Yun Sheren seorang Putri Mahkota dari Kekaisaran Awan Emas terseret melintasi waktu. Dia terjebak di dalam raga sang ibu ketika masih muda di zaman modern.
Namun alih-alih takut--- Yun Sheren justru menikmati semua itu. Ia bersumpah akan membalaskan dendam ibu dan neneknya pada keluarga benalu yang telah merampas seluruh hak ibunya.
Namun--- perjalanan Yun Sheren tidak semudah itu, saat ia harus berhadapan dengan para kultivator iblis dari zaman modern--- kelompok kultivator tersembunyi yang ternyata bekerja sama dengan keluarga Jia.
Dalam perjalanan nya, Yun Sheren di pertemukan kembali sama kedua kakaknya yang ternyata juga terlempar ke zaman modern. Kini, sama seperti sang ibu yang menjalankan takdirnya di zaman kuno. Mereka juga harus menjalankan takdirnya di zaman modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Syarat?
"ASTAGA! APA YANG TERJADI?!"
Sebuah teriakan melengking memecah ketegangan. Liu Yue lari keluar dari dalam rumah dengan wajah pucat pasi setelah mendengar suara ledakan yang menggetarkan dinding bangunan.
Namun, ia tidak sendiri. Di sampingnya, sepasang mata milik Yun Sharam ikut melotot sempurna menyaksikan kehancuran di depan mata mereka.
Melihat secercah harapan, Jia Li langsung berteriak dengan sisa tenaganya, "Kak Sharam! Tolong aku!"
Yun Sharam tersentak dari rasa syoknya yang sempat membekukan seluruh saraf tubuhnya.
Ia segera berlari ke arah sang adik dengan cepat. "Astaga! Apa yang terjadi?" tanyanya panik, dengan napas memburu dan raut wajah yang memucat pasi melihat kekacauan yang terjadi.
"Lepaskan aku!" ucap Jia Li setengah mengerang, mencoba memberontak dari lilitan yang kian mencekik.
Melihat kondisi adiknya yang kian terdesak, Yun Sharam memejamkan matanya selama satu detik untuk memusatkan seluruh energinya. Detik berikutnya, sebuah cahaya perak menyala terang, dan sebuah pedang berkilat muncul secara magis di genggaman tangannya.
CRASH!
Dengan satu tebasan horizontal yang sangat cepat dan presisi, akar pohon yang melilit tubuh Jia Li terpotong menjadi dua, hancur berkeping-keping menjadi serbuk cahaya, membebaskan gadis itu seketika hingga ia jatuh terduduk di atas rumput.
Jia Li tidak membuang waktu sedikit pun untuk meratapi rasa sakitnya. Sebelum kakaknya, Yun Shadom, kembali melancarkan serangan mematikan ke arah Liu Han, Jia Li langsung melesat maju dengan sisa-sisa tenaganya.
Pukulan Yun Shadom terhenti seketika saat Jia Li dengan berani berdiri tepat di depannya, menjadikannya perisai hidup.
"Kakak! Aku mohon tenang! Ini bukan waktunya untuk berkelahi! Kita membutuhkan orang itu! Ingat rencana kita!" serunya dengan suara parau, mencoba mengetuk logika sang kakak.
Namun, sialnya, emosi Yun Shadom sudah berada di puncak tertinggi, matanya memerah menyala, dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat hingga atmosfer di sekitar mereka terasa begitu berat dan mencekam.
BRAK!
Tanpa aba-aba atau peringatan apa pun, di luar dugaan semua orang, Yun Sharam justru berlari kencang dari arah belakang dan langsung memeluk erat tubuh kekar kakaknya, Yun Shadom. Tindakan nekat itu membuat pergerakan Yun Shadom terkunci.
"Sudah, kak... hiks... jangan marah lagi," bisik Yun Sharam dengan bahu yang bergetar hebat, air matanya menetes membasahi jaket modern yang dikenakan sang kakak.
Jia Li melongo tak percaya saat melihat kakak keduanya menangis tersedu-sedu di situasi genting seperti ini. Namun, Yun Sharam tidak sedang berbohong atau berpura-pura untuk mencari simpati.
Setiap kali ia melihat kakaknya mengamuk dan kehilangan kendali seperti monster, ia merasa merinding.
Dirinya selalu ingat, di mana ia selalu berlindung di punggung sang ibu setiap kali aura mengerikan itu keluar.
Selama ini, mereka semua tahu satu fakta—Yun Shadom hanya mengamuk karena satu alasan tunggal. Amarahnya bisa mencapai puncak kehancuran jika ada yang berani melukai atau mengusik keluarganya.
Namun, tidak ada yang bisa menghentikan amarah brutalnya itu selain satu orang—yaitu ibu mereka yang kini tidak ada di tempat ini.
"Sharam..." suara Yun Shadom terdengar pelan namun bisa terdengar jelas membelah keheningan, aura membunuhnya perlahan-lahan menyusut meski napasnya masih memburu kasar. "Kau tahu kenapa aku semarah ini?"
Yun Sharam yang masih ketakutan hanya bisa menggelengkan kepalanya di punggung sang kakak, tidak berani bersuara.
"Pria bajingan itu... berani mencium Yun Sheren," ucap Yun Shadom dengan nada suara yang teramat dingin, sedingin es kutub, menunjuk tepat ke arah Liu Han.
HENING!
Seketika itu juga, suasana di samping halaman rumah menjadi sunyi senyap.
Mata Yun Sharam mengerjap beberapa kali, otaknya mencoba memproses informasi yang baru saja didengarnya. Detik berikutnya, rasa takutnya menguap digantikan oleh keterkejutan yang luar biasa.
Ia langsung melepaskan pelukannya dari sang kakak dan berdiri tegak di sampingnya dengan wajah yang berubah drastis.
Ia menatap tajam ke depan. "Sheren... apa pria itu benar-benar menciummu?" tanya Yun Sharam dengan nada suara yang kini naik satu oktav, siap meledak bersama kakaknya.
Jia Li hanya bisa meringis canggung, tidak tahu harus merespons apa karena situasi mendadak berubah menjadi sangat rumit dan memalukan.
Sementara itu, Liu Han mencoba sekuat tenaga menahan rasa sakit di dadanya akibat serangan sebelumnya. Dengan sisa tenaganya, ia perlahan berdiri tegak tepat di samping Jia Li.
Wajahnya pucat, namun tatapan matanya tetap terlihat tajam, dingin, dan tidak gentar sama sekali saat menatap balik kedua pria protektif di depannya.
Di sisi lain, melihat kakaknya terluka, Liu Yue langsung berlari cepat ke arah sang kakak untuk memapahnya. Tapi, melihat situasi yang sangat sensitif dan membingungkan ini, ia memilih untuk tidak banyak bicara.
Beberapa saat kemudian, suasana seketika berubah menjadi HENING! Ketegangan yang mencekam menyelimuti ruang tamu mewah itu, menyisakan sisa-sisa atmosfer pertempuran yang baru saja terjadi di halaman rumah.
Semua penjaga yang terluka sudah dievakuasi ke rumah sakit markas untuk mendapatkan pengobatan medis.
Jia Li hanya bisa meringis canggung. Ia meremas jemarinya sendiri, tidak tahu harus merespons apa di tengah situasi sekacau ini.
Di sisi lain, Liu Han mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya akibat pertarungan tadi. Wajahnya tetap datar, mempertahankan wibawanya sebagai orang yang berkuasa.
Sementara itu, Jia Li yang merasa menjadi pusat dari segala kekacauan ini memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Beban rasa bersalah mendadak menghimpit dadanya.
"Maafkan aku," bisik Jia Li pelan sambil menoleh lirih ke arah Liu Han.
Mendengar ucapan maaf itu, Yun Shadom langsung melotot sempurna. Rahangnya mengeras dan emosinya kembali tersulut.
"Kenapa kau harus meminta maaf pada bajingan ini?!" bentak Yun Shadom dengan suara menggelegar, sama sekali tidak terima dengan sikap lembut Jia Li. "Jika kau tidak menghentikanku, aku bersumpah sudah memotong kepalanya dan memastikan dia tidak bernapas lagi sekarang!"
Menariknya, Liu Yue sama sekali tidak memedulikan kemarahan Yun Shadom ataupun kondisi sang kakak yang terluka.
Fokusnya teralih total. Ia justru berdecak kagum dengan mata berbinar saat menatap sosok Yun Shadom. Selama hidupnya, Liu Yue mengenal kakaknya sebagai sosok pria yang luar biasa kuat, kejam, dan tidak tertandingi oleh siapa pun di dunia ini.
Namun, hari ini, di depan mata kepalanya sendiri, ia menyaksikan sang kakak justru dikalahkan dengan telak.
Setelah sejak tadi memilih diam, akhirnya Liu Han angkat suara. "Jia Li, aku tidak tahu jika kau memiliki kakak lain," ucapnya dengan nada suara yang sangat datar, lalu melirik sekilas ke arah Yun Shadom, "...yang jauh lebih liar," katanya pelan dengan nada menyindir.
Yun Shadom seketika menatap tajam bagai elang yang siap menerkam mangsanya. Merasa situasi terancam kembali memanas, lengan kekar Yun Shadom langsung dicengkeram erat oleh Yun Sharam agar kakaknya itu tidak lepas kendali lagi.
Meskipun Yun Sharam sendiri sebenarnya merasakan kemarahan yang sama membara saat tahu adik perempuan mereka telah dicium secara lancang, namun ia masih bisa menahan diri demi logika.
Jia Li hanya memejamkan matanya sejenak, meredam emosinya sendiri, lalu menghembuskan napas panjang yang terasa berat.
"Itu urusan pribadi," kata Jia Li akhirnya dengan nada final yang tidak ingin didebat.
Ia menatap Liu Han lekat-lekat. "Yang perlu kau tahu, aku menginginkan tanah itu bukan untuk keluarga Jia," ucapnya menegaskan status kepemilikan. "Tapi untuk sesuatu yang jauh lebih penting," lanjutnya dengan penekanan di setiap kata, lalu kembali menghela nafas panjang. "Aku harap kau memikirkannya baik-baik.
Liu Han terdiam sejenak, sebelum akhirnya angkat suara. Suaranya terdengar berat. "Aku akan memberikan tanah yang kau inginkan itu," katanya datar.
Kata-kata itu seketika membuat mata Jia Li berbinar penuh harap. Beban misinya seolah terangkat sebagian. Namun, kalimat Liu Han belum selesai.
"Tapi dengan satu syarat," ucap Liu Han menggantung kalimatnya. Ia menatap sangat dalam ke manik mata Jia Li.