Tiga tahun mendekam di penjara, Annabella tak menyangka kebebasannya justru menjadi awal penderitaan baru.
Lucian Winston, CEO Wins IT yang menyimpan dendam atas penculikan adiknya, membebaskan Annabella demi satu tujuan: menjadikannya istri dan menghukumnya dengan caranya sendiri.
Annabella menolak, hingga Lucian mengancam keselamatan Aditya, pamannya yang sedang koma dan terancam kehilangan perawatan akibat kebangkrutan.
Demi menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa, Annabella terpaksa menerima pernikahan tanpa cinta dengan pria yang membencinya.
Namun, sampai kapan Annabella mampu bertahan di tengah dendam Lucian? Dan bagaimana jika di balik kebencian itu, ada rahasia yang mampu mengubah segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Meninggal
Di rumah Maya, suasana jauh lebih hidup dan hangat.
Yumna berlarian mengelilingi ruang tamu, terkikik renyah tanpa beban. Dua hari ini, ia menikmati kebebasan yang sesungguhnya—bisa bermain dan bermanja-manja dengan Annabella tanpa rasa takut akan bayang-bayang kelam kediaman Winston. Di sisi lain, Maya baru saja mengetahui sebuah fakta mengejutkan: sahabatnya itu ternyata telah terikat pernikahan dengan Lucian Winston, seorang taipan yang namanya selalu menghiasi berita utama.
Sore itu, Maya mencoba mengisi waktu dengan mengenalkan Yumna pada dunia digital, iseng mengajari bocah itu dasar-dasar pemrograman komputer.
Awalnya, Maya menduga Yumna hanya akan bosan atau sekadar menekan-nekan tombol keyboard. Namun, dalam hitungan menit, mata Maya membelalak tak percaya.
Yumna tidak sekadar mengerti; ia menyerap konsep-konsep rumit yang bahkan membuat anak-anak seumurannya kebingungan.
Maya menatap layar monitor lalu beralih pada bocah di sebelahnya dengan tatapan kagum. “Yumna, kau... kau benar-benar di luar nalar! Baru sebentar kuberi tahu, tapi kau sudah paham jalurnya. Kau ini anak jenius, ya?”
Yumna mendongak, mengangkat dagunya bangga dengan mata berbinar. “Yumna jenius. Anak Mama yang paling pintel.”
Maya terkekeh gemas sambil mengacak-acak rambut Yumna. “Pede sekali anak manis ini.”
“Memang benal, Papa yang celing ajalin Yumna dulu.”
Maya tersenyum, namun sedetik kemudian jemarinya menghentikan aktivitas. Ia melirik sekilas ke arah dapur, memastikan Annabella masih sibuk di sana. Setelah merasa aman, ia bergeser mendekat, merendahkan suaranya menjadi bisikan penuh rasa penasaran.
“Yumna... baby, sebenarnya kamu ini siapa, sih?”
Senyum di wajah Yumna seketika memudar, digantikan ekspresi kaku.
Maya mengamati perubahan drastis itu. “Jangan salah paham, Onty bertanya bukan tanpa alasan. Dua hari lalu Onty mencoba melacak identitasmu di basis data kependudukan negara ini. Tapi hasilnya nihil, Yumna. Namamu tidak terdaftar di mana pun. Seolah-olah kau ini manusia dari dunia lain yang tiba-tiba jatuh ke bumi.”
Melihat Yumna menunduk dalam-dalam, Maya memberanikan diri menebak dengan nada setengah berseloroh. “Karena itu... Onty punya teori gila. Apa jangan-jangan... Yumna berasal dari masa depan?”
Ruangan itu mendadak sunyi. Yumna terdiam sangat lama.
Hingga perlahan-lahan, bocah kecil itu mengangguk pelan.
“Yumna dali maca depan, Onty.”
“Hah? Serius?!” pekik Maya spontan, buru-buru membekap mulutnya sendiri agar suaranya tidak tembus ke dapur.
Yumna semakin menunduk. Bahu kecilnya turun, dan keceriaan di wajahnya menguap, digantikan kesedihan yang pekat.
“Waktu belmain di camping lumah, Yumna ndak cengaja jatuh ke lubang becal. Telus... Yumna bangun-bangun cudah di lumah cakit. Waktu Yumna cali Kakek, telnyata Kakek cakit palah. Di citu... Yumna ketemu Mama, tapi Mama macih hidup di caman ini.”
Maya menatap bocah itu dengan napas tertahan.
Lubang waktu? Anak dari masa depan?
Logika Maya sebagai seorang hacker rasional seketika berontak. Semua itu terdengar seperti plot fiksi ilmiah. Namun, ketika ia melihat kecerdasan luar biasa Yumna dan ketiadaan data kependudukannya, fondasi logikanya runtuh. Di era modern ini, teknologi eksperimental bisa melakukan hal-hal gila.
Maya menarik napas dalam-dalam, berusaha menata debaran di dadanya. “Kalau begitu... bagaimana dengan ibumu? Apa ibumu juga masih hidup di masa depanmu?”
Yumna menggeleng perlahan. Genangan air mata seketika tumpah dari pelupuk matanya yang besar.
Maya merenung sejenak, lalu merangkul bahu mungil itu lembut. “Hei... kenapa, Sayang? Apa yang terjadi pada ibumu di masa depan?”
Bibir Yumna bergetar hebat, menahan tangis yang pecah. “Mama... Mama Yumna meninggal... Kacian Mama, Onty. Ndak ada yang cayang Mama di cana.”
Maya terpaku. Darahnya terasa berhenti mengalir. SebeLum ia mencerna arti dari kalimat itu, atau bertanya tentang siapa sosok ayah anak ini suara langkah kaki terdengar mendekat dari arah dapur.
Annabella muncul membawa nampan berisi dua cangkir susu hangat. Ia kebetulan menangkap potongan kalimat awal yang diucapkan Yumna. Langkah kakinya terhenti. Manik matanya menatap Yumna yang berlinang air mata, lalu beralih pada Maya yang tampak pucat pasi.
Wajah Annabella diselimuti kebingungan yang pekat.
“Meninggal? Siapa yang meninggal, Maya?” suara Annabella bergetar pelan.
Maya dan Yumna tersentak kaget, menoleh secara bersamaan.
Yumna dengan panik menyeka air matanya, sementara Maya tak dapat berkata-kata untuk sedetik saja.
Annabella meletakkan nampan di atas meja, lalu bergegas menghampiri mereka dengan cemas. “Kenapa kalian menangis? Ada apa sebenarnya? Yumna, siapa yang meninggal, Nak?”
Yumna menatap Annabella lekat-lekat, matanya sembap dan merah. Bibir kecilnya teragak-agak, seolah ingin meneriakkan rahasia besar yang menyiksa dadanya. Namun, alih-alih menjawab, bocah itu justru menerjang maju, memeluk erat kaki Annabella dengan segenap tenaga.
Annabella terperanjat. Tanpa pikir panjang, ia berjongkok menyamakan tinggi, merengkuh tubuh mungil itu ke dalam dekapannya.
“Yumna, Sayang... ada apa? Kenapa menangis separah ini?”
Yumna tak bersuara. Ia hanya membenamkan wajahnya di dada Annabella, mendekap erat wanita itu seolah-olah jika ia melepaskannya sedetik saja, Annabella akan lenyap ditelan udara kosong.
Mama... isak batin Yumna, mencurahkan seluruh kerinduan dan ketakutan yang ia pendam selama ini.
___
ketika mantan napi menjadi istri CEO Hero Lucian Heroin Annabella.
dtggu kelanjutan ny mom ,,
dn apa bnr Erwin tu kk ny anabella???