NovelToon NovelToon
Ibu Susuan Sang Mafia

Ibu Susuan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Suhada Bintan

Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.

Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.

Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24 versi bab

Di luar kediaman tersembunyi itu, badai yang sesungguhnya baru saja dimulai.

Dua bayangan bergerak dalam senyap di balik rimbunnya pohon yang mengitari rumah tersebut, sementara sebuah van hitam menunggu di area yang lebih gelap. Di dalam van itu, Billy duduk di balik kemudi dengan napas yang agak memburu. Tangannya yang mencengkeram setir sedikit gemetar. Sebagai sopir pribadi Dikta, ini adalah pertama kalinya ia terlibat dalam operasi sedekat ini dengan bahaya nyata.

"Hendra... apa mereka tidak akan ketahuan? Rumah itu dijaga ketat. Aku bisa melihat setidaknya ada lima orang bersenjata di perimeter luar," bisik Billy dengan raut yang tak bisa disembunyikan.

Di kursi penumpang depan van yang disulap menjadi ruang kendali darurat, Hendra tetap tenang. Jemarinya menari cepat di atas layar tablet taktisnya, memantau pergerakan arus listrik dan kamera pengawas bangunan tersebut.

"Diam dan fokus pada kemudimu, Billy. Jangan biarkan mesin mobil ini mati satu detik pun. Tarik napas dalam-dalam dan tenangkan dirimu," jawab Hendra dingin tanpa menoleh sedikit pun. Pria berkacamata itu kemudian menekan tombol komando taktis di telinganya. "Marco, posisimu sudah mendekati gerbang samping. Dua puluh detik lagi, jalur kamera pengawas sektor barat akan mengalami looping. Perimeter luar bersih. Ambil alih jalur masuk sekarang. Billy, bersiap untuk langsung tancap gas jika situasi memburuk."

Billy menelan ludah dengan berat, menyeka keringat dingin yang mulai membanjiri dahinya. "D-dimengerti, Hendra. Aku bersumpah, jika kita lolos dari sini hidup-hidup, aku hanya ingin menyetir di jalan raya biasa dengan kecepatan normal. Ini terlalu gila untuk seorang sopir."

"Simpan keluhanmu untuk nanti, Billy. Operasi dimulai sekarang," potong Hendra tegas.

Di area luar, Marco melangkah masuk dengan aura yang luar biasa menakutkan. Sebagai tangan kanan kepercayaan Dikta Dirgantara, rahangnya mengeras. Tangannya memegang erat sebuah senjata laras pendek yang siap memuntahkan timah panas kapan saja. Pikiran Marco hanya tertuju pada Arini.

"Hendra, pastikan posisi Bu Arini sekarang. Jangan sampai aku salah melangkah," perintah Marco.

"Lantai bawah tanah. Ruang isolasi nomor tiga," sahut Hendra cepat melalui jalur komunikasi earpiece. "Ada tiga sinyal panas di dalam ruangan bersama Bu Arini. Itu pasti Arman, Salma, dan Bagas. Dan ada dua penjaga berbadan besar tepat di depan pintu koridor utama bawah tanah."

"Dua penjaga? Bukan masalah besar," desis Marco kejam. "Jalankan rencana B. Hendra, matikan seluruh aliran listrik rumah ini dalam hitungan ketiga."

"Tiga... dua... satu... Eksekusi," jawab Hendra dari dalam van.

KLIK

Seketika itu juga, seluruh bangunan rumah itu menjadi gelap gulita akibat sabotase sistem listrik oleh Hendra dari luar.

Di dalam kamar penyekapan, aku tersentak saat lampu di langit-langit mendadak padam total. Aku tidak bisa melihat apa-apa, hanya bisa mengandalkan indra pendengaranku.

"Sialan! Bagas, kenapa lampunya mati?!" teriak Salma histeris di kegelapan. Ia melangkah pelan hingga tersandung. "Bagas! Jawab Ibu!"

"Aku tidak tahu, Ibu! Mungkin sekringnya putus atau ada korsleting!" balas Bagas yang suaranya juga mulai bergetar.

"Tenang! Jangan panik seperti orang bodoh!" bentak Arman Wijaya, mencoba mengendalikan situasi meski napasnya sendiri terdengar memburu hebat di sudut ruangan. "Bagas, jangan diam saja seperti patung! Nyalakan senter ponselmu sekarang! Jaga pintu kamar!"

"T-tunggu, Pak... ponselku... ponselku tidak ada sinyal sama sekali! Senter ponselku juga tidak mau menyala, layarnya membeku!" pekik Bagas yang semakin panik karena merasa ada yang tidak beres dengan perangkat elektroniknya yang telah dilumpuhkan oleh sinyal jammer Hendra.

Belum sempat Bagas menyelesaikan kalimatnya, suara hantaman keras yang sangat solid terdengar dari arah koridor luar. Marco sedang mengeksekusi dua penjaga di depan pintu koridor dengan gerakan taktis kilat. Tangan kanan Dikta itu menghujamkan pukulan beruntun ke rahang penjaga pertama, lalu mencengkeram leher penjaga kedua dan membenturkannya ke dinding beton dengan kuat hingga penjaga itu pingsan.

Tepat setelah itu, langkah kaki yang berat dan cepat terdengar mendekat. Marco melangkah masuk menerobos ambang pintu kamar penyekapan Arini—yang memang sudah terbuka lebar dan hancur di lantai akibat hantaman brutal Bagas sebelumnya saat mereka menginterogasi tadi.

KLIK

Sebuah senter taktis berdaya tinggi yang terpasang di bawah moncong senjata Marco mendadak menyala, membelah kegelapan ruangan, mengunci pergerakan Bagas, Arman, dan Salma.

"Angkat tangan kalian di atas kepala dan jangan bergerak satu inci pun! Jika ada yang berani menurunkan tangan, kepala kalian akan berlubang malam ini!" gertak Marco dengan suara yang tegas dan menggelegar.

Marco... tangisku menjerit dalam hati. Air mata kelegaan langsung meleleh di pipiku yang sudah mulai mati rasa akibat suntikan itu.

"Siapa kau?! Berani sekali kau menerobos properti milik keluarga Wijaya dan menodongkan senjata pada kami!" bentak Arman Wijaya, mencoba menyembunyikan kepanikannya sambil melangkah mundur hingga punggungnya membentur lemari tua.

"Kau tidak perlu tahu siapa aku, Tua Bangka. Yang jelas, waktu kalian di dunia ini sudah habis," desis Marco dengan nada kejam tanpa menurunkan moncong senjatanya sedikit pun.

Bagas yang dilanda ketakutan mendadak mencoba bergerak maju secara pelan. Namun, gerakan Bagas terlalu lambat bagi pria terlatih seperti Marco. Sebelum Bagas mampu melangkah lebih jauh, Marco sudah lebih dahulu maju. Tangannya bergerak secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Bagas, memutarnya dengan sudut yang tidak wajar ke belakang punggung pria itu.

KREK

"Aaaghh! Tanganku! Lepaskan! Sakit, bajingan! Ibu, tolong aku!" jerit Bagas kesakitan sambil berlutut di lantai dengan wajah yang meringis, menahan sakit.

"Bagas!" teriak Salma histeris melihat anaknya tak berdaya. Ia hendak melangkah maju, namun moncong senjata dingin milik Marco langsung beralih tegak lurus, menunjuk tepat di antara kedua matanya.

"Satu gerakan bodoh lagi dari mulut atau kakimu, wanita Tua! Aku tidak akan segan menembakmu di tempat ini juga," ancam Marco dingin.

Salma seketika pucat pasi seperti kain kafan, sementara Arman hanya bisa berdiri kaku dengan napas memburu dan tangan gemetar di atas kepala. Setelah memastikan keadaan sesuai rencana, Marco melepaskan cengkeramannya pada Bagas hingga pria itu tersungkur lemas. Ia mengikat ketiganya dibantu oleh anak buahnya yang baru masuk sesuai perintah. Marco menjatuhkan senjatanya ke lantai lalu langsung berlutut di sebelah tubuhku yang terbaring kaku di atas lantai.

"Bu Arini! Bu Arini, lihat aku! Bisakah kau mendengarku?" Marco mengangkat tubuh kurusku ke dalam pelukan hangatnya yang kokoh. Tangan besarnya yang sedikit gemetar menyentuh lembut pipiku yang membiru akibat tamparan keras Salma sebelumnya.

Saat senter taktisnya menyoroti sebuah jarum suntik kosong yang tergeletak di dekat leherku, sepasang mata Marco seketika memerah. "Racun saraf... Bajingan! Apa yang sudah bajingan-bajingan ini suntikkan ke tubuhmu?!"

"Marco..." lirihku dengan sisa tenaga yang hampir habis. "S-suntik... panas... dada... dada aku seperti terbakar api dari dalam... aku tidak bisa menggerakkan kakiku..."

"Tahan, Bu Arini! Jangan berani-berani memejamkan matamu, tetap menatapku dan terus bernapas!" teriak Marco, suaranya terdengar pecah dan dipenuhi kepanikan luar biasa. Ia menekan tombol earpiece-nya dengan kasar. "Hendra! Buka pintu van sekarang! Siapkan tim medis privat kita di dalam kabin! Bu Arini keracunan zat kimia saraf dosis tinggi! Kondisinya kritis!"

"Tim medis sudah siaga dengan penawar universal, Marco! Bawa dia keluar sekarang! Kamera pengawas cadangan mereka akan kembali aktif dalam waktu dua menit! Cepat!" balas suara Hendra dengan nada yang memburu.

Marco mengangguk cepat. Ia mengangkat tubuh kurusku dengan sangat hati-hati ke dalam dekapannya, memperlakukanku seolah-olah aku adalah barang pecah belah yang sangat berharga. Sebelum melangkah pergi meninggalkan kamar terkutuk itu, Marco menoleh ke arah Arman Wijaya yang terduduk lemas di pojok ruangan dengan wajah hancur dan pucat karena terkepung.

"Arman Wijaya, nikmati sisa malam terakhir kebebasanmu dengan baik," desis Marco, "Karena besok pagi, jangankan Wijaya Group, nama keluarga kalian pun akan dihapus sepenuhnya dari kota ini."

Tanpa menunggu jawaban dari mereka, Marco melangkah cepat membawaku keluar dari sana. Sepanjang jalan, aku bisa merasakan degupan Marco yang tak beraturan. Ia tak henti memandang wajahku yang sudah lemah, pucat, dan seolah ini menjadi malam terakhirku.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!