Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 1
Mini love garden, merupakan sala satu novel yang ia buat saat zaman pubertas awal, tokoh dari cerita cukup unik dan sangat emosional ,dan penataan kata yang cukup buruk has pemula, satu kata untuk novel itu,aib.
Bagi Revano novel yang ia buat pada masa pubertas itu merupakan aib bagi nya sebagai penulis, dia merasa malu sendiri saat ia membaca kembali naskah yang sempat ia publish di platform menulis, ingin rasanya ia menghilang dari dunia saat membaca dialog alay yang ia buat.
Dan sekarang ,ia malah masuk ke dunia yang ia buat sendiri sebagai sala satu character yg ia buat .
***
Di sala satu ruangan, terlihat seorang pemuda tengah berbaring di atas kasur dengan mata yang masih berpokus pada smartphone nya, tangan nya begitu lincah bergerak mengirim balasan dari temannya yang berada jauh di kota tetangga , sekali-kali ia akan tertawa terbahak-bahak membaca percakapan mereka.
Ting...suara notifikasi terdengar memperlihatkan sebuah balasan dari sang teman .
Mini love garden novel lo kan,gue udah baca di platform gak sengaja Nemu .
Gue kaget sumpah , ternyata penulis Revano bisa buat novel se-alay ini .
Mata pemuda Itu seketika membulat ,ia baru mengingat novel pertama milik nya pada masa pubertas ,dan benar saja setelah mencari di platform yang di sebut kan terdapat novel nya di bagian paling atas,dan dilihat dari penayangan nya sepertinya hampir mencapai 500 ribu pembaca dengan vote 10 ribu .
Padahal episode yang ia buat lebih dari sepuluh malahan 40 ,tapi vote yg ia miliki benar-benar rendah seperti pemikat nya juga rendah.
Revano berdecak kecil, melihat novel yang ia buat dari cover nya saja ia merasa ingin pergi dari dunia saking malunya "astaghfirullah kenapa gue dulu membuat cover nya jelek banget sihhh!!"teriaknya nyaring mengema di seluruh ruangan.
Ingin rasanya ia hapus atau merevisi nya besar-besaran ,namun akun yang ia buat berbeda dengan yang dulu ,dan ia juga telah melupakan sandi untuk memasuki akun lama milik nya.
"Bjirr,, sumpah, seorang Revano membuat novel se-alay ini ,jijay banget!!"hardiknya pada diri sendiri.
Ia membaca kembali novel yang ia buat sesekali ia akan mencaci dirinya di masa lalu karena membuat novel se jelek ini, menurut nya.
Ia heran, walaupun jelek namun masih ada orang-orang yang menunjuk ketertarikan pada novel ini, seperti komentar pada bab terakhir yang menanyakan season 2 .
Revano kaget,namun di sisi lain hati nya menghangat mendapatkan komentar baik para pembaca, inilah alasan kenapa Revano menekuni dunia ke penulisan. karena dengan menulis ia merasa bebannya sedikit terangkat ,dan ia merasa sedikit di hargai karena bakat yang ia miliki .
"Di pikir-pikir kenapa dulu gue ngebet banget pengen jadi penulis ya?di saat teman-teman gue ingin jadi tentara dan polisi kok gue bisa-bisa ingin jadi penulis?aneh."monolog nya,dan setelah itu mata nya memberat, kesadaran nya seperti direnggut paksa oleh sesuatu dan membuat Revano jatuh terlelap.
Mata yang sempat terpejam itu perlahan terbuka, memperlihatkan netra hitam yang dilingkari semburat gelap. Ada lelah yang berdiam di sana, ada sakit yang berusaha ia tahan. Seolah setiap kedipan menjadi bukti bahwa tubuhnya sudah terlalu lama berperang melawan sesuatu yang tak pernah benar-benar sembuh.
Ughh... lenguhnya pelan saat merasakan rasa pusing yang menjalar di seluruh kepalanya, matanya mulai mengerjap menyesuaikan cahaya.
Tubuhnya lemah dan terasa berat. Dengan setiap tarikan nafas yang terasa menyakitkan.
“Dimana aku …” gumamnya lemah. Matanya melirik kesetiap sudut ruangan. Yang bernuansa putih dengan bau antiseptik yang menyengat menyebar di udara.
Asing. Itu yang pertama ia rasakan. Lalu, sekelebat ingatan menerobos masuk ke dalam bayangannya—terlalu nyata, terlalu tajam. Setiap fragmen berisi penderitaan yang pernah ia rasakan; begitu jelas hingga tubuhnya gemetar menahannya.
Sakit itu kembali, menancap begitu dalam hingga ia mengerang. Tangannya terangkat dan menjambak rambutnya sendiri, keras, seolah itu satu-satunya cara untuk menetralkan rasa perih yang mendesak dari dalam kepalanya.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dengan hentakan keras. Seorang wanita lansia muncul di ambang, langkahnya tergesa-gesa seolah baru saja berlari dari ujung lorong. Keriput di wajahnya menegang saat melihat kondisinya—sorot matanya langsung dipenuhi panik dan kekhawatiran yang menua bersama waktu.
“Den Vian !!, Aden kenapa ada yang sakit!!” Ucapnya . Dia menatap sedu ke arah Vian dengan mata yang terlihat memerah menahan tangis.
"Gak papa, Nek… Vian cuma mimpi buruk," lirihnya pelan. Ia mencoba tersenyum kecil, berharap senyumnya cukup untuk menenangkan hati wanita itu.
Namun wanita tua itu tidak mudah percaya. Alisnya mengerut, sorot matanya meneliti setiap inci wajah Vian seolah mencari kebohongan yang disembunyikan di antara napasnya yang masih tersengal. Tangan keriputnya terulur, menyentuh pipi Vian dengan hati-hati—sentuhan yang penuh takut kehilangan.
“Jika ada yang Aden rasakan , jangan di tahan ya ? Beritahu saya” ucapnya lembut mengelus sayang rambut lebat Vian yang telah memanjang. Vian mengangguk kecil dengan senyuman yang masih sama.
“Nek Vian ingin sendiri” ucapnya lagi. Wanita tua itu terlihat enggan meninggalkan Vian . Namun ia mengangguk. Menyetujui permintaan Vian. Meninggalkan nya sendiri di ruangan yang masih sama asing baginya.
Hahh… Hela nafasnya keluar . Begitu berat dengan semua beban yang menumpuk di benaknya tiba-tiba. Kepalanya pusing memikirkan kejadian menakjubkan yang hanya terjadi di dunia novel. Dengan setetes air keputusasaan mengalir di pipi tirus nya.
“Kenapa malah Vian sihh!?”ucapnya tertahan. Menahan perasaan sedih sekaligus kesal di benaknya.
“Harusnya kan Revano , sebagai penulis Revano adalah perwujudan asli dari diriku sendiri . Kenapa Vian?!”protesnya lagi. Dia melayangkan amarah tertahan nya dengan meninju udara kosong. Satu tinju,dua ,tiga, sampai tangannya pegal.
Setelah merenung beberapa menit , akhirnya ia menerima kenyataan . Bahwa dirinya telah berubah. Bukan lagi Revano sang penulis. Tetapi Vian Dharmawangsa – sala satu karakter yang ia buat.
Vian mengambil buku jurnal milik Vian yang asli– yang tersimpan di nakas. Ia menelisik setiap sudutnya dengan penuh penilaian. Jurnal itu tampak polos—bersampul biru cerah, sederhana, dengan nama pemilik yang ditulis rapi di pojok kanan.
Di lembar pertama, hanya ada sedikit biodata tentang Vian asli, dihiasi gambar-gambar kecil yang lucu di setiap sudutnya—
Lembar kedua kosong. Lembar ketiga dan keempat juga sama, sepi, seperti ada cerita yang sengaja tidak dituliskan.
Baru pada lembar kelima, tulisan mulai memenuhi halaman. Tulisan yang tidak stabil, miring, dan tampak terburu-buru—keluhan kecil yang terasa seperti napas terakhir seseorang yang sudah terlalu lama sendirian.
28/01/****
Aku lelah
26/02/****
Aku capek sakit terus
25/07/****
Katanya hidup ku tak lebih dari 3 bulan
Entah kenapa, rasa bersalah tiba-tiba menyeruak dari dalam dadanya. Saat membaca tulisan tangan seorang anak kecil yang begitu putus asa akan dunia membuat sesuatu di dirinya runtuh pelan-pelan. Seharusnya… ia tidak merasakan ini. Seharusnya ini bukan beban miliknya. Tapi kalimat-kalimat itu terlalu nyata, terlalu menyakitkan untuk diabaikan.
Atau mungkinkah ia yang bersalah di sini? Batinnya .
“Maafkan aku Vian , karena aku kamu kesakitan” ucapnya lemah penuh rasa sesal. Ia memandangi setiap goresan pensil itu dalam diam. Menatap sedu setiap kalimat yang terukir di dalamnya “ ya….mungkin ini salah aku.” bisiknya lagi , lebih lirih. “Karena aku yang menciptakan mu”
Kata-kata itu menggantung di udara, terasa asing namun benar. Ada sesuatu yang mengikat dirinya dengan anak itu—sebuah hubungan yang tidak seharusnya ada, namun terlalu nyata untuk disangkal.
Nyatanya Vian menderita karenanya itu tak bisa ia sangkal. Dan itulah kebenaran nya.
"Sebagai bentuk permintaan maaf… aku akan memperbaiki hubungan keluargamu yang sudah kuhancurkan," gumamnya pelan, namun tekadnya terasa kuat.
Ucapan itu bukan hanya janji untuk dirinya sendiri. Tanpa ia sadari, itu adalah janji yang ia tujukan pada Vian asli—seseorang yang tak lagi bisa bersuara, namun meninggalkan jejak luka yang kini harus ia lanjutkan.