Bagi Alee gadis cerdas yang meledak-ledak dan ceplas-ceplos, Rama adalah cowok paling membosankan sekaligus jual mahal di 10 MIPA 1. Namun, hanya butuh satu lagu di panggung sekolah untuk meruntuhkan seluruh gengsi Alee dan mengubah benci menjadi cinta.
Masalahnya, Alee punya satu kelemahan: mulutnya sama sekali tak punya filter. Demi menjaga rahasia hatinya, Alee memilih kabur ke sudut belakang kelas dan mengunci mulut rapat-rapat.
Namun, masa SMA tak pernah berjalan sesuai rencana. Ketika kesalahpahaman, provokasi teman, dan kehadiran Karim mulai menguji arah takdir mereka apakah simfoni cinta Alee akan berakhir indah, atau justru Rama hanya menjadi nada yang salah dalam hidupnya?
Namun, segalanya berubah saat sekolah mengadakan Acara Panggung Unjuk Bakat. Di atas panggung, Rama yang biasanya tenang dan tidak suka menonjolkan diri, tampil membawa gitar dan menyanyikan lagu favorit Alee. Suara Rama yang begitu merdu dan hangat malam itu berhasil menyentuh perasaan Alee yang paling
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aleeenaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gerbang Kampus UNB, Bayang-Bayang Perpisahan, dan Awal Lembaran Baru
Langkah kaki Aleena menapak mantap di atas lantai semen pelataran Universitas Nusa Bangsa (UNB) pagi itu. Matahari terbit dengan begitu cerah, memantulkan sinarnya pada papan nama kampus berukuran besar yang berdiri megah di dekat gerbang utama. Angin pagi berhembus lembut, memainkan beberapa helai rambut Aleena yang terurai santai.
Bagi Aleena gadis yang akrab disapa Alee aroma udara di kampus ini terasa teramat berbeda dari apa yang biasa ia hirup selama tiga tahun terakhir. Tidak ada lagi wangi pohon mangga yang teduh di belakang gedung SMA Nusantara Jaya, tidak ada lagi deretan seragam putih-abu-abu yang memadati koridor, dan yang paling terasa asing tidak ada lagi sosok sang Ketua Kelas berkacamata bening yang biasa berdiri di depan pintu kelas membawa buku absensi.
Alee mengencangkan pegangan pada tali ransel hitam yang menggantung di bahunya. Kebaya berwarna merah muda lembut yang ia kenakan di pesta pernikahan Kak Maya beberapa minggu lalu kini telah berganti dengan kemeja putih polos dan celana kain hitam atribut wajib bagi para mahasiswa baru yang sedang mengikuti kegiatan Orientasi Kehidupan Kampus.
Sambil berjalan pelan menyusuri jalan setapak di antara pepohonan rindang kampus, bayangan hari pernikahan Kak Maya kembali melintas di benak Alee. Momen di mana ia dan Rama berdiri berhadapan di selasar luar gedung resepsi, saling mengulurkan tangan untuk sebuah jabat tangan perpisahan yang hangat dan matang.
Alee memegang dada kirinya pelan. Tidak ada lagi desiran sesak, tidak ada lagi rasa penyesalan atau tangis yang tertahan. Yang tersisa di dalam hatinya hanyalah kedamaian yang utuh. Rama telah memenuhi janjinya untuk datang, dan Alee pun telah menepati janjinya untuk melepas segala bentuk kedekatan spesial di antara mereka. Simfoni masa SMA mereka benar-benar telah selesai dengan nada yang paling indah, dan kini, Aleena melangkah masuk ke gerbang universitas sebagai seorang gadis yang sepenuhnya bebas dari bayang-bayang masa lalu.
"Woy! Anak Komunikasi bukan?"
Sebuah suara nyaring yang amat ceria memecah lamunan Alee. Dari arah tangga koridor gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), seorang gadis berambut pendek ikal melambaikan tangan heboh. Ia berlari-lari kecil menghampiri Alee sambil memegang segenggam nametag kertas dan papan klipboard.
"Eh, iya! Ilmu Komunikasi!" sahut Alee cepat. Cengiran renyah dan gaya santainya seketika terbit di wajahnya. Sifat dasar Alee yang supel, ramah, dan petantang-petenteng tak butuh waktu lama untuk kembali muncul ke permukaan.
"Kenalin, nama gue Dania! Sama-sama Maba Komunikasi nih!" seru gadis itu bersemangat, mengelap keringat di dahi dengan punggung tangannya. "Sumpah, dari tadi gue muter-muter nyari temen sejurusan biar enggak kayak orang hilang sendirian di tengah lapangan!"
Alee tertawa lepas, menyambut uluran tangan Dania dengan genggaman yang hangat. "Gue Aleena, panggil aja Alee! Tenang aja, Dan, sekarang lu udah punya temen planga-plongok di sini."
Alee sempat hampir melempar nama Nara sahabat karibnya di SMA karena terbiasa berjalan bersama gadis itu. Namun Alee dengan cepat tersenyum maklum pada dirinya sendiri. Ini adalah dunia baru, tempat ia akan merajut lingkaran pertemanan yang baru pula.
Dalam hitungan menit, Alee dan Dania sudah tampak seperti dua kawan lama yang sangat akrab. Mereka menyusuri koridor lantai dasar gedung fakultas menuju auditorium utama untuk mengikuti apel pembukaan orientasi. Di sepanjang dinding koridor, terpasang berbagai poster berwarna-warni dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang sedang berlomba-lomba menarik minat mahasiswa baru.
Langkah kaki Alee sempat melambat saat matanya menatap papan pengumuman besar milik UKM Musik dan Jurnalistik Kampus. Di sana terpampang gambar instrumen musik dan peralatan penyiaran. Ada desiran halus yang mendadak singgah di benak Alee sebuah ingatan singkat saat ia memutuskan untuk menjual gitar kesayangannya demi memutus ingatan tentang petikan nada dari Rama.
Gitar itu mungkin udah dijual, bisik Aleena dalam hati sambil menyunggingkan senyum tipis yang amat ikhlas. Tapi kecintaan gue sama nada dan musik enggak akan pernah hilang.
Alee mengembuskan napas panjang, lalu kembali melangkah sejajar di samping Dania.
Suasana di lorong tengah gedung FISIP mendadak menjadi agak tegang ketika rombongan panitia senior berpakaian PDL (Pakaian Dinas Lapangan) hitam melintas dari arah berlawanan. Para panitia itu berjalan tegap dengan raut wajah tegas, mengawasi ratusan mahasiswa baru yang lalu-lalang di sekitar mereka.
Di barisan paling depan rombongan panitia tersebut, berdiri seorang cowok bertubuh tegap. Lengan kemeja hitamnya digulung rapi hingga ke siku, memamerkan garis lengan yang kokoh. Pria itu membawa sebuah pengeras suara kecil di tangan kirinya, sementara tangan kanannya sibuk memegang map berkas acara.
Berbeda jauh dengan sosok Ramaditya Pratama yang memiliki aura tenang, teduh, lembut, dan selalu rapi dengan kacamata beningnya, senior yang satu ini memancarkan aura yang bertolak belakang. Pria itu tidak berkacamata, rambut hitamnya sedikit acak-acakan namun tertata gaya maskulin, dan sorot matanya tajam, kritis, serta penuh dominasi yang tegas.
Bruk!
Tiba-tiba, seorang mahasiswa baru yang berjalan tepat beberapa langkah di depan Alee tersandung tali sepatunya sendiri. Tumpukan puluhan lembar kertas HVS berkas administrasi yang dibawanya seketika berhamburan liar menutupi lantai semen lorong.
Mahasiswa baru itu panik setengah mati, ketakutan melihat rombongan panitia senior yang kini menghentikan langkah tepat di hadapannya.
Senior bertubuh tegap berPDL hitam itu maju satu langkah. Namun, alih-alih memberikan bentakan galak atau teguran keras khas panitia orientasi pada umumnya, pria itu justru berlutut santai di atas lantai tanpa ragu, lalu mulai memunguti lembaran-lembaran kertas HVS itu dengan gerakan yang amat cekatan.
"Lain kali jalan itu pakai mata, Dek, bukan pakai lamunan," ujar senior itu dengan nada suara baritone yang berat, dalam, namun terdengar santai dan berbalut nada sarkas yang sedikit humoris. "Kertas berantakan begini masih bisa disusun lagi dalam lima menit. Tapi kalau lutut lu yang lecet kena semen, berabe urusannya."
Mendengar celetukan sarkas tapi perhatian yang keluar dari mulut senior tegas itu, Alee yang berdiri tepat di sampingnya refleks menyemburkan tawa kecil. Suara tawa renyah Alee terdengar cukup jelas di tengah lorong yang mendadak hening.
Senior itu menghentikan gerak jemarinya di atas lantai. Ia mendongak pelan, mengarahkan manik matanya yang tajam langsung ke arah wajah Alee.
Selama beberapa detik, pandangan mereka beradu. Ada ketegasan dingin di dalam sorot mata pria itu, tetapi juga terpancar kilatan rasa penasaran dan ketertarikan yang samar saat melihat cengiran lepas tanpa rasa takut dari gadis ber-nametag Aleena Putri tersebut.
"Kenapa ketawa? Ada yang lucu, Dek?" tanya senior itu sambil berdiri tegap kembali dan menyerahkan tumpukan kertas HVS yang sudah rapi kepada pemiliknya.
Alee, dengan gaya petantang-petentengnya yang tak pernah luntur meski berada di lingkungan baru, malah menyilangkan kedua tangannya di dada. Ia menatap balik iris mata senior itu tanpa ada rasa canggung sedikit pun, lalu menyunggingkan senyum menantangnya.
"Enggak ada yang lucu kok, Kak," sahut Alee santai dengan nada bercanda. "Cuma salut aja. Ternyata Panitia Orientasi yang keliatannya galak-galak gini masih bisa ramah dan peduli sama lantai kampus."
Dania yang berdiri di sebelah Alee seketika memelototkan mata dengan panik. Gadis berambut ikal itu refleks menyenggol rusuk Alee cukup keras, ketakutan setengah mati karena kawan barunya itu baru saja terang-terangan mencandai salah satu sosok panitia paling disegani di fakultas.
Senior itu mengamati Alee dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bukannya marah, sudut bibirnya justru terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman penuh arti yang sulit ditebak. Ia merapikan tata letak ID Card panitia yang tergantung di dadanya, memperlihatkan papan nama acrilik yang terukir jelas di sana:
Arlan Bachtiar - Ketua BEM Fakultas / Mahasiswa Senior Ilmu Komunikasi.
"Aleena Putri, ya?" panggil Arlan pelan, membaca tulisan nama di nametag dada Alee dengan nada suaranya yang berat. "Selamat datang di Ilmu Komunikasi UNB. Di kampus ini, disiplin lu bakal diuji habis-habisan, bukan cuma candaan petantang-petenteng lu itu."
Arlan berbalik arah, mengibaskan tangannya memberi isyarat pada rombongan panitia lain untuk kembali melanjutkan jalan menuju aula utama, meninggalkan koridor yang mulai kembali riuh.
Alee berdiri mematung sejenak, memperhatikan punggung tegap Arlan yang perlahan melangkah menjauh di antara kerumunan mahasiswa. Ada rasa geli sekaligus tantangan baru yang mendadak membakar semangat di dalam dadanya.
Kisah masa sekolah bersama Rama telah resmi ditutup dengan ikhlas di pesta pernikahan Kak Maya. Kini, di bawah naungan atap Universitas Nusa Bangsa, langkah awal Aleena Putri resmi dimulai membuka lembaran baru bersama orang-orang baru, dunia perkuliahan yang penuh warna, dan kehadiran sosok Arlan Bachtiar yang membawa dinamika cerita yang sama sekali berbeda.