Sekuel ketiga dari buku sebelumnya: 'Cinderella Ubi Rebus dan Kutukan Mbah Golok Sakti'
Niatnya kuliah desain di Paris, Sella (19 tahun) malah terjebak skandal gara-gara nekat meminum setengah gelas jus jeruk sisa milik Raditama Abraham (25 tahun), seorang CEO muda yang kaku sekaku robot.
Siapa sangka, jus itu ternyata sudah dicampur obat halusinasi oleh musuh bisnis Adit!
Akibat salah kamar dan kehilangan kendali, malam itu berubah jadi bencana. Bukannya romantis, Sella yang berhalusinasi malah menjadikan Adit kuda tunggangan dan mengakhirinya dengan tendangan maut ke area vital Adit sampai sang CEO pingsan!
Kiamat tiba esok paginya. Papa Kaizen, mantan komandan militer yang galak, mendobrak pintu hotel. Melihat kamar berantakan dan bercak merah misterius di seprai, vonis mati langsung dijatuhkan: PULANG KE JAKARTA DAN NIKAH BESOK PAGI!
Bagaimana nasib rumah tangga paksa antara CEO Robot Kaku dan Istri Bar-bar ini? Apalagi, rahasia malam itu sebenarnya murni salah paham.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28. Teka-Teki Rekaman dan Ancaman dari Nomor Misterius
Di dalam ruang kerja pribadinya yang kedap suara di kantor cabang Paris, Adit menyandarkan punggung tegapnya ke kursi kebesaran. Matanya tak lepas dari layar tablet yang disodorkan oleh Gavin. Rahangnya mengeras seketika saat melihat sosok misterius berbaju hitam di dalam video tersebut masuk ke dalam kamarnya dengan santai, seolah sedang bertamu di rumah sendiri.
"Saya sudah menemukan bukti rekaman kamera pengawas itu, Pak," ucap Gavin dengan nada suara rendah namun penuh penekanan.
"Saya meminta peretas terbaik untuk menembus sistem keamanan hotel. Ternyata, ada pihak ketiga yang mencoba bermain kotor dan menjebak Anda malam itu."
Adit memutar ulang bagian di mana seorang pelayan pria menukar gelas jus jeruk miliknya di aula pesta beberapa malam lalu. Mata elangnya menyipit sangat tajam.
"Siapa kira-kira pelakunya, Pak Gavin?"
Gavin terdiam sejenak, menyesuaikan posisi kacamata di pangkal hidungnya sebelum menjawab. "Dilihat dari gestur dan proporsi tubuhnya... sepertinya seorang perempuan, Pak."
"Perempuan?"
Adit mengernyit heran, kedua alis tebalnya bertaut rapat. "Kenapa Anda bisa berasumsi begitu? Seingat saya, relasi bisnis yang hadir di pesta itu mayoritas adalah pria tua yang hanya peduli pada pergerakan saham dan cerutu mahal."
Gavin menunjuk ke arah layar tablet, tepat pada momen sosok misterius itu duduk di tepi ranjang Adit sebelum Adit salah masuk kamar.
"Lihat cara dia duduk dan lekuk tubuhnya di balik jaket oversize itu, Pak. Seberapa keras pun dia berusaha menutupinya dengan topi dan masker, gerak-geriknya sangat feminin. Dia seorang profesional, Pak. Dia tahu persis di mana titik buta kamera hotel—kecuali kamera rahasia yang sengaja saya pasang di kamar Anda demi keamanan."
Adit mendengus kasar, tangan kanannya bergerak memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening. "Lalu menurut Anda siapa? Apa ini kiriman sabotase dari kompetitor bisnis kita?"
"Saya belum bisa memastikan hal itu, Pak. Wajahnya tertutup sangat rapi, seolah dia memang sudah terlatih untuk misi semacam ini. Tapi satu hal yang pasti..."
Gavin menatap Adit dengan tatapan mata yang sangat serius. "Anda sangat beruntung, Tuan. Jika malam itu Anda benar-benar masuk ke kamar Anda sendiri yang sudah ditunggu oleh perempuan misterius ini, karier dan reputasi Anda sudah hancur total hari ini karena skandal terjebak bersama wanita bayaran."
Adit tertegun sejenak di tempat duduknya. Ia teringat kembali rentetan kejadian malam itu—bagaimana dirinya yang berada di bawah pengaruh obat dan setengah sadar malah tersasar ke kamar nomor sebelah.
"Beruntung apanya?!"
Adit tiba-tiba berdiri tegak, menghentakkan telapak tangannya ke atas meja kerja hingga menimbulkan bunyi benturan yang keras.
"Pak Gavin, jelas-jelas saya berakhir harus menikah paksa dengan mahasiswi sableng itu! Itu namanya keluar dari mulut buaya, langsung masuk ke dalam kandang macan!"
Adit mulai berjalan mondar-mandir di dalam ruang kerjanya yang luas, langkah kakinya terlihat sangat gusar.
"Tapi tunggu... Pak Gavin, kalau di kamar saya ada kamera rahasia yang Anda pasang, bagaimana dengan kamar Sella? Apa di sana juga ada? Kalau sampai ada rekaman saya yang... yang lagi dikejar-kejar Sella malam itu, posisi saya masih dalam bahaya besar, dong?!"
Gavin tampak gelagapan mendapat pertanyaan beruntun itu. Ia mundur selangkah ke belakang sambil memegang map dokumennya erat-erat di depan dada.
"Aduh... kalau urusan itu saya tidak tahu pasti, Pak. Hacker saya hanya berhasil mengambil data dari sistem kamar pribadi Anda. Soal kamar Nona Sella... yah, semoga saja sistem hotel mereka memang sedang bermasalah di lantai itu malam itu."
Adit mendesah frustrasi, memejamkan matanya rapat-rapat saat membayangkan jika video komedi kejar-kejaran atau adegan dirinya dijadikan kuda pacuan oleh Sella sampai bocor ke publik media.
"Cari tahu siapa perempuan itu, Gavin! Dan pastikan tidak ada satu detik pun rekaman dari kamar Sella yang beredar luas. Saya tidak mau reputasi Abraham Company hancur hanya karena segelas jus jeruk sialan itu!"
"Baik, Pak. Saya akan segera menindaklanjuti perintah Anda,"
Gavin membungkuk hormat dengan takzim. Namun, sebelum melangkah keluar dari ruangan, ia sempat bergumam pelan dengan nada bergurau, "Tapi setidaknya Nona Sella jauh lebih menghibur daripada wanita bayaran itu, Pak."
"SAYA DENGAR ITU, GAVIN!" bentak Adit ketus.
Ting!
Sebuah suara notifikasi pesan memecah keheningan ruang kerja Adit yang dingin. Layar ponsel pintarnya menyala terang, menampilkan sebuah pesan dari nomor tidak dikenal yang diikuti oleh sebuah lampiran file video misterius.
Adit, yang baru saja hendak membuka laptop kerjanya, menyipitkan mata penuh curiga. Jemarinya ragu sejenak sebelum akhirnya mengetuk layar untuk membuka isi pesan tersebut.
[Bagaimana reaksi orang-orang dan klien penting jika mereka tahu bahwa CEO utama Abraham Company memiliki skandal panas dengan seorang mahasiswi baru di Paris?]
Darah di sekujur tubuh Adit seolah berhenti mengalir seketika. Rahangnya mengeras rapat, dan urat-urat di lehernya menonjol tegang menahan amarah yang mendadak mendidih di ubun-ubun. Dengan tangan yang sedikit gemetar karena syok, ia memutar lampiran video itu.
Di sana, terekam dengan jelas potongan kejadian malam jahanam itu di kamar hotel Sella. Adit melihat dirinya sendiri—dalam kondisi kalap dan napas memburu akibat efek zat kimia—sedang mengukung tubuh Sella di atas ranjang. Ia melihat betapa beringasnya ia menarik pakaian Sella hingga kain itu terkoyak tak berbentuk di bawah guncangan perselisihan hebat, sebelum akhirnya ingatan visual itu menampilkan Adit yang mencium bibir Sella dengan sangat intim dalam kungkungan gejolak hormon. Rekaman video manipulatif itu berakhir tepat sebelum insiden tendangan maut Sella terjadi.
"Brengsek! Siapa yang berani mengirimkan video ini?!" desis Adit tajam. Ia membanting ponselnya ke atas meja kerja hingga menimbulkan bunyi benturan keras yang nyaring.
Jantunya berdegup kencang, bukan karena gairah masa lalu, melainkan karena rasa syok yang luar biasa besar menghantam logikanya. Ingatannya tentang malam itu memang benar-benar gelap gulita; yang ia tahu hanyalah ia terbangun dalam keadaan kacau di samping Sella esok paginya.
Apa gue benar-benar melakukan tindakan sejauh itu semalam? batin Adit berkecamuk hebat.
Gue nggak ingat pernah melangkah sejauh itu. Tapi bukti rekaman video itu... video itu nyata terlihat di depan mata.
Pikiran Adit mendadak melayang pada bercak noda merah misterius yang ia lihat di atas seprai putih ranjang hotel pagi itu. Selama ini ia berusaha keras menepis pikiran buruk tersebut, mengira itu mungkin hanya efek samping obat atau luka kecil akibat perkelahian mereka. Namun setelah melihat potongan video manipulatif ini, seluruh dinding pertahanan keraguannya runtuh berantakan.
"Darah itu..."
Adit memijat pangkal hidungnya dengan kuat, berusaha sekuat tenaga mengatur ritme napasnya yang mendadak terasa sangat sesak.
"Apa gue benar-benar sudah merusak masa depannya malam itu?"
Adit bangkit berdiri dari kursi kebesaran, melangkah lebar menuju ke arah jendela kaca besar yang menghadap langsung ke keindahan lanskap Kota Paris. Namun, sepasang matanya sama sekali tidak melihat keindahan di luar sana. Pikirannya buntu total. Jika video manipulatif ini sampai bocor ke publik, bukan hanya karier bisnisnya yang hancur, melainkan masa depan Sella sebagai mahasiswi berumur 19 tahun juga akan tamat seketika.
"Gue harus mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Gue nggak bisa cuma menebak-nebak dari potongan video sampah ini," gumam Adit dengan tatapan mata yang kini berubah menjadi sangat dingin, tajam, dan penuh dengan tekad mutlak.
Namun, bagaimana caranya? Apa ia harus menurunkan gengsinya dan bertanya langsung pada mahasiswi sableng itu? Ataukah ia harus membuktikannya sendiri secara logis apakah kesucian Sella memang benar-benar hilang karena dirinya malam itu?
Adit mengepalkan kedua tangan kanannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih tanpa darah. Situasi krisis ini jauh lebih berbahaya daripada sekadar menghadapi musuh bisnis paling licik sekalipun di lantai bursa saham.
****
Sementara itu, di sebuah sudut rahasia gedung anak cabang Abraham Company di Paris, atmosfer di dalam ruangan direktur itu terasa sangat pengap oleh aroma maskulin yang berat.
Ruangan privat ini tampaknya tidak didesain murni untuk bekerja; sebuah sofa kulit berukuran besar diletakkan menghadap dinding kaca besar, dan di balik partisi kayu ek yang kokoh, terdapat sebuah kamar tidur mewah yang sengaja disiapkan untuk melayani hasrat sang pemilik kuasa.
Same Smith Abraham duduk bersandar dengan santai di atas sofa kulit tersebut. Sepasang matanya yang berwarna abu-abu gelap menatap kosong ke arah langit-langit plafon, sementara seorang wanita muda yang merupakan sekretaris pribadinya bergerak melayaninya di atas pangkuannya demi memuaskan ego sang direktur.
"Lebih cepat!" geram Same dengan nada suara rendah yang kasar.
Tangannya bergerak mencengkeram pinggul wanita itu tanpa kelembutan sedikit pun, sesekali melampiaskan kemarahan terpendamnya melalui tindakan intimidasi fisik di dalam ruangan yang sunyi tersebut.
Same sama sekali tidak sedang menikmati keintiman; ia hanya sedang melampiaskan rasa frustrasinya atas kegagalan Gerald dalam mengeksekusi rencana skandal Raditama di hotel tempo hari.
Saat Same mengembuskan napas panjang tanda kepuasan yang kasar, pintu ruangan kerja yang kedap suara itu mendadak terbuka lebar tanpa ada ketukan permisi terlebih dahulu. Seorang wanita cantik berpenampilan sangat anggun melangkah masuk ke dalam ruangan. Langkah kakinya yang mengenakan sepatu high heels berwarna merah menyala terdengar sangat angkuh dan tegas mengetuk permukaan lantai marmer yang dingin.
Wanita anggun itu menghentikan langkah kakinya tepat di depan sofa kulit mewah, sepasang matanya menatap pemandangan tidak senonoh di depannya dengan rahang yang mengeras rapat.
Namun, ia tidak memekik ketakutan atau berbalik arah melarikan diri. Wanita itu tetap berdiri tegak dengan dagu terangkat, seolah-olah tontonan menjijikkan di depan matanya ini hanyalah bagian dari menu sarapan paginya yang sudah biasa ia saksikan.
"Ada apa? Kenapa kau nekat datang lagi kemari mengganggu kesenanganku?" tanya Same dengan nada suara yang sangat dingin dan ketus. Ia memberikan isyarat tangan kasar mengusir sekretaris pribadinya agar segera menyingkir dari hadapannya.
Wanita muda itu dengan terburu-buru bergerak merapikan pakaian kerjanya yang berantakan, lalu melangkah keluar dari dalam ruangan dengan kepala tertunduk dalam menahan malu, meninggalkan keheningan yang mencekam di antara dua orang yang tersisa.
Wanita anggun yang baru datang itu mengambil posisi duduk di kursi seberang Same, melipat kedua tangannya di depan dada dengan gaya yang sangat elegan namun sarat akan ketegangan emosional.
"Apa aku sama sekali tidak memiliki nilai berharga di matamu, Same? Kenapa kau tidak pernah sedikit saja mau menghargai seluruh usaha dan dedikasi yang sudah kulakukan untuk mendukung ambisimu?"