NovelToon NovelToon
SESALMU YANG TERLAMBAT

SESALMU YANG TERLAMBAT

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Balas Dendam
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

pengakuan yang terlambat

Ruang kerja Ibu Retno malam itu terasa berbeda dari biasanya. Biasanya dingin dan penuh perhitungan, kini terasa lebih berat, dipenuhi ketegangan yang bahkan wanita itu sendiri tidak sepenuhnya bisa sembunyikan.

"Duduk, Raka," katanya, menunjuk kursi di depan mejanya.

Raka duduk dengan hati berdebar, mencoba menerka apa yang akan diungkapkan ibunya setelah bertahun-tahun menyimpan rahasia yang selama ini hanya menjadi dugaan tanpa bukti nyata.

"Ibu tau kamu udah lama curiga soal kepergian Larasati lima tahun lalu," Ibu Retno memulai, suaranya lebih pelan dari biasanya. "Dan Ibu rasa, sudah waktunya kamu tau kebenarannya, meski Ibu tau ini mungkin akan membuat kamu sangat marah sama Ibu."

Raka menahan napas, mempersiapkan diri untuk kebenaran yang telah lama ia cari namun juga takuti.

"Lima tahun lalu, Ibu memang yang mengatur semuanya," lanjut Ibu Retno, matanya menghindari tatapan Raka. "Ibu menyewa jasa Bu Marlina untuk membujuk keluarga Larasati agar menjauhkan gadis itu darimu. Awalnya dengan tawaran uang, tapi ketika itu ditolak, Ibu... Ibu meminta Bu Marlina menggunakan cara yang lebih tegas."

"Cara apa, Ma?" tanya Raka, suaranya bergetar menahan amarah yang mulai membuncah.

"Ancaman," jawab Ibu Retno pelan. "Ancaman akan menghancurkan reputasi keluarga mereka, memastikan ayahnya tidak akan pernah mendapat pekerjaan lagi di kota itu. Larasati... dia terpaksa pergi demi melindungi keluarganya, bukan karena dia tidak mencintaimu atau ingin meninggalkanmu begitu saja."

Kalimat itu menghantam Raka dengan kekuatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Selama lima tahun, ia telah membangun kemarahan dan kebencian berdasarkan keyakinan bahwa Laras telah mengkhianatinya, meninggalkannya tanpa alasan yang jelas. Namun kini, kebenaran yang terungkap menunjukkan bahwa semua penderitaan yang dialami Laras—dan dirinya sendiri—adalah hasil dari rencana keji yang disusun oleh ibunya sendiri.

"Ibu..." Raka berdiri dari kursinya, tangannya mengepal erat menahan gejolak emosi yang begitu besar. "Ibu tau apa yang udah Ibu lakuin? Ibu udah ngehancurin hidup dua orang yang saling mencintai, cuma karena Ibu nggak setuju sama pilihan aku!"

"Raka, Ibu cuma—"

"Jangan bilang Ibu cuma mau lindungin aku!" potong Raka, suaranya meninggi penuh amarah yang selama ini terpendam. "Ibu udah bikin aku benci sama orang yang sebenarnya berkorban demi keluarganya sendiri! Ibu udah bikin aku jadi orang yang kejam sama dia tanpa alasan yang bener!"

Ibu Retno terdiam, air mata mulai menggenang di matanya, sebuah penyesalan yang jelas terlihat namun terlambat untuk mengubah apa yang telah terjadi. "Ibu menyesal, Raka. Ibu nggak pernah menyangka semuanya akan berkembang sejauh ini, sampai membuat kamu begitu terluka selama bertahun-tahun."

"Penyesalan Ibu nggak akan mengembalikan lima tahun yang udah aku sia-siakan buat benci sama orang yang salah!" Raka melangkah mundur, dadanya sesak menahan berbagai emosi yang bercampur aduk—kemarahan, kesedihan, dan penyesalan yang mendalam atas caranya memperlakukan Laras selama ini.

"Aku harus cari dia sekarang," katanya tiba-tiba, bergegas menuju pintu.

"Raka, tunggu," Ibu Retno mencoba mencegah, namun Raka sudah melangkah keluar dengan tergesa, tidak lagi menghiraukan panggilan ibunya.

Malam itu, Raka mengemudi tanpa arah yang jelas, pikirannya kacau balau memikirkan cara terbaik untuk menghadapi Laras, untuk akhirnya meminta maaf atas segala kekejaman yang telah ia lakukan selama berbulan-bulan terakhir berdasarkan kesalahpahaman yang ternyata direkayasa oleh ibunya sendiri.

Ia sampai di depan gedung kos Laras, namun jam sudah menunjukkan hampir tengah malam. Dengan ragu, ia mengirim pesan singkat, tangannya gemetar mengetik setiap kata.

"Laras, saya perlu bicara sama kamu. Ini penting banget. Boleh saya ke kos kamu sekarang?"

Balasan tidak datang selama beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam bagi Raka. Ia menunggu di dalam mobil, menatap gedung kos itu dengan hati yang dipenuhi kecemasan dan harapan yang bercampur aduk.

Akhirnya, ponselnya bergetar.

"Sekarang udah malam banget, Pak. Ada apa sebenarnya?"

Raka menghela napas lega melihat balasan itu, meski formalitas "Pak" yang masih digunakan Laras terasa seperti jarak yang menyakitkan.

"Saya baru tau kebenaran soal kepergian kamu lima tahun lalu. Saya minta maaf, Laras. Saya salah paham selama ini."

Ada jeda yang cukup lama sebelum balasan berikutnya muncul.

"Kita bicarakan besok aja, Pak. Saya udah mau tidur."

Jawaban singkat itu membuat dada Raka terasa semakin sesak, menyadari bahwa kepercayaan yang telah hancur selama lima tahun tidak bisa diperbaiki hanya dengan satu pesan singkat di tengah malam. Namun ia juga menyadari, mungkin memang lebih baik memberi waktu bagi Laras untuk mencerna semuanya dengan kepala dingin, bukan memaksakan penjelasan di saat yang tidak tepat.

"Baik. Maaf udah ganggu malam-malam. Selamat istirahat, Laras."

Tidak ada balasan lagi setelah itu. Raka duduk sendirian di dalam mobilnya yang terparkir di depan gedung kos itu, menatap jendela kamar Laras yang lampunya masih menyala samar-samar, sebelum akhirnya perlahan padam.

Ia menyandarkan kepalanya ke jok mobil, menutup mata sejenak, mencoba mencerna semua yang telah terjadi malam ini. Kebenaran yang telah lama ia cari akhirnya terungkap, namun alih-alih memberikan kelegaan, kebenaran itu justru membuka luka baru yang jauh lebih dalam—luka karena menyadari bahwa dirinya sendiri telah menjadi bagian dari kekejaman yang menghancurkan kebahagiaan orang yang sebenarnya sangat ia cintai.

Aku harus perbaiki ini, batinnya bertekad, meski jauh di dalam hatinya, ada ketakutan besar bahwa waktu yang telah berlalu mungkin sudah terlalu lama, dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan itu mungkin telah hilang, terutama dengan kehadiran Bagas yang semakin dekat dengan kehidupan Laras.

Malam itu, Raka pulang ke apartemennya dengan hati yang dipenuhi tekad baru, namun juga bayang-bayang ketakutan yang tidak bisa ia abaikan—ketakutan bahwa penyesalan yang datang ini mungkin sudah terlalu terlambat untuk mengubah jalan cerita yang telah lama bergerak menuju arah yang berbeda dari yang pernah ia harapkan bertahun-tahun lalu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!