesai.

Dia segera meninggalkan apartemen dan kembali menuju dunia peri.

---

Sesampainya di dunia peri, Ling Ling menemui Ahsin untuk melaporkan semua yang telah dilakukannya.

Ahsin mendengarkan laporan itu dengan saksama. Setelah merasa yakin bahwa Ling Ling telah menjalankan tugasnya, dia mengangguk.

“Baiklah, Ling Ling. Sekarang kamu beristirahatlah. Kita tunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.”

Ling Ling mengangguk patuh.

Waktu pun berlalu tanpa disadari oleh Afu, yang masih tertidur sambil memeluk tubuh Alu di sampingnya.

Di bawah tempat tidur mereka, pasir dalam jam pasir terus berjatuhan, perlahan mendekati butiran terakhir.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!